
Usia Lewis sudah tiga bulan, setelah berpikir cukup panjang aku berniat kembali ke rumah Agha, bukan apa apa, hanya saja aku kasihan dengan Agha yang selalu pulang balik bahkan dalam seminggu bisa tiga kali demi melihat putranya.
Sekalian aku ingin memperkenalkan Lewis dengan Silvie, dia pasti akan sangat terkejut, satu yang harus di tekan kan, aku tak akan lepas tangan atas putra ku.
"Yah Dell, padahal kami belum puas bermain dengan Lewis" Ujar Reva.
"Mama bisa datang kapan saja, aku kasihan sama bang Agha mah, dia pasti sangat capek bolak balik terus"
"Yaudah deh kalian hati hati di jalan ya"
Akhirnya kami pergi, ku lihat Agha yang sedang menyetir melirik terus ke Lewis kerna cemas.
"Gak apa apa ni Dell di bawa jalan gini, takut nya kenapa napa"
"Gak apa bang, inikan di mobil bukan di motor"
Agha menyetir dengan sangat hati hati, ia tak ingin gangguan jalan mengusik kenyamanan anak nya, aku tertawa geli dan mempertanyakan kapan sampai nya jika Agha menyetir sepelan ini.
Jeng jeng....
Mulut Silvie ternganga ketika melihat ku datang menggendong seorang bayi, bahkan pandangan nya tak lepas dari Lewis.
"I-itu anak siapa?" Tanya nya.
"Anak ku"
"Apa maksudnya ini? Kapan kau hamil nya?"
"Kak biarkan kami masuk dulu, di sini sangat panas"
__ADS_1
Silvie pun menyingkir dari ambang pintu, namun matanya masih terpaku ke Lewis. Sanking tidak sadar nya ia membiarkan aku masuk begitu saja, padahal ku kira dia akan mengusir ku tadi.
Aku pergi ke kamar ku bersama Agha yang mengangkat koper koper ku masuk. Ku baringkan Lewis yang tertidur di ranjang ku, oh iya sebelum sampai ke sini aku sudah menelpon pembatu untuk membersihkan kamar ku.
"Ini anak siapa?" Tanya Silvie sekali lagi, ternyata dia mengekori ku.
"Anak ku kak"
"Bohong! Kapan kau hamil nya?"
"Sebelum aku pergi dari rumah ini aku sudah hamil"
"Ok, Delly sekarang kau boleh pergi anak ini untuk ku kan?"
"APA!"
"Silvie, jangan berteriak, nanti Lewis bangun" Potong Agha.
"Gha, Delly sudah memberikan anak. Tepati janji mu dulu, ceraikan dia"
"Silvie, aku tak pernah berjanji untuk menceraikan Delly"
__ADS_1
Drrrt Drrt Drrt
HP Agha berdering, ia pun keluar untuk mengangkat telpon. Sekarang tinggal aku kak Silvie dan Lewis.
"Kak kau juga ibu Lewis, aku tidak akan melarang mu berperan sebagai ibu kedua bagi Lewis. Aku mamanya kau ibunya, bagaimana? Apa kaka mau?"
Silvie melirik ke arah manusia kecil yang sedang tertidur di sana, air matanya turun menatap bayi itu penuh kekaguman.
"Aku ibunya?"
"Dia akan memanggil ku ibu?"
"Aku boleh ikut menjaganya?"
Setiap pertanyaan dari kak Silvie ku jawab dengan anggukan, ku lihat dia memeluk ku dan menangis.
"Orang lain tidak akan menganggap ku cacat lagi kan Dell? aku ibu Lewis Dell, dia anak ku juga kan"
Aku membalas pelukan nya, dia begitu terharu.
Sekarang kalian mengerti kenapa aku tidak pernah menaruh benci pada kak Silvie?. Menjadi kak Silvie itu berat, dia selalu di hina cacat dan harus rela berbagi suami.
Lalu kenapa aku pergi untuk menyembunyikan kehamilan ku dulu? Kerna mungkin saat itu kak Silvie akan mencelakai ku kerna iri, ku tunggu sampai kelahiran agar aku bisa menyejukkan hati nya dengan berbagi peran dengan nya. Ya akhirnya aku berhasil.
__ADS_1
TBC.