Istri Simpanan

Istri Simpanan
Jangan Mau Dikasih Paha Dan Dada


__ADS_3

Daniel melajukan mobilnya menuju ke rumah Amira. Sudah beberapa kali mengantarkan Amira pulang tentu Daniel sudah sangat hapal arah jalan menuju ke rumah Amira.


"Kamu sudah lama bekerja di perusahaan Dipa ?" tanya Daniel menoleh sekilas kearah Amira yang duduk disebelahnya.


"Sudah dua tahun, semenjak Pak Dipa resmi menggantikan posisi Pak Ardi " jawab Amira. Daniel manggut-manggut.


"Betah kerja sama Dipa ?"


"Iya, Pak Dipa orangnya baik Bu Bintang juga " jawab Amira.


Untuk sesaat suasana menjadi hening, Daniel terlihat kehilangan kata dan bingung harus bertanya apalagi kepada Amira.


"Mas, sejak tadi di rumah Pak Dipa saya tidak melihat Bunga dan Langit..mereka kemana ?" Amira tiba-tiba teringat kepada kedua bocah lucu itu.


"Mereka mengungsi ke rumah Opa dan Oma nya karena Bintang harus ngurusin Dipa yang merepotkan" jawab Daniel.


"Saya tidak menyangka jika Pak Dipa akan semanja itu kepada Bu Bintang.Padahal di kantor beliau orangnya tegas " Amira terkekeh apalagi mengingat tadi Dipa makan disuapi oleh Bintang.


"Iya..makanya aku bilang dia itu merepotkan " jawab Daniel.


"Bukan merepotkan Mas, tapi romantis " ralat Amira.


Daniel terdiam, rupanya definisi romantis menurut Amira adalah makan disuapin oleh pasangannya..catat !


Obrolan tentang kebucinan Dipa cukup membuat suasana sedikit hangat. Namun sayang obrolan mereka harus berakhir ketika mobil Daniel berhenti tepat di depan rumah Amira.


"Terimakasih sudah diantar " ucap Amira sambil turun dari mobil. Daniel tidak ikut turun karena menurut Amira di rumahnya sedang tidak ada siapa-siapa, ia tidak ingin menimbulkan fitnah jika membawa lelaki masuk ke rumah dan Daniel pun menghargainya.


*


Hari ini mood Bintang sedang tidak baik, dari semalam Bintang merengek ingin pergi ke rumah mertuanya karena rindu kepada kedua buah hatinya namun Dipa sepertinya malas pergi kemana-mana.Seharian ia rebahan dan minta dikeloni oleh Bintang.


"Mas , ayo dong kita ke rumah Mama. Aku kangen anak-anak" ajak Bintang.


"Mereka semua sedang pergi ke Depok Neng, menghadiri acara lamaran anaknya Om Cahyo " jawab Dipa.


"Tapi aku bosan disini Mas, kerjanya rebahan terus sambil kelonin kamu " keluh Bintang.


"Daripada pergi ke rumah Mama merekanya juga tidak ada, lebih baik kita jalan-jalan.. bagaimana?" ajak Dipa. Bintang terlihat berpikir sejenak dan tidak lama kemudian ia pun mengangguk senang.


"Tapi jalan-jalannya pake motor ya Mas !" pinta Bintang.

__ADS_1


"Tidak, kita pake mobil saja " larang Dipa.


"Ya sudah kalau pake mobil aku tidak mau " Bintang langsung ngambek.


"Ck.. baiklah. Tapi jalan-jalannya yang dekat saja ya " Dipa akhirnya mengalah. Bintang mengangguk.


Dipa memakaikan sweater kepada Bintang, dan ia juga memakai sweater dengan warna senada seperti yang dipakai oleh Bintang.


"Di ujung komplek sana ada yang jual sate Mas, aku mau makan disana !" pinta Bintang.


Dipa mengangguk, ia pun melajukan motornya menuju tempat penjual sate yang Bintang maksud.


Setibanya disana Bintang terlihat kecewa karena mereka tidak kebagian tempat duduk.


"Kita makan di rumah saja ya Neng " Dipa membujuk Bintang yang tampak cemberut karena kecewa. Bintang mengangguk lesu.


"Atau kita cari tempat yang lain saja ?" tanya Dipa.


"Tidak usah, kita makan di rumah saja " jawab Bintang.


Setelah membeli sate mereka memutuskan langsung pulang dan makan di rumah.


Bintang yang masih kecewa karena tidak jadi makan di tempat langsung berubah ceria ketika mendapati mobil orangtua Dipa terparkir di halaman rumah.


"Bintang sedang hamil Di, kenapa kamu ajak naik motor " Mama Niken memukul lengan Dipa.


