
Setelah melalui perjuangan yang keras akhirnya Bintang pun dapat menyelesaikan kuliahnya lebih cepat.dan Dipa pun mulai mempersiapkan kepindahan mereka ke Jakarta.
Langkah pertama yang Bintang lakukan adalah mengurus surat kepindahan sekolah Bunga.Tahun ini sudah dipastikan Langit akan masuk taman kanak-kanak di Jakarta.
Shanti dan Rizal tampak berat melepaskan Bintang pindah ke Jakarta karena ia sudah menganggap Bintang itu seperti adik mereka sendiri.
Mama dan Papa Ardi awalnya tidak setuju ketika Dipa memutuskan akan tinggal terpisah dengan mereka, namun mereka akhirnya mengalah dan menghormati keputusan putranya itu.
Mendengar rencana Bintang dan Dipa yang akan pindah ke Jakarta, Papa David menyuruh Daniel mencarikan rumah untuk Bintang.
Papa David tidak mau Bintang diperlakukan tidak baik oleh keluarga Dipa setelah mengetahui semua masalah Bintang dengan Dipa dan keluarganya dari Bu Dewi.
Papa David yang menetap di Singapura tidak mengetahui jika sekarang keluarga Dipa sudah menerima Bintang dan Langit dengan sangat baik.
Setibanya di Jakarta Bintang dan Dipa pun langsung mengisi rumah baru yang dibelikan Papa David untuk mereka. Rumah itu sengaja diberikan kepada Bintang dan Dipa sebagai kado pernikahan. Untuk semua perabotan lengkap pengisi rumah itu merupakan kado dari Daniel karena kebetulan pria tampan bertato di lengannya itu menekuni bisnis design interior.
Langit dan Bunga tidak henti-hentinya mengagumi kamar yang disiapkan Daniel untuk mereka.
Di rumah baru mereka itu Daniel menyiapkan kamar sendiri-sendiri untuk Langit dan Bunga disesuaikan dengan karakter kedua keponakannya itu.
"Kak Bunga..apakah Lana juga boleh menginap disini ?" tanya Lana yang tampak terkagum-kagum melihat kamar Bunga yang di dominasi warna merah muda.
"Boleh dong " jawab Bunga.
"Kalau Opa mau nginep di kamar Langit saja " Papa Ardi tidak mau ketinggalan.
"Iya boleh..Oma juga boleh " jawab Langit.
"Baiklah..Opa dan Oma malam ini akan menginap di kamar Langit " Mama Niken tampak senang karena Langit mengajaknya tidur di kamar barunya.
"Om Leon mau juga dong tidur dikamar Langit !" Leon pura-pura merajuk.
"Tidak boleh..Om Leon tidur sama Ayah saja !" Langit menggerakkan telunjuknya.
"Kalau Om Leon tidur sama Ayah kasihan dong Bunda " ujar Dipa.
"Bunda tidur sama Aunty Dina saja " Langit mengatur.
"Ih...ogah " cibir Bintang tanpa suara.
"Emang gw juga mau gitu tidur sama Lo ?" sembur Dina.
"Mulai lagi kalian..kapan akurnya sih ?" omel Papa Ardi.
"Menantu kesayangan Papah tuh yang mulai " tunjuk Dina kepada Bintang. Kali ini Bintang hanya diam karena memang dirinya yang pertama kali menabuh genderang perang.
"Jangan gitu dong Neng !" Dipa mencubit ujung hidung Bintang sebagai hukuman karena kali ini Neng geulisnya yang memulai berulah.
"Iya maaf " jawab Bintang.
Papa Ardi dan Mama Niken hanya geleng-geleng kepala. Kelakuan Bintang dan Dina tidak jauh beda seperti Bunga dan Lana saja.
__ADS_1
Sepertinya keputusan Dipa untuk tinggal terpisah dengan mereka adalah keputusan yang tepat.
Papa Ardi dan Mama Niken tidak bisa membayangkan seandainya Bintang dan Dina tinggal satu rumah pasti setiap hari akan terjadi keributan.
Ketika Langit mulai mengantuk, bocah tampan berpipi bulat itu mulai merengek dan mengajak Papa Ardi dan Mama Niken tidur dikamar bersama nya.
"Ada Opa dan Oma Langit jadi lupa sama Ayah dan Bunda " keluh Dipa ketika Papa Ardi menggendong Langit menuju ke kamarnya diikuti oleh Mama Niken dibelakangnya.
Sementara Bunga dan Lana sudah lebih dulu tidur dengan ditemani oleh bik Asih.
Di ruang keluarga rumah baru Bintang yang luas tinggallah dua pasang suami istri yang terlihat tidak begitu akrab dan saling menjaga jarak.
Suasana terasa kaku karena istri-istri mereka yang sedang berseteru. Hanya Dipa dan Leon yang terlibat obrolan cukup intens membahas urusan rumah sakit yang dipimpin oleh Leon.
Dipa sangat puas dengan kinerja Leon di rumah sakit yang dipimpinnya, di tangan Leon rumah sakit milik keluarga Dipa mengalami kemajuan yang cukup pesat dengan pelayanan yang semakin memuaskan.
