Istri Simpanan

Istri Simpanan
Kumpul keluarga


__ADS_3

Bunga tampak bersemangat sekali ketika Dipa mengajak untuk mengunjungi Opa dan Oma nya di Jakarta. Ini untuk yang pertama kali mereka mengunjungi orangtua Dipa sejak Bunga dan Dipa pindah ke Bandung.


Jika Bunga begitu bersemangat berbeda dengan Bintang dan Langit. Bahkan Langit sampai harus dibujuk setengah mati agar mau diajak ke rumah keluarga Dipa.


"Kamu juga jangan cemberut terus dong Neng..jadi Langit nya juga ngikutin kamu tidak mau kesana " Dipa membujuk Bintang yang terus cemberut sepanjang perjalanan ke Jakarta.


"Bundaa..kenapa Langit tidak mau ikut ke rumah Oma ? padahal disana asik loh main sama Lana..nanti kita minta jajan yang banyak sama Om Leon " Bunga ikut membujuk adiknya agar tidak terus cemberut.


"Mungkin Langit nya belum.kenal kak " jawab Bintang.


"Tenang saja mereka semua baik kok..nanti Langit jangan jauh-jauh dari kak Bunga ya " pesan Bunga.


"Iya " jawab Langit.


Sebetulnya bukan tanpa alasan Dipa mengajak Bintang dan anak-anak ke Jakarta.


Dipa ingin mempertemukan Bintang dengan Dina. Dipa berharap dengan seringnya mereka bertemu akan membuat hubungan keduanya membaik.


Begitu turun dari mobil mereka langsung disambut oleh Papa Ardi, Mama Niken dan Lana, sementara Dina dan Leon tidak tampak batang hidungnya.


Bintang menyalami kedua mertuanya diikuti oleh Dipa dengan Langit dalam gendongannya. Sementara tidak jauh dari Mana Niken Lana berdiri sambil menatap Bintang malu-malu.


"Salim dong sama Bundanya Langit dan kak Bunga !" titah Mama Niken kepada Lana.


Bintang tersenyum menyambut uluran tangan dari Lana. Anak yang cantik.. Matanya persis mata Leon. Mata teduh yang dulu sangat ia kagumi.


"Kenapa ini si ganteng cemberut terus ?" tanya Papa Ardi sambil mencolek pipi gembul Langit.


"Langit sedang ngambek Opa karena tidak mau ikut kesini " jawab Bunga polos.


"Jangan ngambek dong jagoan.. Langit mau apa bilang saja pasti Opa belikan " Papa Ardi membujuk Langit agar tidak ngambek.


"Langit ingin pulang " rengek Langit sambil memeluk erat leher Dipa.


"Lebih baik bawa istirahat dulu di kamar Di, biar ngambeknya ilang " titah Mama Niken. Dipa pun membawa Langit dan Bintang istirahat dikamarnya sementara Bunga dan Lana tampak asik bermain di kamar mereka.


Langit baru berhenti merengek setelah Bintang menidurkannya dan Bintang pun ikut tertidur bersama Langit dengan lelapnya.


Tidak lama kemudian Leon dan Dina pulang dari belanja. Ketika melihat Bunga Dina pun menanyakan keberadaan Bintang. Dina berniat menyapa Bintang walaupun Bintang pastinya tidak suka.


"Kaka Bunga..Bundanya kemana ?" Dina menanyakan keberadaan Bintang.

__ADS_1


"Di kamar sama Ayah lagi boboin Langit yang lagi ngambek " jawab Bunga.


"Ngambek kenapa ?" tanya Dina penasaran.


"Ngambek ingin pulang "jawab Bunga polos.


Bintang dan Langit tidur cukup lama, Dipa pun memilih tidak mengganggu daripada melihat Langit merengek lagi minta pulang.


Dipa keluar dari kamar hendak ke teras belakang untuk merokok, disana kebetulan ada Leon yang sedang menyesap kopinya.


"Kapan datang Mas ?" sapa Leon kepada Dipa yang duduk di sebelahnya terhalang meja kecil dimana terletak cangkir kopi milik Leon dan sebuah asbak kecil.


"Beberapa jam yang lalu " jawab Dipa sambil mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya, tidak lama kemudian asap rokok pun mengepul dari bibir dan hidung Dipa.


"Kemana sekarang si gantengnya ?" tanya Leon


"Langit tidur setelah ngambek minta pulang " jawab Dipa sambil terkekeh.


