
Setiba di Bandung mereka langsung menjemput Langit di rumah Shanti. Langit terlihat senang karena Bunga ikut pulang ke Bandung.
"Kak Bunga sudah sembuh ?" tanya Langit sambil mengekori Bunga yang sedang Bintang tuntun menuju ke kamarnya.
"Udah dong " jawab Bunga sambil naik ke ranjang Bintang dan diikuti oleh Langit.
"Apakah ini sakit ?" tanya Langit memeriksa pergelangan tangan Bunga yang menyisakan plester untuk menutupi jejak jarum suntik.
"Tidak " jawab Bunga.
"Kakak Bunga jagoan " puji Langit sambil memeluk Bunga. Bintang dan Dipa tampak tersenyum melihat kedua bocah itu saling menyayangi satu sama lain.Bunga terdengar menceritakan pengalaman pertama nya di rawat di rumah sakit.
Bintang meninggalkan Langit dan Bunga yang sedang saling melepaskan rindu untuk membuat makanan di dapur.
"Maaf ya Neng jadi merepotkan.. Aku tidak mengerti kenapa Bunga jadi lengket begini sama kamu " ucap Dipa yang mengikuti Bintang ke dapur.
"Tidak apa-apa, Langit juga senang Bunga ikut kesini " jawab Bintang sambil mencuci beras dan sayuran untuk membuat bubur.
"Anak-anak pasti lebih senang lagi kalau mereka tidak terpisah lagi. Langit bisa bertemu aku setiap hari dan Bunga bisa bertemu kamu setiap hari " ucap Dipa sarat makna.
"Mana bisa begitu , kita kan punya kesibukan sendiri " kilah Bintang.
"Bisa Neng..kalau kamu mau aku tidak keberatan memindahkan Bunga sekolah disini dan aku bisa kerja bolak-balik dari sini " ujar Dipa menatap lekat wajah Bintang.
"Bagaimana Neng ?" Dipa tidak sabar menunggu jawaban dari Bintang.
"Biar kamu tidak kerepotan aku akan mempekerjakan lagi pengasuh Bunga sewaktu di Surabaya. Dia pasti tidak keberatan mengasuh Bunga dan Langit disini " ide Dipa.
"Sebelum mengambil keputusan sebaiknya pikirkan dulu dengan matang agar tidak salah mengambil keputusan " saran Bintang.
"Aku sudah memikirkan dengan sangat matang sejak aku memutuskan untuk memilih kamu menjadi satu-satunya . Tapi yang harus bergerak bukan hanya aku tapi kamu juga Neng... percuma kalau aku yang bergerak sendiri sedangkan kamunya tidak ..itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan " ujar Dipa.
"Cinta..kamu cinta aku Mas ?" tanya Bintang bernada menggoda.
"Aku itu sedang bicara serius Neng, tidak sedang becanda " Dipa terlihat sedikit kesal karena ucapannya Bintang anggap candaan.
"Memangnya kamu tidak merasakannya ?" kejar Dipa.
"Aku..aku tidak tau " jawab Bintang gugup.
Bintang bukan anak remaja labil yang tidak tau arti cinta, tapi ia sendiri ragu apa yang selama ini Dipa tunjukan kepadanya cinta atau hanya sebuah tanggung jawab atas kesalahan dimasa lalu.
Setelah bubur untuk Bunga matang, Bintang pun memasukan nya kedalam mangkuk.
__ADS_1
"Aku mau kasih makan anak-anak dulu " Bintang mempunyai kesempatan untuk kabur dari hadapan Dipa namun dengan cepat Dipa menangkap pinggang Bintang hingga wanita cantik itu tidak bisa melanjutkan langkahnya.
"Kamu tidak bisa kabur sebelum jawab pertanyaan aku " ujar Dipa.
"Pertanyaan yang mana ? " tanya Bintang.
"Apakah kamu tidak merasakannya kalau aku cinta sama kamu ?" tanya Dipa.
"Ya..ya..aku bisa merasakannya " Bintang menjauh dari dekapan Dipa dengan tatapan ngeri lalu buru-buru kabur.
"Kenapa dia seperti ketakutan ? " batin Dipa. Namun ketika Dipa merunduk kearah bagian bawah tubuhnya akhirnya Dipa tau kenapa Bintang sampai ketakutan seperti itu. " damn.. why do you have to wake up " umpatnya.
Dua hari kemudian
Rumah Bintang tiba-tiba ramai dengan kedatangan Papa Ardi, Mama Niken dan Lana.
Langit yang sudah pernah bertemu dengan Lana terlihat senang ketika melihat Lana turun dari mobil. Kali ini Mama Niken beruntung karena Langit tidak memukulnya dan mengusirnya seperti beberapa waktu yang lalu.
"Kalian hanya bertiga ?" tanya Dipa sambil membantu Papa Ardi menurunkan barang bawaan dari bagasi.
"Leon dan Dina ada urusan di sini jadi kita sekalian kesini " jawab Papa Ardi.
"Mama sama Papa katanya menunggu di hotel saja " celetuk Lana membuat Dipa langsung menatap Papa dan Mamanya.
"Kenapa mereka tidak ikut kesini malah menunggu di hotel ?" tanya Dipa dengan suara pelan.
Sebetulnya Papa Ardi dan Mama Niken pergi dari Jakarta bersama Leon dan Dina, namun mereka memutuskan untuk menunggu di hotel karena tidak mau merusak suasana hati Bintang dengan kehadirannya.
Bintang sempat mendengar bisik-bisik antara Dipa dan Mama Niken namun ia pura-pura tidak mendengar.
"Tau diri juga mereka " batin Bintang.
