
Dipa dan Bintang baru terlihat keluar dari kamar beberapa jam setelah mereka menyadari jika anak-anak tidak ada di rumah.
Setelah mengakhiri pergumulan panas mereka dengan mandi bersama Bintang dan Dipa pun bersiap untuk menyusul ke villa.
"Kamu keliatan lelah dan ngantuk, apa sebaiknya kita tidak usah menyusul ke villa seperti saran Mbak Shanti ?" tanya Dipa ketika mereka sudah masuk kedalam mobil.
"Gimana tidak lelah dan ngantuk kamu tidak membiarkan aku tidur semalaman " sungut Bintang sambil memasang sabuk pengamannya.
"Maaf Neng aku khilaf, maklum sudah lama puasa " jawab Dipa dengan cengiran nakalnya.
"Yakin kita akan nyusul ke villa ? aku sih maunya kita di rumah saja puas-puasin berdua mumpung tidak ada anak-anak " Dipa masih mencoba membujuk Bintang untuk tidak pergi.
"Yakin lah, kalau kamu mau tetap di rumah biar aku pergi sendiri saja " jawab Bintang.
"Eehhh jangaan..kamu itu galak banget sih Neng...Kita pergi susul anak -anak oke " Dipa menjawil dagu Bintang dengan gemas.
Dipa menyalakan mesin mobilnya dan tidak lama kemudian mereka pun sudah dalam perjalanan menuju villa milik Shanti dan Rizal.
"Neng..nanti sesekali kamu mau ya kalau aku ajak berkunjung ke rumah Mama , biar kalian semakin dekat. Mama dan Papa pasti senang kalau kita bawa Langit menginap disana " ajak Dipa.
"Aku tidak yakin Langit akan mau " jawab Bintang.
"Ya makanya kita bujuk..kalau sering bertemu lama-lama Langit juga akan tau kalau kakek dan Neneknya menyayangi dia...kamu tau Neng, orang yang sering ngirim mainan untuk Langit itu ternyata Papa loh , itu tandanya Papa sayang pada cucunya walaupun secara diam-diam .Nanti setelah kuliah kamu selesai kita pindah lagi ke Jakarta ya Neng biar aku tidak harus bolak-balik Jakarta - Bandung setiap hari "
Ocehan Dipa terhenti begitu menyadari jika Bintang tertidur lelap di sampingnya.
"Kalau mau tidur bilang dong Neng..aku sudah ngomong panjang lebar " Dipa tertawa sendiri sambil mengelus kepala bintang dengan tangan kirinya.
Dipa melajukan mobilnya menuju villa milik Shanti. Beruntung Bintang sudah memberi alamat lengkapnya begitu mereka mulai meninggalkan rumah.
Setelah satu jam perjalanan mobil Dipa pun sampai di villa. Langit , Bunga dan Cilla berlari berhamburan menyambut kedatangan mereka.
Segarnya udara pegunungan menyapa tubuh Bintang dan Dipa begitu turun dari mobil.
__ADS_1
"Ayah apakah adik bayi nya sudah jadi ?" tanya Langit yang baru saja meloncat kedalam gendongan Dipa.
"Adik bayi ?" tanya Dipa.
"Papa dan Mama bilang katanya Ayah dan Bunda sedang bikin adik bayi untuk aku dan kak Bunga " jawab Langit.
Shanti dan Rizal hanya tertawa mendengar ocehan Langit.
"Mbak Shanti apaan sih " Bintang mencubit lengan Shanti.
"Semalam habis berapa ronde Bi ?" goda Shanti.
"Mbak..ihh " Bintang tersipu malu.
"Tidak usah malu..siapa tau langsung jadi biar kita hamilnya barengan " ujar Shanti.
"Hamil barengan ?..Mbak Shanti lagi hamil ?" tebak Bintang. Shanti mengangguk.
"Selamat ya Mas mau dapat momongan lagi " Dipa ikut senang, ia pun menepuk bahu Rizal.
"Kebobolan Di.." jawab Rizal sambil tertawa.
"Halah alasan kebobolan " cibir Bintang meledek membuat tawa Rizal semakin kencang.
