
Setelah kondisi Dipa mulai sedikit membaik mereka pun kembali ke Jakarta pada esok harinya.Sepanjang penerbangan Surabaya Jakarta Dipa juga beberapa kali muntah di toilet pesawat.Rasa mual yang Dipa rasakan pada kehamilan Bintang kali ini dua kali lebih dasyat dibanding pada saat kehamilan Langit.
Setibanya di Jakarta Dipa langsung terkapar tidak berdaya di kamarnya, ia tidak bisa menelan apapun dan tubuhnya sangat lemas. Satu -satunya yang membuat ia nyaman adalah dikeloni oleh Bintang. Dipa tidak memperbolehkan Bintang jauh-jauh darinya.
Karena kondisi Dipa yang seperti itu Mama Niken dan Dina mengungsikan Bunga dan Langit ke rumah mereka agar Bintang tidak kerepotan dan fokus mengurusi Dipa saja.
"Payah banget sih Mas ngidamnya " celetuk Dina ketika ia mampir setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah.
"Aku curiga ini beneran ngidam atau modus" cibirnya.
"Beneran lah, Mas Dipa sampai turun tiga kilo loh berat badannya " jawab Bintang menatap prihatin kearah Dipa yang tergolek lemah memeluk perutnya.
"Ini sepertinya bayinya sensi banget sama Ayahnya makanya bikin Ayahnya KO " seloroh Dina.
"Kamu kesini kalau cuma mau ngatain aku mending pulang saja sana !" usir Dipa kesal.
"Iya aku juga mau pulang kok jadi tidak usah diusir " Dina bangkit dan bersiap untuk pulang.
"Na..!" panggil Bintang. Dina yang nyaris mencapai pintu langsung menoleh.
"Apaan ?" tanyanya.
"Titip anak-anak ya..dan maaf jadi merepotkan Lu " ucap Bintang lirih.
"Iya.. anak-anak aman sama gue dan Mama, lagian ada Bik Asih juga yang bantu jagain " jawab Dina sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu kamar Bintang.
Selain memboyong Bunga dan Langit, Dina dan Mama Niken juga memboyong Bik Asih pengasuh Bunga dan Langit sesuai perintah Dipa. Bintang dan Dipa tidak ingin Mama Niken dan Dina terlalu kerepotan mengurus Bunga dan Langit.
Bintang membuang napas lega, dulu ada Mbak Shanti yang bisa diandalkan, sekarang ada Dina dan Mama Niken yang selalu siap ia repot kan. Padahal dulunya mereka adalah dua orang yang sempat menorehkan luka yang sangat dalam di hati Bintang. Tidak bisa dipungkiri jika orang-orang yang dulu melukai hatinya itu kini adalah sumber kebahagiannya.
"Neng, ngelamunin apa sih ?" Dipa mulai mencari perhatian Bintang dengan menyusupkan tangannya kebalik baju Bintang dan mengelus perutnya yang lembut.
"Aku merasa ga enak jadi sering merepotkan Mama dan Dina " jawab Bintang.
"Tidak usah dipikirkan, mereka justru senang kalau anak-anak sering disana..jadi kita bisa terus produksi cucu buat mereka " jawab Dipa.
"Memangnya aku pabrik anak " cebik Bintang. Dipa terkekeh sambil menciumi perut Bintang.
__ADS_1
Karena Dipa sudah beberapa hari ini tidak ke kantor, Setiap sore Amira datang untuk mengantarkan berkas pekerjaan Dipa agar bisa dikerjakan di rumah. Kadang-kadang Felix juga datang untuk membantu mengerjakan pekerjaan Dipa.
Sore ini Amira yang akan datang ke rumah Dipa untuk mengantarkan berkas yang Dipa minta. Di jalan Amira mampir ke toko kue kue langganan Bintang untuk membeli kue basah kesukaan Bintang.
Tadi siang Bintang menelpon Amira untuk membeli aneka kue basah jika ia akan ke rumah.
Ketika Amira sedang sibuk memilih beberapa jenis kue basah untuk Bintang disana ia bertemu dengan Daniel yang juga akan membeli kue basah.
"Amira..sedang beli kue basah juga ?" sapa Daniel sambil menunjuk belanjaan Amira.
"Iya Mas, ini pesanan untuk Bu Bintang " jawab Amira.
"Aku juga membeli kue ini untuk Bintang, kalau begitu kamu yang pilih saja nanti aku yang bayar " ujar Daniel.