Dari Jakarta Mama Niken membawa banyak makanan agar Bintang tidak perlu kerepotan dengan kedatangan mereka. Bintang hanya tinggal memasukkan kedalam mangkuk yang ia susun diatas meja makan . Sementara Papa Ardi dan Dipa memilih mengawasi Bunga, Langit dan Lana yang sedang bermain sambil disuapi oleh Mama Niken. Langit terlihat sudah mulai tidak terlihat galak lagi kepada Mama Niken.
"Kira-kira Bunga akan ngamuk tidak ya jika Papa ajak pulang ke Jakarta, soalnya sudah hampir satu Minggu dia tidak sekolah. Kemarin Papa dan Mama sempat malu ketika dari pihak sekolah dan orangtua datang untuk menengok Bunga tapi Bunganya malah tidak ada " ucap Papa Ardi diakhiri dengan kekehan. Dipa pun ikut tertawa.
Bintang yang sudah selesai menyiapkan makanan di meja memanggil Dipa dan Papa Ardi juga Mama Niken untuk makan siang bersama.
Pada saat makan siang Papa Ardi mengulang permintaan Mama Niken sewaktu di rumah sakit yaitu rujuk. " Papa sarankan kalian rujuk saja " begitu ucapannya.
"Tidak baik kalian masih sering tinggal satu rumah takutnya akan menimbulkan fitnah..apa kalian tidak kasian kepada anak-anak yang harus tinggal terpisah. Bunga dengan Ayahnya sedangkan Langit dengan Bundanya. Mereka tidak merasakan kasih sayang orangtua secara lengkap " ucap Papa Ardi.
"Mama sudah pernah bicara sama Bintang ketika di rumahsakit, Bintang Bilang suruh bicarakan dulu sama kamu " ucap Mama Niken.
__ADS_1
Bintang dan Dipa saling lirik. Bintang memberi isyarat agar Dipa saja yang bicara.
"Pah..Mah.. sebenarnya Dipa dan Bintang belum bercerai. Sampai detik ini Kami masih sah sebagai suami istri..sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Bintang " ucap Dipa tegas. Dibawah meja kaki Bintang menendang kaki Dipa hingga membuat pria tampan itu meringis.
"Dasar tidak konsisten " sungut Bintang dan Dipa tampak cuek.
"Benar begitu ?" Papa Ardi menatap kearah Bintang dan Bintang pun mengangguk.
"Aku sudah meminta Mas Dipa untuk menceraikan aku sesuai permintaan Om dan Tante tapi Mas Dipa tidak juga mau menceraikan aku " jawab Bintang.
Papa Ardi dan Mama Niken tampak salah tingkah mendapati tatapan murka dari putranya.
"Papa dan Mama saat itu berusaha menyelamatkan pernikahan kamu dan Elsa..dan kami tidak tau mengenai kejadian yang sebenarnya" Papa Ardi berusaha menjelaskan agar Dipa tidak berburuk sangka kepadanya.
"Kalian jangan pernah sedikitpun untuk memisahkan kami karena kalian tidak akan berhasil " ucap Dipa kesal .
"Siapa yang mau memisahkan kalian, kita justru mau membuat kalian rujuk " jawab Papa Ardi.
"Kalau begitu sebaiknya kalian segera urus berkas pernikahan kalian agar sah secara hukum, dan Bintang bisa pindah ke Jakarta " ucap Mama Niken.
"Maaf Tante..saya tidak bisa " tolak Bintang .
"Kenapa Neng..kita mulai lagi semuanya dari awal agar kita benar-benar menjadi suami istri yang sesungguhnya bukan hanya diatas kertas saja " ucap Dipa.
Papa Ardi dan Mama Niken tampak berusaha mencerna arti kalimat bukan hanya diatas kertas saja..apa mungkin pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya ?
"Mas Dipa kan tau kalau aku sedang kuliah. Mungkin setelah selesai baru aku dan Langit bisa ikut ke Jakarta" sepertinya Dipa telah salah faham.
"Ya Tuhaaan..aku pikir kamu menolak aku lagi " sungut Dipa.
Papa Ardi dan Mama Niken kembali saling pandang...menolak lagi ? apalagi itu artinya. Sepertinya setelah ini mereka harus segera menanyai Dipa.
Pada saat akan pulang Papa Ardi dan Mama Niken tidak berhasil membujuk Bunga untuk ikut pulang ke Jakarta.
"Aku tidak mau ikut pulang ke Jakarta, aku mau tinggal disini saja sama Bunda dan Langit. Lebih baik Opa dan Oma bawa pulang Ayah saja " ucap Bunga.
Karena Bunga bersikeras tidak ingin ikut pulang akhirnya hanya hanya Dipa yang ikut pulang ke Jakarta untuk mengurus surat-surat kepindahan Bunga ke Bandung.
Dua hari kemudian Dipa sudah datang lagi ke Bandung bersama seorang wanita paruh baya pengasuh Bunga sewaktu di Surabaya. Dipa juga membawa baju-baju Bunga dan baju-bajunya karena mereka akan menetap di Bandung.
"Nanti sore aku akan ke rumah pak RT untuk mengurus surat pindah aku dan Bunga " ucap Dipa tanpa meminta persetujuan dari Bintang.
"Tugas kamu carikan sekolah taman kanak-kanak yang bagus untuk Bunga " titah Dipa.
__ADS_1
"Iya " jawab Bintang pasrah.
Dipa diam-diam tersenyum penuh kemenangan melihat Bintang yang tidak dapat menolak.. seharusnya dari dulu ia memaksakan kehendak seperti itu kepada Bintang.