
Mama Niken dan Papa Ardi saling tatap ketika mereka melihat Dipa keluar dari ruangan kerjanya dalam keadaan kusut. Mereka yakin jika Dipa semalam tidur disana dan mereka curiga jika Bintang dan Dipa sedang bertengkar.
"Kalian sedang bertengkar ya ?" Papa Ardi menatap wajah Dipa yang kusut setelah menyelesaikan sarapannya.
"Tidak Pah..kami baik-baik saja " jawab Dipa.
"Tidak usah bohong, kamu tidak bisa menyembunyikan nya dari Papa dan Mama.. Dina juga cerita kalau kemarin malam kalian bertengkar " ujar Papa Ardi.
"Dasar anak itu ember " sungut Dipa.
"Kalau cuma masalah perhiasan yang diberikan kepada Dina seharusnya sudah selesai karena Dina sudah mengembalikannya..jadi tidak usah diperpanjang " nasehat Papa Ardi.
"Kalau kalian masih belum akur juga Bunga dan Langit akan Mama bawa pulang lagi, Mama tidak mau cucu-cucu Mama melihat Ayah Bundanya bertengkar terus " putus Mama.
Bintang dan Dipa hanya bisa pasrah ketika Mama Niken menyuruh Bik Asih memasukan semua seragam sekolah dan peralatan sekolah Bunga dan Langit kedalam mobil.
Bunga dan Langit tentu saja sangat senang bisa tinggal lebih lama di rumah Opa dan Oma nya. Siang itu juga Papa Ardi dan Mama Niken membawa Bunga dan Langit kembali ke rumahnya berikut Bik Asih pengasuh mereka.
Hanya tinggal berdua di rumah tidak membuat Dipa dan Bintang akur, mereka saling menghindar satu sama lain. Bintang mengurung diri di kamar sedangkan Dipa mengurung diri di ruang kerjanya.
Dipa baru terlihat keluar dari ruang kerjanya ketika terdengar suara mobil Bintang yang keluar dari pekarangan rumah.
Mau kemana anak itu ? sungut Dipa dalam hati.
Setelah hampir satu jam lebih mobil Bintang pun terlihat kembali memasuki pekarangan rumah. Bintang turun dengan menenteng sebuah plastik kecil berisi ubi dan singkong rebus yang entah Bintang beli dimana.
Dipa yang sedang pura-pura menonton tv diam-diam memperhatikan Bintang yang membawa piring berisi singkong dan ubi rebus itu ke kamar lalu... Blammm..terdengar suara pintu kamar ditutup dengan kencang.
Karena Bintang mengurung diri di kamar, Dipa pun memilih menghabiskan waktu dengan menonton pertandingan sepak bola.
Setelah pertandingan bola selesai Dipa pun beranjak menuju kamar mereka untuk tidur. Di kamar Dipa mendapati piring berisi singkong dan ubi rebus itu sudah kosong dan Bintang sedang tertidur lelap sambil memeluk guling.
Perlahan Dipa merangkak naik keatas ranjang kemudian menarik guling dan menggantinya dengan tubuhnya. Namun begitu tubuh mereka bersentuhan Dipa terlihat kaget karena ternyata Bintang sedang mengalami demam.
"Neng..kamu demam ?" Dipa meletakan punggung tangannya di kening Bintang.
Wajah Dipa langsung terlihat khawatir karena selama mereka menikah baru kali ini Bintang mengalami demam.
Meskipun repot mengurus dua anak yang sedang aktif-aktifnya biasanya Bintang selalu strong dan tidak mudah sakit.
Bintang yang sedang tidur dalam keadaan menggigil merasa terganggu dengan kehadiran Dipa dan ia pun mengusir Dipa dari kamarnya.
"Badan kamu panas banget Neng, sebaiknya minum obat dulu " Dipa terlihat sangat khawatir, ia ingin mengurus Bintang namun istrinya itu bersikeras mengusir Dipa dari kamarnya.
"Aku cuma butuh istirahat dan kamu malah ganggu istirahat aku " keluh Bintang masih dengan tubuh yang menggigil.
"Aku bukan mau ganggu kamu, aku mau kasih kamu obat " Dipa yang tersinggung dengan ucapan Bintang langsung keluar dari kamar dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
"Bik..tolong berikan obat demam ini pada Mbak Bintang dan pastikan dia meminumnya " Dipa memberikan obat demam kepada pelayan di rumah nya.
"Baik Mas " jawabnya sambil beranjak ke kamar Bintang dengan membawa obat demam dari Dipa dan segelas air.
Setelah nya Dipa memilih berbaring di sofa di ruang tengah sambil merenung. Dipa tidak mengerti kenapa hubungannya dengan Bintang akhir-akhir ini memburuk. Dipa merasa jika ia menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung begitu juga dengan Bintang.
Sebetulnya masalah yang mereka hadapi hanya masalah sepele dan pasti akan cepat selesai jika Bintang dan Dipa tidak sama-sama egois.
"Bagaimana Bik, apakah istri saya mau minum obatnya ?" tanya Dipa ketika pelayan nya sudah keluar dari kamar Bintang.
"Barusan sudah diminum Mas, tapi keluar lagi sepertinya Mbak Bintang tidak bisa minum obat " jawabnya dengan wajah bingung.
