
"Kalau mau kangen-kangenan jangan lupa tutup pintunya " omel Mama Niken sambil membaringkan Langit diatas kasur.
"Maaf Mah " Bintang buru-buru turun dari pangkuan Dipa dengan wajah yang merah merona karena malu.
"Kamu sih..jadi aku malu ketauan sama Mama " Bintang menyalahkan Dipa setelah mertuanya keluar dari kamar dan menutup kembali pintunya.
"Kenapa nyalahin aku, sudah jelas kamu yang loncat duluan ke pangkuan aku " Dipa tidak mau disalahkan.
Bintang pun terdiam karena memang pada dasarnya dia yang meloncat duluan ke pangkuan Dipa. Karena malu sendiri Bintang pun langsung buru-buru kabur ke kamar mandi. Dipa hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Neng Geulis kesayangannya.
Setelah hampir setengah jam berada di kamar mandi Bintang pun keluar dalam balutan jubah mandinya.
"Neng..kita jalan-jalan yuk mumpung Langit sudah tidur, kita kan tidak pernah jalan-jalan berdua " ajak Dipa sambil memeluk Bintang dari belakang.
"Masa Langit ditinggal , kalau nangis gimana ?" tanya Bintang.
"Langit kita titipin Mama saja, Aku yakin Langit tidak akan nangis karena dia kan kalau tidur suka pules " ujar Dipa.
"Baiklah " Bintang akhirnya menerima ajakan Dipa untuk pergi jalan-jalan berdua.
Malam itu Bintang mengenakan celana jeans dan sweater begitu juga dengan Dipa karena mereka akan pergi jalan-jalan dengan mengendarai motor.
"Kalian yakin akan pergi pake motor ?" tanya Papa Ardi ketika Dipa dan Bintang pamit akan pergi.
"Yakin dong Pah " jawab Dipa sambil memakaikan helm di kepala Bintang. Sementara Mama Niken langsung memindahkan Langit ke kamarnya.
"Ini motor kesayangan aku Neng, aku beli motor ini dari hasil gaji pertamaku " Dipa tampak bangga dengan motor gedenya.
"Gaji pertama dimana ?" tanya Bintang.
"Di Perusahaan Papa" jawab Dipa.
"Ck..kirain gaji pertama dimana " cibir Bintang.
"Jangan salah Neng, begitu lulus kuliah aku juga ikut magang dulu sama seperti karyawan yang lain. Papa itu sangat profesional dalam berbisnis " ujar Dipa.
"Oh gitu "
"Iya..aku itu harus kerja keras dulu sampai bisa dipercaya menggantikan posisi Papa "
"Oh gitu "
"Daritadi jawabnya oh gitu terus, tidak ada yang panjangan dikit ?" Dipa protes dengan komentar singkat dari Bintang.
__ADS_1
"Oh gituuuuuu " seru Bintang tepat ditelinga Dipa.
"Neng kamu itu malah becanda " ujar Dipa namun tidak urung ia pun tertawa lucu dengan tingkah Bintang yang menurutnya kekanakan.
Menikahi Bintang banyak perubahan yang terjadi pada diri Dipa. Dipa merasa jika hidupnya menjadi lebih berwarna, Dipa semakin semangat bekerja meskipun ia harus pulang pergi Jakarta Bandung setiap hari. Dan yang pasti adalah kadar kemesuman Dipa semakin hari semakin bertambah.
"Mas..kita mau jalan-jalan kemana ?" tanya Bintang.
"Kamu maunya kemana Neng ?" Dipa malah balik bertanya.
"Aku sih terserah kamu saja " jawab Bintang sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Dipa.
Dipa pun melajukan kuda besinya membelah jalanan Jakarta. Mereka sempat berhenti disebuah coffee shop untuk menikmati kopi sambil nongkrong.
Jika dilihat secara sekilas Dipa dan Bintang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Orang tidak akan menyangka jika mereka sesungguhnya sudah memiliki dua buntut.
Di coffee shop itu Bintang juga sempat bertemu dengan Daniel dan beberapa orang temannya.
"Langit dan Bunga siapa yang jaga ? kalian itu malah enak-enakan nongkrong berdua " omel Daniel. Pria tampan bertato dilengannya itu sangat mengkhawatirkan kedua keponakan kesayangannya.
"Langit aku titipin sama Mama Niken, kalau Bunga sedang menginap sama Mbak Elsa " jawab Bintang.
"Kita cuma nongkrong, sebentar lagi juga kita pulang " tambah Dipa.
Bintang tidak mau jika kakaknya masih melakukan perbuatan maksiat. Selagi bisa Bintang akan selalu mengingatkan kakaknya itu.
"Aku sedang menunggu teman untuk urusan bisnis, sudah selesai juga langsung pulang " jawab Daniel.
"Bener ya !" Bintang mengacungkan kepalan tangan nya kearah Daniel.
