Istri Simpanan

Istri Simpanan
Syukuran empat bulanan


__ADS_3

Hari ini di kediaman Dipa dan Bintang suasana terlihat lebih ramai dari biasanya. Dari pagi banyak orang yang hilir mudik dan terlihat sangat sibuk.


Ruang tamu dan ruang keluarga tiba-tiba menjadi kosong melompong karena semua kursi untuk sementara dipindahkan ke ruangan lain. Disana hanya digelar karpet tebal yang empuk karena akan digelar acara pengajian.


Di meja makan yang cukup besar sudah terhidang aneka masakan yang dipesankan dari catering untuk menjamu papa tamu yang mengikuti acara pengajian.


Disudut ruangan juga sudah menumpuk hampers untuk dibawa pulang oleh tamu mereka.


Karena ini adalah acara syukuran 4 bulan kehamilannya, Bintang pun sengaja memakai gamis dengan warna yang senada dengan kemeja Koko yang dipakai Dipa dan Langit. Bunga dan Lana pun memakai gamis yang senada dengan yang dipakai oleh Bintang. Hari itu Bintang tidak lupa memakai perhiasan pemberian Mama Niken.


Satu jam sebelum acara pengajian para tamu sudah mulai berdatangan termasuk Bu Dewi dengan anak-anak panti nya.


Dipa sengaja menyiapkan satu mobil khusus untuk mengangkut mereka semua dari panti ke rumah.


Shanti dan Rizal juga kedua anak mereka datang tidak lama setelah Bu Dewi datang.


"Mbak Shanti kenapa baru datang sekarang ?" tanya Bintang bernada merajuk.


"Kami sebetulnya sudah tiba di Jakarta dari kemarin, tapi kami menginap di rumah orangtua Mas Rizal..bisa ngamuk kalau tidak tidur disana " jawab Shanti sambil tertawa.


"Papa dan Daniel tidak datang ?" tanya Bu Dewi mencari keberadaan Daniel dan Papa David.


"Seharusnya mereka sudah datang, mungkin kejebak macet Bu " jawab Bintang sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Mama Niken menggiring Bu Dewi dan Shanti untuk berkumpul dengannya sambil menikmati aneka hidangan kue sebelum acara pengajian dimulai.


Sementara di sudut yang lain para pria terlihat membuat komunitas sendiri. Dipa berada disana sambil menggendong Langit yang tidak mau lepas darinya.


Langit tidak mau lepas dari Dipa meskipun Dipa harus menyapa beberapa tamu yang mulai berdatangan.


"Tumben Langit manja banget Di ?" tanya Rizal yang heran dengan perubahan sikap Langit. Dulu Langit itu anak yang mandiri dan sama sekali tidak rewel.


"Sejak mau punya adik begini Mas, sepertinya takut kehilangan perhatian Ayahnya " jawab Dipa sambil tersenyum membuat Langit semakin erat memeluk leher Ayahnya.

__ADS_1


"Aa tidak kangen sama Papa Rizal ?" Rizal yang kasian melihat Dipa mencoba mengambil Langit.


Langit menoleh kearah Rizal kemudian mengangguk. " Mau gendong Papa Rizal " ucapnya sambil mengulurkan tangannya kearah Rizal dan tubuh Langit pun langsung beralih kedalam dekapan Rizal.


"Cucu Papa Ardi Papanya banyak " Papa Ardi tertawa melihat Langit yang langsung nemplok di bahu Rizal.


"Dia sudah dekat dengan saya dari kecil Om " jawab Rizal sambil menepuk-nepuk punggung Langit dengan lembut.


Beberapa menit sebelum acara pengajian dimulai Papa David dan Daniel datang. Semua tampak terpaku menatap penampilan Daniel yang hari itu mengenakan Koko dan peci.


"Uncle Daniel ganteng seperti pak ustad " Bunga, Lana dan Cilla langsung mengerubuti Daniel.


"Maaf kami terlambat karena terjebak macet " ujar Papa David sambil bergabung untuk mengikuti acara pengajian yang akan segera dimulai.


