
Dua hari setelah kepulangan Dipa dan Bunga, tiba-tiba Bintang ditelpon oleh Bu Dewi agar segera ke Jakarta karena ada hal yang penting.
Hari itu juga Bintang dan Langit pergi ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Bintang menerka-nerka ada masalah penting apa sampai Bu Dewi memintanya untuk segera datang ke Jakarta.
"Kemarin ibu kedatangan tamu, mereka mengaku sebagai keluarga kamu. Awalnya Ibu tidak percaya begitu saja , tapi mereka memiliki bukti-bukti yang menunjukkan kalau kamu adalah keluarga mereka " ucap Bu Dewi.
Bintang mematung , benarkah ia mempunyai keluarga ? benarkah ia bukan yatim piatu seperti yang ia pikirkan selama ini ?
"Besok mereka akan datang lagi kesini, mereka ingin bertemu dengan kamu " Bu Dewi menyentuh punggung tangan Bintang.
"Mereka memiliki bukti apa jika aku adalah yang mereka cari ?" tanya Bintang.
"Mereka mengatakan jika kamu memakai kalung emas bertuliskan nama kamu " jawab Bu Dewi.
Bintang teringat akan kalung bertuliskan Bintang yang selalu ia pakai sejak kecil, namun akhirnya ia lepas karena sudah sempit di lehernya.
"Bagaimana kalau mereka berbohong Bu ?" tanya Bintang.
"Untuk membuktikan apakah mereka keluarga kamu atau bukan adalah dengan cara tes DNA, kita bisa minta bantuan dokter Leon " jawab Bu Dewi.
"Jangan minta bantuan dia Bu " saran Bintang. Ia tidak mau berhubungan dengan keluarga Dipa terutama Dina dan Leon.
"Baiklah " jawab Bu Dewi mengerti.
"Apakah Dipa tau jika kalian ke Jakarta? " tanya Bu Dewi.
"Tidak Bu , aku tidak bilang Mas Dipa kalau kesini " jawab Bintang.
"Sebaiknya kamu kasih tau Dipa, walau bagaimanapun dia masih suami kamu, Dipa harus tau karena ini menyangkut keluarga kamu berarti keluarga Dipa juga " nasehat Bu Dewi.
"Iya Bu, nanti aku kasih tau Mas Dipa " jawab Bintang.
Setelah pembicaraan dengan Bu Dewi selesai Bintang pun mengabari Dipa jika ia dan Langit ada di Panti Asuhan.
Mendengar Bintang dan Langit ada di Jakarta tidak lama kemudian Dipa pun datang. Dipa sempat berbicara dengan Bu Dewi tentang rencana pertemuan Bintang dengan keluarganya.
"Aku akan mendampingi Bintang Bu " ucap Dipa.
"Sebaiknya memang begitu " jawab Bu Dewi.
Bintang sendiri masih terlihat bingung. Ia tidak tau harus sedih atau senang akan bertemu dengan orang yang mengaku keluarganya. Dan Dipa sangat tau jika saat ini Bintang sedang membutuhkan pendamping.
Karena keterbatasan kamar malam itu Dipa membawa Bintang dan Langit tidur di apartemen. Rencananya besok Dipa akan mengantarkan Bintang jika orang yang mengaku keluarga Bintang sudah datang.
Setibanya di apartemen Bintang tampak banyak termenung. Ia tidak menyangka tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai keluarga nya padahal selama hidupnya ia merasa sebagai anak yatim piatu.
"Jangan takut Neng.. seharusnya kamu senang akan bertemu dengan keluarga kamu " Dipa menyentuh punggung tangan Bintang membuat lamunan Bintang pun buyar.
__ADS_1
"Aku merasa seperti sedang bermimpi Mas " jawab Bintang lirih.
"Mau aku cubit biar kamu yakin tidak sedang bermimpi ?" tanya Dipa sambil tersenyum.
"Tidak " jawab Bintang sambil mendelik kearah Dipa.
