
Tak tak tak
Bunyi langkah heels seorang wanita begitu elegan memasuki Bar makan yang dipesan khusus untuk pertemuan antara istri yang tersingkirkan juga suami yang tak di anggap, mereka adalah Delly dan tuan Fred.
Setelah pembicaraan mereka di telpon waktu itu, tuan Fred mengatakan dia akan datang ke negara ini dan mengatur tempat pertemuan.
Delly menuju ke pelayan Bar untuk menanyakan ruangan tuan Fred, selanjutnya pelayan itu pun langsung mengantarkan Delly ke suatu ruangan privat.
"Di sini Nyonya," katanya.
Dia membuka pintu, dan Delly masuk setelah memastikan kalau itu benar tuan Fred. Ruangan VVIP ini kedap suara, sangat pas untuk membicarakan hal yang sangat rahasia.
"Anda nona Delly?"
"Iya Tuan, senang berjumpa dengan Anda," Salamnya dengan mengulurkan tangan, pria itu pun membalas tanpa sungkan.
"Anda sangat cantik, sebuah keberuntungan berjumpa dengan bidadari seperti Nona."
"Kita langsung ke pembahasan saja Tuan, Anda menginginkan Herna, kan?"
"Tentu saja, dia istriku."
"Ambillah dia, tapi jangan sakiti suamiku."
Pria tua itu menyeringai, asap cerutu nya memenuhi ruangan ini, dalam benak Delly menggerutu karena dia membenci asap rokok.
"Nona adalah orang yang cerdas dan nekat rupanya, saya suka dengan ketegasan Anda. Tapi Nona jika suamimu menganggu, aku tak akan segan segan membunuhnya."
"Makanya Anda butuh saya untuk mengulur waktu."
"Baiklah aku akan mendengarmu, katakan rencanamu."
Pada akhirnya pembicaraan mereka selesai pada pukul sebelas malam. Dengan terburu-buru Delly keluar dari ruangan itu karena dia tidak pernah berada di luar selarut ini. Saat ia ingin memesan taxi, tuan Fred lebih dulu menawarkan tumpangan.
"Bahaya wanita di jam segini naik taxi, ayo saya antar sekalian saya mau tahu alamat Anda."
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan"
Sikap Fred tidak buruk juga, dia ternyata adalah orang yang bertanggung jawab, bahkan sepanjang bersamanya Delly tak melihat dia ingin melakukan hal buruk padanya, malah dia terlihat sangat ramah dan pandai bercanda.
Sesampainya di rumah, Delly dikejutkan oleh keberadaan Agha yang duduk di sofa menatap kedatangannya dengan wajah masam. Karena tak ingin berbicara dengannya, Delly memutuskan untuk melanjutkan langkah mengabaikan Agha.
"Dari mana saja jam segini baru pulang?" tanya Agha namun tidak membuat langkah Delly berhenti.
Tap~
"Kalau ditanya suami itu dkjawab."
"Urus saja sana kekasih tercintamu, " cueknya kembali membalikan badan.
Delly merinding merasakan aura Agha yang seakan menusuknya dari belakang, pria itu sedang menahan emosi.
Greb~
__ADS_1
Di saat Agha berusaha mengontrol emosinya, Herna datang memeluknya dari belakang.
"Sayang sudah malam ayok tidur," ajaknya.
"Herna, malam ini kau tidurlah sendiri."
"Kau ingin tidur dengan Delly?"
Tak menjawab pertanyaan itu, Agha pun langsung pergi menyusul Delly di kamarnya, pertanyaannya tadi masih belum dijawab dan itu membuatnya bimbang.
.
.
"Dell buka pintunya."
"Jangan seperti ini kumohon, baiklah aku mengaku salah jadi bukakan pintunya dulu, kita bisa membicarakan secara baik-baik, sudah cukup menjadi orang asingnya Dell, apa kau tidak capek bersikap cuek seperti itu terus padaku?"
Tidak ada respon sama sekali, hanya ada suara Agha yang berbicara sambil mengetuk pintu, keadaan ini benar-benar kacau.
__ADS_1
Tbc.