
Elsa tampak terpekur disisi jenazah Mamanya. Kerudung hitamnya tidak dapat menutupi matanya yang sembab karena tidak berhenti menangis.
"Kami turut berduka ya Mbak " ucap Bintang sambil mengusap bahu Elsa yang terus menangis.
"Terimakasih kalian sudah datang " jawab Elsa lirih. Meskipun berusaha tegar namun tangis Elsa akhirnya kembali pecah dalam pelukan Dipa.
"Yang sabar, Mama sudah tenang dan tidak merasakan kesakitan lagi " Dipa mengusap punggung Elsa yang berada dalam pelukannya. Dan tubuh Elsa semakin terguncang dalam pelukan Dipa.
Bintang mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok suami Elsa yang tidak terlihat batang hidungnya, sepertinya suami baru Elsa itu memang tidak ada disana.
Dipa dan Bunga terus mendampingi Elsa sampai proses pemakaman selesai. Sampai pemakaman selesai suami Elsa benar-benar tidak ada disamping Elsa yang sedang berduka.
Karena Langit yang mulai rewel akhirnya Bintang meminta ijin untuk pulang duluan ke hotel.
Awalnya Dipa keberatan karena ia tidak mungkin meninggalkan Bunga bersama Elsa tanpa dirinya. Dan sepertinya Elsa juga belum mau melepaskan Bunga. Kehadiran Bunga sedikit menjadi pelipur dikala lara bagi Elsa.
"Bundaa..aku ngantuk " Langit mulai merengek lagi.
Dipa terlihat bingung, satu sisi ia ingin pulang ke hotel bersama Bintang namun ia juga tidak tega meninggalkan Elsa yang sedang berduka.
"Kamu tidak keberatan kan kalau aku dan Bunga disini dulu sampai sore ?" tanya Dipa.
Bintang tidak menjawab namun ia langsung pamit kepada Elsa untuk kembali ke hotel.
Bintang hendak memesan taksi namun Dipa mengikuti dan mencekal tangannya. " Aku antar kalian dulu ke hotel " ucap Dipa sambil menggendong Langit ke mobilnya.
"Aku dan Bunga akan menemani Elsa dulu, kasian dia sendirian " ucap Dipa sambil membetulkan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Emang suaminya kemana sampai kamu yang harus mendampingi dia ?" tanya Bintang, ada ketidak sukaan dalam nada bicaranya.
"Suaminya baru menjalani oprasi usus buntu dua hari yang lalu di Australia jadi belum bisa pergi kemana-mana karena sedang dalam masa pemulihan " jawab Dipa.
Bintang tidak menjawab apapun, bahkan sampai ia turun dari mobil sambil menggendong Langit yang sudah tertidur ia tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Dipa.
__ADS_1
Bintang memilih langsung masuk ke hotel meninggalkan Dipa yang tampak termenung kebingungan di mobilnya.
Setelah mengantarkan Bintang dan Langit ke hotel Dipa pun kembali ke rumah duka karena Bunga masih ada disana bersama Elsa.
Meskipun masih kecil namun Bunga juga terlihat sangat bersedih karena kehilangan Eyang Utinya. Walau bagaimanapun Bunga adalah cucu satu-satunya dan hampir semua orang menanyakan Bunga. Jadi tidak mungkin Dipa membawa pulang Bunga ke hotel ataupun meninggalkan Bunga sendirian bersama Elsa meskipun dengan resiko mendapat kemarahan dari Bintang.
Dipa yang berjanji akan pulang pada sore hari kenyataannya belum kembali sampai hari mulai gelap.
Di rumah Elsa masih kedatangan banyak tamu dan Elsa belum mau melepaskan Bunga, sedangkan Bunga sendiri tidak mau ditinggal oleh Ayahnya membuat Dipa menjadi dilema dan akhirnya Dipa pun terpaksa menginap.
Dipa dan Bunga kembali ke hotel keesokan harinya. Setibanya di kamar hotel mereka tidak menemukan Bintang dan Langit disana.
Dipa yang merasa tidak enak hati kepada Bintang berusaha menghubungi istrinya itu namun tidak diangkat.
Dipa memijit pelipisnya, ia yakin jika Bintang sedang marah kepadanya karena telah ingkar janji. Dipa tidak menepati janjinya untuk pulang sore dan malah menginap.
"Ayah..Bunda dan Langit kemana ?" tanya Bunga karena tidak menemukan dua orang kesayangannya.
