
Pagi harinya. . .
Nur dan Aleeya bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Nur mengantar Aleeya untuk cek up kandungan sebelum berangkat ke Jakarta. Saat ini Ibu dan anak tersebut berada di angkot, dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.
Kini Nur dan Aleeya memasuki ruangan dokter, ketika mendengar nomor antrian mereka di panggil. Aleeya memperhatikan ruangan dokter sampai matanya melihat papan name tag berukuran besar dan bertuliskan Dr Anjani.
"Selamat pagi! dengan Ibu siapa kalau boleh tau?" sapa dokter Anjani dan bertanya.
"Pagi juga dok, saya Nur dan Ini putri saya Aleeya," jawab Nur.
"Jadi siapa yang ingin periksa kandungan?" Dokter Anjani bertanya lagi.
"Saya dok," jawab Aleeya.
"Mari silahkan Ibu Aleeya berbaring terlebih dahulu," suruh dokter Anjani mempersilahkan pasien berbaring di berangkar.
Aleeya menggenggam tangan Ibunya dan menatap. Nur yang mengerti dan memahami arti tatapan putrinya pun ikut beranjak menemani.
Dokter Anjani mulai melakukan pemeriksaan menggunakan alat stetoskop. Pertama bagain dada, berlanjut ke denyut nadi dan terakhir adalah perut. Aleeya yang ingin bangun dari berbaring langsung di cegah dokter Anjani.
"Loh, jangan bangun dulu Ibu! Pemeriksaannya belum selesai, kita harus lakukan usg," ucap dokter Anjani, membuat Aleeya berbaring kembali.
"Saya naikan lagi baju kamu ke atas sedikit," izin dokter Anjani menyingkap baju Aleeya. Setelah itu mempersiapkan peralatan USG. Dokter Anjani juga mengoleskan gel di perut Aleeya.
Selesai USG barulah Aleeya diperbolehkan untuk bangun. Aleeya dan Nur duduk berhadapan dengan dokter Anjani.
"Kehamilannya baru mengijak usia lima minggu, yang artinya memasuki usia satu bulan lebih. Kandungan juga kuat dan baik baik saja tidak ada masalah," jelas dokter Anjani.
Aleeya dan Ibunya merasa lega mendengar bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Kalau boleh tau, umur Ibu Aleeya berapa?" tanya dokter Anjani.
"17 tahun dok," jawab Aleeya.
Dokter Anjani terlihat terkejut mendengar jawaban Aleeya. Pertama kalinya dokter Anjani mendapat pasien semuda Aleeya. Padahal kehamilan di usia muda bisa menyebabkan rentan mengalami keguguran dan komplikasi lainnya.
"Saya cukup terkejut mengetahui usia mu, masih begitu muda. Tapi saya juga kagum padamu, selamat ya atas kehamilan mu," ujar dokter Anjani memberikan ucapan selamat pada pasien.
"Terimakasih dok," ucap Aleeya tersenyum.
"Dok boleh saya bertanya." Nur yang sedari tadi diam, kini bersuara.
__ADS_1
"Silahkan bu tanya saja," balas dokter Anjani.
"Begini dok, kalau kehamilan baru satu bulan lebih. Apa diperbolehkan naik pesawat?" tanya Nur.
"Jika ibu hamilnya tidak mengalami gangguan seperti morning sickness yang berlebihan ataupun misalnya kandungan lemah, itu tidak di sarankan untuk melakukan perjalanan jauh. Karena kandungan adik Aleeya ini kuat, jadi tidak masalah ingin berpergian jauh," tutur dokter Anjani menjelaskan panjang lebar.
Nur dan Aleeya mangut-mangut tanda mengerti. "Terimakasih dokter penjelasnnya," ucap Aleeya.
"Ada yang mau ditanyakan bu."
"Cukup itu saja dok," kata Nur mengakhiri pertanyaannya.
"Oh iya adik Aleeya jangan lupa untuk periksa kandungan satu bulan sekali, agar tau perkembangan si bayi," pesan dokter Anjani mengingatkan Aleeya.
"Iya dok," jawab Aleeya singkat.
Aleeya dan Ibunya pun berpamitan pada dokter Anjani.
...•••...
