
Daniel yang memiliki bisnis di Bandung dan Jakarta diam-diam selalu memantau keberadaan Bintang dan Langit.
Bahkan tidak jarang Daniel mengirimi makanan dan mainan untuk Langit melalui orang suruhannya.
Daniel belum berani menunjukkan dirinya di depan Bintang karena ia takut Bintang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Bunda..uncle Daniel kirim susu lagi untuk aku " Langit menunjuk dua karton susu yang teronggok di atas meja.
"Siapa yang nganterin nya Mbak ?" tanya Bintang kepada Shanti.
"Biasa Bi..orang suruhannya Daniel " jawab Shanti.
Sebetulnya Bintang tidak pernah sekalipun mengatakan jika ia tidak ingin bertemu dengan Daniel. Sejauh ini Bintang sudah mau menerima kenyataan jika Daniel adalah kakaknya namun sepertinya Daniel sendiri lah yang berusaha menjaga jarak dari Bintang agar adiknya itu tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Lain kali aku akan meminta kak Daniel sendiri yang mengantarkannya kesini " ujar Bintang sambil menyusun kotak-kotak susu itu di dalam kontener di dapur Bintang.
"Sebaiknya memang begitu. Kalian itu adik kakak harus saling menyayangi. Daniel juga tidak akan seperti itu jika tau kamu adalah adik kandungnya" nasehat Shanti.
"Iya Mbak ku tersayang " Bintang mencium pipi Shanti.
"Jika kamu bisa memaafkan Daniel seharusnya begitu juga kepada Dipa dan keluarganya Bi..tidak baik terus-terusan menyimpan kebencian "
"Kalau dengan keluarga Mas Dipa itu beda Mbak. Seandainya aku mengalah pun nyatanya orangtua Mas Dipa tidak menginginkan aku. Jadi walau bagaimanapun jalan kita untuk bisa bersama itu sangat sulit " jawab Bintang.
"Tidak sulit jika semua mengesampingkan ego masing-masing " ujar Shanti.
"Aku tidak akan mengemis pada orang yang tidak menginginkan aku " tegas Bintang.
"Tapi apa kalian akan selamanya seperti ini ? Langit akan semakin besar begitu juga Bunga, mereka membutuhkan kasih sayang dari keluarga yang lengkap " nasehat Shanti.
"Ya memang takdirnya harus begini Mbak, karena Mas Dipa sudah memiliki kehidupan sendiri " jawab Bintang. Shanti yang memang belum tau jika Dipa sudah resmi bercerai dengan Elsa akhirnya terdiam.
*
Akhir pekan ini seperti biasa Dipa sudah bersiap untuk pergi ke Bandung bersama Bunga. Dina sudah menyiapkan semua keperluan Bunga di dalam tasnya.
"Perasaan kamu kalau ke Bandung sering bawa Bunga ?'' tanya Mama Niken ketika Dipa dan Bunga akan naik ke mobil.
"Biar dia kenal lebih dekat sama adiknya " jawab Dipa santai. Ia sama sekali tidak peduli akan reaksi Mamanya.
__ADS_1
"Apa yang Dipa bilang benar Mah, walau bagaimanapun mereka itu adik kakak walaupun berbeda ibu " ucap Papa Ardi.
"Mama takut saja Bunga diperlakukan tidak baik oleh anak itu " sungut Mama Niken. Yang dimaksud anak itu tentu saja Bintang.
"Kalau Mama takut Bunga diperlakukan tidak baik oleh Bintang, Mama bisa tanya sendiri ke Bunga " jawab Dipa kesal.
"Bunda Bintang baik kok Oma..Aku malah lebih senang sama Bunda Bintang daripada sama Mommy " jawab Bunga jujur.
Mendengar jawaban Bunga, Mama Niken pun langsung terdiam. Jika Bintang memperlakukan Bunga dengan tidak baik pasti Bunga tidak akan mau jika Dipa selalu mengajaknya ikut ke Bandung.
"Sudah sana kalian pergi, jangan hiraukan Mama kamu " Papa Ardi mengusir Dipa agar cepat pergi daripada mendengar Omelan istrinya.
"Kita berangkat Pah " Dipa membantu memasangkan seatbelt pada tubuh Bunga.
"Dadah Oma..jangan marah-marah terus ya nanti Oma cepat tua " Bunga melambaikan tangannya kepada Mana Niken sambil menjulurkan lidahnya. Papa Ardi tertawa melihat kelakuan cucunya.
"Ini pasti Bintang nih yang ngajarin. Biasanya Bunga mana berani meledek Mana begitu " sungut Mama Niken.
"Jangan suka suudzon " Papa Ardi menggamit lengan Mama Niken dan membawanya masuk.
