
Karena menginap tanpa persiapan akhirnya Bintang terpaksa memakai kemeja milik Dipa untuk ganti.
Awalnya Bintang menolak namun karena merasa tidak nyaman jika masih mengenakan baju yang ia pakai dari pagi akhirnya Bintang pun terpaksa mau memakai kemeja milik Dipa walaupun kedodoran.
"Kakak Bintang lucu pake baju Daddy yang kebesaran " Bunga terkikik melihat Bintang yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apa perlu aku belikan baju ganti untuk kamu ke kota ?" tanya Dipa ketika melihat Bintang ditertawakan oleh Bunga dan Langit.
"Tidak usah, orang kita tinggal tidur saja " jawab Bintang.
Meskipun ditertawakan anak-anak karena kedodoran namun kemeja milik Dipa sangat nyaman dan wangi. Bintang yakin jika kemeja milik Dipa ini pasti harganya mahal.
Bintang dan anak-anak malam itu tidak ada yang keluar kamar, hanya Dipa saja yang pergi untuk membeli makanan pesanan anak-anak dan baju ganti untuk Bintang. Selebihnya mereka kembali berkumpul layaknya sebuah keluarga kecil yang sempurna.
Bunga dan Langit terlihat semakin akrab dan sama sekali tidak bertengkar seperti waktu pertama kali bertemu.
Bahkan Bunga yang usianya kurang dari satu tahun diatas Langit terlihat bisa ngemong sehingga Langit pun mulai nyaman dengan kakak tirinya itu.
Namun pada saat menjelang tidur Bunga dan Langit tiba-tiba berdebat membuat Bintang dan Dipa langsung menghampiri mereka untuk menjaga agar tidak terjadi pertengkaran.
"Kak Bunga saja yang ganti..aku maunya panggil Ayah saja " ucap Langit dengan wajah cemberut.
"Tapi aku sudah terbiasa panggil Daddy " jawab Bunga tidak mau mengalah.
Bintang dan Dipa akhirnya faham apa yang sedang diperdebatkan oleh Bunga dan Langit. Rupanya mereka sedang membahas panggilan untuk Dipa agar seragam.
"Tidak usah bertengkar, kalian bisa panggil sesuai keinginan kalian " Dipa berusaha menjadi penengah.
"Ya sudah aku ikut Langit saja panggil Ayah " Bunga akhirnya mengalah.
"Terimakasih kak " tanpa diduga Langit langsung mencium pipi Bunga membuat gadis kecil berponi itu melongo namun terlihat senang.
"Kakak Bunga juga seharusnya jangan panggil kak Bintang tapi Bunda seperti Langit " bisik Dipa sambil melirik kearah Bintang.
"Tidak berani..takut kak Bintangnya marah " jawab Bunga balik berbisik.
"Tidak akan..coba saja " jawab Dipa.
"Bundaaa..." panggil Bunga sambil mencolek pinggang Bintang.
"Haaah..Bunda ?" Bintang tampak melongo mendengar panggilan baru untuknya.
"Boleh kan Bunga panggil Bunda seperti Langit ?" tanya Bunga memohon.
__ADS_1
"Bo..boleh Sayang " jawab Bintang gugup.
"Pasti kamu yang ngajarin ya Mas ?" tanya Bintang sambil mencubit perut Dipa.
"Bukannya memang seharusnya begitu ?" jawab Dipa sambil meringis. " Atau kamu tidak suka dipanggil Bunda sama Bunga ?"
"Siapa bilang tidak suka " jawab Bintang tanpa melepaskan jepitan tangannya diperut Dipa.
"Sakiit Bun !" Dipa meringis kemudian menangkap tangan Bintang agar melepaskan jepitannya.
"Aku cuma ijinkan Bunga saja yang panggil Bunda, bukan Mas Dipa " ujar Bintang judes.
"Baiklah " jawab Dipa pasrah.
Untuk sementara Bunga dulu, semoga nanti Bintang mengijinkan dirinya memanggil Bunda juga.
Malam itu mereka berempat tidur dalam satu bed dan dalam selimut yang sama. Udara pegunungan yang dingin membuat Dipa memeluk erat tubuh Langit yang hangat sementara Bunga tampak nyaman tidur dalam dekapan Bintang.
Keesokannya pagi-pagi ketika Bintang terbangun ia tidak mendapati Dipa di kamar. Hanya ada Bunga dan Langit yang masih tertidur pulas dibawah selimut tebalnya.
