Istri Simpanan

Istri Simpanan
Permintaan maaf Leon dan Dina


__ADS_3

Setelah pertengkaran tadi sore, mereka kembali berkumpul pada saat makan malam. Bunga dan Lana yang tadi sempat bertengkar karena berebut mainan terlihat sudah berbaikan dan kembali akrab.


"Lihat Bunga dan Lana..mereka tadi bertengkar sekarang sudah akur lagi. Apa kalian tidak malu sama anak kecil ?" sindir Papa Ardi kepada Bintang dan Dina.Kedua wanita itu hanya menunduk sambil mengaduk makanannya.


"Papa ingin semua anak-anak Papa itu akur dan saling menyayangi, bukan malah pada perang dingin begini " lanjut Papa Ardi.


"Kak Bunga..perang dingin itu apa ?" tanya Langit yang duduk disebelah Bunga.


"Kakak juga tidak tau..mungkin perang pada saat musim hujan " jawab Bunga pelan.


"Semua kejadian ini berawal dari kesalahan saya di masa lalu, mumpung kita sedang berkumpul saya dan Dina mau meminta maaf kepada Bintang atas semua kesalahan yang sudah kami perbuat " ucap Leon memecah suasana yang sedikit mencekam.


Sebelum makan malam Dina dan Leon memang sudah sepakat untuk meminta maaf kepada Bintang.


"Sebetulnya sudah sejak lama kami ingin meminta maaf, namun kesempatannya baru sekarang..maaf !" tambah Dina.


"Bagaimana Bintang..apakah kamu bersedia memaafkan Dina dan Leon ?" tanya Papa Ardi.


"Iya Pah " jawab Bintang.


"Papa tidak mau kejadian tadi sore terulang lagi " pesan Papa Ardi.


"Tadi sore Bintang yang duluan nyindir aku Pah, kalau tidak begitu aku juga tidak akan tersinggung " bela Dina.


"Kenapa nyalahin aku ?..kamunya saja yang sensitif " balas Bintang.


"Sudah..sudah..baru saling memaafkan malah ribut lagi, tidak malu berantem ditonton anak-anak kalian ? " omel Mama Niken. Bintang dan Dina pun terdiam.


Selesai makan malam Dina membawa Lana dan Bunga untuk ditidurkan di kamarnya seperti biasa, sedangkan Langit masih betah dalam pangkuan Dipa.


"Apa Langit biasa manja begini Di ?" tanya Mama Niken sambil mengusap-usap kaki Langit.


"Biasanya tidak. Tumben disini manja banget " jawab Dipa.


"Mungkin karena belum familiar dengan suasana rumah ini , nanti lama-lama juga biasa makanya sering-sering dibawa menginap disini " jawab Papa Ardi.


" Iya Pah " jawab Dipa.


"Ayah kapan kita pulang ?" tanya Langit.


"Besok ya " jawab Dipa.

__ADS_1


"Kenapa Langit ingin cepat pulang ? tidak betah ya ?" tanya Leon. Langit mengangguk.


"Kalau kuliah Bintang sudah selesai sebaiknya kalian pindah lagi saja ke Jakarta biar ngumpul, kasian juga Dipa setiap hari harus bolak-balik Jakarta Bandung " ujar Papa Ardi.


"Aku sih tidak masalah harus bolak-balik Jakarta Bandung setiap hari yang penting bisa kumpul sama istri dan anak-anak " jawab Dipa.


"Kenapa baru sekarang kumpulnya, tidak sejak resmi cerai dari Elsa ?" tanya Mama Niken.


"Dulu Neng Geulis nya belum jinak Mah " jawab Dipa sambil tertawa. Namun tawa Dipa berubah seketika menjadi ringisan ketika Bintang mencubit perutnya dengan kencang. " Sakit Neng " keluhnya.


Papa Ardi , Mama Niken dan Leon tampak berpikir keras berusaha mencerna ucapan Dipa yang mengatakan jika Bintang belum jinak. Mereka bertiga menerka-nerka hubungan seperti apa yang Dipa dan Bintang jalani sebelum Dipa dan Bunga resmi pindah ke Bandung.


Mendengar obrolan para orang dewasa yang menurutnya membosankan akhirnya Langit pun tertidur dalam pangkuan Dipa.


"Biar aku saja yang pindahin Langit ke kamar " ucap Bintang seraya mengambil alih Langit dari pangkuan Dipa.


"Di..Mama penasaran apa maksud kamu bilang kalau Bintang belum jinak ?" tanya Mama Niken pelan setelah Bintang pergi membawa Langit ke kamar.


"Meskipun aku bertanggung jawab dengan menikahi Bintang namun itu tidak membuat Bintang langsung menerima aku Mah..Bintang juga menyimpan dendam yang besar kepada aku apalagi setelah tau bahwa aku Ayah biologis Langit " jawab Dipa.


"Jadi waktu kalian menikah Bintang tidak tau kalau kamu Ayah nya Langit ?" tanya Papa Ardi.


"Ya Tuhaan " Papa Ardi mengusap wajahnya. Pria paruh baya itu tidak menyangka jika rumah tangga putra sulungnya ternyata tidak semulus yang ia kira.


