Istri Simpanan

Istri Simpanan
Gara-gara Daniel


__ADS_3

Sarapan pagi ini suasana kembali hangat seperti semula, Bintang dan Dipa sudah kembali terlihat mesra. Wajah Dipa tampak berseri-seri setelah semalam berhasil berbaikan dan mengakhiri puasanya yang hampir satu Minggu.


Setelah sarapan Dipa mengantarkan anak-anak ke sekolah mengikuti permintaan mereka yang ingin diantarkan oleh Ayahnya.


"Sebaiknya kamu tidur saja karena kamu pasti ngantuk setelah semalam kita begadang " bisik Dipa ketika Bintang mengantarkan Dipa dan anak-anak ke teras depan.


"Dasar maniak semalaman kamu itu nyiksa aku tau " Bintang mencubit perut Dipa dengan wajah yang memerah.


"Kalau aku nyiksa kamu kenapa kamu nya mau, malah keenakan " goda Dipa.


"Ayaaaaah..buruan jangan pacaran terus nanti kami kesiangan !" Bunga bersidekap memandang Ayah dan Bundanya galak.


"Sudah sana pergi, Bos kecil marah tuh " Bintang mendorong Dipa agar masuk ke mobil.


"Ck..Ibu Bos sama Bos kecil sama galaknya " Dipa menggerutu sambil masuk ke mobilnya.


Setelah mobil Dipa yang membawa anak-anak berlalu, Bintang pun masuk ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.


Bintang terlalu mengantuk setelah semalaman sibuk meladeni Dipa sampai puas.


Bintang terbangun menjelang tengah hari dan langsung bersiap untuk pergi ke toko perhiasan. Hari ini Bintang akan membeli satu set perhiasan untuk Dina karena ia telah kalah taruhan.


hari ini Bintang tidak perlu menjemput anak-anak karena mereka akan pulang ke rumah Mama Niken bersama Dina.


Ketika mandi Bintang sedikit meringis ketika menyentuh dadanya yang bengkak dan terasa sakit ketika disentuh.


Semalam Dipa memang lepas kontrol. Ia seperti singa buas kelaparan yang sedang memangsa buruannya.Bahkan Bintang sampai beberapa kali memukul kepala Dipa karena pria mesum itu tidak sengaja menggigit pu tingnya ketika sedang menyusu.


Setelah berpakaian dan memoles sedikit wajahnya Bintang pun mengambil tas dan kunci mobilnya hendak pergi. Namun satu panggilan telepon dari Daniel membuat Bintang kembali duduk di tepi ranjangnya untuk menerima panggilan dari kakaknya.


"Dek..kakak mau memberitahu sesuatu yang penting sama kamu " (Daniel )


"Sesuatu yang penting tentang apa kak ?" (Bintang )


"Ini tentang suami kamu " (Daniel )


"Tentang Mas Dipa..ada apa dengan Mas Dipa ?" (Bintang)


Hati Bintang tiba-tiba merasa tidak enak, Ia seperti akan mendengar sesuatu yang tidak enak mengenai suaminya.


"Kamu sebaiknya harus lebih mengawasi Dipa..kakak kemarin tidak sengaja melihat Dipa jalan sama perempuan di pusat perbelanjaan " lapor Daniel

__ADS_1


Deg..jantung Bintang seperti dipukul dengan martil. Bintang memegang dadanya dan berusaha berpikiran positif.


"Mungkin Mas Dipa sedang ada pertemuan dengan klien kak "


"Kakak sempat memperhatikan dia, mereka hanya pergi berdua..kakak lihat mereka cuma jalan-jalan terus ke butik kemudian makan di restoran Jepang " (Daniel )


"Kakak serius ?" (Bintang )


"Serius Dek..kalau saja kakak tidak bersama teman sudah kakak hajar suami kamu itu " (Daniel )


Bintang mengusap matanya yang basah setelah mengakhiri panggilan telepon dengan kakaknya. Berarti perhiasan yang Dipa berikan semalam hanyalah untuk menutupi kebusukannya sendiri.


Hari itu Bintang tidak jadi pergi membeli perhiasan untuk Dina, namun ia langsung pergi ke rumah mertuanya dengan membawa perhiasan pemberian Dipa semalam. Setelah mendengar cerita Daniel Bintang rasanya tidak Sudi menerima perhiasan dari Dipa, lebih baik perhiasan itu ia berikan saja kepada Dina karena ia telah kalah taruhan. Karena Bintang pun tidak akan Sudi memakai perhiasan itu di tubuhnya.


Setibanya di rumah mertuanya Bintang langsung memberikan perhiasan pemberian Dipa itu kepada Dina.


"Nih..gw orangnya konsekuen jadi jangan nagih lagi ya " Bintang memberikan kotak perhiasan itu kepada Dina sebagai tanda kekalahannya.


"Aih..bagus banget..terimakasih kakak ipar muach " Dina langsung menciumi wajah Bintang.