"Jalan-jalan nya juga deket kok Mah, cuma beli sate ke ujung komplek " jawab Dipa.


"Aa..kakak Bunga..bunda kangen banget tau " saking rindunya kepada kedua buah hatinya Bintang sampai melupakan sate yang dibelinya.


"Kita juga kangen sama Bunda, ingin tidur dipeluk Bunda " jawab Bunga manja.


Karena Bintang tidak mau makan sate yang tadi dibelinya akhirnya Papa Ardi dan Mama Niken yang menghabiskan nya.


"Tumben Lana tidak ikut ?" tanya Dipa.


"Mereka sedang ada acara keluarga. Keluarga Leon dari Padang sedang ada di Jakarta, jadi mereka sedang berkumpul di rumah Om nya Leon " jawab Mama Niken.


Dengan kepulangan anak-anak perhatian Bintang pun tidak lagi terfokus kepada Dipa. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bunga dan Langit daripada dengan Dipa.Ini tentu saja membuat Dipa uring-uringan.


Bahkan pada saat malam menjelang Bintang memboyong Bunga dan Langit untuk tidur di kamarnya. Beruntung ranjang Bintang berukuran cukup besar hingga muat untuk ditiduri berempat.

__ADS_1


Bintang dan Dipa tidur di kedua sisi dengan Bunga dan Langit berada ditengah-tengah.


Kedua bocah itu sibuk berceloteh sambil melepas rindu bersama Ayah dan Bunda mereka.


Setelah lelah berceloteh akhirnya kedua bocah itu tidur dalam pelukan Ayah dan Bunda mereka.


Setelah melewati trimester pertama kehamilan Bintang, kondisi Dipa sudah mulai sedikit membaik. Pusing dan mual yang sering ia rasakan sudah mulai berkurang dan Dipa sudah kembali bisa fokus dengan pekerjaannya. Bahkan Dipa sudah bisa kembali melakukan perjalanan keluar kota untuk urusan bisnis tanpa mengeluh apapun.


Seperti hari ini, Bintang tampak sibuk menyiapkan semua keperluan Dipa yang akan berangkat ke Singapura untuk urusan bisnis.


"Kamu tidak usah nginep di hotel, nginep di rumah Papa saja !" perintah Bintang setelah selesai paking.


"Iya " jawab Dipa sambil duduk di sisi ranjang sambil mengawasi Bintang yang hilir mudik di depannya.


"Disana kamu jangan macem-macem, kalau rekan bisnis kamu menjamu paha dan dada jangan mau " Paha dan dada yang Bintang maksud tentu saja bukan arti yang sebenarnya.Bintang memperingatkan Dipa karena hal seperti sudah lumrah terjadi.


"Masa ditolak Neng, itu kan kesukaan aku " jawab Dipa pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Bintang.


"Mass .aku tidak becanda " Bintang langsung melotot dan langsung menyerang Dipa dengan cubitan mautnya.


"Ampuun Neng, iya aku tidak akan mau kalau dikasih paha atau dada. Aku akan pilih kepala saja kalau begitu " jawab Dipa.


"Itu juga tidak boleh !" Bintang semakin mengeraskan cubitannya membuat Dipa tertawa sambil meringis.


"Kalau begitu aku akan suruh kak Daniel awasi kamu selama di Singapura, kebetulan kak Daniel sedang disana " ujar Bintang.


"Diawasi Daniel sama saja bohong Neng, dia kan bajingan " Dipa terkekeh.


Bintang menggaruk tengkuknya bingung. " Kalau begitu aku akan suruh Papa awasi kamu "


"Yang benar saja Neng, kamu tega menyuruh Papa kamu mengawasi menantunya..emangnya Papa kamu bukan orang sibuk ?"


"Aduh gimana dong ?" Bintang mondar-mandir di depan Dipa dengan wajah yang bingung.


"Sini Neng !" Dipa menangkap tangan Bintang kemudian menarik pinggangnya agar duduk dipangkuannya. " Kamu tidak usah takut aku macam-macam disana. Aku itu sudah tidak bisa berpaling kelain hati..untuk apa aku melirik wanita lain jika aku sudah memiliki wanita yang sempurna..jadi kamu jangan berpikiran yang macam-macam." tutur Dipa lembut.


"Tapi kan.."


"Sst..biar aku tidak jajan diluar makanya kasih bekal yang cukup dong " bisik Dipa sambil mengendus belakang leher Bintang.


"Baiklah " jawab Bintang sambil turun dari pangkuan Dipa kemudian mendorongnya hingga pria itu telentang di kasur dengan kaki menjuntai ke bawah.

__ADS_1


"Argh Neeeng " Dipa mengerang ketika Bintang membuka resliting celananya dan melahap benda di dalamnya dengan rakus.


__ADS_2