
...Happy Reading!...
Seminggu sudah Aleeya berstatus sebagai istri, tapi kelihatan seperti janda. Karena sudah satu minggu Abigail meninggalkannya seorang diri di komplek perumahan. Usai menikah waktu itu hanya satu malam saja Abigail tidur dirumah dan keesokan paginya Abigail pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.
Mengingatnya membuat hati Aleeya sesak, dinikahi karena keterpaksaan. Bahkan statusnya hanyalah istri simpanan.
"Kita harus kuat ya nak, bunda janji akan membuat ayah menerima bunda sekaligus kamu sayang."
Aleeya bicara pada anak dalam kandungannya, sambil mengusap-usap lembut. Kadang Aleeya berjalan-jalan keliling komplek, sekedar menghilangkan rasa jenuhnya berada dirumah. Aleeya juga telah mengenal beberapa tetangganya, Aleeya merasa nyaman berkenalan dengan beberapa tetangganya, mereka sangat ramah terhadapnya.
Bukannya Aleeya tak mau berjalan-jalan mengitari kota Jakarta agar tahu daerah-daerah mana saja. Cuma tidak ada yang mengajaknya berjalan-jalan, sebenarnya bisa saja dirinya pergi sendirian, mengingat ia tidak tahu daerah-daerah mana saja yang bagus untuk dikunjungi di Jakarta, membuat wanita hamil tersebut mengurungkan diri dan sabar menunggu orang yang mau mengajaknya.
***
Pagi harinya Aleeya mulai beraktifitas kembali. Aleeya telah siap berjalan-jalan pagi agar sehat, tak lupa ia menggunakan daster lengan panjang semata kaki miliknya dan jilbab menutupi kepalanya.
Asik berjalan-jalan tiba-tiba ada Ibu-Ibu, tetangga yang dikenalnya memanggil namanya.
"Aleeya!" seru Ibu Fitri tetangga yang kadang berbagi makanan padanya, begitupun dirinya ketika memasak sesuatu, pasti mengembalikan wadah Ibu Fitri dengan berisi makanan kembali.
"Ada apa Ibu?" ujar Aleeya bertanya ketika berada dihadapan Ibu Fitri.
"Begini Ibu mau jalan-jalan mengajak anak-anak ke mall. Berhubung Ibu mau kesana, kamu mau gak ikut jalan-jalan ke mall sama Ibu," ajak Ibu Fitri.
"Mau Ibuk, aku mau banget. Tapi beneran aku boleh ikut buk? Aku engga ganggu kebersamaan ibu sama anak-anak," tukas Aleeya bertanya, ia takut menjadi penganggu saat ikut nanti.
"Engga sama sekali Leeya, Ibu malah senang kamu ikut. Ibu tau kamu pasti jenuh di rumah terus, makanya Ibu ngajakin kamu. Apalagi suami kamu kerjanya jauh, belum tentu pulangnya kapan."
Aleeya mengangguk membenarkan yang dibilang Ibu Fitri. Aleeya juga bukan cuma tidak tahu kapan suaminya pulang, pekerjaan dan tempat kerja suaminya saja Aleeya tidak mengetahuinya sedikitpun. Aleeya ingin menanyakan itu pada suaminya harus berpikir puluhan kali, apalagi dirinya hanyalah seorang istri tak dianggap. Kalau dianggap tidak mungkin suaminya tidak memberitahunya.
__ADS_1
"Aleeya!" panggil Ibu Fitri menyadarkan Aleeya dari lamunannya. "Ga baik Ibu hamil ngelamun, jangan banyak pikiran, takutnya malah mempengaruhi janin kamu yang baru berkembang. Mending kamu siap-siap, Ibu tungguin sama anak-anak," lanjutnya.
"Eum baik bu, aku telpon suami aku dulu ya bu, minta izin," kata Aleeya senang sekali diajaki jalan-jalan.
"Yaudah dek Aleeya minta izin saja sama suami, kalau misalkan ga diizinin telpon Ibu ya," ujar Ibu Fitri.
Aleeya mengangguk, segera membuka pagar rumahnya dan masuk ke dalam kamar. Sebelum berganti pakaian Aleeya mendudukan diri di tepi ranjang, ia mengambik ponselnya.
