
Hari pertama mondok Daniel terlihat sedih, apalagi saat melihat Papanya, Papa Ardi dan Dipa pulang. Jika tidak malu ingin rasanya ia menangis. Pantas saja ia sering melihat anak-anak yang pertama kali mondok selalu menangis pada saat orangtuanya akan pulang..ternyata memang rasanya sedih sekali tiba-tiba jauh dari orang yang kita sayangi.
Kesedihan Daniel sedikit berkurang setelah ia berkenalan dengan Jonatan salah satu santri seusianya yang berasal dari negara ginseng.
Pria bermata sipit itu mantap menjadi mualaf dan mondok disana untuk memperdalam ajaran Islam karena akan menikah dengan gadis pribumi ..hampir sama seperti yang dialami oleh Daniel.
Hari pertama berada di Pesantren Daniel mendapat hukuman dari ustad Maksum karena bangun kesiangan dan melewatkan solat subuh berjamaah di mesjid.
Ustadz Maksum memberikan daftar aturan dan tata tertib yang harus Daniel patuhi selama mondok disana.
Meskipun awalnya terasa berat namun Daniel terus semangat menjalani hari-hari nya di Pondok.
Daniel sadar jika usianya sudah tidak lagi muda, sebentar lagi ia akan memasuki kepala tiga dan ia sudah ingin berumah tangga seperti adiknya.
Melihat kehidupan Bintang yang bahagia bersama suami dan anak-anak nya membuat Daniel berpikir jika ia juga sudah saatnya berumah tangga dan Daniel pun menjatuhkan pilihannya kepada Amira..gadis berhijab sekertaris Dipa yang sempat ia sangka selingkuhan Dipa.
*
Dipa terlihat lelah setelah pulang dari mengantarkan Daniel ke Jombang. Ia tampak terkapar diranjangnya dan tertidur dengan sangat pulas , begitu juga dengan Papa David. Sedangkan Papa Ardi langsung pulang ke rumahnya.
Rumah tampak sepi karena anak-anak ikut dengan Dina dan Leon menghadiri acara peresmian sebuah klinik kecantikan milik teman Leon.
Setelah tidur selama beberapa jam Dipa pun terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Disebelahnya Bintang yang juga ikut tertidur meringkuk berbantalkan lengan Dipa.
Awalnya Dipa hendak bangun, namun ia mengurungkannya dan malah menikmati pemandangan indah wajah istrinya yang masih terlelap dilengannya.
Jemari Dipa menyusuri garis wajah Bintang yang lembut, alis hitamnya sudah terbentuk dan sangat presisi meskipun tanpa pensil alis. Mata indah dengan bulu yang lentik dan hidung yang kecil namun tinggi tak luput dari sasaran jari Dipa. Dan terakhir jari telunjuk Dipa menyentuh bibir mungil yang selalu menggoda untuk ia lu mat ..sentuhan terakhir Dipa itu membuat si empunya wajah menggeliat merasa terganggu dan akhirnya membuka matanya.
"Kenapa ganggu ?" Bintang menggerutu kemudian menyembunyikan wajahnya diketiak Dipa yang wangi.
"Kangen Neng " jawab Dipa sambil terkekeh. Bintang tidak bergeming diketiak Dipa.
"Neng..kok sepi. Anak-anak pada kemana ?"
"Mereka ikut Leon dan Dina kemana gitu aku lupa " jawab Bintang.
__ADS_1
"Kamu ini kok bisa lupa sih anak-anak pergi kemana " Dipa mengacak rambut Bintang dengan gemas.
"Oh iya ke peresmian klinik kecantikan milik teman Leon " Bintang baru mengingatnya.
"Ooh " jawab Dipa.
Bintang tidak terdengar lagi suaranya, sepertinya ia kembali tertidur di ketiak Dipa.
Dipa hendak membetulkan letak kepala Bintang agar lebih nyaman namun malah membuat Bintang kembali terjaga karena terusik.
"Aku masih ngantuk Yang " ucap Bintang dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku cuma mau benerin kepala kamu , jangan ngetek begini..emangnya ga bau ya ?"