Acara pengajian hari itu berlangsung sangat khidmat. Langit tampak anteng mengikuti di sebelah Dipa sampai acara pengajian itu selesai.


Bintang menggenggam tangan Papa David ketika melihat pria itu terlihat mengusap sudut matanya yang basah.


"Papa kenapa menangis ?" bisik Bintang.


"Yang sudah berlalu tidak usah dipikirkan Pah, yang terpenting aku sekarang sudah sangat bahagia punya Papa dan Kakak juga suami yang sangat menyayangi aku.. juga keluarga Mas Dipa yang selalu support aku " tutur Bintang.


"Iya Nak, kamu beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik " jawab Papa David.


Suasana rumah Dipa dan Bintang kini tidak seramai tadi karena para tamu undangan sudah pulang. Bu Dewi dan para anak asuh pun sudah pulang beberapa menit yang lalu, menyisakan keluarga inti dan keluarga terdekat saja yang masih bertahan disana.


Langit tampak tertidur diatas karpet berbantalkan paha Dipa, sementara Bunga dan Lana dan kedua anak Shanti anteng bermain di kamar Bunga.


"Mas, kamu belum makan loh seharian ini gendongin si Aa terus " Bintang mengingatkan Dipa yang masih anteng duduk diatas karpet.


"Kamu ambilin gih Neng, aku makannya disini saja "


Bintang pun beranjak mengambilnya makan untuk Dipa di ruang makan. Ketika sampai disana Bintang pura-pura terbatuk ketika mendapati Daniel dan Amira sedang mengobrol berdua di meja makan.

__ADS_1


"Pantesan kakak ga keliatan, taunya lagi mojok berdua sama Amira disini " sindir Bintang.


"Bukan mojok tau, kita lagi ngobrol " kilah Daniel sementara wajah Amira tampak memerah.


"Alasan..awas saja kalian. Aku suruh Papa nikahin saja sekalian mumpung Papa lagi ada disini " ancam Bintang.


"Siapa takut " jawab Daniel menantang, sedangkan Amira terlihat salah tingkah.


Setelah mengambilkan nasi dan lauknya untuk Dipa, Bintang pun kembali bergabung dengan seluruh keluarganya di ruang tengah.


Karena Dipa yang sedikit kerepotan makan dengan Langit di pangkuannya akhirnya Bintang pun berinisiatif menyuapi Dipa.


Dipa tampak cuek meskipun Bunga dan Lana meledeknya manja seperti anak kecil.


Menjelang sore Shanti dan Rizal pamit pulang. Mereka langsung pulang ke Bandung karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.Tidak lama Amira pun pamit pulang.


"Kak, tolong anterin Amira dong ! kasian dia pulang naik taksi " tutur Bintang kepada Daniel.


"Tidak usah Bu, saya bisa pulang sendiri " tolak Amira.


"Lebih baik sama kak Daniel saja. Kamu kan repot bawa nasi kotak untuk anak-anak pengajian " Bintang menunjuk puluhan nasi kotak yang akan Amira bagikan kepada murid-murid ngaji Ayahnya.


"Iya Mir, lebih baik diantar Daniel saja " ujar Dipa sambil menerima suapan dari Bintang.


Amira akhirnya tidak bisa menolak pulang diantarkan oleh Daniel meskipun sebenarnya ia merasa risi kepada pria itu.


Setelah Amira dan Daniel pergi Mama Niken mendekat kearah Bintang.


"Mama curiga sepertinya kamu mau jodohin Amira sama kakak kamu ya ?" tanya Mama Niken berbisik.


"Kok Mama bisa tau sih ?" Bintang melongo karena Mama Niken bisa menebak dengan tepat.


"Kamu itu tidak bisa menyembunyikan apapun dari Mama Neng !" jawab Mama Niken.

__ADS_1


"Ya namanya juga usaha Mah, kalau cocok syukur engga juga aku gak akan maksa "


"Tapi sepertinya mereka memang cocok, Mama dukung kamu " tutur Mama Niken.


__ADS_2