Istri Simpanan

Istri Simpanan
Mak Comblang cilik


__ADS_3

Di kantor suasana hati Dipa benar-benar buruk. Amira beberapa kali kena semprot karena semua pekerjaan selalu salah dimata Dipa.


"Jangan diambil hati, sepertinya si Bos belum dapat jatah dari Neng geulisnya " Felix asisten pribadi Dipa menghibur Amira yang baru saja kena semprot Dipa.


"Iya sepertinya begitu " wajah muram Amira pun sedikit menguar.


Obrolan Amira dan Felix berakhir ketika Dipa terlihat keluar dari ruangannya dan bergegas berjalan menuju lift.


"Mau kemana Bos?" Felix buru-buru mengejar sebelum bos nya itu masuk kedalam lift.


"Pulang, gw lagi mumet ga bisa kerja. Lu hendel kerjaan gw hari ini " jawab Dipa sebelum masuk kedalam lift dan menghilang disana.


Felix menepuk jidatnya, sudah tiga hari ia menghendel kerjaan Dipa karena bos nya itu pergi ke Surabaya karena mantan mertuanya meninggal, kini ia kembali harus menghendel kerjaan Dipa karena bos nya itu sedang menggalau karena dicuekin Neng geulisnya. Felix pikir orang sekeren Dipa tidak akan mengalami galau oleh wanita..ternyata ia salah.


"Mas..hape Pak Dipa ketinggalan " Amira yang baru selesai merapikan meja kerja Dipa memberikan ponsel Dipa yang tertinggal di ruangannya. Felix hanya geleng-geleng kepala, tidak biasanya Dipa yang biasanya sangat rapi tiba-tiba berubah menjadi sangat ceroboh.


Ternyata pesona seorang Bintang telah berpengaruh sangat besar terhadap hidup seorang Adipati Mahendra.


"Kamu simpan saja, paling sebentar lagi juga kamu disuruh nganterin ke rumahnya" jawab Felix.


Amira pun menyimpan ponsel Dipa di laci mejanya agar jika Dipa menghubunginya akan mudah ia terima.


"Sialan hape gw ketinggalan " Dipa memukul stir mobil ketika menyadari jika ponselnya tertinggal di kantor.


Selama hidupnya baru kali ini ia melupakan ponselnya yang selama ini nyaris tak pernah lepas dari genggamannya.


Meskipun menggerutu namun Dipa melanjutkan perjalanan pulang ke rumah karena menurutnya urusan dengan Bintang lebih penting dari ponselnya.


Setibanya di rumah Dipa tidak mendapati Bintang dan kedua anak mereka di rumah padahal seharusnya anak-anak sudah pulang sekolah dan mereka sudah ada di rumah seperti biasanya.


Dipa berniat menelpon Dina untuk menanyakan keberadaan Bintang dan anak-anak nya namun ia tampak kesal begitu menyadari jika ponselnya tertinggal di kantor.


Kekesalan Dipa semakin menggunung manakala sampai sore Bintang dan anak-anak masih belum pulang juga. Dipa yakin jika Bintang ada di rumah orangtuanya namun Dipa tidak berani menyusul kesana karena yang ada ia akan kembali mendapat Omelan dari Mama Niken dan Papa Ardi. Kedua orangtuanya kini sudah berpihak kepada menantunya daripada anaknya sendiri.


Menjelang magrib mobil Bintang tampak memasuki halaman. Dipa mengintip dari celah gorden kamarnya dimana Bintang dan anak-anak sedang menurunkan barang belanjaannya. Sepertinya Neng geulis dan dua krucilnya baru selesai bersenang-senang dengan menghabiskan uang suami dan Ayah mereka.


"Ayaaah..aku beli mainan banyaaaak " seru Langit sambil memperlihatkan belanjaan miliknya.


"Aku juga..Bunda bilang aku boleh beli apapun yang aku mau biar Ayah pusing karena uangnya kita habiskan " oceh Bunga sambil terkikik.


Dipa langsung melotot kearah Bintang yang tampak cuek memeriksa isi kantung belanjaannya yang cukup banyak.

__ADS_1


Sebetulnya bukan masalah berapa uang yang Bintang dan anak-anak nya habiskan namun lebih kepada niat Bintang yang ingin membuatnya kesal dengan cara menghamburkan uangnya.


"Jangan suka ngajarin anak yang tidak benar " Dipa mengingatkan Bintang.


Bintang menulikan pendengarannya dan memilih membongkar belanjaannya di depan Dipa. Sementara'Bunga dan Langit membawa barang belanjaan mereka ke kamar masing-masing.


"Neng..aku pinjam ponsel kamu " ucap Dipa membuat Bintang langsung mengernyit sinis.


"Ngapain..mau razia ponsel aku ?" tanya Bintang curiga.


"Mau bel Amira, ponsel aku ketinggalan di kantor " jawab Dipa.