"Yaampun aku lupa! Aku kan ga punya nomor mas Dareen, gimana cara ngehubunginya kalau begini," ucap Aleeya menepuk pelan jidatnya.
Aleeya mondar mandir berpikir mau meminta nomor telpon suaminya ke siapa. Di rumah cuma ada dirinya, satu orang pun pekerja tidak ada.
"Apa aku pergi aja, aku kan pengen banget jalan-jalan. Ahh ya mending aku ikut bu Fitri aja, urusan mas Dareen gampang nanti aja. Engga mungkin juga mas Dareen ngelarang atau marahin aku. Mas Dareen kan pernah ngomong urusan dia bukan urusan ku, jadi urusan ku juga bukan masalah bagi mas Dareen."
Aleeya tersenyum lebar, seminggu hanya berada di rumah, akhirnya Aleeya bisa keluar jalan-jalan juga ikut bersama tetangga baiknya. Aleeya bergegas bersiap-siap, ia menggunakan pakaian blouse sebatas panjang paha dan bawahan celana kain, penutup kepala menggunakan hijan segi empat kesukaannya.
Aleeya bercermin memastikan penampilan dirinya tidak terlalu buruk untuk berjalan-jalan.
***
"Aleeya gak beli baju hamil sekalian," tawar Ibu Fitri.
"Eum engga dulu bu, nanti nanti aja. Perut aku juga belum besar, baru satu bulan," tolak Aleeya. Sebenarnya uang yang dikasih suaminya ada, cuma ia terlalu takut membelanjakan kebutuhan tanpa seizin suaminya.
"Ibu belikan mau ya, pleasee jangan menolak. Anggap aja ini sebagai kado pernikahan mu dari Ibu," kata Ibu Fitri memakasa Aleeya agar mau menerima dia belikan baju.
"Aku ga enak bu, Ibu udah baik ngajakin aku jalan aja udah bersyukur. Masa Ibu mau belikan aku baju juga, ga usah bu. Biar nanti aku beli bareng mas Dareen aja kalau mas Dareen udah pulang kerja," ucap Aleeya tetap menolaknya.
"Yang sekarang biar Ibu belikan. Mau ya! Jangan tolak, sekali ini aja Ibu pengen banget beliin kamu baju hamil, mau ya Leeya," mohon Ibu Fitri, berharap Aleeya tidak menolaknya.
__ADS_1
"Tapi aku-"
"Sudah terima aja, Ibu gak mau dengar penolakan kamu lagi." Ibu Fitri melenggang memasuk toko pakaian mengambil dua potong pakaian khusus hijab buat Aleeya. Berhubung dia juga berhijab, dia juga mengambil pakaian untuknya.
"Ini buat kami Leeya, harus dipakai ya. Gak boleh disimpan-simpan," kata Ibu Fitri berpesan pada Aleeya.
"Ya allah Ibu, makasih banyak. Nanti aku juga bakalan bales kebaikan Ibu," ucap Aleeya.
"Iya sama-sama Leeya, yuk sekarang kita susul anak-anak. Pasti mereka sudah makan, tadi Ibu berpesan sama babysitter mereka buat pesan makanan duluan aja."
Anak Ibu Fitri ada 3, dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki adalah anak terakhir Ibu Fitri. Jarak umur ketiga anak Ibu Fitiri tidak terlalu jauh ketiganya hanya selisih 3 tahun.
Aleeya mengikuti Ibu Fitri. Keduanya melangkah pergi menuju tempat dimana anak-anaknya makan. Aleeya kelihatan bingung ingin memesakan makanan apa, makanan tersebut semuanya harganya begitu mahal, tidak ada yang murah, yang murah hanya minuman, itupun hanya air putih saja.
"Bu, aku bingung ingin pesan makanan apa, pesanan makanan di samakan aja sama Ibu boleh?" tanya Aleeya mengungkapkan kebingungan dalam memilih makanan.
"Boleh Leeya, kamu ada alergi makanan atau tidak? Ibu takut salah pesan makanan, yang nanti malah membuat mu alergi," ujar Ibu Fitri.
"Tidak ada bu," jawab Aleeya.
...****************...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1