"Ck..Bintang kamu kasih makan apa sih Di..kenapa dia jadi cerewet sekali ?" keluh Daniel.
"Aku itu cerewet karena Sayang kak " jawab Bintang.
"Iya kakak percaya " jawab Daniel sambil mengacak rambut Bintang.
Bintang dan Daniel berpisah meja ketika teman yang ditunggu Daniel muncul.
"Ternyata kakak kamu itu takut juga sama kamu Neng " Dipa tersenyum sambil menyesap kopinya. Dipa tidak menyadari jika sesungguhnya ia juga tidak berbeda dengan Daniel.
Setelah puas nongkrong dan menikmati kopinya Dipa dan Bintang pun pamit kepada Daniel untuk pulang.
Ketika melewati ruas jalan yang gelap dan cukup familiar bagi keduanya, Bintang tampak memeluk erat punggung Dipa karena hujan mulai turun.
__ADS_1
"Sebaiknya kita berteduh dulu Neng, aku tidak mau kamu demam lagi karena kehujanan " Dipa menghentikan motornya di sebrang sebuah penginapan yang kebetulan mereka lewati.
Dipa dan Bintang turun dari motor kemudian berteduh di depan sebuah ruko.
"Neng masih ingat tidak ? " Dipa menunjuk penginapan di sebrang mereka dengan dagunya.
Bintang mengikuti arah yang ditunjuk Dipa dan ia pun langsung melotot sambil mencubit perut Dipa.
"Ngapain sih pake nunjukin kesana " Bintang langsung cemberut.
Penginapan yang ada di sebrang mereka adalah tempat dimana Dipa merenggut kesucian Bintang beberapa tahun yang lalu.
"Tempat itu sangat bersejarah untuk kita Neng, disana kita memproduksi Langit " ujar Dipa nyengir.
"Ih kamu " Bintang kembali mencubit perut Dipa hingga pria itu meringis kesakitan.
"Neng.. bagaimana kalau malam ini kita berteduh disana saja, itung-itung mengenang..." Dipa tidak melanjutkan ucapannya karena Bintang kembali mencubit perutnya entah untuk yang keberatan kali. Namun akhirnya Bintang tidak bisa menolak keinginan Dipa karena pria itu terus membujuknya dengan segala macam cara.
Tidak lama kemudian Dipa dan Bintang pun terlihat memesan kamar di penginapan itu. Dipa memesan kamar yang sama dengan yang dulu pernah mereka pakai. Beruntung kamar itu belum ada yang memesan.
Begitu masuk ke kamar itu Dipa langsung menerkam Bintang dan memepet nya ke dinding membuat Bintang kelabakan karena tidak siap dengan serangan dari Dipa yang tiba-tiba.
Bintang samasekali tidak lagi merasa trauma mengingat kejadian kelam itu, karena Dipa sudah menghapus kisah pahit hidupnya dulu dan menggantinya dengan kebahagiaan yang sempurna.
Dipa melu mat habis bibir mungil Bintang yang dibalas dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Dipa.
"Aku ingin kita menghabiskan malam ini seperti dulu " bisik Dipa dengan suara memburu. Bintang hanya mengangguk, ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak keinginan suaminya karena sejujurnya Bintang pun sangat menikmatinya.
Masih dalam posisi tersudut di tembok, Dipa melepaskan seluruh pakaian mereka sampai keduanya benar-benar polos.
Dipa kemudian mengangkat tubuh Bintang dan membawanya keatas ranjang dengan bibir saling bertautan.
Dipa menjatuhkan tubuh Bintang keatas kasur dan disusul dengan dirinya yang jatuh tepat diatas tubuh Bintang. Keduanya saling bergumul dan berguling-guling diatas kasur seperti anak kecil.
Malam itu kejadian empat tahun yang lalu antara Dipa dan Bintang kembali terulang. Cuma bedanya kali ini mereka melakukannya dengan cinta dan dalam keadaan sadar. Dan keesokannya Bintang tidak terbangun dalam keadaan seorang diri, namun ia terbangun dalam pelukan tubuh polos Dipa yang masih terlelap dibawah selimutnya.
"Masss..ini sudah hampir pagi, kita pulang yuk ! " Bintang mencolek-colek hidung Dipa membuat pria tampan itu meringis terganggu.
"Masih ngantuk Neng..semalam kamu bikin aku kelelahan " gumam Dipa dengan mata terpejam.
"Pake nyalahin aku segala " sungut Bintang.
"Masss..nanti kalau Langit keburu bangun dia pasti nangis nyariin kita, apalagi Bunga juga tidak ada " Bintang mengkhawatirkan putranya.
__ADS_1
Mendengar kekhawatiran Bintang tentang Langit Dipa pun langsung bangun. Mereka mengakhiri serangkaian Napak tilas mereka dengan mandi bersama sebelum pulang.