Istri Simpanan

Istri Simpanan
Couvade Sindrom


__ADS_3

"Sudah telepon Elsa nya ?" tanya Dipa ketika Bintang kembali ke kamar dan mengembalikan ponselnya.


"Sudah " jawab Bintang seraya duduk disofa di sebelah Dipa.


"Mereka ngobrol apa saja ?" tanya Dipa sambil mengulurkan tangannya mengelus perut Bintang yang mulai terlihat menonjol.


"Bunga cerita sama Mbak Elsa kalau dia mau punya adik, masa dia bilang mau punya adiknya tiga " jawab Bintang sambil terkekeh.


"Terus Bunga cerita apalagi ?" tanya Dipa, kini tangannya mulai naik menuju dada montok Bintang dan mere masnya dengan lembut.


"Bulan depan Mbak Elsa akan ke Jakarta, mereka akan ketemuan" jawab Bintang.


"Ooh " hanya itu jawaban Dipa.


"Kok cuma oh ?" tanya Bintang.


"Kalau aku bilang yang lain nanti kamu cemburu lagi " jawab Dipa. Bintang pun mencebik.


"Nanti kalau Elsa ke Jakarta kamu saja yang antar Bunga, aku tidak ikut " ujar Dipa


"Takut ketemu mantan ya ?" ledek Bintang.


"Bukan takut ketemu mantan Neng, yang aku takutkan justru kamu.. nanti kamu cemburu dan ujung-ujungnya aku lagi yang salah " jawab Dipa. Bintang hanya mencebik.


"Makanya jangan ganjen " dengus Bintang. Dipa tidak menjawab karena takut salah bicara yang ujungnya akan merugikan dirinya sendiri.


"Iya..untuk urusan pertemuan Elsa dan Bunga selanjutnya itu menjadi urusan kamu saja Neng karena kamu Bundanya, aku tidak akan turut campur urusan perempuan " ujar Dipa.


"Mana bisa gitu, kamu juga kan Ayahnya "


"Aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Elsa " jawab Dipa.


Dipa yang mulai asik mere mas squisi nya tiba-tiba menarik tangannya ketika dari balik pintu muncul sesosok bocah tampan yang dengan manjanya langsung naik ke pangkuan Dipa.


"Aa ingin tidur sama Ayah dan Bunda " ucapnya manja.


"Kenapa tidak mau tidur sendiri ?" tanya Dipa sambil mendekap tubuh bocah itu dan ia turunkan diatas ranjangnya.

__ADS_1


"Karena seharian Ayah dan Bunda sibuk, jadi Aa kangen " jawabnya manja.


"Oh begitu.. kalau begitu malam ini Ayah akan peluk Aa sampai tidur " Dipa memeluk Langit dan mengelus punggungnya hingga bocah tampan itupun tertidur sambil memeluk perut Dipa.


Setelah berhasil menidurkan Langit kini fokus Dipa kembali tertuju kepada Bintang. " Sini Neng, sekarang Bundanya yang aku kelonin "


Bintang pun langsung naik keatas ranjang kemudian menyusupkan tubuhnya dalam dekapan Dipa. Jika tadi Dipa mengelus punggung Langit, maka cara memperlakukan Bintang sedikit berbeda. Dipa lebih suka mengelus bagian depan tubuh Bintang, apalagi pada dua bagian dada montok pavoritnya.Alhasil bukan membuat Bintang tertidur yang ada malah membuat wanita yang sedang berbadan dua itu menggelinjang kegelian.


"Kalau begini mana bisa aku tidur Mas " ucap Bintang sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kalau mau tidurnya enak harus cape dulu Neng " bisik Dipa sambil merangkak keatas tubuh Bintang.


"Yaang..ada Langit " Bintang melirik Langit yang tertidur pulas disebelah nya.


"Neng aku suka kamu panggil aku Yang " bisik Dipa.


Dipa semakin terbakar gairah ketika Bintang memanggilnya 'Yang ', tanpa pikir panjang Dipa pun langsung menerkam tubuh Bintang seperti singa yang sedang kelaparan.


*


Menjelang hari kedatangan Elsa ke Jakarta, Bintang dan Bunga memesan buket bunga yang cantik untuk Elsa.


"Aa kenapa cemberut saja ?" tanya Bunga sambil memeluk bahu Langit.


