Istri Simpanan

Istri Simpanan
Tom And Jerry


__ADS_3

Sepulang kuliah Bintang mampir ke restoran langganannya untuk membeli semur jengkol kesukaannya, namun Bintang harus kecewa karena semur jengkol yang diinginkannya sudah habis. Dipa tentu saja sangat senang karena hari ini ia terbebas dari hukuman yang diberikan oleh Bintang.


Dan keesokannya Dipa juga selamat karena mereka semua harus pergi ke Jakarta karena akan mengantarkan Bunga untuk bertemu dengan Elsa.


Dari Bandung Bintang sudah membeli banyak buah tangan untuk mertuanya dan juga untuk Elsa yang rencananya akan dititipkan kepada Bunga.


Bintang melihat wajah Bunga tampak berseri-seri karena akan bertemu dengan ibu kandungnya.


Meskipun hubungannya dengan Elsa tidak sedekat dengan Bintang namun seorang ibu tetaplah ibu dan tidak bisa tergantikan walaupun dulu Elsa tidak terlalu perhatian kepada Bunga.


"Mas..Bunga kelihatan Happy banget ya mau ketemu Mbak Elsa " bisik Bintang.


"Masa sih ?" tanya Dipa sambil melirik Bunga yang duduk di belakang bersama Langit. " Perasaan biasa saja " jawab Dipa.


"Ih kamu mah tidak peka " Bintang mencebik.


"Kan biasanya juga Bundanya yang lebih peka " goda Dipa melirik kearah Bintang sambil tersenyum.


"Buktinya belum setahun tinggal di Bandung Bunga langsung menomor dua kan aku..apa-apa maunya sama Bunda, padahal dulu kalau aku keluar kota saja dia pasti ingin ikut " sambung Dipa.


"Kamu iri ya ! " tunjuk Bintang menggoda.


"Ya..kadang aku pikir kamu lebih menyayangi Bunga dan Langit daripada Ayahnya " jawab Dipa.


"Ya ampuun kamu itu seperti anak kecil saja " Bintang mencubit pipi kiri Dipa dengan gemas.


"Bunda..Ayah jangan dicubit kasihan " Langit langsung protes kepada Bintang.


"Terimakasih ganteng, sudah belain Ayah " ucap Dipa sambil mengacungkan jempolnya dan Langit pun membalas dengan mengacungkan jempolnya yang mungil.


"Hhmm..Ayah dan Langit sekongkol " keluh Bintang.


"Iya Dong " jawab Langit dan Dipa kompak.


Perjalanan penuh canda tawa itu berakhir dengan masuknya mobil mewah itu ke halaman rumah orangtua Dipa.


Begitu turun dari mobil Papa Ardi langsung menggendong Langit dan menciumi pipi bulatnya dengan gemas. Sementara Bunga sudah tidak mau digendong karena merasa sudah besar.


Dipa dan Bintang menurunkan semua barang bawaan dari dalam mobil. Dina mendekat dan bermaksud membantu namun dilarang oleh Bintang karena tidak ingin merepotkan.


"Ck..sombong banget sih Lo pake menolak niat baik gw " cebik Dina dengan suara pelan namun cukup terdengar jelas oleh Bintang.


"Maksud gw menolak bukan sombong, gw cuma tidak mau merepotkan" jawab Bintang yang merasa tersinggung dengan ucapan Dina.


"Kalian ini bisa tidak jangan bertengkar terus !" omel Dipa.


"Istri kesayangan Mas Dipa tuh yang sombong pake menolak niat baik aku untuk membantu dia " adu Dina.


"Sekali lagi bilang gw sombong awas Lo " Bintang melotot kearah Dina.

__ADS_1


Leon yang baru muncul buru-buru membawa Dina menjauh agar tidak terjadi keributan. Beruntung Papa Ardi dan Mama Niken sudah keburu masuk membawa Bunga dan Langit sehingga tidak sempat mendengar adu mulut antara Bintang dengan Dina.


"Na..kenapa sih malah berantem ? kita kan sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan dengan Bintang " Leon mengomel setelah berhasil memisahkan Dina dengan Bintang.


"Aku cuma niat mau menolong dia tapi dianya menolak dasar sombong, keliatan sebetulnya dia itu tidak iklas waktu memaafkan kita nya " sungut Dina kesal karena niat baiknya tidak direspon oleh Bintang.


"Mungkin maksud Bintang tidak mau merepotkan kamu " Leon masih berpikiran positif.


Dina menatap Leon dengan tajam. " kamu juga belain dia ? "


"Bukan begitu Na..aku hanya berusaha berpikiran positif " jawab Leon.


"Oke..aku yang salah. Aku yang selalu mencari masalah sama Bintang " oceh Dina.


"Bukan begitu Na..dari awal aku yang salah dan kamu kena imbasnya. Aku cuma mohon tolong lembutkan sedikit hati kamu agar kita bisa memperbaiki hubungan dengan Bintang karena walau bagaimanapun kita sekarang keluarga Na !" Leon merengkuh tubuh Dina kedalam pelukannya untuk meredakan kemarahannya.


Sebagai suami Leon faham bagaimana karakter Dina yang keras kepala dan mudah tersinggung. Sifat Dina ini terbentuk karena Dina adalah anak bungsu di keluarganya. Dina terbiasa selalu dimanjakan dan menjadi prioritas oleh Mama Niken.


Setelah Bintang diterima oleh keluarga Dipa, Dina merasa jika semua lebih memperhatikan Bintang daripada dirinya dan terkesan menyuruh Dina yang selalu harus mengalah terhadap Bintang.