Ketika membuka tirai kamar akhirnya Bintang menemukan Dipa sedang menyesap rokoknya di balkon dengan ditemani secangkir kopi panas.
"Sudah bangun Neng ?" tanya Dipa begitu melihat Bintang.
"Kamu tuh kalau ditanya suami judes amat " keluh Dipa sambil mengambil cangkir kopi dan menyesapnya perlahan.
"Kita cari sarapan untuk anak-anak, sebentar lagi pasti mereka bangun " ajak Bintang mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah pesan, mungkin sebentar lagi diantarkan kesini " jawab Dipa.
Bintang terlihat lega ternyata Dipa sangat mementingkan kebutuhan pokok mereka selama di penginapan.
"Oh iya, semalam aku sudah beli baju ganti untuk kamu sama pakaian dalamnya " ucap Dipa sambil menunjuk kearah kantung belanjaan yang berada di sudut kamar.
" Aku ga yakin akan pas ukurannya " gumam Bintang.
"Aku yakin pas..aku masih ingat ukuran tubuh kamu meskipun empat tahun sudah berlalu " jawab Dipa sambil tersenyum.
"Tidak lucu !" semprot Bintang marah sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
"Ya Tuhaan..aku salah bicara " Dipa mengutuki dirinya sendiri menatap Bintang yang masuk kedalam dengan wajah marah.
Bintang mulai terlihat sibuk ketika pesanan sarapan datang dan tidak lama kemudian Bunga dan Langit bangun.
__ADS_1
"Aku tidak mau mandi Bun..dingiin " Bunga dan Langit menolak ketika Bintang mengajak kedua bocah itu mandi.
"Tidak akan..kan mandinya pake air hangat " bujuk Bintang sambil menyiapkan pakaian untuk kedua bocah itu.
Bunga dan Langit akhirnya mau mandi dengan dimandikan oleh Bintang. Setelah mandi mereka pun langsung sarapan.
Selama sarapan Dipa terus menatap kearah Bintang yang tampak cemberut kearahnya. Dipa sadar jika candaannya tadi pagi mengingatkan Bintang akan kebrengsekannya empat tahun yang lalu yang sedang berusaha Bintang lupakan.
Bintang yang menyadari jika Dipa terus menatapnya akhirnya merasa jengah.
"Jangan ngeliatin aku terus begitu " omel nya judes.
"Aku minta maaf ya Neng, aku sudah salah bicara !" pinta Dipa dengan wajah penuh penyesalan.
"Jangan dibahas lagi, aku tidak suka " jawab Bintang.
"Ayah sama Bunda kenapa bertengkar ?" tanya Bunga menatap Dipa dan Bintang bergantian.
"Aku sama kak Bunga juga tidak bertengkar, lalu kenapa Ayah dan Bunda bertengkar ?" tanya Langit.
"Kami tidak bertengkar Sayang " jawab Dipa sambil mengusap kepala Bunga dan Langit.
"Makanya marahnya jangan di depan anak-anak " ucap Dipa pelan.
"Habisnya kamu yang duluan bikin kesel " jawab Bintang.
"Iya aku yang salah makanya aku minta maaf " jawab Dipa.
"Tuh kan bener Ayah dan Bunda bertengkar " Bunga menatap tajam kearah Dipa dan Bintang.
"Tidaaak ..!" jawab Bintang dan Dipa bersamaan.
Mereka berempat pulang hari itu juga. Dipa dan Bunga beristirahat beberapa jam sebelum mereka kembali ke Jakarta. Namun pada saat waktunya Dipa dan Bunga pulang ke Jakarta , Langit tiba-tiba menangis tidak mau Ayah dan kakaknya pergi.
"Nanti Ayah dan kak Bunga kesini lagi ya " Dipa berusaha membujuk Langit agar berhenti menangis.
Drama Langit baru berhenti setelah Shanti dan Rizal turun tangan. Mereka membujuk Langit dengan mengajaknya pergi jalan-jalan bersama Cilla.
*
Dua hari setelah kepulangan Dipa dan Bunga, tiba-tiba Bintang ditelpon oleh Bu Dewi agar segera ke Jakarta karena ada hal yang penting.
Hari itu juga Bintang dan Langit pergi ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Bintang menerka-nerka ada masalah penting apa sampai Bu Dewi memintanya untuk segera datang ke Jakarta.
__ADS_1