
"Bibi bisakah saya meminta izin padamu untuk mengizinkan putri mu membantu saya. Hanya sebentar saja, bibi boleh pulang duluan, biar nanti saya yang mengantar putri mu pulang dengan selamat," kata Abigail berbicara panjang.
Membuat Rai asissten yang berdiri tak jauh dari Abigail merasa heran dengan tingkah bossnya yang bicara panjang. Setaunya Abigail tak pernah meminta bantuan pada perempuan asing yang baru dikenal, apalagi sampai meminta izin
segala pada Ibu dari gadis tersebut.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi dan boss menyembunyikannya," ucap Rai dalam hati.
"Kalau di perhatikan, gadis ini mirip dengan gadis yang kemaren aku lihat berjalan terburu-buru. Ada hubungan apa boss dengan gadis ini," batin Rai berpikir dalam hati.
Nur menatap Aleeya yang memberikan gelengan, agar ibunya tidak menyetujuinya permintaan pria dewasa di depannya.
"Maaf tuan, bukannya saya bermaksud menolak. Sepertinya putri saya tak mau tuan," ucap Nur. Aleeya langsung merasa lega mendengarnya.
"Hanya sebentar saja. Percayalah saya bukan orang jahat." Abigail ngotot tetap ingin bicara dengan Aleeya. Ini menyakut kerhormatannya dan pernikahan dengan istri tercintanya. Ia tidak mau sampai gadis itu mengadu pada warga disini dan membuatnya harus menikahinya.
Nur menatap putrinya lagi, ia berharap putrinya mau kali ini. Ia merasa tidak enak dengan tuan di depannya. Aleeya akhirnya mengalah dan mengangguk yang berarti mau.
"Benaran kamu mau nak? jika tidak yakin ibu akan menolaknya. Ibu gak mau kamu terpaksa melakukannya itu tidak baik," terang Nur berbisik.
"Insha Allah aku tidak terpaksa buk. Ibu pulangnya hati-hati ya." Aleeya mencium tangan Ibunya.
Sepeninggal Ibunya yang tak keliatan lagi, berjalan sudah jauh dari kawasan villa. Aleeya sangat gugup dan rasa traumanya mengingat kejadia kemarin terbayang-bayang di kepalanya. Bagaimana pria di depannya memaksa dan melakukan dengan kasar.
"Kau ikut saya sekarang!" titah Abigail.
"Saya mau pulang," ucap Aleeya melangkah cepat menyusul Ibunya.
Sayang sekali Abigail lebih dulu meraih tangan Aleeya dan menarik sampai gadis itu terbentur di dada bidangnya yang lebar.
"Awshh," ringis Aleeya saat merasa membentur tembok, tak lain adalah badan Abigail.
Tanpa banyak bicara Abigail, menarik lengan Aleeya membawa gadis tersebut masuk.
"Pak jangan kasar dengan anak orang, kasihan pak," tegur Rai memperingati boss yang tidak memperdulikan perkataannya.
Abigail terus menarik lengan Aleeya, keduanya menaiki tangga. Sepanjang jalan Aleeya memohon agar dilepaskan.
__ADS_1
"Tuan lepaskan saya, hiks.."
"Tidak, sebelum kita bicara..."
Abigail menolaknya, sampai di kamarnya barulah Abigail menghempaskan lengan Aleeya.
"Saya berharap kau belum bicara mengenai kejadian di kamar ini kemaren pada siapapun," ujar Abigail.
Aleeya menggeleng, "Mana mungkin saya mengatakan, itu akan menyakiti orang tua saya."
"Baguslah saya lega mendengar. Semua itu di luar kendali saya, ada seseorang yang mencampurkan obat ke dalam minuman saya. Sampai akhirnya membuat berhasrat menginginkan sentuhan."
Abigail menjelaskan sejujurnya. Tetapi di mata Aleeya lelaki dewasa di depannya ini tetap salah, karena telah menodainya.
Abigail mengambil sebuah cek dan menuliskan nominal disana. Lalu memberikan cek tersebut pada Aleeya.
