
Bintang dan Amira menyiapkan makanan di meja makan, dengan makan bersama seperti ini Bintang harap Dipa mau makan agar tubuhnya tidak terlalu lemas. Jujur, Bintang tidak tega melihat kondisi Dipa sekarang ini. Apalagi menurut Amira, Dipa saat ini sedang menangani sebuah projek yang cukup besar. Pantas saja beberapa kali ia memanggil Felix ke rumah dan mereka lembur di ruang kerja Dipa.
Disaat kondisi Dipa yang seperti ini Bintang bersyukur karena Bunga dan Langit tidak rewel, mereka terlihat have fun meskipun harus mengungsi ke rumah Opa dan Oma nya.
Setelah semua makanan siap, Bintang pun kembali ke kamar untuk memanggil Dipa dan Daniel.
"Makanan sudah siap, kita makan bareng !" Bintang memberitahu Dipa dan Daniel.
"Aku tidak makan ya Neng, kalian saja yang makan " Dipa enggan makan karena tidak berselera dan takut muntah lagi jika perutnya diisi.
"Jangan gitu dong Mas, ga enak sama Amira dan kak Daniel. Lagian perut kamu itu harus diisi " bujuk Bintang.
"Betul yang adik gw bilang Di. Kalau lu begini terus kasihan Bintang, disaat dia hamil muda harus repot ngurusin Lu. Padahal Bintang dan anak-anak juga butuh perhatian dari Lu...kecuali Lu memang tega ngerepotin semua orang " nasehat Daniel.
Dipa seperti tertohok oleh ucapan Daniel. Akhirnya ia pun turun dari ranjang dan mereka bertiga pun beranjak menuju ke ruang makan.
Mereka berempat makan sambil sesekali mengobrol. Meskipun sedikit namun Dipa memaksakan untuk makan. Setelah dipikir-pikir benar apa yang dikatakan Daniel, disaat Bintang hamil anak kedua seharusnya Dipa yang mengurusi Bintang bukan malah sebaliknya apalagi jika mengingat dulu saat hamil Langit, Bintang menjalani kehamilannya seorang diri.
"Mir, tadi waktu dikamar Daniel tanya ke aku..katanya kamu sudah punya pacar atau belum ?" tanya Dipa kepada Amira.
Daniel yang tidak menyangka jika Dipa akan membocorkan pembicaraan mereka langsung melotot kearah Dipa.
"Kak Amira sekarang jomblo, dia baru putus dari pacarnya beberapa bulan yang lalu " Bintang yang menjawab.
"Kok kamu bisa tau Neng ?" Dipa dan Daniel menatap heran kearah Bintang.
"Ya tau dong, kita kan pernah ngobrol ya kan ?" Bintang melirik kearah Amira.
"Iya Bu " jawab Amira tersipu.
Dipa manggut-manggut, ia tidak menyangka jika Neng geulisnya tau banyak tentang sekertaris nya padahal mereka jarang-jarang bertemu.
"Jadi kalau Lu penasaran sama Amira sebaiknya Lu tanyakan saja sama Bintang, sepertinya Bintang tau banyak tentang Amira " oceh Dipa sambil melirik meledek kearah Daniel yang tampak mati kutu.
"Sialan Lu Di..bikin gw mati kutu saja di depan Amira " rutuk Daniel dalam hati.
__ADS_1
Dipa yang terlihat baik-baik saja tiba-tiba mengeluh mual dan pusing, Dipa meminta Bintang mengantarnya kembali ke kamar.
"Bawa saja makanannya Neng !" Dipa menunjuk piring Bintang yang masih belum habis. Bintang pun pamit kepada Daniel dan Amira untuk kembali ke kamar sambil membawa piringnya yang masih terisi.
"Aku tinggal dulu ya, kalian lanjutkan saja makannya !" tutur Bintang sambil mengikuti Dipa kembali ke kamar.
Daniel dan Amira menatap Dipa dengan wajah prihatin. "Kasihan pak Dipa, selama saya bekerja menjadi sekertaris nya baru kali ini pak Dipa sakit " ujar Amira.
"Dia bukan sakit..dia hanya sedang mengambil alih apa yang seharusnya istrinya rasakan " ujar Daniel.
Daniel dan Amira akhirnya melanjutkan makan hanya berdua sementara Dipa melanjutkan makannya dengan disuapi oleh Bintang di kamarnya.
"Aku pikir tadi kamu beneran pusing dan mual lagi loh Mas, bikin aku khawatir tau " ujar Bintang sambil menyuapi Dipa.
