
Bintang yang baru pulang dari luar kota tentu saja kaget ketika mendengar cerita dari Shanti dan Rizal jika orang tua Dipa datang.
"Mereka berniat menengok cucu mereka Bi.. sepertinya mereka sudah menyadari kesalahan mereka dan sudah menerima Langit sebagai cucu mereka " ucap Rizal.
"Tapi Mas Dipa tidak bilang apa-apa kalau mereka mau datang " ucap Bintang.
"Sepertinya Dipa tidak tau " jawab Shanti.
"Orangtua Dipa sudah mulai berubah , tinggal kamu Bi dan Dipa yang harus membuat perubahan..untung Dipa sabar menjalani pernikahan yang seperti ini. Punya istri tapi serasa duda " sindir Rizal sambil mengerling kearah Shanti.
"Orang dari awal kita sepakatnya begitu " Bintang membela diri.
"Iya..tapi tetap saja ada hak dan kewajiban yang tidak terpenuhi dan itu hukumnya dosa Bi !" nasehat Rizal. Bintang pun terdiam.
"Walaupun Dipa terkesan memaksa ketika ingin menikahi kamu tapi itu adalah bentuk rasa tanggung jawabnya atas kesalahan yang sudah diperbuatnya. Awalnya Mas juga ragu dengan kesungguhan Dipa, tapi semakin kesini Mas lihat Dipa sangat bertanggung jawab sebagai suami..Dia tulus menyayangi kamu dan Langit bukan hanya sebatas tanggung jawab saja. Apa kamu tidak merasakannya ?" tanya Rizal. Bintang terus membisu.
"Oh ya..Mbak itu penasaran sama Dipa. Hampir setiap akhir pekan dia selalu datang bawa Bunga apa istrinya tidak keberatan ?" tanya Shanti penasaran. Ia termasuk orang yang tidak tau jika sebetulnya Dipa dan Elsa sudah bercerai.
"Aku tidak tau Mbak karena aku tidak pernah ingin tau urusan pribadi Mas Dipa..tapi sebelum pernikahan kami terbongkar Bunga memang sudah lama tinggal di Jakarta " jawab Bintang.
"Pada saat ulangtahun Bunga pun Mbak Elsa ada " tambah Bintang.
"Dia tidak melakukan apapun kan begitu melihat kamu ?" mata Shanti langsung membola.
"Tidak..mungkin karena Bunga yang sedang ngambek selain itu aku juga kurang memperhatikan dia karena aku dan kak Daniel duduk di tempat yang jauh dari mereka " jawab Bintang.
"Hubungan kalian itu terlalu rumit ..apa kamu tidak kasian sama Langit dan Bunga " tanya Rizal. Bintang hanya terdiam.
*
Akhir pekan ini Dipa dan Bunga tidak pergi ke Bandung karena Bunga sedang mengalami demam. Karena sudah suhu tubuhnya tidak turun juga akhirnya Bunga pun terpaksa dibawa ke rumah sakit.
Setelah dilakukan pemeriksaan akhirnya dokter menyarankan agar Bunga dirawat di rumah sakit karena menderita demam berdarah.
Bunga menangis kencang pada saat suster memasangkan infus ditangannya.
"Ayaaah sakiiit " Bunga menangis sambil memeluk erat leher Dipa ketika perawat menancapkan jarum yang terhubung ke selang infus.
"Tahan ya Sayang.. sakitnya hanya sebentar " Dipa berusaha menenangkan Bunga.
"Anak pinter..ini sudah selesai " ucap perawat sambil tersenyum. Mama Niken yang ikut memegangi Bunga juga ikut tersenyum.
Bunga pun berbaring diatas ranjang pasien. Mama Niken dan Dipa menunggui tidak jauh dari ranjang Bunga.
__ADS_1
Dipa menunggui Bunga sambil membuka laptopnya dan memeriksa email yang masuk. Bunga sesekali merengek ketika merasa tidak nyaman karena tangannya tertancap jarum infus.
Leon rutin mendatangi kamar perawatan Bunga untuk memeriksa keadaan keponakannya itu. Sementara Dina Mama Niken suruh tinggal di rumah bersama Lana.Mama Niken melarang Dina membawa Lana ke rumah sakit karena takut Lama akan terpapar penyakit.
"Ayaaah..apakah Bunda tau kalau aku sedang sakit ?" satu pertanyaan Bunga membuat Dipa menoleh kepada putrinya.
"Ayah tidak sempat memberitahu Bunda " jawab Dipa jujur membuat wajah Bunga langsung terlihat murung.
Dipa menutup laptopnya kemudian menghampiri ranjang putrinya. " Bunga ingin ngobrol sama Bunda ?" tanya Dipa.
"Iya " jawab Bunga.
Dipa mengambil ponselnya kemudian menyambungkan panggilan video kepada Bintang. Tidak lama kemudian seraut wajah tampan Langit muncul di layar ponsel Dipa.
Dipa sudah menduga jika Bintang tidak pernah mau jika ia melakukan panggilan video kepada Bintang.
"Kakak Bunga kenapa ?" tanya Langit dari sebrang sana.