"Mungkin karena baru kesini Mas jadi masih merasa asing " ujar Leon.


"Iya..semoga nanti malam tidak nangis. Kalau masih nangis juga terpaksa kita tidur di apartemen " jawab Dipa.


"Aku juga maunya begitu, tapi yang selalu menolak diajak kesini bukan hanya Langit tapi Bintang juga " jawab Dipa.


Leon langsung terdiam, ia tau jika Dipa secara tidak langsung sedang menyindirnya. Leon merasa jika Dipa sedang mengatakan alasan Bintang enggan berkunjung adalah karena Bintang masih dendam pada dirinya dan Dina.


"Maaf Mas.. Bintang seperti itu karena membenci aku dan Dina " ucap Leon lirih.


Dipa menggerus puntung rokoknya di asbak kemudian menatap dalam kearah Leon yang duduk disampingnya.


"Menurut aku wajar jika Bintang bersikap seperti itu kepada kalian. Tapi apakah kalian pernah meminta maaf kepada dia ? " tanya Dipa.


"Kami belum memiliki kesempatan Mas " jawab Leon. " Tapi aku dan Dina memang berniat ingin minta maaf kepada Bintang " ujar Leon.


"Kalau begitu lakukanlah..perbaiki hubungan kalian..kamu tidak mau kan keluarga kita terpecah belah hanya karena ulah kalian " titah Dipa tegas.


"Iya Mas " jawab Leon.


Obrolan Dipa dan Leon terjeda ketika terdengar suara tangis Langit yang mencari Ayahnya. Dipa pun bergegas pergi ke kamar untuk menenangkan putranya.


Tangis Langit berhenti dalam dekapan Dipa. Bintang yang juga baru bangun terlihat lega setelah tangis Langit berhenti.

__ADS_1


"Bunda kenapa disini Langit rewel, padahal di Bandung tidak pernah rewel ?" tanya Bunga heran.


"Langitnya masih cape kak " jawab Dipa.


Setelah Langit terbangun, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga. Disana untuk yang pertama kalinya Dina dan Leon berada dalam satu ruangan dengan Bintang.


"Apa kabar Bi ?" sapa Dina.


"Baik " jawab Bintang singkat sambil duduk disebelah Dipa.


Meskipun singkat namun Dina bersyukur karena Bintang mau membalas sapaan nya.


"Langit mau ice cream tidak ? Aunty punya banyak ice cream loh " Dina berusaha mengajak Langit berkomunikasi.


"Tidak mau " jawab Langit, ia lebih tertarik memeluk leher Ayahnya ketibang ice cream yang ditawarkan Dina.


"Aunty aku mau " sambar Bunga.


"Oke..mau rasa apa ? " tanya Dina memancing Langit.


"Aku coklat " pinta Bunga


"Aku strawberry " pinta Lana.


"Kalau Langit mau rasa apa ?" Dina masih berusaha membujuk Langit namun lagi-lagi Langit menolak.


"Bunga sama Lana saja dulu ..nanti kalau Langit mau tinggal ambil " ucap Dipa.


Dina pun bergegas mengambil ice cream pesanan Bunga dan Lana, namun ia juga mengambil beberapa ice cream untuk Langit pilih.. Dina terlihat sangat berusaha sekali untuk mendekati Langit.


"Langit lihat ada banyak rasanya loh ..Langit mau yang mana ?" Dina menyodorkan ice cream dengan bermacam varian rasa kepada Langit dan Langit pun mengambil satu ice cream dengan rasa coklat seperti kakaknya. YESS...berhasil juga sorak Dina dalam hati.


Langit mulai menikmati ice cream coklatnya dalam pangkuan Dipa. Meskipun Langit sudah mau menerima ice cream pemberian Dina namun ia masih enggan turun dari pangkuan Dipa.


Papa Ardi dan Mama Niken terlihat terharu karena seluruh keluarganya dapat berkumpul lengkap walaupun sikap Bintang kepada Dina dan Leon masih terlihat dingin .


"Sepertinya kita harus sering-sering ngumpul begini Di.. biar Langit kenal dan dekat sama keluarga disini " saran Papa Ardi kepada Dipa.


"Iya Pah.. kalau ada waktu kita akan sering-sering kesini.. iya kan Neng ?" Dipa mencolek tangan Bintang


"I..iya " jawab Bintang.

__ADS_1


__ADS_2