Dina dan Bintang yang merasa bosan akhirnya memilih pergi ke dapur untuk mencari makanan.
"Bi..Lo punya mie instan ga ?" tanya Dina setelah mereka ada di dapur.
"Sepertinya ada, waktu belanja aku lihat Bik Asih membeli Mie instan " jawab Bintang.
"Kita bikin Mie rebus setan yuk ! Lo masih inget ga dulu kalau gw lagi nginep di panti asuhan kita sering bikin kalau malam-malam lapar " ajak Dina.
"Iya..dan akhirnya kita suka dimarahin Bu Dewi karena kita terpaksa pulang sekolah karena sakit perut di sekolah " ujar Bintang.
Kedua wanita itu terkikik berdua di dapur sambil mencari bahan-bahan yang dibutuhkan dari dalam kulkas.
Bintang dan Dina menyebut mie buatan mereka mie setan karena pedasnya yang mencapai level tinggi.
Dina tampak mulai merebus mie instan sementara Bintang menyiapkan bahan pelengkapnya yaitu ceplok telur, sosis, baso, sayuran dan satu genggam cabai rawit.
"Kita makannya disini saja Di, gw takut ketauan Mas Dipa soalnya dia itu cerewet..dia pasti marah kalau tau gw makan ini " ujar Bintang.
"Iya..gw juga ga mau Leon tahu " jawab Dina.
Setelah mie setan buatan mereka matang, mereka pun makan berdua di dapur. Bintang sengaja membuat teh panas untuk menemani acara makan mereka.
"Sumpah ini enak banget Di " Bintang mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tisu.
Bintang dan Dina tertawa cekikikan karena mereka makan sambil repot menyusut ingus yang mengucur dari hidung mereka.
"Kalian berdua habis darimana ?" tanya Dipa curiga ketika Bintang dan Dina muncul dari arah dapur.
"Habis ambil minum " jawab Bintang.
"Tumben kalian akur " Dipa menatap kedua wanita itu curiga.
"Mas Dipa ini berantem dimarahin, akur dicurigai..serba salah " cebik Dina. Sebetulnya yang curiga bukan hanya Dipa tapi Leon juga.
"Mas aku duluan ke kamar ya ngantuk " Bintang pamit lebih dulu untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya " jawab Dipa.
Tidak lama Dina pun menyusul pamit ke kamarnya kepada Dipa dan Leon.
"Mereka itu mencurigakan sekali Le, mending kita lihat takutnya mereka sedang mencari tempat untuk berantem " Dipa beranjak untuk memastikan jika Bintang benar-benar ada di kamar.
Setibanya di kamar Dipa tampak lega begitu mendapati Bintang yang mulai naik ke ranjang mereka.
"Kalian tadi habis ngapain di dapur ?" tanya Dipa sambil berbaring di sebelah Bintang.
"Tidak habis ngapa-ngapain " jawab Bintang namun Dipa tidak percaya.
"Beneran ?" Dipa memiringkan tubuhnya menatap kearah Bintang.
"Beneran Mas..sudah buruan tidur " Bintang memeluk kemudian menyusupkan wajahnya di dada Dipa.
Dipa mengusap kepala Bintang sampai wanita muda itu benar-benar tertidur dalam pelukannya.
Besoknya pagi-pagi di rumah itu terjadi kehebohan. Bintang dan Dina pagi itu mengeluh jika perut mereka sakit. Mereka mengalami diare hingga harus bolak-balik ke kamar mandi.
Leon yang seorang dokter dengan cepat memberikan obat diare untuk Dina dan Bintang.
"Bagaimana bisa kalian itu mengalami sakit perut secara bersamaan begini ?" tanya Mama Niken menatap Bintang dan Dina bergantian dengan khawatir.
"Mungkin kebetulan saja Mah " jawab Bintang.
"Masa sih kebetulan ? Mama tidak percaya..pasti ada sesuatu yang kalian makan " ujar Mama Niken.
"Kita tidak makan apa-apa, iya kan Bi !" Dina mencolek lengan Bintang.
"Iya..kita tidak makan apapun " ucap Bintang menguatkan ucapan Dina.
"Sebaiknya kalian jujur saja, Bik Asih menemukan bungkus mie instan di tempat sampah " ujar Dipa menatap tajam kearah Bintang dan Dina bergantian.
"Iya..semalam kita memang makan mie rebus " Bintang akhirnya mengaku.
"Cuma itu ?" tanya Mama Niken.
"Jangan bilang semalam kalian makan mie setan !" tebak Leon.
Leon hapal betul jika dulu Bintang dan Dina menyukai mie instan dengan campuran cabe rawit yang sangat banyak dan Leon curiga jika mereka semalam membuatnya.
"Mie setan ?" dahi Dipa mengernyit.
"Iya Mas..mie instan dicampur cabe rawit agar level pedasnya maksimal" jawab Leon.
"Iya.. .kami makan itu semalam " jawab Dina dan Bintang sambil menunduk.
"Sudah kuduga " ujar Leon.
"Ya ampuun kalian itu !!" Dipa menatap Bintang dan Dina geram.
__ADS_1