
Shanti dan Rizal beberapa kali menghubungi Bintang untuk menanyakan kabar adik angkatnya itu.
Mereka khawatir karena Bintang dan Langit tiba-tiba pergi ke Jakarta dan tidak sempat bercerita apapun kepada mereka.
Karena Bintang masih dalam keadaan shock akhirnya Dipa lah yang menjelaskan semuanya kepada Shanti dan Rizal.
"Kamu jaga Bintang dan Langit baik-baik disana. Pastikan Bintang tidak mengalami trauma yang berkepanjangan" ( Rizal )
"Iya Mas " (Dipa )
"Sebetulnya yang paling brengsek itu kamu dibanding Daniel. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas kemalangan yang Bintang alami " ( Rizal )
"Aku sudah mempertanggungjawabkan perbuatanku sejak menemukan Bintang dan Langit. Jika hubungan kami masih seperti ini, itu hanya karena Bintang masih belum bisa memaafkan dan menerima aku " ( Dipa )
Dipa yakin Rizal sangat tau rumah tangga seperti apa yang sedang mereka jalani saat ini. Dan ini pun sangat tidak Dipa kehendaki.
Sesungguhnya Dipa ingin menjalani rumahtangga yang seutuhnya dengan Bintang terlebih kini bukan hanya tanggung jawab kepada Langit saja yang sedang Dipa emban tapi juga ada rasa cinta yang menyertai dan rasa ingin memiliki Bintang seutuhnya. Tapi sayangnya rasa itu baru Dipa saja yang merasakannya.
"Aku percaya sama kamu " (Rizal )
*
Setelah beberapa hari berlalu Bintang mulai tenang dan ia bersedia bertemu kembali dengan Papanya.
Kali ini David datang seorang diri. Daniel memutuskan tidak ikut agar Bintang merasa nyaman dengan ketidak hadiran nya. Meskipun begitu Daniel menitipkan oleh-oleh untuk Langit kepada Papanya.
Di pertemuan kedua mereka Bu Dewi dan Dipa sengaja memberikan kesempatan kepada Bintang dan David untuk berbicara berdua. Dipa memilih mengawasi Langit bermain bersama anak-anak panti yang lain.
"Kakak kamu sengaja tidak ikut , dia takut kamu tidak nyaman dengan kehadirannya. Tapi dia menitipkan ini untuk keponakannya..siapa nama cucu Papa yang tampan itu ?" tanya Pak David sambil memberikan kotak mainan untuk Langit kepada Bintang.
"Langit " jawab Bintang.
"Nama yang bagus " puji Pak David.
"Apakah kamu masih ragu jika Papa adalah papa kandung kamu ? jika iya Papa tidak keberatan untuk melakukan tes DNA agar kamu merasa yakin "
Untuk sejenak Bintang menatap wajah pria paruh baya yang masih terlihat tampan diusianya yang sudah tidak muda lagi itu. Bintang tidak menemukan kebohongan di sana.
__ADS_1
"Sepertinya tidak perlu " jawab Bintang lirih.
"Sayang Papa terlambat menemukanmu, jika tidak..Papa pasti sempat menyaksikan kamu menikah " ucap David. Bintang menunduk.
"Mengenai kakak kamu, Papa minta maaf. Daniel tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memperhatikan pergaulan kakak kamu..sepulang dari bertemu kamu, Daniel terlihat sangat kacau. Dia sangat menyesali apa yang sudah ia lakukan kepada kamu..jadi Papa mohon tolong maafkan kekhilafan kakak kamu " pinta Papa David. Bintang mengangguk sambil mengusap sudut matanya yang berair.
"Nak.. bolehkah Papa peluk kamu ?" tanya David. Bintang mengangguk dan membiarkan pria paruh baya yang akan ia panggil Papa itu memeluknya erat. Cukup lama mereka saling berpelukan.
"Kedepannya Papa akan sering ke Jakarta untuk mengunjungi kalian. Kamu tidak keberatan kan ?" tanya David sambil mengusap mata Bintang yang basah dengan ibu jarinya.
"Aku tidak keberatan, tapi aku dan Langit tinggal di Bandung Pah !" ucap Bintang.
"Papa pikir kamu tinggal di Jakarta "
"Aku sedang menyelesaikan kuliah di Bandung " jawab Bintang.
David menatap kagum kepada Bintang " Papa kagum sama kamu Nak , kalau saja dulu Daniel Papa titipkan juga disini pasti dia tidak akan bandel " ujar David. Bintang pun tersenyum.
Meskipun belum bisa terlalu akrab namun David cukup bahagia bisa bertemu dan berbicara dengan Bintang.
