
Seorang perawat mendorong box bayi berisi dua bayi mungil yang sangat cantik ke kamar perawatan Bintang.
Setelah berhasil melahirkan kedua bayi kembarnya secara normal dan kondisinya sudah mulai stabil Bintang pun dipindahkan dari ruang bersalin ke kamar perawatan.
Dipa sudah mengadzani kedua bayi kembarnya sesaat setelah dilahirkan. Dan kini kedua bayi kembar itu dibawa ke kamar perawatan Bintang untuk disusui.
Bintang menyusui satu bayinya sementara bayi satunya lagi menunggu giliran dalam gendongan Mama Niken.
Bintang yang sudah berpengalaman menyusui Langit tampak tidak mengalami kesulitan saat menyusui bayi kembar mereka, perbedaannya mungkin hanya waktu menyusuinya saja yang menjadi lebih panjang karena bukan hanya satu bayi yang ia susui tapi dua bayi.
Dipa menatap takjub kepada Bintang dan kedua bayi cantik itu bergantian. Masih lekat dalam ingatan Dipa ketika Bintang berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan si kembar, kini Bintang tampak begitu segar dan cantik melaksanakan kewajiban nya menyusui bayi mereka..benar-benar wanita yang kuat.
"Sudah punya nama untuk si kembar Di ?"tanya Papa David menepuk bahu Dipa yang sedang menatap kedua bayinya lekat.
"Sudah Pah. Aku mau kasih mereka nama Shakila dan Shakira " jawab Dipa.
"Nama yang bagus " puji Papa David. " Oh iya, Papa lupa belum kasih kabar Daniel..dia pasti senang keponakannya sudah lahir " Papa David keluar untuk menghubungi putranya yang sedang mondok di pesantren.
"Yang mana Shakira dan mana Shakila ?" tanya Papa Ardi.
"Yang pertama lahir ada tahi lalat di dekat telinganya..itu Shakila, dan yang belakangan adalah Shakira " jawab Dipa.
Papa Ardi memperhatikan bayi yang berada di gendongan Mama Niken yang ternyata ada tahi lalat di dekat telinganya. "Papa tau ini berarti Shakila ya Di ?"
"Iya Pah, dan yang lagi menyusu itu Shakira " jawab Dipa.
Setelah Shakira selesai menyusu kini giliran Shakila yang menyusu.
Kedua bayi itu menyusu dengan sangat rakus. Bahkan Shakila sempat menangis ketika pu ting Bintang terlepas dari mulut mungilnya.
__ADS_1
"Yang ini sepertinya sedikit tidak sabaran nih " Dipa mencolek pipi Shakila.
"Seperti kamu Sayang kalau sedang menyusu suka tidak sabaran " bisik Bintang sambil terkikik.
"Stt..jangan keras-keras Neng, nanti Mama dan Papa dengar " Dipa melotot kearah Bintang khawatir Mama dan Papa nya mendengar apa yang barusan Bintang ucapkan.
Setelah kedua bayi cantik itu selesai mendapatkan ASI, perawat itu pun kembali membawa kedua bayi itu ke ruangan khusus bayi.
Pada sore harinya Shanti dan Rizal datang menjenguk Bintang dan bayi kembarnya di rumah sakit. Mereka datang hanya berdua tanpa membawa kedua anak mereka.
"Ya ampun Neng, kamu udah ngalahin Mbak Shanti loh. Kamu sekarang sudah punya buntut empat sedangkan kita baru dua " Shanti mencubit ujung hidung Bintang dengan gemas.
"Bagaimana reaksi Bunga dan Aa setelah melihat adik kembar mereka ?" tanya Rizal.
"Mereka sedang berlibur di Bali sama Dina dan Leon, jadi belum sempat melihat adik mereka " jawab Bintang.
Selain Shanti dan Rizal, para kolega keluarga Dipa dan Papa David pun mulai berdatangan. Sebagian besar kolega Papa David sengaja datang langsung dari Singapura.
Setelah kondisi Bintang semakin pulih, keesokannya Bintang pun diperbolehkan pulang.
Mama Niken dan Shanti membawa kedua bayi kembar itu dalam gendongan mereka, sementara Amira yang juga ikut menjemput membantu membawakan tas Bintang dan dimasukan kedalam mobil Felix.
Setibanya di rumah tidak lama kemudian rombongan Dina dan Leon pun datang.Elsa dan suaminya bahkan ikut ke Jakarta untuk menengok Bintang dan bayinya.
"Bayinya cantik seperti aku " celoteh Bunga dengan centilnya.
Sedangkan Langit langsung naik keatas ranjang bayi dan tidak mau jauh dari sana.
"Mama, aku juga ingin adik bayi " Lana menangis memeluk leher Leon . Ia merasa iri melihat Langit dan Bunga memiliki adik bayi yang lucu.
__ADS_1
"Lana sini, ini juga kan adik kamu " Bunga menghibur Lana yang terus menangis dalam gendongan Leon.
Leon menurunkan Lana di dekat Langit dan Bunga juga si kembar dan tidak lama kemudian Lana pun berhenti menangis dan melupakan kesedihannya.
Beberapa jam kemudian Elsa dan suaminya pamit karena mereka akan menginap di hotel, tidak lama kemudian Shanti dan Rizal pun menyusul. Pada saat Amira pamit pulang, Papa David berinisiatif untuk mengantarkan Amira pulang.
"Kamu pulang sama Om saja, kebetulan Om ingin bertemu dengan Ayah kamu " tutur Papa David. Amira pun tentu saja tidak berani menolak.
Sepanjang perjalanan Papa David menanyakan banyak hal kepada Amira dan salah satunya apakah Amira sudah memiliki kekasih yang dijawab dengan jujur oleh Amira jika ia sudah putus dengan pacarnya beberapa bulan yang lalu dan sekarang sedang tidak punya pacar.
"Pria seperti apa yang kamu harapkan untuk menjadi pasangan kamu kelak ?" tanya Papa David.
"Mmhh..yang seiman Om, dan baik akhlaknya " jawab Amira malu-malu.
Papa David pun manggut-manggut.
"Menurut kamu Daniel itu bagaimana orangnya ?" pancing Papa David.
Amira menelan air liurnya, ia bingung harus menjawab apa.
"Saya belum tau Om, karena saya belum terlalu mengenal Mas Daniel " jawab Amira.
"Ya..ya..saya mengerti. Tapi perlu kamu tau jika Daniel sekarang sedang mondok di Pesantren di Jombang..semoga setelah pulang dari sana Daniel menjadi pria berahlak baik seperti yang kamu bilang tadi " tutur Papa David membuat Amira kembali menelan ludahnya.
Amira terlihat lega ketika mobil yang Papa David kendarai mulai memasuki halaman rumahnya.
Di teras Ayah Amira berdiri menyambut kedatangan Papa David.
Setelahnya Amira tidak tau apa yang mereka bicarakan karena Amira langsung disuruh masuk ke kamarnya, bahkan menyuguhkan air untuk tamunya saja ibunya yang melakukannya.
__ADS_1