Meskipun dengan terpaksa Bintang pun memberikan ponselnya kepada Dipa." jangan lama-lama !" ucapnya ketus.


Dipa menghubungi Amira dan menyuruh sekertaris nya itu mengantarkan ponselnya ke rumah. Kebetulan Amira memang sedang di jalan menuju ke rumah Dipa untuk mengantarkan ponsel bos nya itu, Amira memang sekertaris yang patut diandalkan.


"Sudah " Dipa mengembalikan ponsel itu kepada Bintang.


"Dasar pikun bagaimana bisa ponsel kamu sampai ketinggalan " sungut Bintang dengan nada mengejek.


Bisa..semua gara-gara kamu Neng, kemarahan kamu membuat hidup aku menjadi kacau batin Dipa.


Diam-diam Dipa memperhatikan Bintang yang sibuk memeriksa belanjaannya. Ada dua tas dan sepatu yang Bintang beli. Dalam sekali lihat saja Dipa sudah dapat menebak jika istrinya itu menghabiskan puluhan juta untuk memuaskan hasrat belanjanya..ralat maksudnya untuk melampiaskan emosinya terhadap Dipa.


"Ngapain sih ngeliatin aku terus ? tidak suka ya lihat aku belanja banyak begini ?" tanya Bintang ketus.


"Suka kok..aku kerja juga kan buat kamu dan anak-anak " jawab Dipa. Ia berusaha bersabar demi kestabilan pertahanan dan keamanan rumah tangganya.


Bintang tidak menanggapi ucapan Dipa, ia membereskan semua belanjaannya dan menyimpannya di sudut kamar. Semua yang Bintang lakukan tidak lepas dari pantauan Dipa.


Dipa tampak menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum ia meminta Bintang untuk duduk di sampingnya.


"Duduk sini Neng, aku mau bicara !" Dipa menepuk sofa disebelahnya.


"Bicara saja, aku dengar kok " Bintang enggan duduk di dekat Dipa, Ia malah duduk diatas ranjangnya.


"Ya sudah kalau begitu aku yang pindah kesana " Dipa hendak bangkit menuju ranjang namun Bintang langsung melotot.


"STOP..diam disitu..aku tidak mau dekat-dekat dengan kamu !" semprot Bintang.


Dipa sampai mengusap dadanya saking kagetnya. "Apaan sih Neng.. tidak baik memperlakukan suami begitu.. seperti aku punya penyakit menular saja "

__ADS_1


"Ngomongnya dari situ saja, aku tidak mau dekat-dekat kamu " kekeh Bintang.


Dipa pun kembali mundur dan duduk kembali di sofa seperti sebelumnya.


"Aku mau minta maaf..marah nya udahan ya Neng ! aku tidak bisa lama-lama kamu diamkan seperti ini " pinta Diva dengan wajah memelas.


"Tidak ..aku masih kesel sama kamu " sungut Bintang.


"Jangan gitu dong Neng..


bermusuhan lebih dari tiga hari itu dosa loh " bujuk Diva.


Bintang menatap kearah Dipa dengan wajah memberenggut yang justru malah terlihat lucu dan menggemaskan.


"Kita baikan ya Neng !" bujuk Dipa.


"Nanti aku pikirin dulu " jawab Bintang.


"Kenapa harus dipikirin dulu ? kelamaan dong Neng " rengek Dipa.


Negosiasi yang belum berhasil itu terpaksa dihentikan ketika Langit melongokan kepalanya di pintu kamar.


"Ayaaah..ada Tante Mira di depan " ucap Langit sambil menatap Dipa dan Bintang yang duduk berjauhan.


"Ayah dan Bunda sedang musuhan ?" tanya Langit menyelidik.


"Tidak..kami sedang ngobrol..iya kan Bun ?" Dipa memberi kode agar Bintang mengiyakan.


"Iya " jawab Bintang.


"Tumben ngobrolnya berjauhan, biasanya deketan terus sambil cium-ciuman " ujar Langit.


"Ya Tuhan..kapan langit lihat Ayah dan Bunda seperti itu ?" tanya Bintang dengan wajah kagetnya.


"Sering..Ayah dan Bunda tidak tau kalau aku ngintip " oceh Langit.


"Lain kali Langit tidak boleh ngintip lagi ya !" ujar Dipa sambil menggendong Langit kemudian menemui Amira yang sedang mengobrol dengan Bunga.


"Ayaaah ih ganggu perempuan sedang ngobrol saja " Bunga merasa terganggu dengan kehadiran Dipa.


"Memangnya kalian sedang ngobrol apa ?" tanya Dipa sambil menjatuhkan bokongnya di sebelah Bunga.

__ADS_1


"Aku sedang tanya Tante Mira sudah punya pacar belum ? kalau belum aku suruh menikah dengan Uncle Daniel saja " jawab Bunga.


"Hmmm..dasar Ibu dan anak hobi jadi Mak comblang " gumam Dipa.


__ADS_2