
Setibanya di rumah mereka disambut tatapan menyelidik dari Dina karena melihat rambut keduanya yang masih basah.
"Kalian kehujanan dimana ? kenapa rambutnya pada basah ?" tanya Dina.
"Kepo banget sih Lo , mau tau urusan orang " jawab Bintang judes.
"Sstt..jangan di dengar " bisik Dipa sambil menggandeng tangan Bintang menjauh dari Dina. Namun Dipa sempat menyentil kening Dina ketika melewatinya.
"Huh..dasar ga bisa dibecandain " cebik Dina.
"Becanda Lo ga lucu !" Bintang sempat menjawab sambil menoleh kepada Dina.
"Na..becanda kamu seperti yang sedang ngajak ribut " Leon memperingatkan Dina.
"Biarin " jawab Dina. " Eh kamu lihat tidak begitu pulang rambut mereka pada basah, dan di leher Bintang banyak kissmark nya..pasti mereka habis ngamar di hotel " ujar Dina sambil terkikik.
"Ya biarin dong, mereka kan suami istri..kalau kamu iri ayo kita ke kamar dan ngulang yang semalam " ajak Leon.
"Tidak..tidak .badan aku masih pegal-pegal setelah semalam kamu bolak-balik seperti bakaran sate " sungut Dina. Leon pun hanya tertawa.
Sementara Dipa dan Bintang yang buru-buru masuk ke kamarnya tidak menemukan Langit disana.Ternyaya Langit masih tidur dalam pelukan Mama Niken dan Papa Ardi di kamar mereka. Papa Ardi dan Mama Niken sampai tidak ada yang keluar kamar karena terlalu menikmati moment langka tidur dengan cucu tampannya.
"Kalau Langit seanteng ini bersama Mama seharusnya kita tidak pulang cepat Neng " Dipa yang masih mengantuk memilih kembali berbaring diatas kasur empuknya untuk melanjutkan kembali tidurnya.
"Aku juga sebetulnya masih ngantuk Mas, cuma aku terlalu ketakutan Langit nangis karena ini adalah untuk yang pertama kali Langit ditinggal sendirian disini " jawab Bintang sambil ikut merebahkan tubuhnya disebelah Dipa.
Dipa memiringkan tubuhnya menghadap kearah Bintang dan tangannya iseng menelusup dibalik sweaternya mencari benda pavoritnya yang begitu nyaman untuk ia re mas.
Meskipun merasakan geli namun Bintang membiarkan saja Dipa bermain-main dengan dua gunung kembarnya yang padat berisi.
"Mas..Bunga sedang apa ya sekarang, sehari tidak ketemu anak itu rasanya kangen banget " ucap Bintang sambil mempermainkan ribut Dipa yang masih setengah basah.
"Paling masih tidur dengan ibunya " jawab Dipa asal.
"Aku sebenarnya ingin nelpon tapi takut ganggu kebersamaan mereka " ujar Bintang.
"Jangan..biarkan mereka menghabiskan waktu bersama, kita kan setiap hari ketemu Bunga " jawab Dipa sambil memelintir pucuk dada Bintang dengan jarinya.
"Baiklah " jawab Bintang.
__ADS_1
Kesenangan Dipa harus terhenti karena terdengar suara Langit dan Lana entah apa yang sedang mereka lakukan namun yang jelas Langit tidak terdengar menangis.
"Langit bangun Mas, aku mau lihat dia dulu " ucap Bintang sambil buru-buru turun dari ranjang meninggalkan Dipa yang tampak cemberut karena keasikannya terganggu.
Begitu keluar Bintang mendapati Langit dan Lana sedang disuapi oleh Dina. Langit terlihat sudah tampan dan wangi pasti Mama Niken yang sudah memandikannya.
"Bunda baru bangun ya ?" tanya Langit setelah Dina mengisi mulut langit dengan sup ikan salmon.
"Iya Sayang bunda bangunnya kesiangan " dusta Bintang.
"Bukan kesiangan tapi baru pulang ngelayap " gumam Dina.
"Bisa diam ga sih mulut Lo ?" geram Bintang dengan suara pelan sambil melotot kearah Dina.
"Yeeey marah " cibir Dina sambil terus menyuapi Langit dan Lana makan.
Bintang tampak geram karena Dina selalu memancing kemarahannya. Bagi Dina ada kebahagiaan tersendiri bisa kembali berkomunikasi dengan Bintang walaupun dengan cara bertengkar dan adu mulut.
"Kalau kalian ngumpul berdua harus diawasi takutnya bertengkar di depan anak-anak" Mama Niken muncul disaat yang tepat sehingga Bintang dan Dina tidak meneruskan perseteruan mereka.