"Kak Bunga jangan lama-lama ya perginya, aku tidak ada teman " pinta Langit.


"Tidak, kakak cuma tiga hari karena kata Mommy mereka hanya akan tiga hari berada di Jakarta nya " jawab Bunga.


"Tapi tiga hari itu lama kak "


"Tidak apa-apa Aa..kakak Bunga kan jarang bertemu dengan Mommy nya " Bintang mengelus kepala Langit memberi pengertian kepada bocah itu agar tidak menghalanginya Bunga untuk bertemu dengan ibunya.


"Baiklah " Langit mengangguk lemah.


"Selagi kak Bunga tidak ada Aa kan bisa main sama Lana " Dipa ikut menghibur putranya. Lagi-lagi Langit mengangguk.


Setelah semuanya siap Bintang pun bersiap untuk mengantarkan Langit ke hotel biasa tempat Elsa dan suaminya menginap.

__ADS_1


Begitu memasuki lobby, Elsa dan suaminya sudah menunggu disana. Begitu melihat Elsa ,Bunga pun langsung berlari memeluk Elsa seraya memberikan buket bunga yang ia bawa sejak turun dari mobil.


"Ini untuk Mommy " ucap Bunga sambil mencium pipi Elsa.


Elsa tampak terharu dengan apa yang Bunga lakukan. Rasa bersalah dan penyesalan merasuk di relung hati Elsa. Ia ingat bagaimana ia dulu begitu cuek dan tidak perhatian kepada Bunga. Jika saja waktu bisa diputar kembali, ingin sekali ia kembali ke masa lalu dimana ia bisa mendekap putrinya setiap hari dan melihat proses tumbuh kembangnya.


Dengan masih mendekap Bunga, perlahan Elsa mendekat kearah Bintang. " Selamat ya atas kehamilan kamu ini, kemarin Bunga bilang jika ia akan punya adik "


"Iya Mbak, terimakasih" jawab Bintang.


"Bunga pasti akan lebih senang lagi jika Mbak Elsa juga memberi adik untuk Bunga " lanjut Bintang.


"Oh..i..iya. semoga saja " jawab Elsa gugup.


Setelah menyerahkan Bunga kepada Elsa, Bintang pun pamit pulang. Ia buru-buru pulang karena Dipa terus-terusan menelponnya menyuruh pulang.


"Bundaa, ayah sakit..daritadi muntah-muntah terus di kamar mandi " lapor Langit sambil menunjuk Ayahnya yang sedang terbaring lemas diatas kasur.


"Bapak sudah saya kasih air rebusan jahe hangat Bu biar mualnya sedikit reda " ujar Bik Asih sambil menggendong Langit keluar agar tidak mengganggu Ayahnya yang sedang beristirahat.


Meskipun tidak terlalu sering, namun Dipa masih mengalami sindrom couvade dan itu sedikit mengganggu aktifitasnya.


"Sayang, apakah masih mual ?" Bintang duduk disisi ranjang kemudian mengelus perut Dipa yang baru kayu putih.


"Sedikit " jawabnya lemah sambil memeluk perut Bintang.


"Kasian kamu Mas " Bintang mengelus rambut tebal Dipa dengan lembut.


"Kamu kalau pergi jangan lama-lama Neng, aku tidak mau jauh dari kamu " bisiknya manja.


"Ya ampun Mas, aku perginya tidak sampai dua jam..masa dibilang lama sih , Langit juga tidak rewel "


"Lama tau..sekarang kamu rebahan saja disini dan temani aku tidur !" Dipa menarik tubuh Bintang agar berbaring disisinya.


Dipa menyangga kepalanya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya melepaskan tautan kancing kemeja Bintang.


"Kamu itu sudah tua Mas,masa mau nyusu terus " Bintang mencubit ujung hidung Dipa dengan gemas.

__ADS_1


"Tidak usah protes " ujar Dipa.


"Sepertinya waktu bayi kamu tidak dikasih ASI yang cukup ya sama Mama ?" tanya Bintang sambil meremas rambut Dipa ketika mulut pria itu mulai menghisap pu ting nya dengan rakus. Bintang terkekeh ketika lidah Dipa memainkan pu tingnya dengan lincah. Dipa tidak mengerti jika dengan menyu si rasa mualnya menjadi sedikit mereda.


__ADS_2