
Bintang menggaruk tengkuknya. Ia tidak menyangka jika kedua buah hatinya ternyata memperhatikan life style mereka dan menirunya.
"Waduh ada yang habis borong nih " Dipa tiba-tiba muncul dan memeluk bahu Bintang sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang menurunkan semua barang dari dalam mobil.
"Lihat Yang, mereka habis merampok Aunty nya " bisik Bintang.
Dipa pun langsung melirik kearah Dina yang tampak tersenyum masam. "Nanti aku ganti semua uangnya " jawab Dipa setengah berbisik di telinga Bintang.
"Tadi juga mau aku ganti Yang, tapi dilarang oleh Leon " jawab Bintang.
"Transfer saja tidak usah bilang-bilang " perintah Dipa.
"Iya Sayang " jawab Bintang seraya melingkarkan tangannya di pinggang Dipa.
Papa David yang baru terbangun sore itu langsung bergabung di teras sambil menonton ketiga bocah yang sedang menjajal sepeda baru mereka.
Dipa, Papa David dan Leon mengawasi ketiga bocah itu sedangkan Dina dan Bintang duduk di teras sambil mengobrol.
"Sebentar lagi rumah Lu akan semakin rame Bi setelah Lu melahirkan.. gue harap nanti Lana tidak sedih melihat Langit dan Bunga punya adik " tutur Dina lirih.
"Sabar Na, gue yakin sebentar lagi juga Lu nyusul " Bintang berusaha menghibur Dina.
"Gue harap juga begitu, tapi pasti tidak akan terlalu cepat karena gue sedang melakukan pengobatan " jawab Dina.
"Pengobatan ?" tanya Bintang.
"Iya..gue ada kista jadi harus benar-benar bersih dulu sebelum program hamil " jawab Dina.
"Lu ga cerita sebelumnya sama gue " omel Bintang.
"Sengaja aku dan Leon rahasiakan termasuk dari Papa dan Mama, gue ga mau mereka sedih " jawab Dina.
"Tapi gue minta kalau bayi Lu lahir jangan pelit-pelit ya sama gue, karena Lana pasti iri nantinya " tutur Dina.
__ADS_1
"Ya enggak akan lah, adik Langit dan Bunga berarti adik Lana juga " Bintang mengusap tangan Dina.
"Makasih ya Bi, Lu memang sahabat dan kakak ipar terbaik gue " Dina memeluk Bintang.
Apa yang Bintang dan Dina lakukan tidak luput dari perhatian Dipa. Dalam hati Dipa bertanya-tanya tentang apa yang sedang istri dan adiknya bicarakan hingga sampai saling berpelukan seperti itu.
Ketiga anak itu berhenti bermain ketika hari mulai hampir gelap. Bi Asih memandikan mereka dan menyiapkan baju mereka. Malam itu Bunga akan ikut pulang dengan Lana dan akan menginap di rumah Mama Niken, sementara Langit tidak mau ikut karena ia sudah janji akan tidur bersama Grandpa nya.
"Tumben Aa ga ikut ?" tanya Leon sebelum memasukkan Bunga dan Lana kedalam mobil.
"Kan ada Om David Yang, mereka kan jarang ketemu " jawab Dina.
Setelah mobil Leon meninggalkan rumah Dipa, Langit pun langsung nempel kepada Papa David dan tertidur cepat dalam gendongan Papa David.
"Si Aa tidur di kamar Papa saja ya Di " tutur Papa sambil membawa Langit ke kamarnya.
"Iya Pah " jawab Bintang dan Dipa yang masih menonton tv sambil menikmati kudapan.
Bintang merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan berbantalkan paha Dipa sambil memeluk toples berisi kue kering. Sementara tangan Dipa mengelus perut Bintang yang sudah semakin membulat.
"Hhmm " jawab Bintang dengan mulut penuh kue kering.
Dipa semakin takjub ketika pergerakan bayi mereka semakin lincah di dalam perut Bintang.
"Neeeng..!" panggil Dipa.
"Hmmm.."
"Sepertinya si dedek ngajak main deh, kita ke kamar yuk !" ajak Dipa.
"Aku masih mau nonton tv Maaass " Bintang menolak.
"Neng...please !" rengek Dipa. " Tadi yang siang kan belum selesai. Kepala atas dan bawah aku pening " keluh Dipa.
__ADS_1
"Baiklah..tapi gendong " Bintang mengangkat tangannya kearah Dipa.
"Hhmm..manja banget sih Neng geulisnya aku " Dipa menggendong Bintang dan ia bawa menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar Dipa pun menurunkan Bintang diatas kasur dengan sangat hati-hati. Setelahnya ia pun beringsut dan menggulung tubuh Bintang dibawahnya.
"Sayang..kunci dulu pintunya. Kamu pasti lupa deh " Bintang mengingatkan.
"Iya " Dipa pun turun dari atas tubuh Bintang untuk mengunci pintu kamar.
Setelah memastikan semua aman ia pun kembali menggulung tubuh Bintang setelah melucuti seluruh pakaian mereka hingga benar-benar polos.
Malam itu Dipa melanjutkan pekerjaan mereka tadi siang yang sempat tertunda karena kepulangan anak-anak.
Setelah menuntaskannya mereka pun tertidur dalam keadaan masih sama-sama polos. Bahkan tangan Dipa tampak menangkup dada montok Bintang yang sudah tidak lagi putih mulus karena banyaknya Kiss Mark disana hasil karya Dipa.
*
Memasuki usia kehamilan Bintang yang ke sembilan, Papa David memutuskan untuk tinggal sementara di Jakarta. Ia memantau bisnisnya dari Jakarta karena tidak ingin melewatkan momen kelahiran cucunya. Sudah cukup Langit saja yang tidak ia tunggui.
Disela kesibukannya menjalani pengobatan, Dina juga setia membantu mengurus Bunga dan Langit. Bintang sudah tidak pernah memikirkan tugas sekolah anak-anak karena Dina sudah mengurusnya dengan sangat baik.
Semua ingin agar Bintang fokus pada persiapan kelahiran bayi nya yang hanya tinggal menghitung hari.
Semua keperluan bayi dan perlengkapannya termasuk kamar bayi sudah siap. Papa David dan Papa Ardi yang membuat kamar bayi dengan ukuran yang cukup luas karena cucu mereka dipastikan kembar.
Mama Niken sudah menyiapkan dua orang baby sitter yang akan membantu Bintang mengurus dua bayi kembarnya tentunya setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat.
"Semua sudah disiapkan, kamu hanya tinggal siapkan mental dan tenaga saja Neng " tutur Dipa karena Bintang menolak melahirkan secara Caesar.
"Aku sih udah siap Mas, ini kan kehamilan kedua aku..jadi aku sudah cukup pengalaman. Sepertinya kamu deh yang harus nyiapin mental kalau ingin menyaksikan proses kelahiran anak-anak kita..soalnya waktu Mbak Elsa lahiran Bunga tidak melalui proses normal kan !"
"Kamu jangan bikin aku gentar dong Neng, pokoknya aku akan menemani kamu pada saat melahirkan nanti. Tidak menyaksikan kelahiran Langit saja aku tuh rasanya nyesek banget " kekeh Dipa.
__ADS_1
"Yakin ga akan pingsan ?" Bintang menggoda Dipa.
"Apaan sih Neng " jawab Dipa dengan wajah masam.