
"Akhirnya kakak Bunga gangguin Ayah dan Bundanya " Daniel tertawa ketika Bunga pergi dari kamarnya.
"Kamu itu jahat tau " Amira mencubit Daniel
"Bukan aku yang jahat, Bintang dan Dipa tuh yang tidak pengertian..aku kan baru pulang dari luar kota lagi ingin kangen-kangenan sama kamu eh bukannya larang waktu Bunga ingin tidur dengan kita, makanya aku balas..biar saja Bunga ganggu mereka " jawab Daniel.
"Ya ampun kenapa jadi balas-balasan sih ?" Amira hanya geleng-geleng kepala. "Aku malah seneng tidur sama dia, anaknya lucu.. cerewet "
"Cerewet nya nurun dari Bintang. Sudahlah jangan pikirin mereka.. sekarang kamu buka dong oleh-oleh dari aku "
Daniel tersenyum nakal sambil mengambil tangan Amira untuk meloloskan celana piyamanya.
Amira pun menurut, ia sekarang sudah sangat familiar dengan benda didalamnya.
Baru juga Amira mengeluarkan benda itu dari balik celana Daniel, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamar mereka.
"Sepertinya Bunga balik lagi " Daniel buru-buru memakai kembali celananya.
Amira merapikan baju dan rambutnya sebelum turun dari ranjang dan beranjak ke pintu.
"Aa..ada apa Sayang ?" tanya Amira ketika mendapati Langit tengah berdiri sambil memeluk gulingnya.
"Aku ingin tidur sana Uncle Daniel dan Aunty Mira..apakah boleh ?"
"Tentu saja boleh Sayang " Amira pun menuntun Langit untuk masuk ke kamarnya.
"Tumben mau tidur sama Uncle..lagi kangen ya ?" Meskipun kecewa karena batal kangen-kangenan namun Daniel tetap tersenyum kepada keponakan kesayangannya itu.
"Iya..aku kangen " Langit memeluk tubuh Uncle nya sebelum benar-benar tertidur.
"Kenapa anak-anak suka sekali mengganggu kita ya " Daniel menghela napas setelah berhasil menidurkan Langit.
"Ini ujian kesabaran sebelum kita benar-benar memiliki anak" jawab Amira enteng.
"Lalu..buka oleh-oleh nya kapan ?" Daniel menatap wajah Amira memelas.
"Nanti saja di apartemen" jawab Amira.
"Tidak bisa sekarang ya ?"
"Ada si Aa..nanti bangun " bisik Amira
"Ck... baiklah "
Daniel yang tidak ingin mengganggu tidur keponakan kesayangannya akhirnya mengalah.
"Sabar ya Mas " Amira mengelus rahang Daniel untuk meredakan kekecewaan nya.
"Ya " jawab Daniel sambil memiringkan tubuhnya memeluk tubuh Langit.
*
__ADS_1
Keesokannya Daniel dan Amira pun pulang ke apartemen. Daniel yang memiliki beberapa bisnis di beberapa kota hanya satu bulan sekali keluar kota untuk mengontrol bisnisnya, selebihnya ia berada di Jakarta dan menghabiskan banyak waktu bersama Amira.
Di usia pernikahan ke lima bulan Amira pun akhirnya hamil. Kehamilan Amira ini berbarengan dengan kehamilan Dina yang ketiga.
Jika Dina mengalami morning sickness yang sangat parah sampai harus dirawat lain lagi dengan Amira. Disaat hamil muda sekalipun Amira sama sekali tidak mengalami yang namanya morning sickness.
Amira tetap menjalani aktifitasnya sebagai sekertaris Dipa seperti biasanya tanpa ada keluhan apapun hanya nafsu makannya saja yang meningkat tajam.
Felix adalah orang yang paling iseng meledek Amira karena setiap hari ia membawa tas tambahan berisi makanan dan aneka cemilan.
Kadang-kadang Bintang juga datang ke kantor sambil membawakan makanan untuk Dipa dan Amira.
*
Siang ini Bintang datang ke kantor Dipa dengan membawa beberapa kotak makanan.
"Darimana Yang ?"
Dipa menyambut kedatangan Bintang dengan sebuah pelukan dan kecupan lembut di bibirnya.
"Dari rumahsakit nganterin salad buah untuk Dina, semalam dia ingin salad buah buatan aku katanya enak " jawab Bintang.
"Bagaimana keadaannya ? parah banget dia maboknya " ujar Dipa
"Masih belum bisa makan nasi, semua yang masuk masih keluar lagi " jawab Bintang.