Di dalam terdengar suara Lana yang sedang menangis dari dalam kamarnya.
"Lana ingin ikut sama Mas Dipa dan Bunga " jawab Dina.
"Daripada ikut mereka lebih baik kita jalan-jalan sama Oma, nanti Lana boleh beli mainan yang Lana suka " bujuk Mama Niken.
"Lana tidak mau beli mainan Omaa, mainan Lana sudah banyak. Lana ingin ikut dengan kak Bunga..Lana ingin main sama Langit " jawab Lana diantara tangisnya.
"Main sama Langit ?" mata Nama Niken langsung melotot.
"Minggu lalu mereka pernah tidak sengaja bertemu di Mall, mereka bertiga sempat main bareng dan kelihatannya mereka cocok " ujar Dina lirih.
Mama Niken terdiam. Suka tidak suka pada kenyataannya mereka adalah bersaudara. Dan Langit juga cucunya.
Mungkin jika Bintang ada usaha untuk mendapat restu darinya ia juga akan luluh. Apalagi selama ini mereka belum memiliki cucu laki-laki.
Tapi dimata Mama Niken Bintang itu terlalu sombong karena pernah mengatakan tidak sudi menjadi menantunya.
Kalimat Bintang itulah yang membuat Mama Niken meradang sampai sekarang.
__ADS_1
Mama Niken lupa jika ucapan Bintang itu adalah sebagai balasan atas hinaan Mama Niken kepada Bintang dan Langit sebelumnya.
"Ma..menurut aku sebaiknya Mama terima saja Langit sebagai cucu Mama. Apa Mama tidak lihat dia itu sangat lucu dan tampan " saran Dina.
"Kamu tau Na..anak itu pernah pukul Mama pakai sapu waktu Mama dan Elsa ke Bandung " sungut Mama Niken.
"Mungkin Mama dan kak Elsa bikin masalah disana " tebak Dina sambil berusaha menahan tawanya membayangkan bocah sekecil Langit mempunyai keberanian untuk memukul orang dewasa.
"Sok tau kamu " jawab Mama Niken sambil keluar dari kamar Lana.
Meskipun terlihat bersungut-sungut namun Mama Niken akui jika Langit itu sangat lucu dan tampan persis seperti Dipa waktu kecil.
Jika saja keadaannya tidak begini ingin sekali Mama Niken menciumi pipinya yang bulat kemerahan seperti tomat.
Disaat Mama Niken sedang membayangkan pipi Langit yang bulat kemerahan seperti tomat, Langit sendiri terlihat sedang berjingkrak-jingkrak senang ketika menyambut kedatangan Dipa dan Bunga.
"Kakak Bunga aku sama Bunda sudah belikan baju tidur seragaman untuk kita dan Bunda " Langit langsung menarik tangan Bunga menuju ke kamarnya.
"Kamu beli seragaman hanya untuk kalian bertiga ? tidak ingat untuk Ayahnya?" tanya Dipa bernada merajuk.
"Untuk kamu tidak ada jatah " jawab Bintang ketus.
"Kamu itu tega sekali sama aku. Padahal aku itu kerja banting tulang untuk menghidupi kalian. Hanya baju tidur saja kamu bilang tidak ada jatah " Dipa pura-pura mengeluh.
"Cuma baju tidur saja ribet banget sih..ya sudah aku pesankan sama Mbak Shanti " Bintang mengambil ponselnya kemudian memesan piyama dengan corak yang sama dengan yang sudah Bintang beli.
"Sudah aku pesankan jadi tidak usah protes lagi " ucap Bintang setelah mengakhiri panggilan dengan Shanti.
Diam-diam Dipa tersenyum tipis membayangkan setiap malam mereka berempat tidur mengenakan piyama dengan corak yang sama dan dibawah selimut yang sama.
"Mas ngapain senyum-senyum sendiri ?" Bintang mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Dipa.
"Sebaiknya kamu pesan piyama couple nya jangan cuma satu corak Neng, tapi beberapa corak " jawab Dipa.
" Nanti aku tanyakan lagi sama Mbak Shanti apakah masih ada corak yang lain " jawab Bintang. Dipa pun tersenyum senang.
Keinginan Dipa untuk memakai piyama seragaman dengan istri dan anak-anaknya akhirnya terkabul ketika Shanti datang mengantarkan piyama pesanan Bintang beserta barang dagangan yang lainnya.
Dipa membeli semua piyama couple yang Shanti punya. Pria tampan itu sangat terobsesi ingin memakai piyama couple setiap malamnya meskipun mereka tinggal terpisah.. Dipa dan Bunga di Jakarta sedangkan Bintang dan Langit di Bandung.
__ADS_1