Amira pun melanjutkan membeli kue untuk Bintang. Daniel menambahkan beberapa kue yang ia inginkan karena ia pun akan berkunjung ke rumah Bintang untuk menengok Dipa yang sedang ngidam parah.
Karena tujuan mereka sama akhirnya Amira pun ikut mobil Daniel menuju rumah Dipa.
"Mas, Amira datang !" Bintang mengusap kepala Dipa yang tengah tersungkur didadanya yang hangat.
Dipa dengan enggan mengangkat kepalanya. Bintang membetulkan bajunya sesaat sebelum Amira dan Daniel muncul.
"Kami ketemu di toko kue Bu, ini kue pesanan Ibu seraya menyerahkan kotak berisi aneka kue basah pesanan Bintang.
"Lihatnya jangan curiga begitu " Daniel mengusap wajah Bintang yang menatap Daniel dan Amira bergantian.
"Engga ih..kakak saja yang perasaan " jawab Bintang.
"Sayang makan kue nih yang manis-manis biar tidak terlalu mual " Bintang menyuapi Dipa satu potong kue lapis tepung ke mulut Dipa.
Dipa membuka mulutnya menerima suapan dari Bintang. Daniel dan Amira memperhatikan sambil tersenyum. Amira baru kali ini melihat sisi yang berbeda dari diri Bosnya.
"Mas..Amira nya diajak duduk dong, jangan malah bengong liatin yang lagi mabok darat " ucap Bintang sambil mengedip kearah Daniel.
Daniel menggiring Amira untuk duduk di sofa yang ada disana.
"Ngidamnya parah banget ya dek ?" tanya Daniel demi melihat wajah Dipa yang tampak pucat dan lemas.
__ADS_1
"Parah banget kak..Mas Dipa makannya susah dan muntah-muntah nya sering " jawab Bintang.
"Keponakan gue lagi nyiksa Lu Dip " seloroh Daniel seperti yang sedang mentertawakan Dipa membuat wajah Dipa langsung cemberut.
"Kalo Lu nanti sudah nikah dan istri Lu hamil gue doain semoga ngidamnya lebih parah dari gue " balas Dipa sambil menelan kue lapis dari tangan Bintang dengan susah payah.
Daniel hanya tertawa mendengar harapan Dipa yang entah kapan terwujud karena Daniel belum memiliki teman wanita yang mau diajak serius.
Sebetulnya sejak pertama melihat Amira Daniel merasa kagum akan kepribadian Amira yang lembut dan hangat kepada keponakannya, terlebih melihat penampilannya yang menyejukkan mata karena menutup auratnya.
Perasaan Daniel hanya berani sampai kagum saja karena ia merasa tidak percaya diri untuk memiliki perasaan yang lebih.
"Pak saya mengantarkan berkas yang Bapak minta " Amira bangkit dari duduknya dan meletakan map berisi berkas yang Dipa minta.
"Makasih Mir, maaf jadi sering merepotkan kamu " ujar Dipa.
"Tidak apa-apa Pak, saya merasa tidak direpotkan " jawab Amira.
"Besok gantian si Felix yang kesini, biar dia lembur disini " tutur Dipa sambil terus mengunyah kue lapis dari tangan Bintang. Tidak terasa ia sudah menghabiskan dua potong kue lapis dan perutnya masih aman.
"Kalian pasti belum makan kan ? aku suruh Bibik siapkan makan untuk kalian ya " Bintang turun dari ranjang dan beranjak menuju ke dapur.
"Biar saya bantu Bu " Amira mengikuti langkah Bintang menuju ke dapur meninggalkan Daniel dan Dipa berdua di kamar.
"Di..Amira sudah punya pacar belum ?" tanya Daniel sambil melirik kearah pintu khawatir Bintang dan Amira belum jauh dan mendengar pertanyaannya.
"Aku tidak tau, kenapa tida tanya saja sendiri " jawab Dipa.
"Ga mungkin Lu ga tau Di, Lu kan bos nya "
"Gue dan Amira hanya berkomunikasi urusan pekerjaan, bukan masalah pribadi " jawab Dipa.
"Kalau naksir sama Amira ya usaha dong, gw juga dapatkan Bintang melalui usaha yang berat " tutur Dipa.
"Waktu gue anterin dia bokapnya kayak yang galak, gue ngeri liatnya " ujar Daniel.
"Lu ngeri sama bokapnya Amira ? ga malu Lu sama tato lu ?" ledek Dipa sambil tertawa.
__ADS_1
"Sialan Lu " Daniel melemparkan bantal kursi kearah kepala Dipa namun dengan cepat ditangkap oleh Dipa.