Istri Simpanan

Istri Simpanan
Makan Jengkol


__ADS_3

Setelah meminum obat sakit perut dari Leon Bintang pun tidak lagi bolak-balik ke kamar mandi seperti beberapa jam yang lalu. Namun wajah Bintang masih terlihat pucat dan tubuhnya masih lemas, begitu juga dengan Dina. Mama Niken menyuruh kedua wanita bandel itu untuk beristirahat di kamar saja.


Langit, Bunga dan Lana bermain dengan ditemani oleh bik Asih. Papa Ardi dan Mama Niken ikut mengawasi sambil sesekali melihat keadaan Dina dan Bintang yang tergolek lemah di kamar dengan ditemani oleh suaminya masing-mading.


"Perutnya masih sakit ga Neng ?" tanya Dipa kepada Bintang yang baru keluar dari kamar mandi.


"Sudah tidak terlalu " jawab Bintang sambil duduk disebelah Dipa kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Dipa.


Bintang mengambil telapak tangan Dipa dan diletakan di perutnya. Dipa yang mengerti keinginan Bintang mengusap-usap perut Bintang untuk meredakan rasa mulas yang kadang-kadang masih terasa.


"Semalam siapa duluan yang ngajak bikin mie setan ?" Dipa tampak penasaran sambil terus mengusap-usap perut Bintang.


Bagaimana bisa Bintang dan Dina yang sering bertengkar tiba-tiba kompak membuat mie yang pastinya sangat pedas sampai membuat Bintang dan Dina sakit perut.


"Kita berdua yang mau..dulu waktu aku di panti asuhan kalau Dina nginep kita suka bikin itu..rasanya enak banget loh Mas..emang sih pedas. Kamu nanti harus coba !" jawab Bintang.


"Tidak.. terimakasih " jawab Dipa halus.


"Aku tidak mau berakhir dengan sakit perut seperti kamu dan Dina " sambung Dipa.


"Kita sedang apes saja Mas " ujar Bintang sambil memeluk perut Dipa.


"Mas " panggil Bintang.


"Hmm.." jawab Dipa.


"Kamu masih punya utang sama aku " ucap Bintang.


"Utang apa Neng ?" Dipa tampak kaget dan mengingat-ngingat.


"Aku ingin kamu makan jengkol, dari dulu belum kesampaian terus " Bintang mengingatkan.


"Hmmm ..aku pikir kamu sudah lupa " Jawab Dipa sambil terkekeh.


"Kamu mau ngehindar ya !" Bintang mencubit perut Dipa.


"Bukan mau menghindar Neng, tapi cuma berharap kamu lupa " jawab Dipa jujur.


"Tuh kan !" Bintang semakin mengeratkan cubitannya membuat Dipa meringis meminta ampun.


"Pokoknya nanti aku akan masak semur jengkol dan kamu harus memakannya..awas saja kalau tidak mau " ancam Bintang.


"Iya..iya .." jawab Dipa. Padahal dalam hati ia berharap Bintang lupa.

__ADS_1


*


Pagi ini bintang mengantarkan Bunga dan Langit juga Lana ke sekolah. Meskipun sering berseteru namun Bintang dan Dina sepakat untuk saling membagi tugas dalam mengantar jemput anak-anak sekolah.


Bintang kebagian tugas mengantar ketiga bocah itu setiap pagi, sedangkan Dina kebagian tugas menjemput pulang. Dan Mama Niken bertanggung jawab untuk menyiapkan bekal jadi Bintang setiap pagi tidak perlu repot-repot menyiapkan bekal makan untuk anak-anak, ia hanya menyiapkan makanan untuk sarapan saja.


Setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah, Bintang pulang ke rumah mertuanya. Hari ini ia meminta pelayan di rumah Mama Niken untuk membuatkan semur jengkol.


"Kamu suka semur jengkol ya Neng ?" tanya Mama Niken.


"Iya Mah..semenjak aku tinggal di Bandung sering ikut makan jadi doyan " jawab Bintang. " Mama suka tidak ?" tanya Bintang.


"Suka..hanya Dipa saja yang tidak suka " jawab Mama Niken.


"Aku malah sekarang mau nganterin semur jengkol ini ke kantor untuk Mas Dipa " ujar Bintang sambil tertawa.


"Jangan cari masalah deh Bi..Mas Dipa itu ga doyan jengkol !" Dina mengingatkan Bintang.


"Dipa ga suka jengkol Neng, percuma nanti ga akan dimakan " Mama Niken menatap was-was kearah Bintang khawatir Bintang akan mendapat amukan dari Dipa.


"Aku coba dulu ya Mah, kali saja Mas Dipa suka " kekeh Bintang.


"Nekad Lo " Dina geleng-geleng kepala dengan kenekadan Bintang.