Setelah puas saling melepaskan rindu mereka pun berpisah. David harus kembali ke Singapura karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Sebelum pulang David sempat menciumi wajah tampan Langit.
"Aku juga punya Grandpa seperti kak Cilla ?" Langit menatap Bintang.
"Iya Sayang..langit sekarang punya Grandpa seperti kak Cilla " jawab Bintang.
"Dari dulu juga kamu punya Opa Nak, Opa Ardi juga sangat menyayangi kamu buktinya Opa diam-diam sering mengirim mainan untuk Langit " ucap Dipa dalam hati.
Setelah kepulangan Papa David ke Singapura, Bintang dan Dipa kembali ke apartemen mereka. Bintang dan Langit masih akan berada di Jakarta sampai besok sebelum mereka kembali ke Bandung karena Bintang tidak mungkin terlalu lama bolos kuliah.
Siang itu Dipa yang terlanjur ada janji dengan klien nya terpaksa meninggalkan Bintang dan Langit di apartemen mereka.
"Setelah pekerjaannya selesai Ayah janji akan cepat pulang " janji Dipa sebelum pergi.
"Iya " jawab Langit.
Setelah kepergian Dipa, Langit yang mulai merasa bosan dan mulai merengek ingin pergi jalan-jalan. Bintang pun akhirnya mengikuti keinginan Langit, mereka pergi ke sebuah pusat permainan di sebuah Mall yang berada tidak jauh dari apartemen.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan Dina sedang membawa Lana dan Bunga bermain di tempat yang sama. Begitu melihat Bintang dan Langit, Bunga langsung berlari memeluk Bintang. Dina tampak melongo karena tidak menyangka akan bertemu dengan Bintang dan Langit disana.
Sejujurnya Dina ingin sekali menghampiri Bintang dan menyapanya, namun kaki Dina seperti terpaku di tempatnya apalagi ketika dilihatnya wajah Bintang yang tampak tidak bersahabat.
"Mama..itu kak Bunga sama siapa ?" Lana yang penasaran menarik-narik tangan Dina.
"Dia itu kak Bintang dan Langit yang sering diceritakan oleh kak Bunga " jawab Dina.
"Ooh..kak Bintang cantik ya " puji Lana.
"Ya Bintang memang cantik, oleh sebab itu Papamu sampai sekarang belum sepenuhnya bisa melupakan dia " batin Dina.
Bunga, Langit dan Lana akhirnya bermain bersama. Sementara Dina dan Bintang mengawasi mereka dari tempat yang berjauhan.
Dina dan Bintang seperti orang yang tidak saling mengenal. Padahal dulu mereka berdua adalah sahabat yang nyaris tidak terpisahkan.
Pada saat anak-anak bermain diam-diam Dina membelikan minuman untuk Bintang dan menyuruh Bunga untuk memberikannya kepada Bintang.
"Bunda ini dari Aunty Dina " Bunga meletakan minuman itu di dekat Bintang.
Setelah beberapa waktu berlalu Dina dibuat kecewa karena Bintang sama sekali tidak mau menyentuh minuman pemberiannya. Sepertinya Bintang sudah menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk Dina.
Sampai mereka berpisah, hanya Bunga, Langit dan Lana lah yang saling melambaikan tangan. Bahkan Bunga beberapa kali menciumi pipi Langit sebelum mereka berpisah.
Sepanjang perjalanan pulang Dina beberapa kali mengusap matanya yang basah. Jika Leon adalah sebuah benda yang tidak bernyawa ingin sekali Dina mengembalikannya kepada Bintang agar sahabatnya itu bahagia.
Suasana hati Dina masih terlihat buruk meski mereka sudah sampai ke rumah dan semua itu tidak luput dari penglihatan Leon.
"Kamu kenapa Na ?" tanya Leon ketika Dina muncul di kamar mereka setelah menidurkan Bunga dan Lana.
"Tidak apa-apa" jawab Dina.
"Kamu tidak usah pura-pura tidak ada apa-apa, cerita sama aku " bujuk Leon.
Dina awalnya enggan membicarakan Bintang kepada Leon. Namun karena Leon memaksa akhirnya Dina pun terpaksa jujur.
"Tadi sore aku ketemu Bintang di Mall " ucap Dina lirih.
__ADS_1
Leon terdiam. Setiap kali bertemu dengan Bintang wajah Dina selalu terlihat muram.
"Aku berusaha mendekatinya dengan membelikannya minum tapi dia sama sekali tidak menyentuhnya , dia benar-benar benci sama aku " Dina pun terisak. Leon buru-buru merengkuh Dina kedalam pelukannya dan tangis Dina pecah dalam pelukan Leon.