"Bintang sudah mau datang kesini itu adalah sebuah kemajuan Na. Aku yakin hubungan kita akan kembali membaik dan kamu dan Bintang akan kembali dekat seperti dulu, kamu yang sabar ya Na " pinta Leon.


'Aku yang harus mengalah dan bersabar bukan kamu " sungut Dina.


"Karena kamu yang lebih banyak berkomunikasi dengan Bintang bukan aku " jawab Leon. " Atau kamu mau aku yang banyak berkomunikasi dengan dengan Bintang?" goda Leon.


"Ampuun Na..aku cuma becanda " Leon meringis meminta Dina melepaskan jepitan jarinya diperutnya dan Dina pun melepaskannya.


"Meskipun pernikahan kita diawali karena sebuah kesalahan namun aku bahagia punya kamu dan Lana " ujar Leon sebelum menyatukan bibir mereka.


"Aunty Dina..Om Leon lagi pacaran ya ? " Dina dan Leon buru-buru saling melepaskan diri ketika tiba-tiba Bunga dan Lana muncul dibelakang mereka sambil tertawa cekikikan.


"Anak kecil tau pacaran segala " Dina mencubit pipi Bunga dengan gemas.


"Tau dong..aku juga sering lihat Ayah dan Bunda pacaran seperti itu..di mobil, di dapur , di kamar..kalau Ayah sedang ada di rumah mereka kerjaannya pacaran terus " oceh Bunga.


"Bener-bener si Bintang mesumnya tidak tau tempat " sungut Dina.


"NA..!!" Leon kembali mengingatkan Dina agar menjaga sikapnya terhadap Bintang.


"Iya..iya.." jawab Dina sambil memutar bola matanya malas.


Beberapa jam kemudian Elsa mengabari jika ia dan suaminya sudah tiba di Jakarta. Elsa bertanya apakah ia yang harus menjemput Bunga atau Bunga yang akan diantarkan ke hotel tempatnya menginap. Dan Dipa memutuskan Ia yang akan mengantarkan Bunga ke hotel.


Bintang menyiapkan tas berisi semua keperluan Bunga selama menginap bersama Elsa juga sebuah Paperbag berisi oleh-oleh khas Bandung untuk Elsa.


"Lebih baik Bintang saja yang antarkan Bunga, jangan kamu yang pergi " Papa Ardi dan Mama Niken tiba-tiba melarang Dipa pergi.


"Kamu tidak apa-apa kan Neng pergi antarkan Bunga ke hotel ?" tanya Dipa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas " jawab Bintang.


"Sebaiknya kamu pergi sama Dina saja , biar Lana dan Langit Mama yang pegang " ujar Mama Niken.


Akhirnya Dina dan Bintang pergi untuk mengantarkan Bunga ke hotel tempat Elsa dan suaminya menginap.


Sepanjang perjalanan hanya Bunga yang terdengar berceloteh sedangkan Bintang dan Dina lebih banyak diam.


"Bunda dan Aunty Dina belum terlalu kenal ya..kenapa tidak ngobrol ?" tanya Bunga penasaran.


"Iya..Bunda kan baru ketemu dua kali sama Aunty Dina, jadi belum terlalu kenal makanya belum bisa ngobrol " jawab Bintang.


Dina yang sedang menyetir melirik kesal kepada Bintang. Bisa-bisanya Bintang bicara seperti itu padahal mereka sudah bertahun-tahun bersahabat.


Sepertinya Bintang memang sudah benar-benar membuang kenangan jika mereka dulu sangat dekat dan itu membuat Dina sedikit kecewa.


Mobil yang Dina kendarai sampai di hotel tempat Elsa dan suaminya menginap. Elsa dan suaminya sudah menunggu kehadiran mereka di lobby.


"Hai..aku pikir kamu dan Mas Dipa yang nganter..ternyata sama Dina " Elsa menyalami Bintang dan Dina bergantian sambil menggendong Bunga sementara suami Elsa mengambil tas Bunga dan Paperbag berisi oleh-oleh khas Bandung.


"Semua keperluan Bunga sudah ada di dalam tas " Bintang menunjuk tas Bunga ditangan suami Elsa.


"Oke..aku pinjam Bunga dulu ya !" pinta Elsa sambil becanda.


"Silahkan..Mbak Elsa Ibunya jadi Mbak Elsa juga berhak atas Bunga " jawab Bintang.


"Aku akan antarkan Bunga Minggu sore, kamu tidak keberatan kan ?" tanya Elsa.


"Tidak " jawab Bintang.


"Bunga..minta ijin dulu sama Bunda !" Elsa mendekatkan tubuh Bunga yang berada dalam gendongannya kearah Bintang.


"Bunda, aku nginep sama Mommy dulu ya..muach !" Bunga mencium pipi Bintang.


"Iya .jangan nakal ya !" pesan Bintang. Bunga mengangguk.


"Aku justru kangen ingin melihat kenakalan Bunga " ujar Elsa sambil terkekeh membuat Bintang langsung melotot tidak setuju.


Sebelum mereka berpisah Elsa sempat berbisik kepada Dina yang terlihat tidak banyak bicara.


"Masih belum berhasil akur ya ?" ledeknya.


"Ck...dia itu keras kepala dan pendendam " jawab Dina berbisik.


"Sabar Na..menurut aku Bintang itu anaknya cukup baik, mungkin hanya butuh waktu " bisik Elsa.


Meskipun saling berbisik tapi Bintang cukup paham jika Dina dan Elsa sedang membicarakannya dan ia tidak menyukainya.


Dina dan Bintang kembali ke mobil setelah menyerahkan Bunga ke tangan Elsa.

__ADS_1


__ADS_2