
"Siapa cowok tadi?" Tanya Meti memprovokasi.
Aku sudah menebak, wanita paruh baya itu pasti ingin menyudutkan ku lagi. Mungkin setelah nya aku mendapat hinaan tak berdasar.
"Itu-"
"Jangan banyak alasan! Itu selingkuhan mu kan?" Potong Meti cepat.
"Tidak-"
"Oh jadi gini tingkah mu jika Agha sedang tidak berada di rumah, kau benar-benar murahan Delly"
Aku berusaha sabar menghadapi ucapan Meti, ingin rasanya aku beranjak dari sini meninggalkan wanita keriput itu mengomel dengan dinding.
Ok, untuk sekarang aku diam mendengarkan perkataan pedas Meti.
"Aku akan memberitahu Agha tentang hal ini" Ancam nya kemudian pergi dari hadapan ku.
Kalau tidak bersalah untuk apa takut? Aku membiarkannya saja, tidak peduli apapun yang di katakan Meti kepada Agha.
Aku beranjak kedapur, aku melihat para pembantu sedang menyusun bahan makanan ke dalam kulkas.
"Buk kak Silvie ke mana ya?" Tanya ku.
"Pergi tadi, gak tau kemana non. Ada apa emang nya?"
"Ada deh" Setelah mengambil sebuah apel baru lah aku meninggalkan dapur.
Dalam hati ku merutuki Meti, wanita itu memandang ku sebelah mata, tapi apa? harusnya ia menegur anak nya yang sering kelayapan itu.
Malam hari, aku sedang duduk di meja rias ku sambil menyisir rambut. Tiba-tiba ponsel ku berbunyi, "Bang Agha" Gumam ku.
"Halo bang"
"*Mama Meti bilang tadi ada pria yang datang ke rumah, Siapa*?"
"Oh itu, dia datang untuk menanyakan barang yang jatuh"
__ADS_1
"*Barang yang jatuh? Emang nya apa*?"
Aku berpikir sejenak, jika aku memberitahu jenis nya, apa yang akan Agha lakukan setelah nya?. Ini tidak baik, apalagi aku telah melihat isi dari flashdisk itu.
"*Hallo Delly kau masih di sana*?" Agha memastikan kerna aku tak bersuara.
"Iya bang"
"*Kenapa diam?, jawab pertanyaan abang tadi*"
"C-cincin bang, kebetulan memang aku menemukan nya"
"Bibi Meti yang mengatakan nya?"
"*Tenang saja, abang tidak percaya kok. Hanya saja di sana sepertinya kau sangat tersiksa*"
Aku tertegun, dari mana Agha tau? terus kalau dia tau apakah dia hanya akan diam saja? jika itu terjadi maka aku akan sakit hati.
"Abang bicara apa?"
"*Hanya tebakan, abang akan telpon mama abang untuk menjemput mu. Selama abang belum pulang kau tinggal bareng mama dulu ya*"
__ADS_1
"Engg" Jawab ku terharu, Agha begitu perhatian pada ku, itu membuat ku semakin dalam menginginkan Agha seutuhnya, dan menjadikan diri ku sebagai satu satu nya.
"*Ok kalau gitu abang tutup dulu, kau kemas kemas lah pakai mu malam ini, besok pagi mama pasti sudah berada di depan rumah*"
Setelah panggilan terputus, aku langsung mengemasi pakaian ke dalam koper sesuai perintah Agha. Setidaknya aku tertolong dari tindakan Meti yang seenaknya, ikut mama mertua tidak lah buruk bukan? Apalagi Reva sangat menyukai ku.
Tak selang beberapa menit kemudian, Silvie datang ke kamar ku, entah apa tujuan nya, mungkin Meti mengatakan hal yang di buat berlebihan tentang ku, berselingkuh misalnya.
"Ada apa kak?"
"Itu koper, emang nya kau mau kemana?"
"Besok mama Reva jemput, aku akan ikut bersama nya beberapa hari"
"Kau ingin menghindari mama ku kan?"
"Ya begitulah, aku lelah sekali di sini bersama kalian. Kaka sama sekali tidak perduli dengan ku, sebenarnya ada apa dengan kaka? Kaka membenci ku ya?"
"Kau ini bicara apa? Lagian mama ku hanya menyuruh mu melakukan pekerjaan rumah, apa itu salah?"
"Jelas salah, di saat ada banyak pembantu kenapa dia malah memperbudak ku sendiri?, sudah lah kaka tidak mengerti kerna kaka tidak merasakan nya. Sebaiknya kaka keluar dari kamar ku jika tidak ada keperluan"
"Delly! Kau sudah berani ya sekarang!" Bentak Silvie.
__ADS_1
TBC.