"Rencananya Mas juga tidak akan berlayar lagi, mau usaha kecil-kecilan saja disini..biar selalu dekat dengan keluarga. Apalagi sekarang Shanti lagi hamil..kerja di kapal itu godaannya besar kalau tidak kuat iman ya celaka " ujar Rizal.
"Aku dukung Mas " jawab Dipa.
Setelah menginap selama satu malam di villa, mereka pun pulang. Bintang mulai menjalani perannya sebagai ibu dan istri yang sesungguhnya.
Demi selalu dekat dengan anak dan istrinya Dipa rela harus pulang pergi Bandung-Jakarta -Bandung setiap harinya sampai Bintang menyelesaikan kuliahnya.
Untuk urusan Bunga dan Langit keberadaan Bik Asih sangat membantu. Bintang dapat kuliah dengan tenang dan tidak perlu lagi membebani Shanti yang sedang hamil muda.
__ADS_1
Selepas subuh Dipa sudah bersiap dengan setelah kerjanya. Bintang sudah menyiapkan roti isi dan satu termos kecil kopi untuk menemani perjalanan Dipa setiap paginya.
"Hari ini kamu kuliah jam berapa Neng ?" tanya Dipa sebelum masuk kedalam mobil.
"Aku pergi siangan jadi masih sempat antar jemput Bunga ke sekolah " jawab Bintang.
"Baiklah hati-hati ya Neng " ucap Dipa sambil menyarangkan satu kecupan lembut di bibir Bintang sebelum pergi.
"Kamu juga hati-hati di jalan " balas Bintang dan dibalas anggukan oleh Dipa.
Setelah mobil Dipa menghilang Bintang pun masuk dan mulai melakukan kewajiban yang lain yaitu membuat sarapan.
Setiap pagi kini bukan hanya Langit yang merengek mencari perhatian dari Bintang tapi Bunga juga. Meskipun beban dan tanggung jawab Bintang dalam mengurus anak bertambah dengan kepindahan Bunga ke Bandung namun Bintang sangat menikmati perannya sebagai ibu dari dua orang anak dan sama sekali tidak merasa terbebani.
Jam delapan pagi Bintang dan Langit mengantar Bunga ke sekolah. Sebetulnya Bintang sudah membayar jasa antar jemput Bunga ke sekolah, namun jika Bintang sedang tidak ada kuliah pagi Bunga selalu meminta Bintang yang mengantarnya ke sekolah.
Sejak Bunga dan Dipa memutuskan tinggal di Bandung, Papa Ardi dan Mama Niken rajin mengunjungi mereka. Hanya Leon dan Dina saja yang belum berani ikut berkunjung ke Bandung.
Melihat buruknya hubungan Dina dengan Bintang membuat Papa Ardi dan Mama Niken merasa serba salah, mereka berharap seiring berjalannya waktu hubungan Dina dengan Bintang akan membaik seperti waktu mereka sekolah dulu.
Sebetulnya setiap kali Papa Ardi dan Mama Niken akan pergi ke Bandung mereka selalu berharap Dina dan Leon ikut, namun keduanya selalu membuat alasan agar tidak bisa ikut.
"Bagaimana caranya ya Di agar istri dan adik kamu bisa akur ?" tanya Papa Ardi saat mereka makan siang bersama.
"Dipa juga tidak tau Pah..mungkin mereka hanya butuh waktu saja" jawab Dipa.
"Papa inginnya setiap akhir pekan kita semua bisa berkumpul lengkap tidak seperti sekarang ini. Bintang dan Dina seperti yang saling menghindar, padahal sekarang mereka sudah menjadi keluarga " keluh Papa Ardi.
"Mungkin Bintang masih belum bisa melupakan pengkhianatan mereka berdua Pah..nanti Dipa nasehati Bintang agar mau memaafkan Dina dan melupakan semua kejadian masa lalu mereka " ujar Dipa.
"Iya Di.. Papa dan Mama tidak selamanya ada bersama kalian, Kami belum bisa tenang jika belum melihat kalian akur dan saling menyayangi satu sama lain." harap Papa Ardi.
"Dipa akan berusaha membuat mereka berbaikan, Papa tenang saja " Dipa menyentuh punggung tangan Papa Ardi.
__ADS_1