"Kakak Bunga sedang sakit..Bunda mana hiks.. hiks" Bunga langsung menanyakan Bintang sambil terisak.
"Bunga kenapa Sayang ?" wajah cantik Bintang langsung muncul di layar ponsel Dipa. Dari suaranya Bintang terdengar sangat khawatir.
"Aku sakit panas Bundaa..badan aku seperti terbakar dan ada bintik-bintik merah nya " jawab Bunga.
"Om Leon juga bilang begitu " jawab Bunga.
"Bunda dan Langit doakan kakak Bunga cepat sembuh ya " ucap Bintang.
"Bundaaa..bunda tidak ingin menengok aku ?" tanya Bunga penuh harap.
Di sebrang sana Bintang tampak terdiam, begitu juga Dipa dan Mama Niken yang sedari tadi mendengarkan percakapan Bunga, Langit dan Bintang.
Karena Bintang tidak menjawab Bunga pun langsung ngambek kemudian mengakhiri sambungan video dan menangis kencang. " Bunda tidak sayang aku huwaa..huwaa.."
"Bundanya sedang sibuk Sayang " Dipa berusaha membujuk Bunga agar berhenti menangis.
"Aku pikir Mommy saja yang tidak sayang sama aku..ternyata Bunda juga tidak sayang sama aku " oceh Bunga diantara tangisnya.
"Tidak seperti itu Sayang..Mommy dan Bunda sayang sama Bunga " ucap Dipa.
*
Beberapa jam kemudian Bintang tampak turun dari mobilnya di parkiran rumahsakit milik keluarga Dipa dengan menenteng satu kantung berisi makanan kesukaan Bunga.
__ADS_1
Sebetulnya Bintang memutuskan tidak akan pergi ke Jakarta untuk menengok Bunga namun ia mendapat Omelan dari Rizal dan Shanti.
"Bunga berharap kamu datang menengoknya, apa kamu tega mematahkan harapan dia ? ingat Bi..Bunga itu anak Dipa berarti anak kamu juga " omel Rizal.
"Tapi aku males ketemu sama keluarga Mas Dipa " Bintang bersikeras tidak mau pergi.
"Kalau begitu pura-pura tidak lihat saja, yang penting kamu kesana dan tengok Bunga " jawab Shanti tegas.
Tidak ingin mendapat kemarahan dari Rizal dan Shanti, Bintang pun akhirnya pergi ke Jakarta saat itu juga. Bintang pergi sendiri karena Shanti dan Rizal melarang Bintang membawa Langit demi alasan kesehatan.
Bintang yang berjalan sambil melamun akhirnya tidak sengaja menabrak seseorang hingga kantung berisi makanan untuk Bunga terjatuh.
"Bintang ..!" suara pria yang sangat ia kenal membuat Bintang mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan netra Leon yang sedang menatapnya tidak percaya. Bintang buru-buru membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Kamu mau menengok Langit ?" tanya Leon. Bintang mengangguk.
"Aku akan mengantar kamu ke kamarnya " ucap Leon.
Bintang tidak ada pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Leon. Ini adalah untuk yang pertama kalinya mereka berkomunikasi meski hanya satu arah karena Bintang tidak mengatakan apapun kepada Leon.
Takdir manusia memang tidak bisa diprediksi. Dulu Leon dan Bintang adalah sepasang kekasih yang sangat mesra namun siapa sangka hubungan mereka sekarang adalah saudara ipar.
Bintang terlihat mematung ketika mereka sampai di depan kamar perawatan Bunga karena disana ada Mama Niken yang sedang berusaha membujuk Bunga yang tidak mau makan.
"Biar aku panggilkan Mas Dipa " Leon berinisiatif untuk memanggil Dipa dan memberitahu tentang keberadaan Bintang.
"Mas..ada Bintang di luar " bisik Leon ditelinga Dipa.
Dipa langsung keluar untuk menemui Bintang yang sedang berdiri di depan kamar perawatan Bunga.
"Neng..tidak bilang-bilang mau kesini ?" tanya Dipa.
"Bagaimana keadaan Bunga ?" tanya Bintang mengabaikan pertanyaan Dipa.
"Panasnya masih naik turun, sekarang sedang dibujuk makan sama Mama " jawab Dipa.
"Kalau lihat kamu dia pasti senang " Dipa menggenggam tangan Bintang untuk dibawa masuk menemui Bunga namun kaki Bintang seperti terpaku di lantai dan Dipa pun mengerti..pasti karena ada Mama nya di dalam.
"Jangan takut, ada aku disini " ucap Dipa lirih sambil membawa Bintang masuk untuk menemui Bunga yang sedang mengunci mulutnya karena menolak makanan yang dipegang Mama Niken.
Mama Niken tampak terkejut dengan kedatangan Bintang, namun sedetik kemudian wanita itu bisa mengendalikan kekagetannya.
"Tadi Bunga nanyain Bunda..itu Bundanya datang " ucap Mama Niken kepada Bunga.
__ADS_1
Leon yang berada disana tampak terlihat lega karena tidak terlihat akan terjadi peperangan. Malah Mama Niken terlihat senang dengan kehadiran Bintang disana walaupun wajah Bintang sendiri memperlihatkannya sebaliknya.