"Huuh..datang lagi judesnya. Kapan sih kamu akan bersikap manis sama aku ?" tanya Dipa bernada mengeluh. Bintang hanya mendengus.
"Mas.." panggil Bintang.
"Ya " jawab Dipa.
"Apa perlu dilakukan tes DNA ?" tanya Bintang.
"Harus.. biar yakin " jawab Dipa. Bintang mengangguk.
"Aku penasaran apa alasan keluarga ku menitipkan aku di panti asuhan " ujar Bintang dengan wajah sendu.
"Kita tanyakan besok..mereka pasti punya alasan ketika mengambil keputusan untuk menitipkan kamu di panti asuhan " Dipa menggenggam tangan Bintang agar istrinya itu tenang. Lagi-lagi Bintang mengangguk. Disaat seperti ini Dipa merasa dibutuhkan oleh Bintang.
"Sekarang kamu tidur, kalau kurang tidur nanti kamu sakit. Aku takut keluarga kamu menyalahkan aku karena tidak becus menjaga kamu " ujar Dipa berseloroh. Bintang pun naik keatas kasur dan membaringkan tubuhnya disamping Langit yang sudah lebih dulu tertidur. Tidak lama Dipa pun menyusul.
"Mas..apakah Bunga tau kalau aku ada di Jakarta?" Bintang tiba-tiba mengingat Bunga.
"Dia tidak tau..kalau tau dia pasti ribut ingin ikut kesini dan Lana juga pasti ingin ikut..ribet " jawab Dipa.
"Anaknya Leon dan Dina " jawab Dipa.
"Ooh ' jawab Bintang. Dipa melirik kearah Bintang untuk melihat reaksinya ketika ia menyebut Dina dan Leon.. reaksinya benar-benar datar dan tidak terbaca.
Tidak lama kemudian Bintang pun tertidur. Dipa memiringkan tubuhnya menghadap kearah Langit dan Bintang. Ada rasa trenyuh dalam hati Dipa mengingat betapa sulit perjuangannya untuk mendapatkan hati Bintang seutuhnya.
*
Keesokannya Dipa sengaja tidak masuk kantor karena ia akan menemani Bintang untuk bertemu dengan keluarganya.
Mendekati waktu pertemuan yang dijanjikan Dipa pun mengantarkan Bintang dan Langit menuju ke panti asuhan 'Kasih Ibu '
"Jangan tegang Neng , aku ada untuk kamu " Dipa menggenggam jemari Bintang yang dingin dan berkeringat. Diluar dugaan Bintang balas meremat jemari Dipa menyalurkan kegelisahannya yang disambut dengan rasa suka cita oleh Dipa.
"Bunda kenapa pegangan sama Ayah .. apakah takut jatuh ?" tanya Langit. Selama ini Langit tidak pernah melihat Ayah dan Bundanya berpegangan tangan seperti itu.
"Bukan takut jatuh Boy..Bunda sedang manja sama Ayah seperti kamu " jawab Dipa berseloroh tanpa berniat melepaskan jemari Bintang dari genggamannya.
"Aku kalau sedang manja sama Ayah selalu minta di gendong " oceh Langit.
Bintang dan Dipa tertawa. Jika Bintang ingin digendong pun Dipa pasti akan senang hati melakukannya.
__ADS_1
Jemari Bintang terasa semakin dingin ketika mobil Dipa telah sampai di panti asuhan ' Kasih Ibu '
Di halaman telah terparkir sebuah mobil mewah. Dipa dan Bintang turun dari mobilnya dengan Langit berada dalam gendongan Dipa.
Ketika memasuki ruangan yang biasa dipakai oleh Bu Dewi untuk menerima tamu, langkah Bintang terhenti ketika melihat orang yang dikenalnya tengah duduk bersama seorang pria paruhbaya.
"Akhirnya kalian datang " Bu Dewi mengambil Langit dari gendongan Dipa kemudian menyuruh keduanya duduk di kursi yang sudah disediakan.
