Istri Simpanan

Istri Simpanan
Taruhan


__ADS_3

Ketika sedang berada di rumah orangtuanya Dipa menceritakan mengenai rencana bulan madu mereka bulan depan.


"Bulan depan aku sama Leon juga Lana mau ke Padang, bagaimana kalau anak-anak ikut aku saja ke Padang biar sekalian liburan sama " ajak Dina.


"Jangan..nanti Lo repot bawa anak tiga " Bintang tidak setuju.


"Tidak akan..kan ada Leon yang bantuin jaga anak-anak " jawab Dina.


"Iya Bi..biar Langit dan Bunga ikut kita saja ke Padang " Leon setuju dengan usul Dina.


"Gimana Mas ?" Bintang menatap bingung kearah Dipa.


"Aku juga sebetulnya kurang setuju kalau Langit dan Bunga ikut kalian ke Padang, kalian pasti kerepotan megang tiga anak. Apalagi kalian tau sendiri kalau Langit itu anaknya cukup aktif " jawab Dipa.


"Kalau begitu Mama dan Papa akan ikut ke Padang biar bisa bantu jaga anak-anak, gimana Pah ?" Mama Niken mencolek tangan Papa Ardi.


"Bilang saja Mama juga ingin ikut jalan-jalan, pake alasan ikut jagain anak-anak segala " Papa Ardi malah menggoda Mama Niken.


"Emang Papa tega biarin Dina dan Leon pergi ke Padang bawa tiga anak ?" Mama Niken langsung melotot kepada Papa Ardi.


"Iya..iya..kita akan ikut kalian ke Padang " akhirnya Papa Ardi mengalah.


Dipa terlihat lega setelah ada solusi untuk acara bulan madunya. Bulan depan Dipa dan Bintang tinggal berangkat tanpa harus mengkhawatirkan anak-anak mereka.


Bunga dan Langit terlihat senang ketika mendengar Dina dan Leon akan mengajak mereka ke Padang ke kampung halaman Leon.


"Ayah dan Bunda tidak akan ikut ke Padang bersama kita ?" tanya Langit


"Tidak Sayang..Ayah dan Bunda tidak bisa ikut dengan kalian karena sedang ada pekerjaan penting " Dipa beralasan sambil mengerling kearah Bintang.


"Pake alasan ada pekerjaan penting, bilang saja mau bikin adik buat Langit dan Bunga " cibir Dina. Mulut gadis itu selalu saja menyebalkan membuat Bintang sebal dan melemparkan bola tisu ke wajah Dina.


"Lo..ngajak ri..mmpth " Dina tidak meneruskan ucapannya karena Leon buru-buru membekap mulut Dina agar tidak bertengkar di depan anak-anak.


"Hanya bola tisu ga akan mati " ujar Leon sambil tertawa.


"Neng..jangan suka mancing-mancing ah !" Dipa juga mengomeli Bintang.

__ADS_1


"Abis mulutnya kayak ember bocor " jawab Bintang membuat Dina langsung mendelik tanpa suara. Leon buru-buru memeluk pundak Dina untuk mencegah terjadi adu mulut diantara Dina dan Bintang.


Kekesalan Dina kepada Bintang langsung sirna ketika Langit tiba-tiba mendekat kearahnya dan menggelendot manja di pangkuannya.


"Kamu ini manis banget sih..tidak seperti Bunda kamu " gumam Dina sambil melirik Bintang dengan sinis.


"Emangnya Bundanya kenapa ?" tanya Bintang.


"Pikir saja sendiri " jawab Dina sambil menciumi pipi langit dengan gemas.


"Neng..!" Dipa melotot kearah Bintang karena ia tau kali ini Bintang yang duluan mencari masalah dengan Dina.


"Hmm..belain adiknya " cibir Bintang.


"Iya dong belain gw " ujar Dina senang karena Dipa membelanya.


Meskipun Dipa kali ini membela Dina tapi tidak membuat Bintang marah kepada Dipa. Ia bersikap biasa saja karena pertengkaran mereka pun tidak dengan hati.


"Daripada ribut terus mending buatin Papa kopi gih !" titah Papa Ardi kepada Dina dan Bintang.