"Lalu pria ganteng yang ada tato dilengannya yang datang bersama Bintang saat ulangtahun Bunga itu siapa ?" sebetulnya sudah lama Mama Niken ingin menanyakan itu kepada Dipa.


"Dia Daniel kakaknya Bintang " jawab Dipa.


"Bukannya Bintang tidak punya keluarga Mas ?" tanya Leon.


"Beberapa bulan yang lalu keluarga Bintang datang ke panti asuhan untuk mencari Bintang. Ternyata Bintang masih memiliki Ayah dan seorang kakak laki-laki mereka selama ini tinggal di Singapura " jawab Dipa.


Papa Ardi, Mama Niken dan Leon terlihat sangat kaget setelah mendengar cerita Dipa jika Bintang memiliki Ayah dan kakak laki-laki.


"Ternyata banyak yang kami tidak tau tentang anak itu " gumam Papa Ardi.


Ketika malam semakin larut mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Dipa mendapati Bintang sedang berbaring nyaris tertidur.


"Belum tidur Neng ?" tanya Dipa. Bintang menggeleng


" Kalian membicarakan apa sih Mas sampai malam begini ?" tanya Bintang penasaran.

__ADS_1


"Mama dan Papa tanya banyak tentang kamu..mereka ingin tau tentang menantunya yang judes ini " jawab Dipa sambil mencondongkan tubuhnya kemudian mencium bibir Bintang sekilas.


"Ngapain ingin tau..tidak ada yang spesial " jawab Bintang.


"Siapa bilang tidak ada yang spesial..kamu itu sangat spesial untuk aku "


"Gombal " cibir Bintang.


"Beneran Neng " jawab Dipa.


"Sudah malam tidur gih..kita kan mau pulang ke Bandung pagi-pagi" ujar Bintang.


"Kita lanjutin yang tadi dulu Neng " bisik Dipa menggelitik telinga Bintang.


"Ada Langit Mas " Bintang menunjuk Langit yang tertidur lelap diatas kasur.


"Bagaimana kalau di sofa ? sepertinya cukup untuk berdua " Dipa menunjuk sofa besar yang ada di kamar Dipa.


"Terserah kamu " jawab Bintang malu.


"Tidur yang nyenyak ya Boy, Ayah mau boboin Bunda dulu " Dipa mencium pipi gembul Langit sebelum mengangkat tubuh Bintang dan membaringkan nya diatas sofa.


Begitu tubuh Bintang mendarat diatas sofa yang empuk, tubuh Dipa pun ikut mendarat diatas tubuh Bintang dan langsung melakukan penyerangan.


Bintang yang sudah waspada langsung bisa mengimbangi serangan Dipa. Keduanya tampak saling pagut dan saling menyesap bibir. Tangan Dipa tidak tinggal diam melepas satu persatu kancing baju Bintang hingga terlepas sempurna dan mempertontonkan sepasang bukit kembar dalam balutan bra berenda berwarna gading membuat Dipa tidak sabar untuk segera melahapnya.


"Neng..apakah waktu bayi Langit diberi ASI ? " tanya Dipa.


"Iy..yah " jawab Bintang sambil meringis menahan ngilu dan geli kala mulut Dipa menyesap puncak dadanya dengan rakus. "Dia mimiknya rakus seperti kamu " . Dipa pun terkekeh dengan mulut penuh.


"Pantas pipinya bulat seperti tomat " ucap Dipa sambil melepaskan sejenak kemudian beralih kepada puncak yang satunya.


Bintang mengelus rambut Dipa dan membiarkan pria tampan itu menyusu seperti bayi. Seharusnya mereka bisa seintim ini sejak dulu jika saja Bintang mau membuka hatinya lebih cepat untuk Dipa.


Puas menyusu kini Dipa menurunkan ce lana dalam Bintang dan ce lana pendek miliknya bersiap untuk melakukan penyatuan. Dipa tidak membuat Bintang telanjang bulat karena di kamar itu juga ada Langit. Dipa khawatir jika Langit tiba-tiba terbangun dan ia tidak ingin putra tampannya sampai melihat Ayah dan Bundanya dalam keadaan telanjang bulat.


"Stt..jangan berisik nanti Langit bangun " Dipa menutup mulut Bintang yang mengeluarkan jeritan kecil ketika dibawah sana Dipa mulai menghujamnya dalam-dalam.


Hentakan demi hentakan Dipa lakukan membuat tubuh mungil Bintang berguncang hebat. Bintang menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan jeritannya ketika pusaka Dipa menerobos celah sempit milik Bintang yang sudah basah. Dipa menggeram dan menghentak dengan kuat menuntaskan pelepasannya yang berakhir dengan luar biasa. Setelahnya mereka saling berpelukan dan kembali saling menyesap dengan liar lalu keduanya tertawa lucu namun penuh kepuasan.


"Satu kali lagi ya Neng !" pinta Dipa. Bintang pun mengangguk malu. Mereka pun mengulanginya sebelum mereka pindah kembali ke ranjang dan tidur bersama Langit.

__ADS_1


__ADS_2