Istri Simpanan

Istri Simpanan
Morning sickness


__ADS_3

Bintang tergopoh-gopoh masuk ke kamar karena Dipa terus memanggil-manggilnya. "Ada apa sih Mas ga sabaran banget ?"


"Kamu darimana sih Neng, suami kok ditinggal -tinggal " Dipa memberenggut.


"Aku tidak kemana-mana cuma nganterin puding buat Dina " jawab Bintang sambil duduk di sisi ranjang dimana Dipa sedang berbaring sambil bermain game di ponselnya.


"Jangan kemana-mana, temani aku disini !" Dipa menepuk kasur disebelahnya menyuruh Bintang untuk naik.


"Malas ah ngapain nemenin kamu main game, mendingan aku jagain anak-anak takut pada berantem "


Bintang hendak beranjak keluar kamar namun suara Dipa yang menggelegar membuat Bintang langsung menghentikan langkahnya.


"Mau kemana kamu ? aku bilang temani aku disini "


"Ck..manja banget sih Mas, bosen tau nemenin orang main game " Bintang menggerutu sambil naik ke atas ranjang sesuai perintah Dipa.


Setelah Bintang duduk disisinya, Dipa pun menjatuhkan kepalanya di pangkuan Bintang dan melanjutkan permainannya sambil sesekali mengelus dan menciumi perut Bintang.


"Mas kamu itu manja sekali sih.. Bunga dan Langit yang mau punya adik malah kamu yang ngalahin manjanya dari mereka " Bintang mengelusi kepala Dipa.


"Hhm.." hanya itu jawaban Dipa. Ia terlalu asik bermain game hingga terlalu malas untuk sekedar menjawab ucapan Bintang.


Bintang yang mulai bosan dan kesal pun mulai mencari-cari perhatian Dipa.


"Mas..aku ingin makan pasta dong " Bintang tiba-tiba mencolek-colek pipi Dipa.


"Hmm..kamu suruh saja si Bibik buatkan gih, atau kita pesan di restoran langganan kita " jawab Dipa santai tanpa mengalihkan matanya dari ponselnya.


"Aku mau pasta buatan kamu " jawab Bintang.


"Aku tidak bisa Neng, takut tidak enak " dusta Dipa. Padahal sewaktu di Australia ia cukup pintar membuat pasta.


"Pokoknya aku ingin pasta buatan kamu sekarang ! " Bintang langsung merebut ponsel Dipa tidak ingin dibantah.


"Hmm.. baiklah, tunggu ya Ayah akan buatkan " Dipa sama sekali tidak marah meskipun ponselnya Bintang rampas.


Dipa mencium perut Bintang terlebih dahulu sebelum turun dari ranjang kemudian beranjak menuju dapur.


Bintang pun ikut turun dari ranjang namun ia tidak pergi ke dapur mengikuti Dipa, namun Bintang memilih menemui anak-anak yang sedang bermain dengan diawasi oleh Papa Ardi dan Mama Niken.


"Lana nya masih kelihatan murung Neng " bisik Mama Niken ketika Bintang duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Kelihatannya begitu Mah " jawab Bintang sambil terus lekat menatap Lana yang memang terlihat tidak seceria dari biasanya.


"Maklum dia sangat ingin punya adik. Jadi wajar kalau merasa sedih dan kecewa " ujar Papa Ardi.


Hari itu tidak terdengar pertengkaran sedetikpun, Bunga sepertinya sangat mengerti kesedihan yang sedang saudara sepupunya itu rasakan, sehingga ia begitu sabar dan tidak mengajak Lana bertengkar.


Sementara di dapur Dipa tampak sedang sibuk berkutat dengan bahan pembuat pasta yang baru ia ambil dari kulkas.


"Sedang membuat apa Mas ?" tanya Leon yang hendak mengambil air minum di dapur.


"Gw mau bikin pasta, si Neng geulis ingin dibuatkan pasta " jawab Dipa sambil memastikan semua bahan yang ia butuhkan sudah lengkap.


Leon tersenyum tipis ketika Dipa menyebut mantan kekasihnya itu Neng geulis, sangat terlihat sekali Dipa begitu memuja Bintang.


"Mau aku bantu Mas ?" Leon menawarkan diri.


"Tidak usah, nanti dia murka kalau lihat gue ada yang bantuin, wanita hamil kan kelakuannya suka aneh...mending lu duduk saja disitu dan temani gue !" Dipa menunjuk kearah meja makan.


