Istri Simpanan

Istri Simpanan
Part 10. Istri Simpanan.


__ADS_3

Aleeya tak langsung pulang melainkan berhenti di sebuah taman. Aleeya bersantai disana sampai jam pulang kerja. Sebenarnya kepalanya terasa sangat pusing tetapi ditahannya.


Sekarang Aleeya sudah berada depan rumahnya, saat mau membuka handle pintu ternyata di kunci. Aleeya lantas mengambil kunci yang di taruh dekat pot bunga, lalu Aleeya segera membuka pintu rumahnya.


Aleeya sangat bersyukur karena rumah sedang sepi, ia memanfaatkan keadaan ini. Aleeya masuk dalam kamar mandi dan mencoba testpack yang di belinya tadi. Beberapa menit kemudian garis mulai kelihatan, pupil matanya membesar melihat hasil testpack menunjukkan garis dua, tangan bergetar sampai testpacknya jatuh ke lantai. Air mata tak terbendung lagi, hingga mengalir begitu saja.


"Yaallah bagaimana jika kedua orang tua ku tau, aku tengah mengandung. Aku harus jawab apa, haruskah aku jujur kalau aku di perkosa oleh tuan yang menginap di villa yang mereka bersihkan. Tapi tuan itu sudah mengatakan tidak akan bertanggung jawab."


"Apa yang harus ku lakukan hiks."


Tubuh Aleeya luruh dalam kamar mandi, ia menangia tersedu-sedu memikirkan nasibnya dan nasib anak dalam kandungannya.


"Tidak nak, walaupun ayah mu menolak kehadiran mu. Bunda akan tetap mempertahankan mu, bagi bunda hadir adalah sebuah anugrah," ucap Aleeya sembari mengelus perut ratanya, Aleeya berdiri kembali dan menghapus sisa air mata di pipinya.


"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Aku akan jujur pada bapak nanti, untuk semantara waktu aku akan menyembunyikan kehamilan ini."


Aleeya membasuh wajahnya, lalu keluar dari kamar mandi. Memilih masuk kekamarnya, sebenarnya Aleeya ingin masak, tetapi ia akan mual mencium bau bawang. Aleeya membaringkan tubuhnya dan terlelap tidur.


...•••...


Pukul enam sore, Aleeya terbangun mendengar suara alarm di ponselnya. Saat Aleeya meletakkan ponsel lagi di meja kecil samping kasur lipat. Aleeya menepuk keningnya mencari-cari testpack miliknya.


"Perasaan tadi aku taruh disini, kok udah hilang aja, atau aku yang lupa menaruhnya dimana," ucap Aleeya berdiri dan berjalan-jalam sambil mengingat-ingat.


"Leeya apa kamu mencari ini nak." Nur, Ibu Aleeya tiba-tiba muncul dan berdiri di ambang pintu. Ekspresi Nur tampak marah dan kecewa, alisnya tertarik kebawah menatap tajam putrinya.


Aleeya terkejut, mulunya mengaga mengetahu testpack yang di carinya berada di tangan Ibunya.


"Siapa ayahnya, Leeya?!" Nur mendekat Aleeya, mencengkram pundak putri sulungnya.


"Ibu." Aleeya tak bisa menjawabnya dan menggelengkan kepala.


"Jawab nak, siapa ayah bayi dalam kandungan mu? Siapa nak yang sudah melakukan hal keji ini pada mu, Ibu tau kau seperti apa, karena kamu adalah anak Ibu. Tidak mungkin kamu berbuat itu, kecuali di unsur paksaan," tekan Nur terus-menerus mendesak putrinya agar mau berkata jujur.

__ADS_1


"Hiks Ibu maafkan Leeya! Aku udah kotor hiks, dia sudah mengambil harta berharga milik ku," lirih Aleeya menangis memeluk Ibunya.


"Siapa nak yang melakukan ini padamu? Ibu tidak akan marah asalkan kamu jujur, orang itu harus bertanggung jawab atas perbuatan," ucap Nur mengusap punggung putrinya.


"Tidak bu, orang itu tak mau bertanggung jawab. Biarkan saja bu, Leeya bisa menjaga dan menghidupinya sendirian." Ucapan Aleeya membuat Nur meradang, Nur tak habis pikir dengan jalan pemikiran putrinya ini.


"Dengarkan Ibu, Leeya. Kamu mungkin bisa menjaga dan menghidupi dia, tapi nanti ketika dia besar dia akan bertanya ayahnya, akibat cemoohan tetangga maupun ejekan dari temannya. Mengertilah nak, dia kasih sayang orang tua lengkap," tukas Nur.