"Mama sama Aunty cantik tadi mau bertengkar lagi " Lana mengadu kepada Mama Niken membuat Mama Niken langsung mengarahkan tatapan tajamnya kearah Bintang dan Dina.
"Kalian itu bisa tidak jangan berantem terus apalagi di depan anak-anak, ingat kalian itu sudah dewasa jangan berkelakuan seperti anak kecil " nasehat Mama Niken.
"Iya..iya..tapi diulang-ulang terus " sungut Mama Niken kesal.
Bintang dan Dina hanya menunduk, Bintang juga sebetulnya tidak ingin marah jika saja Dina tidak memancing emosinya dan itu adalah cara Dina untuk berinteraksi dengan Bintang.
"Kenapa Mah..berantem lagi ?" tanya Papa Ardi yang baru muncul .
"Nyaris..kalau saja Mama tidak keburu datang " jawab Mama Niken.
"Kalau kalian masih ada unek-unek yang belum selesai Papa ijinkan kalian berantem disana dan kami akan menjadi penonton, termasuk Langit dan Lana " Papa Ardi menunjuk taman belakang dekat kolam renang.
Saking pusingnya Papa Ardi malah berniat membiarkan kedua wanita muda itu bertarung sekalian.
"Ayo sana !" bentak Papa Ardi.
"Tidak mau Pah " jawab Dina.
__ADS_1
"Mama sama Aunty cantik makanya baikan dong " pinta Lana sambil mengambil tangan Bintang dan Dina untuk bersalaman.
"Ayo Bunda sama Aunty Dina salaman dong !" titah Langit.
Dina dan Bintang pun bersalaman karena malu diperintah oleh Lana dan Langit.
"Seharusnya kalian malu sama Lana dan Langit " omel Papa Ardi.
Setelah berhasil membuat Bintang dan Dina salaman kedua bocah itu pergi dengan Papa Ardi dan Mama Niken naik mobil. Mereka akan pergi ke toko mainan untuk membeli mainan yang mereka inginkan.
Setelah ditinggalkan oleh Papa Ardi dan Mama Niken juga Langit dan Lana, Bintang dan Dina memilih kembali ke kamar mereka dimana suami-suami mereka berada.
"Kenapa , berantem lagi ?" tanya Dipa ketika melihat wajah Bintang yang ditekuk.
"Adik kamu itu nyari ribut terus, jadi dimarahin sama Papa dan Mama " adu Bintang.
"Syukurin " jawab Dipa.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih Mas ?" Bintang melemparkan bantal kearah Dipa namun dengan cepat ditangkap oleh Dipa.
Di kamar sebelah, Dina juga tampak sedang mengadu kepada Leon. Dan reaksi Leon pun tidak jauh beda dengan Dipa membuat Dina langsung marah kepada Leon karena tidak mendukungnya.
Pada sore harinya Bintang dan Dipa sudah bersiap untuk pulang ke Bandung. Semua barang-barang sudah masuk ke dalam mobil dan mereka sudah pamit kepada Papa Ardi dan Mama Niken. Dina dan Leon juga Lana sedang pergi ke acara resepsi pernikahan salah satu dokter di rumah sakit milik keluarga Dipa.
"Dadaaah Omaaa..Opaaa.." langit melambaikan tangannya kepada Papa Ardi dan Mama Niken yang masih berdiri di teras sambil melambaikan tangan nya.
Setelah semalam tidur bersama Opa dan Oma nya Langit menjadi semakin dekat dengan mereka.
"Ayaah..nanti kalau kesini lagi aku mau tidur sama Opa dan Oma lagi " pinta Langit.
"Oke Boss " jawab Dipa.
Sebelum pulang mereka mampir ke hotel tempat Elsa menginap untuk menjemput Bunga sesuai dengan waktu yang sudah mereka janjikan.
Setibanya di hotel, Elsa dan suaminya juga Bunga sudah menunggu di lobby.
Elsa tampak berat ketika menyerahkan kembali Bunga kepada Dipa dan Bintang. Bintang dapat menangkap dengan jelas raut kesedihan di wajah Elsa dan suaminya.
"Bolehkan jika libur panjang Bunga aku ajak ke Australia?" tanya Elsa tiba-tiba membuat wajah Bintang langsung berubah.
__ADS_1
"Aku harus bicarakan dulu dengan Bintang " jawab Dipa sambil melirik wajah Bintang yang langsung terlihat keberatan dengan permintaan Elsa.
"Baiklah..aku tunggu kabar dari kalian " jawab Elsa sambil mengantarkan Bunga ke mobil bersama tas dan barang-barang milik Bunga yang cukup banyak, sepertinya Elsa membelikan banyak barang untuk Bunga.