
Meskipun tidak tau tujuan mertuanya menyuruh mengikuti Dipa tapi Leon terpaksa menurut, dengan terburu-buru Leon mengambil kunci mobilnya kemudian mengikuti mobil Dipa dari jarak yang aman.
Leon mengikuti sampai mobil Dipa masuk ke sebuah resort. Setelah melihat Dipa dan Bunga turun barulah Leon kembali ke resort milik mertuanya.
"Kamu darimana sih tiba-tiba ngilang ? Lana nyariin kamu tuh " tanya Dina ketika Leon pulang.
"Aku disuruh ngikutin Mas Dipa sama Mama " jawab Leon dengan suara setengah berbisik.
"Ngikutin..buat apa ?"
"Aku juga tidak tau Na, aku khawatir Mama akan mendatangi Bintang dan bikin ribut..aku kasian sama Bintang, masih untung tadi dia mau datang walaupun aku lihat seperti terpaksa " jawab Leon.
"Kamu masih peduli sama dia ?" tanya Dina.
"Ya aku memang peduli karena walau bagaimanapun dia adalah ibu dari keponakan kita " jawab Leon.
"Yakin cuma itu ?" tanya Dina curiga.
"Na..kami memang pernah pacaran, tapi setelah menikah dengan kamu dan punya Lana aku sadar kalau kita memang tidak berjodoh. Jadi aku tidak suka kalau kamu selalu cemburu kepada Bintang.. seharusnya kita membantu Mas Dipa untuk rujuk lagi dengan Bintang dan membantu mendamaikan Mama dengan Bintang " ujar Leon.
"Aku juga sih maunya begitu, tapi Bintang tidak memberi aku kesempatan untuk mendekati dia apalagi untuk meminta maaf " keluh Dina.
"Kita maklumi saja, kesalahan kita sangat besar kepada Bintang. Karena kesalahan kita membuat Bintang mengalami kemalangan beruntun dan itu pasti sangat berat untuk dia..seberat dia memaafkan kita "
"Iya " jawab Dina.
"Kadang aku kangen sama dia, ingin bisa dekat lagi sama dia seperti dulu..disaat Mama dan Papa sibuk dan kak Dipa di Australia hanya dia yang selalu ada untuk aku ..aku memang teman yang buruk " ucap Dina sendu. Ada penyesalan di raut wajah cantiknya.
"Kadang aku berpikir apa sebaiknya kamu kembali lagi saja sama Bintang biar dia bahagia " ucap Dina ngelantur.
"Jangan ngaco !" Leon menekan kening Dina. " Jangan pernah punya pikiran seperti itu..aku tidak suka "
"Tapi aku merasa kalau selama ini hidup kamu masih dibayangi oleh Bintang "
"Ya kamu benar..aku memang masih dibayangi oleh perasaan berdosa sama dia..sebelum dia bisa memaafkan aku, aku akan terus dihantui rasa bersalah " aku Leon jujur.
__ADS_1
"Apakah masih ada cinta yang tersisa?" tanya Dina.
"Na..kenapa kamu bertanya seperti itu ? Apa aku terlihat seperti yang tidak mencintai kalian ?" Leon balas bertanya.
"Ya..siapa tau saja !" Dina menggedikan bahunya.
"Sudah aku bilang jangan pernah punya pikiran seperti itu lagi " ujar Leon sambil beranjak menuju ruang keluarga ketika mendengar Mama Niken memanggilnya.
"Kamu sudah mengikuti Dipa ?" tanya Mama Niken dengan suara pelan terlihat seperti takut ada yang mendengar percakapan mereka.
"Sudah Ma, Mas Dipa dan Bunga pergi ke resort sebelah selatan, letaknya tidak jauh dari sini " jawab Leon.
"Apakah kamu sempat melihat Bintang ada disitu ?" tanya Mama Niken menyelidik.
"Melihat Bintang sih tidak, tapi kalau mobilnya ada disana " jawab Leon.
"Ya Sudah kamu boleh pergi, tugas kamu sudah selesai " ujar Mama Niken.
"Tapi Ma..kalau boleh Leon tau kenapa Mama menyuruh aku membuntuti Mas Dipa ?" tanya Leon .