Dipa mengusap wajahnya kasar, bagaimana demamnya bisa sembuh kalau minum obat saja tidak bisa. Dipa. Karena Bintang jarang sakit Dipa baru tau sekarang jika Bintang susah minum obat.
"Bibik sekarang mau kemana ?" tanya Dipa ketika wanita paruh baya itu pergi dari hadapannya.
"Saya mau ambil air hangat untuk mengompres mbak Bintang " jawabnya. Dipa pun mengangguk.
Tidak lama kemudian Pelayan masuk ke kamar Bintang dengan membawa air hangat di dalam baskom kecil dan sebuah handuk kecil.
"Biar saya saja, Bibik.istirahat saja !" titah Dipa.
Dipa menempelkan handuk basah di kening Bintang. Merasakan ada benda basah di dahinya Bintang pun meringis merasa terusik.
"Kenapa sih kalian itu selalu ganggu aku ?" keluh Bintang kesal.
Melihat Bintang seperti itu Dipa lupa jika ia sebelumnya sedang tidak akur dengan Bintang.
"Baiklah" lirih Bintang sambil kembali memejamkan matanya.
Dipa duduk disisi ranjang dengan mata menatap lekat kearah wajah Bintang yang mulai terlelap.Sesekali ia menempelkan punggung tangannya di kening Bintang sambil membetulkan letak handuk yang menempel disana.
Karena panas tubuhnya masih tidak turun juga dan Bintang mulai terdengar sering mengigau akhirnya terpaksa Dipa menghubungi Leon dan memintanya untuk datang.
Dipa menekan rasa cemburunya karena tidak tega melihat Bintang yang sedang sakit. Tidak sampai satu jam setelah dihubungi Leon pun datang dengan ditemani oleh Dina.
"Ya ampun panasnya tinggi banget " ujar Dina ketika menyentuh kening Bintang.
"Sejak kapan mulai demamnya Mas ?" tanya Leon sambil mulai memeriksa denyut nadi di tangan Bintang.
"Sepertinya sejak sore " jawab Dipa. Ia memang tidak tahu sejak kapan Bintang mulai demam karena sudah beberapa hari ini mereka sedang tidak akur.
Leon meminta ijin terlebih dahulu kepada Dipa ketika ia akan memeriksa detak jantung dan paru-paru nya dengan stetoskop.
Dipa berdiri disebelah Bintang ketika Leon sedang melakukan pemeriksaan.
"Aku rasa Bunga dan Langit sebentar lagi akan punya adik seperti Lana " ucap Leon setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada Bintang.
__ADS_1
"Maksud kamu ?" tanya Dipa.
"Sepertinya Bintang sedang berbadan dua, tapi untuk memastikannya sebaiknya segera melakukan tes kehamilan atau bisa langsung ke dokter Obgin " saran Leon.
"Lalu untuk demamnya bagaimana? dia susah minum obat " keluh Dipa dengan wajah khawatir.
"Mas Dipa payah..masa tidak bisa paksa sih ?" cibir Dina.
"Dia sedang marah sama aku, kalau dipaksa yang ada dia ngamuk " aku Dipa.
Dina dan Leon melongo. " Kalian sedang bertengkar ?" tanya Dina.
"Sedikit..akhir-akhir ini Bintang menjadi sangat sensitif " jawab Dipa. Padahal dirinya pun sama saja.
"Itu bisa juga dipengaruhi oleh hormon kehamilan Mas " Leon menjelaskan.
"Ooh..pantas " jawab Dipa.
Bintang yang tertidur selama pemeriksaan akhirnya terbangun karena mendengar suara orang yang sedang mengobrol.
"Kalian..sedang apa disini ?" Bintang menatap kearah Dina dan Leon yang berada di kamarnya.
"Mumpung bangun mana obat demamnya Sayang ?" tanya Dina kepada Leon.
"Ini " Leon memberikan obat demam kepada Dina.
"Sini lu minum obat dulu !" Dina memaksa Bintang untuk membuka mulutnya.
"Apaan sih Lu..gw gak mau " Bintang melotot kearah Dina.
"Cepetan buka mulutnya !" Dina memaksa Bintang untuk membuka mulutnya dan menjejalkan obat itu ke mulut Bintang.
"Mmmhh..Maaassss tolooong " Bintang menggapai tangannya kearah Dipa yang hanya bisa mematung menyaksikan Dina yang sedang memaksa Bintang menelan obatnya. " Massss...tolooong !"
"Maaf Neng..aku tidak bisa nolong. Kamu harus minum obat " jawab Dipa.
Dina baru melepaskan Bintang setelah obat itu berhasil Bintang telan dengan susah payah.
"Dari dulu kalau minum obat dia harus dipaksa seperti itu Mas " ujar Dina sambil tersenyum sementara Bintang tampak mengusap matanya yang basah.
"Adik ipar kurang ajar lu " sungut Bintang. " Kamu juga bukannya nolong aku malah nonton lihat adik kamu yang gila ini mau bunuh aku " Bintang melotot kepada Dina dan Dipa bergantian.
"Maaf Neng " cicit Dipa.
Setelah memaksa Bintang menelan obat demamnya Dina dan Leon pun pamit pulang.
"Besok aku kesini lagi buat mastiin kakak ipar minum obat " cengir Dina sebelum keluar dari kamar .
__ADS_1
Bintang melemparkan bantal kearah Dina namun hanya menabrak pintu karena Leon dengan cepat membawa Dina pergi sebelum Bintang mengamuk.