"Baik Pah " Kedua wanita itu dengan patuh langsung pergi ke dapur untuk membuatkan tiga cangkir kopi karena Dipa dan Leon pun ikut -ikutan minta dibuatkan kopi.


"Dasar anak siapa sih sudah bisa meledek orangtua " sungut Dina.


"Anak gw " jawab Bintang.


"Pantas mulutnya sama kayak Lo " ledek Dina sambil membuatkan kopi untuk Papa Ardi, Dipa dan Leon. Sementara Bintang bertugas mengantarnya ke ruang keluarga dimana ketiga pria itu sedang berkumpul.


"Dapur aman kan ?" tanya Mama Niken menyindir Bintang dan Dina yang baru muncul dari dapur. Bintang membawa baki berisi kopi sedangkan Dina membawa piring berisi kudapan untuk teman kopi.


"Aman dong Mah " jawab Bintang sambil meletakan tiga cangkir kopi buatan Dina diatas meja.


"Coba setiap hari begitu kan adem keliatannya" ujar Papa Ardi.


"Tujuan bulan madu kalian bulan depan kemana Di ?" tanya Papa Ardi menatap kearah putranya yang mulai menyesap kopinya secara perlahan.


"Bintang ingin ke Jepang katanya Pah " jawab Dipa.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu Bintang meminta ingin pergi berbulan madu ke Jepang dan Dipa pun langsung setuju dengan permintaan Neng Geulisnya itu.


"Baguslah biar nanti cucu kita Made in Jepang " ujar Mama Niken sambil tertawa.


*


Mendekati waktu kepergian Bintang dan Dipa ke Jepang, Bintang dengan diantar Dina menemui dokter kandungan untuk konsultasi program hamil dan lepas KB.


Bintang langsung dilayani secara pribadi oleh dokter Obgin karena ia adalah menantu pemilik rumah sakit.


Selain Bintang, Dina pun ikut berkonsultasi mengenai keinginannya untuk tambah momongan seperti Bintang. Kedua wanita itu kompak ingin hamil bersamaan seperti waktu mereka hamil Lana dan Langit.


Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter Obgin, Bintang dan Dina pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Untuk menunjang program kehamilan mereka keduanya terlihat memasuki sebuah toko pakaian dalam.


Dina dan Bintang memborong lingerie aneka warna. Keduanya sesekali tertawa cekikikan ketika memilih baju haram itu. Tujuan mereka tentu saja sama yaitu untuk menggoda suami-suami mereka demi keberhasilan program hamil yang mereka jalani.


Setelah membeli beberapa Lingerie mereka pun melanjutkan pergi ke sebuah klinik kecantikan untuk melakukan perawatan tubuh dan wajah.


"Kita taruhan siapa yang hamil duluan harus mendapatkan satu set perhiasan ini " Dina memperlihatkan set perhiasan model terbaru koleksi toko perhiasan langganan Mama Niken.


"Oke deal ya !" Bintang setuju dan mereka pun bersalaman.


Setelah selesai berbelanja dan melakukan perawatan tubuh, kini mereka pun pergi ke sebuah restoran untuk memanjakan perut mereka.


Tanpa disangka-sangka di restoran mereka bertemu dengan Mery teman sekolah mereka yang sedang makan bersama anaknya yang masih balita.


"Ya ampuun Bintang, Dina..mimpi apa gw lihat kalian akur begini !" seru Mery.


Terakhir Mery bertemu dengan Bintang dan Dina di hari pernikahannya, saat itu mereka masih terlihat bermusuhan.


"Biasa aja kali " sungut Dina.


"Sumpah..gw seneng banget liat kalian akur begini..jadi keliatan seperti saudara bukan seperti musuh bebuyutan " ujar Mery sambil menyuapi putranya makan.


"Yaah..gw juga sebenarnya terpaksa sih nerima si Bintang jadi kakak ipar gw " ujar Dina sedikit mencibir kearah Bintang.


"Kalau gw ga cinta sama kakak Lo gw juga ogah punya adik ipar seperti Lo " balas Bintang.

__ADS_1


Mery hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum menatap Bintang dan Dina yang sedang saling ledek. Sebagai sahabat keduanya Mery sangat senang melihat Bintang dan Dina sudah kembali akur seperti dulu.


__ADS_2