Leon termangu, ia takut Mama Niken merencanakan sesuatu yang buruk kepada Bintang dan Langit. Sepertinya Ia harus segera memberitahu Dipa agar membawa pergi Bintang dan Langit secepatnya dari resort.
Keesokannya pagi-pagi sekali Bintang dan Dipa juga kedua anaknya pulang ke apartemen setelah sebelumnya mengantarkan Papa David dan Daniel yang harus segera terbang ke Singapura karena ada urusan yang mendesak.
"Ayah kenapa kita harus pulang cepat padahal aku masih ingin bermalam di resort " Bunga dan Langit sempat protes karena Dipa malah mengajak mereka pulang ke apartemen.
"Iya..kamu aneh Mas. Padahal anak-anak masih betah disana, kebetulan aku juga sedang tidak ada kuliah hari Senin jadi bisa di resort sampai besok " Bintang membela Bunga dan Langit.
"Tadi malam Leon telpon aku katanya Mama menyuruh dia untuk membuntuti aku dan Bunga waktu mau menemui kalian, aku takut Mama bikin ribut lagi sama kamu " jawab Dipa dengan suara pelan.
"Kalau tidak kasian sama Bunga sebetulnya aku juga ogah datang kesana " sungut Bintang.
"Terimakasih ya Neng udah bela-belain datang demi Bunga " Dipa menggenggam jemari Bintang.
"Apaan sih Mas..nyetir saja yang fokus tidak usah pegang-pegang !" Bintang berusaha melepaskan jemarinya dari genggaman tangan kiri Dipa tapi tidak berhasil karena Dipa menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Kita itu suami istri Neng, masa pegang tangan istri saja tidak boleh " jawab Dipa tetap fokus pada jalanan di depannya yang mulai padat.
"Bukan tidak boleh Mas tapi takutnya kamu tidak fokus karena kamu kan sedang nyetir " Bintang beralasan padahal sebetulnya ia memang merasa risi ketika Dipa menggenggam tangannya.
"Oh jadi boleh ya ?..tenang Neng aku fokus kok nyetirnya " Dipa terlihat senang karena Bintang memperbolehkan dirinya memegang tangannya. Bintang hanya diam, sepertinya ia telah salah bicara.
Dipa baru melepaskan tangannya ketika mobil mereka mulai memasuki parkiran di basement.
Bintang dan Dipa menuntun Bunga dan Langit menuju apartemen mereka. Langit terlihat senang karena ada Bunga bersamanya setelah beberapa kali mengeluh bosan bermain dengan Uncle Daniel.
"Seharusnya tadi kita beli makanan dulu Mas, kasian anak-anak pasti lapar karena tadi pagi mereka hanya sarapan roti dan susu saja " ucap Bintang setelah mereka berada di unit apartemen mereka.
"Kita pesan saja " jawab Dipa santai sambil mengambil ponselnya.
Bunga dan Langit langsung naik ke pangkuan Dipa untuk memilih sendiri makanan yang mereka mau. Kedua bocah itu terlihat sibuk memilih makanan sementara Bintang hanya menatap dari ujung sofa.
"Kamu mau pesan apa Neng ?" tanya Dipa.
"Terserah kamu saja " jawab Bintang.
*
Mama Niken turun dari mobil di resort milik Papa David. Ia mendapatkan alamat lengkapnya dari Leon.
Kemarin jika saja Elsa dan Dina tidak menahan tangannya sebetulnya ia ingin menyapa Langit seperti yang dilakukan oleh Leon dan Papa Ardi.
Melihat bocah tampan berpipi bulat seperti tomat itu mengingatkan Mama Niken pada Dipa kecil. Dulu Dipa juga selalu memeluk leher Papa Ardi dan tidak mau turun dari gendongan jika merasa tidak nyaman.
Setelah sampai di resort itu Mama Niken tampak kecewa ketika penjaga resort mengatakan jika semua sudah pulang.
"Kita pulang saja Pak !" perintah Mama Niken kepada sopirnya.
"Lalu semua barang ini bagaimana Bu ?" Sopir Mama Niken menunjuk pada kursi belakang yang dipenuhi oleh mainan khas anak laki-laki.
"Nanti kamu antarkan ke Panti Asuhan Kasih Ibu " jawab Mama Niken.
__ADS_1
"Baik Bu " jawab sopir Mama Niken patuh.