"Untung Amira ngidamnya ga kayak Dina ya Neng, coba kalau begitu alamat langsung resign dia..aku yang pusing " tutur Dipa pelan.
"Tidak Neng, seharian ini kerjaan lagi nyantai dia kerjanya makan terus..diledekin terus sama si Felix " Dipa terkekeh.
"Dasar jahil " Bintang ikut terkekeh.
"Sebentar ya aku kasih ini dulu buat kak Amira " Bintang mengambil satu kotak berisi salah buah yang sengaja ia bawa untuk Amira.
"Jangan lama-lama..kamu kalau sudah ngobrol sama Amira suka lupa waktu..lupa sama suami " Dipa mengingatkan.
"Siap Bos " jawab Bintang.
Bintang keluar dari ruangan Dipa kemudian menghampiri meja Amira.
Amira yang sedang santai tampak sedang melakukan panggilan video dengan Daniel.
Melihat kedatangan Bintang mereka pun mengakhirinya.
" Kenapa dimatiin..aku ganggu ya ?"
Bintang langsung duduk di kursi disebrang meja Amira.
"Kalau kamu dengar malu..Mas Daniel ngomongnya suka mesum " Amira menyimpan ponselnya diatas meja.
"Masa ?" Bintang langsung melotot.
__ADS_1
"Beneran..eh kamu bawa apa ?" tanya Amira ketika melihat kotak yang dibawa Bintang.
"Ini salad buah..cobain deh.!" Bintang menyerahkan kotak berisi salad buah itu kepada Amira.
Amira membuka kotak itu dan langsung memakannya dengan lahap.
"Waaah..kalau begini sih aku yakin kalau calon keponakan aku pasti sehat " puji Bintang.
"Aamiin.." jawab Amira.
Bintang yang sedang anteng ngobrol dengan Amira buru-buru masuk ke ruangan Dipa ketika pria itu memanggil-manggilnya.
"Ada apa sih Sayang..aku kan sedang ngobrol sama kak Amira "
"Kamu itu kebiasaan sekali kalau ngobrol suka lupa waktu " omel Dipa.
"Ck..cuma ngobrol saja namanya juga perempuan " jawab Bintang sambil duduk di sofa yang ada di depan meja kerja Dipa.
Dipa menghampiri Bintang dan membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menggunakan paha Bintang sebagai bantalnya.
"Pijitin dong Sayang !" pinta Dipa.
Bintang pun memijit kepala Dipa yang berada dipangkuannya.
"Yang.. sebaiknya kamu harus siap-siap dari sekarang cari sekertaris baru. Nanti kalau perut kak Amira semakin besar pasti Kak Daniel akan menyuruh resign " saran Bintang.
"Saran kamu bener juga Yang, kenapa aku tidak kepikiran kesana ya ?" Dipa memiringkan kepalanya dan menciumi perut Bintang.
"Bagaimana kalau kamu saja yang jadi sekertaris aku, Neng ?"
"Tidak mau ah.. setiap hari bukannya ngerjain pekerjaan kantor, yang ada kerjanya malah nyusuin kamu terus " tolak Bintang membuat Dipa tertawa.
"Baiklah, aku akan cari calon sekertaris baru untuk jaga-jaga kalau Amira resign "
"Tapi sekertaris nya laki-laki ya Sayang.. kalaupun perempuan jangan yang masih muda. Kalau perlu usianya diatas tigapuluhan " pinta Bintang.
"Baiklah.. terserah kamu saja Sayang, atau kalau perlu kamu saja yang wawancara " jawab Dipa.
"Awas saja kalau tidak nurut, nanti aku aduin sama Papa " ancam Bintang.
"Iya..iya..aku akan cari sekertaris laki-laki saja " Dipa cari aman.
"Kamu takut suami kamu ini ada yang menggoda ya ?" Dipa menjawil dagu Bintang.
"Ya..perempuan mana sih yang tidak tertarik sama bos ganteng kayak kamu " jawab Bintang.
"Aku tidak akan tergoda, Neng. Aku sudah tidak bisa berpaling lagi dari kamu..percaya deh " jawab Dipa.
"Awas saja kalau berani macam-macam, aku sunat punya kamu nyampe habis " ancam Bintang.
"Jangan dong, Neng ! sadis amat sih kamu " Dipa memegang selangkangannya sambil menatap kearah Bintang dengan tatapan ngeri.
__ADS_1