"Aku sengaja mencari alasan agar mereka bisa ngobrol berdua " jawab Dipa.
"Kok aku tidak kepikiran kesana ya, padahal aku yang berniat menjodohkan mereka " Bintang terkekeh.
"Kamu tidak usah mikirin mereka, mereka sudah dewasa biarkan Daniel usaha sendiri. Tugas kamu cuma ngurusin anak-anak dan utamakan aku saja " ujar Dipa.
"Anak-anak kan ada Mama, Dina dan Bik Asih yang bantu urus. Kalau aku kan cuma kamu yang urusin aku..atau kamu mau aku diurusin sama pengasuh ?" tanya Dipa.
"Enak saja ! Adipati Ardinata Mahendra cuma punya aku " jawab Bintang dengan wajah cemberut.
"Yang benar kamu itu yang cuma punya aku " jawab Dipa sambil memeluk perut Bintang dan mendusel-duselkan wajahnya disana membuat Bintang terkikik kegelian.
Amira yang sudah selesai makan dan hendak pamit pulang kepada Bintang dan Dipa mengurungkan niatnya ketika di depan pintu kamar Dipa yang sedikit terbuka terdengar suara tawa Bintang yang cekikikan.
Amira tau jika Dipa tidak sedang melucu namun mereka sedang saling mencumbu karena selain suara tawa juga terdengar suara desa han dari mulut Bintang yang membuat bulu kuduk Amira merinding.
"Mmhhhm...Maaashh..geli tauk !"
"Sudah tidak usah pamit, dasar mereka itu tuan rumah yang tidak sopan, ada tamu malah ditinggal mesum " ucap Daniel yang juga mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Dipa.
"Iya Mas..kalau begitu nanti titip pesan sama Pak Dipa dan Bu Bintang kalau saya pulang dan maaf tidak sempat pamit " ucap Amira.
__ADS_1
"Saya akan antarkan kamu pulang !" ucap Daniel sambil menggiring Amira kedalam mobilnya. Amira pun tidak berani menolak niat baik Daniel itu.
Dipa yang sedang memijit kaki Bintang yang beberapa saat lalu mengeluh pegal baru teringat jika Amira masih ada di rumah dan sedang makan bersama Daniel.
"Neng, Daniel dan Mira sudah selesai belum makannya..kenapa lama sekali ?" tanya Dipa sambil iseng menggelitik telapak kaki Bintang.
"Mmhhhm...Maaashh..geli tauk !" Bintang terkikik sambil menepiskan tangan usil Dipa. Dipa tertawa senang dan melupakan rasa pening dan mual yang sering ia rasakan.
"Mereka lagi ngobrol apa ya kira-kira ?" tanya Dipa.
"Paling Kak Daniel sedang nanya kamu mau tidak jadi pacar aku ?" jawab Bintang kembali terkikik.
"Kakak kamu itu payah Neng, masa tadi dia bilang ngeri lihat bapaknya Amira yang galak " ujar Dipa.
"Ya ampuun kak Daniel malu-maluin saja ih " sungut Bintang.
"Iya malu-maluin. Badan saja bertato , masa sama bapaknya Amira takut " ujar Dipa.
"Sepertinya aku harus turun tangan nih " ujar Bintang.
"Jangan..kamu cukup urusin aku saja. Daniel sudah dewasa biar dia usaha sendiri. Aku juga dapetin kamu melalui usaha " semprot Dipa.
"Ck.kamu usaha apa untuk dapatin aku ?" tanya Bintang.
"Kamu pikir bolak-balik Surabaya Bandung itu bukan usaha ? setelah Bunga ikut kamu ke Bandung pun setiap hari aku bolak-balik Bandung-Jakarta- Bandung kamu pikir aku tidak lelah ? " tanya Dipa.
"Itu kewajiban kali Mas..bukan usaha " cibir Bintang, Dipa pun terkekeh.
"Mas, aku lihat Amira dan kak Daniel dulu. Ga enak ninggalin mereka terlalu lama " Bintang menarik kakinya dari pangkuan Dipa kemudian beranjak menuju ruang makan.
Tidak lama kemudian Bintang sudah kembali. " Kak Daniel dan Amira tidak ada, tapi mobil kak Daniel juga tidak ada di garasi " lapor Bintang.
"Mungkin Daniel mengantarkan Amira pulang, baguslah..aku belum sempat kasih uang untuk ongkos taksi untuk Amira " ujar Dipa santai.
"Iya Mas "
__ADS_1