Kedua pria itu terus menatap lekat kearah Bintang. Bahkan mata pria paruh baya yang bernama David itu tampak berembun. Berbeda dengan pria muda bertato di sampingnya, ia terlihat sedang berusaha mengingat sesuatu.
Bintang duduk berdampingan dengan Dipa dengan tangan saling bertautan.
Bu Dewi menitipkan Langit kepada pengasuh sebelum meminta pria bernama David yang mengaku sebagai Ayah Bintang untuk menceritakan kronologis kejadian 20 tahun yang lalu.
"Saat itu kondisi keuangan keluarga saya sedang sangat buruk. Saya mengalami PHK dan istri saya meninggal ketika melahirkan Bintang. Saat itu saya mendapat tawaran pekerjaan di Singapura, karena tidak mungkin membawa Bintang yang masih bayi akhirnya saya menitipkan Bintang disini dan saya pergi mengadu nasib ke Singapura membawa Daniel yang saat itu berusia lima tahun.
Di Singapura saya menikah dengan seorang pengusaha dan disana kehidupan kami mulai membaik. Namun saya kesulitan untuk pulang ke Indonesia untuk menemui Bintang. Beberapa bulan yang lalu istri saya meninggal dan barulah saya mempunyai kesempatan untuk mencari keberadaan Bintang " Pak David menceritakan alasan kenapa ia menitipkan Bintang di Panti Asuhan.
"Apakah anda tidak memiliki keluarga lain sehingga harus meninggalkan Bintang di Panti Asuhan ?" tanya Dipa.
"Tidak ada, kami sama-sama berasal dari panti asuhan di Sulawesi " jawab pak David.
"Putra anda tampaknya sudah lumayan lama tinggal di Indonesia, kenapa tidak berusaha mencari Bintang ?" tanya Dipa.
Jika dirunut ke belakang Daniel sudah berada di Indonesia sejak empat tahun yang lalu bahkan mungkin lebih. Daniel langsung menatap kearah Dipa dengan tatapan menyelidik.
"Daniel sudah lima tahun yang lalu mulai merintis bisnis di Jakarta dan Bandung. Saat kami menitipkan Bintang disini dia masih terlalu kecil dan nyaris melupakan jika ia memiliki adik " jawab Pak David.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Daniel menatap lekat kearah Bintang dan Dipa.
"Ya..kita pernah bertemu empat tahun yang lalu " jawab Bintang dengan suara bergetar.
"Empat tahun yang lalu ?" kini tatapan Daniel terfokus kearah Bintang.
"Kamu masih ingat Sandra dan Dion ? aku adalah teman mereka yang nyaris kamu perkosa " ucap Bintang.
Daniel tampak terhenyak dikursinya. " Ya Tuhaaan..jadi gadis itu.."
Pak David dan Bu Dewi tampak shock mendengar pembicaraan Daniel dengan Bintang.
Diluar dugaan Pak David langsung melayangkan bogem mentahnya kepada Daniel. "Dasar brengsek kamu "
"Aku tidak tau kalau dia itu Bintang adik aku Pah..tapi aku berani bersumpah, aku tidak sempat melakukannya karena Bintang berhasil kabur " Daniel membela diri.
Tubuh Bintang tampak gemetar dalam pelukan Dipa. Seharusnya Bintang bahagia bertemu dengan keluarganya, namun yang Bintang rasakan adalah rasa benci yang menggunung ketika mengetahui kenyataan jika kakaknya adalah pria yang nyaris memperkosanya empat tahun yang lalu. Bintang tidak dapat bayangkan jika malam itu ia tidak berhasil kabur.
Melihat Bintang yang terlihat sangat shock akhirnya Bu Dewi menyuruh kedua tamunya itu pulang. Mereka baru diperbolehkan datang lagi untuk menemui Bintang setelah kondisi Bintang mulai tenang.
__ADS_1