"Ambil ini, jangan pernah datang lagi kesini. Saya akan meminta orang lain menggantikan ibumu membersihkan villa ini. Saya tahu kalian kesulitan ekonomi, jadi anggap saja itu sebagai bayaran atas kesalahan yang saya lakukan kemarin."
Mendengar perkataan lelaki di depannya ini membuat emosi Aleeya meledak-ledak. Aleeya mengambil cek yang diberikan padanya, lalu merobek-robeknya di depan mata lelaki tersebut.
"Dengar tuan! Saya bukan wanita murahan. Setelah disentuh dan mendapatkan bayaran, walaupun saya miskin tapi saya masih punya harga diri. Saya tidak terima semua ini, jika anda merasa bersalah telah mengambil mahkota saya. Seharusnya anda bertanggung jawab." Aleeya marah sampai bicara sepanjang itu.
"Yang benar saja kamu, saya tak mungkin menikahi kau dengan alasan seperti itu. Saya sudah memiliki istri dan sangat memcintai istri saya, jadi jangan mengharapkan yang tidak mungkin terjadi," lajutnya berkata.
"Terserah anda tuan, tapi saya tetap tidak menerima perlakuan anda seolah-olah merendahkan harga diri saya," ketus Aleeya.
"Astaga gadis miskin seperti pembe-"
"Saya pamit pulang, assalamualaikum." Aleeya membuka pintu kamar melangkah pergi. Hawa kamar itu membuat dirinya terbayang-bayang terus-menerus.
"Hey! Saya belum selesai bicara." Abigail yang mau mengejar Aleeya di cegat Rai.
"Minggir Rai, saya mau mengejar gadis tidak tahu sopan santun itu," hardik Abigail marah, Aleeya yang main pergi dan memotong perkataannya.
"Pak sudahlah, biarkan dia pulang. Orang tuanya pasti dirumah mengkhawatirkannya, anda sudah terlalu lama mengajaknya bicara," ucap Rai.
"Apa kau mendengar semuanya?" tanya Abigail menatap tajam asisstennya.
__ADS_1
"Ya saya akui mendengar pembicaraan kalian, karena pintu kamar anda tidak tetutup rapat." Rai mengakuinya.
"Saya tau itu bukan kesalahan anda tuan, karena tuan juga di jebak dengan minuman dari Irawan. Saya mengerti sekarang kenapa anda menyuruh saya mencari tahu kebenarannya. Kalau begitu saya akan bertindak, menangkap penjahat itu," kata Rai marah, tidak terima yang terjadi pada Abigail.
"Tidak usah Rai, saya sudah menyuruh Ghandi melakukannya. Lebih baik kamu fokus saja dengan pekerjaan kita disini," ucap Abigail.
"Baik pak, tapi bagaimana dengan gadis itu?" ujar Rai bertanya.
"Biarkan saja dia, lagian dia tak akan bicara pada siapapun," kata Abigail.
"Oh ya tuan! Makan malam sudah disiapkan oleh pembersih villa tadi dan anaknya," beritahu Rai.
"Saya mau mandi terlebih dulu."
Abigail melenggang pergi dari hadapan Rai. Pria itu segera membersihkan dirinya. Kini keduanya bersama duduk di meja makan, menikmati makan malam. Abigail tidak sadar telah menambah makan dan Rai menatap tak biasanya pada bossnya.
"Sungguh, apa ini benaran bossnya?" gumam Rai bertanya-tanya.
"Kau kenapa Rai menatap saya aneh seperti itu. Mau saya potong gaji mu." Abigail berkata mengancam.
"Jangan tuan! Saya merasa heran saja biasanya anda tidak bernafsu makan malam."
"Saya lapar, makanya nambah," ketusnya.
Rai mengangguk-ngangguk paham. Sebenarnya Abigail pun tak tau apa yang terjadi sekarang. Ia seakan-akan menikmati makanan ini, bisa dibilang makanan di atas meja makan ini sangatlah lezat, hingga membuatnya ingin menambah terus-menurus.
"Sepertinya besok aku harus olahraga."
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