"Jaga diri kalian baik baik disana! Ibu akan doakan semoga kalian cepat bertemu orangnya dan meminta pertanggung jawaban," ucap Nur sembari menangis.
"Ngeliat Ibu nangis begini, bawaannya Leeya jadi malas pergi ke Jakarta," kata Aleeya.
Sejujurnya Ridho sangat marah saat ini, cuma lelaki paruh baya itu pintar menyembunyikan kemarahan dan kekecewaan, agar tidak memperkeruh suasana dan membuat putrinya tertekan merasa bersalah dengan kejadian yang menimpanya. Ridho benar benar menghindari itu terjadi.
"Bapak sama Leeya jangan lupa kabarin Ibu kalau udah nyampe sana," pesan Nur.
"Aman Ibu! Bapak engga pernah melupakan itu. Ibuk, Zaki, Reina, baik baik selama bapak tinggal, kalau ada apa apa cepat hubungi bapak," kata Ridho berpesan pada istrinya,
"Pasti di kabarin pak."
"Leeya sama bapak berangkat dulu ya buk," pamit Aleeya memeluk Ibunya erat dan beberapa menit baru melepaskannya.
Nur menyalami tangan suaminya. Kini Aleeya dan bapaknya sudah masuk mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Sesampainya di bandara, keduanya masuk dalam pesawat setelah terdengar suara pengumuman.
Sekitar dua jam mengudara, pesawat mendarat sempurna di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kedua bapak dan anak turun dari pesawat. Tidak membuang waktu kedua langsung mencari orang yang ingin mereka temui.
"Pak, aku lelah," keluh Aleeya mengelap keringat di dahinya.
Ridho menoleh, tidak tega melihat wajah lelah putrinya. "Kita istirahat dulu."
__ADS_1
"Pak, aku haus," ucap Aleeya merasakan tenggorokan kering.
"Sebentar nak, bapak belikan ya." Ridho menunggu jalanan agak sepi baru berani menyebrang jalan. Ridho menengok kanan kiri, merasa jalan agak sepi, ia langsung menyeberang tanpa tahu ada sebuah mobil yang ingin melintas bertepatan saat ia sudah berada di pertengahan jalan.
"BAPAK AWAS!!!" teriak Aleeya sekencang dan menutup mata tidak berani melihatnya.
Krrriiitttt! Suara decitan ban mobil terdengar akibat mengerem mendadak. Orang yang berada dalam mobil keluar membanting pintu mobil.
"Bapak tidak papa?" tanya Abigail dengan suara rendah menahan emosinya.
Ridho tidak menjawab, tetapi ia melihat kakinya ada sedikit goresan dan terasa sakit. Aleeya yang masih berada di pinggir jalan, perlahan membuka mata dan melihat ke tengah jalan.
"Hiks bapak! Bapak baik baik saja kan," ucap Aleeya memeriksa keseluruhan badan bapaknya.
"Bapak baik na, hanya saja kaki bapak terluka dan sedikit terkilir," ucap Ridho.
Warga setempat yang ada disana kini telah berkerumun dekat Ridho dan Aleeya. Bahkan mengelilingi keduanya.
"Tanggung jawab mas, bawa bapak ini ke rumah sakit," ujar salah satu warga angkat bicara.
"Betul tuh mas, buruan bawa bapak ini. Takut nanti kakinya makin parah," sambung salah satunya.
Abigail sempat terkejut melihat perempuan yang tengah berjongkok di bawahnya. Perempuan itu adalah orang yang sudah ia ambil mahkotanya dan sekarang perempuan itu muncul lagi dihadapannya.
"Mengapa perempuan ini bisa ada disini," batin Abigail.
"Yaallah mas malah ngelamun, orang suruh cepat bawa bapak ini ke rumah sakit. Sadar mas!" Bapak bapak satunya menepuk pundak Abigail agar sadar.
"Iya iya pak, saya tau! Ayo pak masuk ke dalam mobil saya, biar saya antar ke rumah sakit," ucap Abigail.
Bapak bapak yang tadi menyadarkan Abigail, langsung membantuh memapah Ridho memasukan ke dalam mobil Abigail. Semantara Aleeya juga ikut, tapi Aleeya masih belum melihat orang yang menabrak bapaknya, karena fokus Aleeya hanya pada bapaknya saja.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