"Kalau Dipa tidak mau makan jangan marah Lo..Mama sudah kasih tahu kalau Dipa tidak suka jengkol " Mama Niken mengingatkan Bintang untuk yang terakhir kalinya.


"Tau nih punya kakak ipar nekad banget, cari masalah kerjaannya" sungut Dina namun tidak membuat Bintang mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor Dipa.


"Sudah biarkan saja " ucap Papa Ardi.


"Mama khawatir Dipa marah dan nanti mereka malah berantem " ujar Mama Niken menatap mobil Bintang yang mulai melaju menuju ke kantor Dipa.


"Dasar keras kepala " Dina bersungut-sungut.


Tepat memasuki waktu makan siang Bintang tiba di kantor Dipa. Beruntung Bintang datang tepat waktu sebelum Dipa pergi keluar untuk makan siang.


"Selamat siang suamiku yang ganteng !" sapa Bintang membuat Dipa yang sedang membereskan berkas langsung mengangkat kepalanya dan senyum pun langsung mengembang begitu mendapati Neng geulis nya sudah ada di hadapannya.


"Tumben Neng geulis mau mampir kesini ?" tanya Dipa sambil melambaikan tangannya menyuruh Bintang untuk mendekat kepadanya yang sedang duduk diatas kursi kebesarannya.


Bintang meletakan kotak makan yang dibawanya di meja kemudian mendekat dan langsung duduk manis di pangkuan Dipa.


"Ada angin apa Neng geulis mau kesini hmm ?" tanya Dipa sambil mengendus leher Bintang.

__ADS_1


"Aku mau mengantarkan makan siang untuk kamu " jawab Bintang sambil tersenyum.


Mata Dipa sedikit menyipit, entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak enak.


"Bawa apa Neng ?" tanya Dipa.


"Kamu lihat saja sendiri " Bintang turun dari pangkuan Dipa kemudian menarik tangan Dipa untuk duduk di sofa dan makan bersama.


"Argh..jengkol " Dipa menepuk jidatnya ketika wangi khas itu mulai tercium saat Bintang membuka kotak makannya.


"Ayo dimakan dong Mas..ingat kamu sudah janji dan janji itu harus ditepati " bujuk Bintang.


Dipa tampak pasrah ketika Bintang duduk dipangkuan Dipa dan menyuapi pria itu.


"Buka mulutnya yang lebar..aaaaa !" titah Bintang.


Tidak ingin membuat Neng geulisnya murka Dipa pun membuka mulutnya dan membuat makanan dengan bai yang khas itu masuk ke mulutnya. Dengan ragu Dipa mengunyahnya dan mulai merasa sensasi rasa yang enak di mulutnya.


"Gimana Mas..enak tidak ?" tanya Bintang.


"Kalau rasa sepertinya aku suka, tapi aku tidak terlalu suka baunya Neng " jawab Dipa sambil kembali membuka mulutnya minta diisi.


"Justru itu nikmatnya Mas " ujar Bintang sambil terus menyuapi Dipa makan. Namun definisi nikmat menurut Dipa sebetulnya berbeda dengan Bintang.Nikmat yang Dipa rasakan adalah karena makan dengan disuapi oleh Neng geulisnya apalagi wanita cantik itu dengan santainya duduk di pangkuannya bukan karena jengkolnya.


Tanpa terasa Dipa pun sudah menghabiskan makanan yang Bintang bawa dan menyisakan bau yang khas di mulut pria tampan itu.


"Gimana, enak ga makanannya ?" tanya Bintang.


"Hhmmm..enak " jawab Dipa sambil iseng mengelus paha Bintang.


"Tapi mulut kamu jadi bau jengkol " ujar Bintang sambil terkikik.


"Gimana cara menghilangkan baunya Neng ? sebentar lagi aku ada meeting " tanya Dipa.


" gosok gigi saja, terus makan permen " jawab Bintang.


Dipa menurunkan Bintang dari pangkuannya untuk menggosok giginya. Setelah selesai Dipa pun mengunyah permen sesuai anjuran dari Bintang.


"Masih bau ga Neng ?" tanya Dipa sambil menghembuskan nafasnya di wajah Bintang.


"Masih bau Mas " jawab Bintang. Mereka pun terlihat bingung. Jika saja Bintang tahu kalau hari ini Dipa ada meeting pasti ia tidak akan memaksa Dipa untuk makan jengkol .


Karena masih tidak percaya diri dengan bau mulutnya akhirnya Dipa pun meeting dengan menggunakan masker.

__ADS_1


"Aku meetingnya sebentar, kamu tunggu disini ya !" perintah Dipa sebelum pergi ke ruang meeting.Bintang mengangguk sambil menahan senyumnya melihat Dipa yang terpaksa menggunakan masker disaat meeting.


__ADS_2