Leon pun duduk di kursi yang ditunjuk Dipa dan menemani Dipa yang mulai sibuk membuat pasta.


"Apa Bintang sudah mulai ngidam yang aneh-aneh Mas ?" tanya Leon.


"Ini baru permintaan pertama Mas, siap-siap saja permintaan kedua,


ketiga dan seterusnya " ujar Leon sambil tertawa.


"Tidak apa-apa, semua permintaan dia akan gue jabanin.. karena saat hamil Langit gue tidak tau " jawab Dipa terdengar sangat menyesal.


Leon tetap duduk ditempatnya sampai kakak iparnya itu selesai membuat pasta untuk Bintang yang terlihat sangat lezat.


"Lu mau nyoba pasta buatan gw Le ?" tanya Dipa.


"Tidak Mas..buat Bintang saja. Aku sedang tidak nafsu makan " tolak Leon.


Dipa sangat mengerti apa yang sedang Leon rasakan saat ini. Jadi ia tidak mau memaksa dan mengajak adik iparnya mengobrol adalah cara Dipa agar Leon dapat melupakan sejenak kesedihan nya.


"Neng, pasta nya sudah jadi " Dipa menghampiri Bintang yang sedang mengawasi anak-anak bersama Papa Ardi dan Mama Niken.


Melihat Ayahnya datang dengan membawa Pasta, ketiga bocah itu pun berlari memburunya.


"Ayaaah mauuu !"

__ADS_1


Dipa tampak kebingungan karena pasta itu sengaja dibuat untuk Bintang.


Bintang mengambil piring berisi pasta ditangan Dipa kemudian makan bersama ketiga bocah itu.


Bunga, Langit dan Lana yang lelah bermain makan dengan sangat lahap. Dipa menatap prihatin kearah Bintang yang makan sedikit.


"Mau aku buatkan lagi Neng ?" tanya Dipa.


"Tidak usah " jawab Bintang.


"Buat lagi sana Di, Papa dan Mama sepertinya juga ingin coba pasta buatan kamu " ujar Papa Ardi.


"Baiklah " Dipa pun kembali lagi ke dapur dengan membawa piring yang sudah kosong. "Ini sih yang ngidam pastanya rombongan " gumamnya.


Kali ini Dipa membutuhkan bantuan Leon karena ia akan membuat pasta yang lebih banyak dari yang tadi untuk Mama, Papa dan juga Dina.


*


Setelah kondisi Dina sudah kembali pulih, ia mulai kembali beraktivitas dengan normal. Tidak ingin terlalu lama larut dengan kesedihannya Dina pun memilih menyibukkan diri dengan mengurus Lana dan kedua keponakannya.


Bintang yang sedang hamil muda mulai mengalami morning sickness yang mulai mengganggu aktivitasnya. Beruntung ada Dina yang ikut membantu mengurus anak-anak.


Setiap hari Dina lah yang mengantar jemput anak-anak ke sekolah sehingga Bintang bisa fokus dengan kehamilannya.


"Apakah waktu hamil Langit juga kamu begini Neng ?" tanya Dipa sambil memijit tengkuk Bintang ketika pagi itu Bintang memuntahkan kembali sarapannya.


"Ya..tapi tidak terlalu parah, sepertinya Langit kasian sama Bundanya karena..."


Bintang tidak dapat meneruskan ucapannya karena Dipa buru-buru memeluk punggungnya. " Stop.. jangan diteruskan Neng !"


"Kamu itu aneh..tadi kamu sendiri yang nanya " Bintang menggerutu.


Setelah memuntahkan sarapannya, Dipa membimbing Bintang menuju ranjang mereka. Akhir -akhir ini hampir setiap pagi Bintang muntah-muntah. Jika sudah begitu Dipa akan menunggui Bintang sampai rasa mual istrinya itu mereda.


"Nanti pulang dari kantor mau dibelikan apa ?" tanya Dipa setelah Bintang tidak muntah-muntah lagi dan ia sedang bersiap-siap akan pergi ke kantor.


"Tidak mau apa-apa " jawab Bintang.


"Baiklah..kalau mau sesuatu kamu bel aku saja ya, kalau aku sedang sibuk kamu bel Amira " Dipa mengusap kepala Bintang.


"Iya " jawab Bintang.

__ADS_1


__ADS_2