"Engga kok..dari dulu kamu selalu wangi " jawab Bintang sambil meletakan kepalanya di dada Dipa dan tangannya mengelus dadanya yang bidang dan berakhir di puncaknya yang mungil.
"Neng.." erang Dipa ketika jari lentik Bintang mempermainkan puncaknya dan memelintirnya dengan gemas.
Puas memainkan puncak dada Dipa kini tangan nakal Bintang beralih mengelus rahangnya dan kemudian mencium bibirnya sekilas namun Dipa tidak mau melepaskan begitu saja, ia pun melahap bibir mungil itu dengan rakus. Dipa sangat menyukai aksi nakal dari istri kesayangannya. Dipa menggulirkan tubuh Bintang dan menggulungnya dengan tubuh kekarnya.
Bintang tampak kepayahan meladeni serangan dari Dipa apalagi kini tangan Dipa mulai menyusup dibalik piyamanya dan mere mas kedua dadanya bergantian kiri dan kanan.
Satu gigitan kecil membuat Bintang mengerang, " Arghh..Sayang sakit !" keluhnya.
Namun Dipa menulikan pendengarannya, ia terus melahap benda itu kedalam mulutnya bergantian. Bintang menggigit bibir bawahnya dan membiarkan Dipa menyusu sesuka hatinya.
Sebetulnya Dipa masih ingin melakukan lebih dari sekedar menyusu, namun terpaksa ia urungkan ketika mendengar suara rusuh anak-anak. Sepertinya mereka baru pulang bersama Dina dan Leon.
"Yang.. anak-anak pulang tuh " Bintang mencolek-colek pipi Dipa agar melepaskan hisapannya. Dengan wajah cemberut Dipa pun mengakhiri sesi menyusunya. Dan Bintang pun buru-buru merapikan bajunya dan bersiap keluar dari kamar untuk menemui anak-anak.
"Hari ini anak-anak kamu merampok aku " Dina menyambut kemunculan Bintang dengan sebuah gerutuan.
"Merampok apaan ?" tanya Bintang.
"Mereka membeli banyak mainan yang harganya edan " sungut Dina.
__ADS_1
"Mana mainannya ?"
"Nanti dianter sama tokonya. Lu bayangin Bi..saking banyaknya belanjaan mereka sampai tidak muat di mobil aku "
"Beneran kakak..Aa..belum mainan banyak ?" Bintang mengalihkan tatapannya kepada Bunga dan Langit.
"Iya Bun " jawab keduanya santai. Tidak ada rasa takut dimarahi sama sekali oleh Bundanya.
"Ya sudah nanti gue transfer ke rekening Lu " ujar Bintang tak kalah santainya.
"Sama uang jasa ngasuh nya ya " Dina menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Iya..iya..nanti transfernya gue tambahin " jawab Bintang.
"Tidak usah Bi..masa diganti sih !" larang Leon sambil melotot kearah Dina.
"Ih biarin saja Sayang, si Bintang kan banyak uangnya " tutur Dina.
"Na..masa sama saudara begitu sih !" Omel Leon.
Bintang menatap Dina dan Leon bergantian dengan bingung. " Jadi ga transfernya?"
"Ja.."
"Tidak usah !" sambar Leon.
"Ya udah ga usah Bi..daripada Pak Dokternya ngamuk " ucap Dina akhirnya.
"Baiklah " Bintang pun menyimpan ponselnya di meja.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil box pun masuk ke halaman rumah Bintang. Beberapa orang tampak sibuk menurunkan tiga buah sepeda dan beberapa mainan yang lain.
"Jadi kalian beli sepeda lagi ? kan sepeda kalian masih bagus " tanya Bintang sambil menatap Bunga dan Langit.
"Ayah juga di garasi punya banyak mobil dan pakenya bisa ganti-ganti. Jadi aku juga ingin seperti itu..bisa ganti-ganti pake sepedanya..iya ga Aa ?" Bunga menyikut lengan Langit.
__ADS_1
"Iya " jawab Langit.
Mendengar jawaban Bunga, Bintang pun hanya menggaruk tengkuknya. Ia tidak menyangka jika kedua buah hatinya ternyata memperhatikan life style mereka dan menirunya.