I Love You Mr.Detective

I Love You Mr.Detective
Bab ~ 76


__ADS_3

Theo bilang ibunya tidak menerima satu pun laki laki yang datang, pantas kah Agha berharap bahwa Theo adalah putra nya?. Sejak pertama kali melihat Theo Agha merasa anak itu bagian dari nya, anak itu juga sangat mirip dengan Agha.


"Anak ku, Theo Dellgha adalah anak ku"  Dellgha adalah gabungan nama Delly dan Agha, tidak mungkin istrinya itu memberi nama itu kalau Theo bukan lah anak Agha.


Sebenarnya apa arti dari air mata Agha? dia menangis kerna senang atau menangis kerna tidak bisa menghabiskan waktu bersama anak nya?. Mungkin kedua dua nya, anak yang ingin ia culik itu ternyata putra nya sendiri.


Agha menghapus air mata nya, dia masih ada pekerjaan yang harus di selesai kan. Di lain tempat Javer dan Dario sedang menunggu nya, tidak lupa palu dan kapak sudah di siapkan sesuai permintaan Agha.


"Akhirnya datang juga kau" Tegur Javer ketika melihat Agha.


Tempat ini adalah tempat yang mungkin tidak di jangkau oleh orang waras, basement gedung terbengkalai yang sudah tergenang air menjadi saksi sadis yang menggemakan suara jeritan dengan darah yang akan tercampur dengan genangan air.


"Lihatlah Theo, bahkan seorang Detective pun melakukan hal kotor untuk membuat seseorang membuka mulut... Untuk menegakkan keadilan yang kau bicarakan itu, seseorang perlu menjadi iblis" Ucap nya dalam hati.




Melihat anak yang memiliki tekad untuk mewujudkan cita cita nya itu adalah suatu hal yang membanggakan, aku selalu mendorong nya pelan pelan dan membimbing nya selagi aku bisa.



"Mah aku sudah pandai mengeja hehe" Bangga nya. Theo tersenyum bahagia dengan menunjukkan buku dengan tulisan nya yang jelek, wajar! Masih anak kecil.



"Theo pintar sekali"


__ADS_1


"Paman Agha juga banyak mengajari ku semalam, dia sangat baik"



"Paman Agha?"



"Itu paman yang membantu ku semalam"



"*Jangan berpikir aneh aneh Delly, nama Agha bukan satu orang saja. Tapi pria semalam kok postur nya mirip bang Agha ya*?" Tak ambil pusing, aku menganggap nya orang lain saja, mungkin ini memang kebetulan.



Tiba tiba aku terpikir oleh Lewis, sudah tiga tahun kak Silvie dan Lewis tidak bisa di hubungi lagi. Aku rindu bahkan sangat rindu pada putra ku yang satu itu. Aku belum berani ke Amerika kerna takut kebetulan bertemu dengan Agha yang mungkin berkunjung untuk Lewis.




Sementara itu di Amerika, Silvie sudah tidak tau lagi bagaimana cara menangani Lewis.



"Pokoknya aku tidak mau tau! Ibu harus membelikan ku dua laptop baru" Rengek nya.


__ADS_1


"Tapi laptop mu kan masih bagus Lewis, untuk apa yang baru? Dua lagi"



"Untuk pacar ku satu, kami mau couple"



Di usia Lewis yang tiga belas tahun ini dia terang terangan memiliki pacar, dia tidak mau tau dan selalu menuntut Silvie untuk memenuhi keinginan nya.



"Lewis, sudah ibu bilang jangan pacaran, kau masih kecil"



"Berisik! Jangan mengatur ku, kau bukan ibu kandung ku"



Anak ini tumbuh dengan kurang ajar, beberapa kali dia menyakiti perasaan Silvie dengan perkataan nya yang kasar.  Meti sudah tidak bisa berbuat apa apa, dia sudah terlalu tua untuk ikut campur untuk mendidik anak yang keras kapala itu.



"Besok aku mau laptop nya sudah ada" Lewis berlalu pergi begitu saja, sedangkan Silvie lagi lagi meneteskan air matanya.



"Maaf Dell, kerna aku terlalu memanjakan Lewis, anak mu menjadi pembangkang seperti ini" Isak nya, ini salah satu alasan kenapa dia memutus hubungan dengan Delly, Silvie takut Delly kecewa dan mengambil Lewis untuk di didik sendiri.

__ADS_1



Tbc.


__ADS_2