Istri Simpanan

Istri Simpanan
Sayang Cucu


__ADS_3

Minggu sore Dipa bersiap untuk mengantarkan Bintang dan Langit pulang ke Bandung. Namun sebelum nya mereka mengantarkan Bunga terlebih dahulu ke rumah.


Pada saat Dipa turun dan masuk ke rumah untuk mengantarkan Bunga, Bintang dan Langit memilih menunggu di dalam mobil. Dipa memang sengaja memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sesuai permintaan Bintang.


Pada saat Dipa akan kembali ke mobilnya Bunga tiba-tiba berteriak sambil melambaikan tangannya kearah mobil Dipa " Dadaaaah Bunda..dadaaah Langit ..dadaaah Ayah " ucapnya. Dipa tersenyum mendapat giliran disebut paling terakhir.


" Bunga..memangnya di mobil Ayah ada siapa ?" tanya Mama Niken curiga.


"Ada Bunda dan Langit Omaa.. Ayah akan mengantarkan Bunda dan Langit pulang ke Bandung " jawab Bunga polos.


"Lain kali kalau Bunda dan Langit ada di mobil kamu ajak turun ya !" nasehat Papa Ardi.


"Tadi Ayah juga sempat mengajak Bunda turun tapi Bundanya tidak mau..Bundanya malah marah " jawab Bunga sambil menggedikan bahunya lalu pergi bermain boneka bersama Lana.


"Dasar keras kepala " sungut Mama Niken. Orang yang Mama Niken maksud tentu saja Bintang.


"Wajar dia begitu , kita juga yang salah karena sudah mengintimidasi anak itu dulu " ucap Papa Ardi.


"Yang kita lakukan dulu itu adalah untuk menyelamatkan rumah tangga Dipa dan Elsa , siapa yang sangka kalau kejadiannya seperti itu. Mama juga tidak tau kalau Dipa yang sudah memperkosa anak itu hingga hamil " Mama Niken tidak terima disalahkan.


"Ya..tapi tetap saja kita sudah membuat anak itu sakit hati " jawab Papa Ardi. Kali ini Mama Niken tidak menyela lagi.


"Anak kita juga sih yang salah , terutama Dina dan Leon. Mereka berdua biangkeroknya . Sekarang kita yang kebagian pusingnya " sungut Mama Niken geram.


"Nasi sudah menjadi bubur Mah, tidak ada gunanya saling menyalahkan yang terpenting adalah bagaimana caranya memperbaiki keadaan. Papa sebetulnya ingin Dipa dan Bintang rujuk lagi karena toh rumah tangga Dipa dan Elsa juga tidak bisa diselamatkan..Papa ingin Langit juga mendapatkan hak yang sama di rumah ini seperti Bunga dan Lana " ujar Papa Ardi.


"Mama tidak yakin anak itu akan mau rujuk sama Dipa " Mama Nisa sangat pesimis.


"Mungkin sebaiknya kita berdua pergi ke Bandung untuk minta maaf " saran Papa Ardi.


"Papa saja yang pergi, Mama takut Langit tidak nyaman ketemu Mama " jawab Mama Niken.


"Mana bisa begitu..kita berdua yang harus pergi. Kita minta maaf atas semua kesalahan yang sudah kita lakukan, juga atas kesalahan yang sudah anak-anak kita lakukan.. syukur-syukur Bintang mau kita bujuk untuk rujuk dengan Dipa "


Ucapan Papa Ardi ada benarnya juga, sepertinya Mama Niken harus mengesampingkan sejenak egonya demi kebahagiaan keluarganya.


"Gimana mau Ma ?" Papa Ardi menatap wajah istrinya.


"Iya Mama mau " jawab Mama Niken.


"Nah ini baru istri Papa" Papa Ardi merengkuh tubuh Mama Niken kedalam pelukannya.


"Mama ingin anak-anak kita mendapatkan kebahagiaan nya Pah " ucap Mama Niken lirih dari pelukan Papa Ardi.


"Papa juga sama " jawab Papa Ardi. " Terkadang untuk mencapai kebahagiaan harus melewati banyak rintangan dan perjuangan yang berat . Mungkin anak-anak kita sedang berusaha melalui rintangan itu..kita doakan saja semoga mereka sanggup melewatinya " ucap Papa Ardi.

__ADS_1


" Iya Pah " jawab Mama Niken.


"Ada satu pesan Papa untuk Mama " Papa Ardi seperti mengingat sesuatu.


"Pesan apa ?" tanya Mama Niken.


"Kalau ketemu Bintang tolong jaga mulut Mama, kalau tidak bisa dijaga lebih baik mulut Mama Papa lakban saja " jawab Papa Ardi. Mama Niken pun langsung mendelik kesal.


*


Keesokannya Papa Ardi dan Mama Niken berangkat ke Bandung. Orang rumah tidak ada yang tau perihal keberangkatan mereka.


Sebelum berangkat mereka memborong mainan dan beberapa kebutuhan pokok untuk Langit sampai mobil mereka penuh.


"Ingat pesan Papa..Mama harus menjaga mulut Mama, kalau tidak Papa sudah menyiapkan lakban di laci dasboard " ucap Papa Ardi.


Mama Niken langsung cemberut ketika menemukan lakban di laci dasboard. Ternyata Papa Ardi benar -benar sudah menyiapkannya.


Selepas ashar mobil Papa Ardi berhenti tepat di depan rumah Bintang. Mama Niken terlihat gugup ketika Papa Ardi mengajaknya turun.