"Ibu benar, dia butuh kasih sayang ayahnya juga," batin Aleeya.


"Hiks, o-orang yang telah menghamili aku adalah tuan yang menginap di villa yang kita bersihkan bu." Aleeya akhirnya mengatakan kejujuran, walaupun terbata-bata. Aleeya juga menceritakan awal mula kejadian tuan itu memperkosanya.


"Kita akan beritahu bapak soal ini dan berangkat ke kota mencari orangnya." Pungkas Nur keluar dari kamar Aleeya.


Kini mereka sekeluarga sedang makan malam bersama. Setelah selesai makan malam Aleeya membantu Ibunya berberes, Aleeya mencuci alat-alat dapur dan piring-piring kotor bekas makan mereka.


"Aleeya kesini nak," panggil Ridho, meminta putrinya mengambil tempat duduk di sebelahnya.


"Ibu sudah menceritakan semua pada bapak tentang kehamilan mu ini. Awalnya bapak ingin marah padamu nak, tapi saat mendengar kelanjutan cerita Ibu mu. Bapak memahaminya, disini kamu adalah korban. Jadi besok kita akan pergi ke kota mencari orang yang telah memperkosa mu," ujar Ridho membuat keputusan.


Zaki yang mendengar cerita Ibu juga sempat emosi. Rupanya remaja itu ingin sekali memukul wajah pria bajingan yang sudah menghamili kakaknya.


Zaki mendekati kakaknya dan mereka berpelukan, "Zaki tau pasti hati kakak lagi sakit banget. Zaki ngerasa gak berguna, karena gagal ngejaga kakak, sampai kakak harus mengalami hal yang tidak harus terjadi." Ucapan Zaki membuat Aleeya terharu, adiknya ini memang masih remaja, tapi pemikiran sudah seperti orang dewasa.


"Hust! Jangan menyalahkan dirimu, semua ini sudah terjadi. Tapi kamu masih punya adik perempuan Raina, kamu harus menjaga dan melindungi adik kita. Raina tak boleh sampai mengalami hal yang sama seperti dialami kakak," papar Aleeya.


"Zaki janji akan menjaga Raina dengan sebaik mungkin. Zaki akan lebih mengawasi pergaulan Raina mulai saat ini," ucap Zaki.


Semantara Ridho dan Nur tersenyum bangga mempunyai anak seperti Zaki. Umurnya masih 14 tahun tapi pemikiran sudah sangat dewasa menyikapi hal yang terjadi terhadap kakaknya.


Di luar memang hanya ada mereka berempat, sedangkan Raina berada di kamar. Setelah selesai makan, Raina langsung masuk kamar karena ada tugas sekolah yang harus di kerjakan.


"Zaki besok bapak akan menemani kakak mu pergi ke kota, kamu jaga Ibu dan adikmu ya nak," pesan Ridho.

__ADS_1


"Baik pak, aku akan menjaga Ibu dan adik," jawab Zaki.


"Loh bapak, jadi Ibu gak jadi ikut?" ujar Nur bertanya.


"Engga usah bu, biar bapak dan Aleeya saja ke kota," ucap Ridho.


"Ibu," seru Raina dalam kamar memanggil Nur.


"Iya nak, sebentar Ibu kesana." Nur berdiri dan melangak menuju kamar putri bungsunya. Seperti biasa jika Raina sudah memanggil artinya Nur harus kesana menemani putri bungsunya hingga tertidur.


"Leeya kemas pakaian mu ya nak. Jangan banyak pikiran, tak baik untuk kehamilan mu. Besok sebelum berangkat kita pergi ke rumah sakit dulu, memeriksakan kehamilan mu. Kamu tenang saja, kita pasti menemukan tuan itu, bapak akan memaksanya bertanggung jawab," kata Ridho penuh ketegasan.


Aleeya hanya bisa mengangguk. Zaki mengantarkan Aleeya kekamar.


"Kakak istirahat ya, ingat yang dibilang bapak barusan. Jangan banyak pikiran, oke!" ucap Zaki mengingatkan kakaknya.


"Iya, sudah kamu sana juga tidur. Besok harus sekolahkan, kamu harus sekolah yang rajin."


"Siap kakak!"


Setelah itu Zaki keluar dan meninggalkan Aleeya sendirian di kamarnya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609 @therealdianti26_


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasih💓


__ADS_2