"Uih sana..geli gw dicium Lo " Bintang menjauhkan kepala Dina dari wajahnya.


"Dina ulangtahunnya masih lama Neng, kenapa kasih kadonya sekarang ?" tanya Mama Niken.


"Ini bukan kado ulangtahun Mah tapi Bintang kalah taruhan " jawab Dina sambil menatap satu set perhiasan ditangannya dengan penuh kekaguman.


"Taruhan apa ?" tanya Mama Niken.


"Siapa diantara kita yang hamil duluan harus dikasih satu set perhiasan, dan aku yang menang " jawab Dina dengan bangga.


"Ada-ada saja kalian " Papa Ardi tertawa melihat kekonyolan putri dan menantunya. Namun Papa Ardi merasa senang melihat hubungan Dina dan Bintang yang mulai membaik.


Dina langsung mengambil kalung dari kotak itu dan memakainya, sisanya ia simpan di kamarnya.


Karena besok adalah weekend, malam itu Bunga dan Langit merengek ingin menginap di rumah Opa dan Oma nya.


Bintang yang sedang kembali kesal kepada Dipa akhirnya memutuskan untuk ikut menginap, ia tidak peduli akan larangan Dipa agar tidak menginap di rumah orangtuanya tanpa Dipa.


Dipa yang sore itu baru pulang dari kantor kaget ketika tidak menemukan anak dan istrinya di rumah. Ia mencoba menghubungi Bintang namun tidak diangkat.


Dipa akhirnya menghubungi Dina untuk menanyakan keberadaan Bintang dan Dina pun menjawab jika Bintang dan anak-anak ada di rumah dan akan menginap.

__ADS_1


Mendengar jawaban Dina emosi Dipa pun kembali tersulut. Ia sangat marah karena Bintang tidak mau mendengar perintahnya ditambah lagi Bintang tidak mau menerima telepon darinya padahal semalam mereka sudah menghabiskan waktu bersama dan tadi pagi pun Bintang sudah terlihat baik-baik saja..ada apa lagi ini ?


Tanpa sempat mengganti bajunya Dipa pun langsung pergi menyusul Bintang dan anak-anak ke rumah orangtuanya.


Setibanya di rumah orangtuanya hanya Bunga dan Langit dan juga Lana yang menyambut kedatangannya, Bintang terlihat cemberut dan menatap sebal kearah Dipa.


"Kalau mau kesini kenapa tidak tunggu aku pulang dulu ?" tanya Dipa bernada mengomel.


"Anak-anak mau menginap kesini saja masa harus nunggu kamu pulang, kelamaan " Bintang menggerutu.


Dipa langsung menatap tajam kearah Bintang. Dipa tidak mengerti kenapa Bintang cepat sekali berubah, padahal semalam mereka sudah saling memaafkan namun sekarang Bintang kembali mengibarkan bendera perang kepadanya.


"Ada apalagi sih Neng, perasaan aku tidak melakukan kesalahan apapun ?" tanya Dipa dengan wajah bingung.


"Pikir saja sendiri " jawab Bintang dengan ketus.


"Kamu itu aneh Sayang..aku tidak ngerti apa maunya kamu " Dipa mengurut pelipisnya.


"Halah..modus " sindir Bintang sinis sambil berlalu meninggalkan Dipa menuju dapur untuk membantu Mama Niken dan Dina yang sedang memasak untuk makan malam.


Ketika sudah tiba waktunya makan malam, semua keluarga Ardi berkumpul lengkap di meja makan.


"Papa senang kita semua bisa berkumpul lengkap seperti ini " ujar Papa Ardi.


"Papa berharap keluarga kita akan selamanya bersatu, kalian itu harus akur dan saling menyayangi " sambung Papa Ardi.


Di acara makan malam itu Mama Niken sengaja menyiapkan makanan spesial untuk merayakan kehamilan kedua Dina.


Pada saat makan mata Dipa tiba-tiba menangkap sesuatu yang menggantung di leher Dina dan sepertinya Dipa cukup familiar dengan benda berkilauan itu.


"Na..kalung baru ya ?" tanya Dipa.


"Ini..iya Mas, ini hadiah dari Bintang karena dia telah kalah taruhan dari aku " jawab Dina sambil mengusap kalungnya dengan tangan kirinya.


"Hadiah taruhan, apa maksudnya ?" tanya Dipa.


"Aku dan Bintang sebelumnya taruhan, siapa diantara kita berdua yang hamil duluan harus diberi hadiah satu set perhiasan..dan ini hadiah dari Bintang " Dina menjelaskan.


Dipa langsung mengalihkan tatapan tajamnya kearah Bintang yang tampak makan sambil menunduk. Dipa sangat marah karena hadiah yang Bintang berikan kepada Dina adalah perhiasan yang semalam ia berikan kepada Bintang sebagai permintaan maaf.


"Nanti kamu harus jelaskan sama aku !" bisik Dipa sambil mengeratkan giginya penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2