Tidak sampai satu jam Bintang dan Langit pun pulang. Bintang kaget karena Bunga dan Dipa sudah ada di kamar.
"Kakak Bunga kapan pulang ? aduh maaf Bunda tidak belikan makanan untuk kakak Bunga..Bunda pikir kakak Bunga masih di rumah Mommy Elsa " ujar Bintang.
"Tidak apa-apa Bun..aku sudah makan tadi sama Mommy. Tapi Ayah belum makan..Ayah menolak ketika Mommy menawari makan " oceh Bunga.
Dipa memang menolak ketika Elsa menyuruhnya makan. Ketakutan Bintang marah membuat Dipa tidak bisa menelan makanan apapun.
"Langit sudah makan Sayang ?" tanya Dipa sambil mengangkat tubuh montok putranya dan menciumi pipinya yang bulat menggemaskan.
"Sudah tadi makan bubur ayam sama Bunda " jawab Langit.
"Kenapa Ayah tidak dibelikan ? Ayah juga kan lapar belum makan " tanya Dipa sengaja menyindir Bintang. Langit hanya menggedikan bahunya tidak tau harus menjawab apa.
"Bukan tidak dibelikan tapi siapa yang tau kalau kamu akan pulang, aku pikir kamu masih akan berada disana sampai besok " Bintang balas menyindir Dipa.
__ADS_1
Dipa tidak menjawab apapun, pria itu berusaha bersabar menghadapi sindiran dari Bintang meskipun Bintang sudah mulai menabuh genderang perang.
Tidak ingin meladeni Bintang yang sedang meradang, Dipa pun memilih tidur setelah semalaman ia kurang tidur karena banyaknya pelayat yang terus datang ke rumah Elsa.
Di Hari ketiga mereka kembali ke Jakarta. Setibanya di Jakarta Dipa langsung pergi ke kantornya karena ada pertemuan dengan kliennya yang tidak dapat ditunda.Sementara Bintang dan anak-anak beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.
Tiga hari berada di Surabaya meninggalkan cukup banyak pekerjaan, Dipa hari ini sampai harus lembur karena pekerjaan yang menumpuk yang harus segera ia selesaikan.
Karena kesibukannya itu Dipa sampai melupakan niatnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Bintang yang sedikit renggang. Mereka memang belum kembali akur sejak kembali dari Bandung, ditambah kejadian di Surabaya membuat ia dan Bintang belum berkomunikasi seperti biasanya.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam ketika Dipa sampai di rumah setelah bertemu salahsatu klien yang ingin ditemui secara pribadi di rumahnya. Beruntung pertemuan itu menghasilkan proyek kerjasama yang bernilai cukup besar sehingga rasa lelah yang Dipa rasakan dapat terbayar.
Namun ketika sampai di rumah wajah Dipa berubah menjadi muram karena ia masih menemukan wajah cemberut dari Neng geulisnya.
Meski mengantuk namun Bintang menyempatkan menyiapkan satu set piyama untuk Dipa sebelum ia kembali tidur.
Dipa membersihkan tubuhnya dengan air hangat dan memakai piyama nya sebelum ia merebahkan tubuhnya disebelah Bintang yang tidur memunggunginya.
Sebetulnya Dipa ingin sekali tidur sambil memeluk Bintang, namun sepertinya Bintang pasti akan marah jika Dipa nekad melakukannya.
Setelah Bintang tertidur pulas barulah Dipa merangseg merapat kearah Bintang kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
"Neng..aku kangen " bisiknya.Dipa akhirnya dapat tertidur setelah memeluk dan mencium aroma tubuh Bintang yang wangi.
Keesokannya begitu membuka matanya Bintang langsung murka begitu menyadari jika ia sedang berada dalam pelukan Dipa.
"Ih..sana kamu jauh-jauh..suruh siapa kamu peluk-peluk aku " Bintang meronta dan melepaskan diri dari pelukan Dipa.
Dipa tampak kaget ketika Bintang ngomel-ngomel dan memukulinya agar melepaskan nya. Ternyata Bintang masih menyimpan kemarahan kepadanya.
Dalam setengah sadar Dipa masih sempat mendengar sepotong omelan Bintang.." Sana..peluk saja mantan istri kamu itu !" sungutnya sebelum keluar dari kamar.
Ternyata Neng geulisnya sedang cemburu kepada Elsa.. sudut bibir Dipa diam-diam menyungging senyuman samar.
__ADS_1