"Jangan takut " Papa Ardi menggenggam tangan Mama Niken dan membawanya masuk.


Suara ketukan di pintu membuat Shanti yang sedang menemani Langit dan Cilla nonton tv langsung beranjak menuju pintu.


Shanti melongo dan mundur satu langkah ketika mendapati jika tamu yang datang adalah Papa Ardi dan Mama Niken.


"Kami kesini ingin bertemu dengan Langit..cucu kami " jawab Papa Ardi sopan.


Meskipun tidak menyukai orangtua Dipa itu Shanti tetap menjaga kesopanan dengan mempersilahkan Papa Ardi dan Mama Niken duduk dan membuatkan minuman untuk mereka.


"Siapa yang datang ?" tanya Rizal yang baru keluar dari kamar mandi.


"Orangtuanya Dipa " jawab Shanti pelan.


"Mau apa mereka kemari ?" tanya Rizal.


"Aku tidak tau..lebih baik kita temui bersama " Shanti menarik tangan Rizal untuk menemaninya di ruang tamu.


"Maksud kedatangan kami kesini adalah ingin bertemu dengan Bintang dan Langit " Papa Ardi membuka pembicaraan dengan mengatakan tujuan mereka datang ke Bandung.


"Bintang sedang ada kegiatan dari kampusnya ke luar kota selama dua hari, kalau Langit dia ada di dalam sedang nonton tv " jawab Rizal.


"Apakah kami boleh bertemu dengan Langit ?" tanya Papa Ardi. Mama Niken hanya diam ia benar-benar mengikuti perintah suaminya untuk diam.


Rizal dan Shanti saling pandang. Jujur mereka takut Langit akan tidak nyaman bertemu dengan kakek dan neneknya.

__ADS_1


"Kami kesini berniat bersilaturahmi, kami berjanji tidak akan membuat keributan yang akan membuat Langit takut " Papa Ardi dapat membaca kekhawatiran Rizal dan Shanti.


Rizal menatap Shanti kemudian ia mengangguk, menyuruh Shanti memanggil Langit. Tidak lama kemudian Shanti muncul sambil menuntun Langit.


Begitu melihat Mama Niken Langit langsung melepas sandal rumahnya kemudian memukuli Mama Niken dan mengusirnya.


"Kamu pergi..jangan datang ke rumah Langit !" Bocah topan itu tampak murka kepada Mama Niken. Ia masih ingat bagaimana Mama Niken memperlakukan Bundanya dulu.


"Sayang..jangan begitu. Itu Oma Langit dia datang untuk menengok Langit " Shanti dan Rizal berusaha menenangkan Langit. Bocah tampan itu baru berhenti memukuli Mama Niken setelah Rizal menggendongnya.


"Orang itu jahat Pah..dia marahin Bunda " Langit mengadu kepada Rizal.


"Maaf atas sikap Langit, maklum kalau anak-anak itu memorinya masih tajam jadi semua perlakuan buruk istri anda kepada Bundanya masih membekas dikepalanya " ucap Rizal menyindir.


"Iya saya mengerti, oleh sebab itu kami datang kesini untuk minta maaf..Langit mau kan memaafkan Opa dan Oma ?" tanya Papa Ardi.


"Kalau Opa mau karena suka mengirimi Langit mainan, tapi kalau Oma Langi tidak mau " jawab Langit.


"Oma juga bawa mainan banyak loh untuk Langit..iya kan Oma ?" Papa Ardi mencolek lengan Mama Niken.


"I..iya..Oma bawa banyak mainan untuk Langit di mobil " jawab Mama Niken.


Langit tampak tidak tertarik dengan mainan yang dibawa Papa Ardi dan Mama Niken. Bocah tampan itu terus menyembunyikan wajahnya di bahu Rizal.


Papa Ardi dan Mama Niken menurunkan semua barang untuk Langit dari mobilnya.


"Langit lihat dulu deh..mainannya banyak loh " Shanti membujuk Langit untuk mau menerima barang pemberian Papa Ardi dan Mama Niken.


"Langit lihat dong..nanti mainnya kak Cilla temani " Cilla ikut membujuk.


Mendengar ajakan Cilla Langit pun baru mau turun dan mau menerima mainan pemberian Papa Ardi dan Mama Niken.


Kedua bocah itu membawa semua mainan ke ruang keluarga dan mereka pun anteng bermain disana.


Meskipun awalnya merasa sedih karena Langit mengusirnya namun akhirnya Mama Niken bisa tersenyum ketika melihat Langit menyukai mainan pemberiannya.


"Sabar ya Bu..saya yakin lama-lama Langit juga mau menerima Oma dan Opa nya " ucap Shanti bijak.


"Iya saya mengerti " jawab Mama Niken. Tidak ada sikap angkuh dan arogan dalam ucapannya.


Menjelang sore Papa Ardi dan Mama Niken pamit pulang. Mereka menyayangkan karena tidak sempat bertemu dengan Bintang.


Sebelum pulang Papa Ardi tampak senang karena Langit mau di gendong oleh nya.


"Nanti Opa kesini lagi ya bawa mainan yang banyak untuk Langit " Papa Ardi mencium pipi gembul Langit. Bocah itu pun mengangguk.

__ADS_1


"Apakah Oma juga boleh datang lagi ?" tanya Mama Niken.


"Tidak..hanya Opa saja yang boleh datang " jawab Langit.


__ADS_2