
Setelah hampir seharian tidak mau turun dari gendongan Dipa, pada sore harinya Langit baru mau turun dan ikut bermain dengan Bunga dan Lana. Sejauh ini hanya Papa Ardi yang sudah berhasil mengambil hati Langit. Terbukti Langit sudah mau duduk dalam pangkuan Papa Ardi. Sedangkan kepada Mama Niken, langit masih bersikap antipati. Langit terlihat langsung marah ketika Mama Niken ikut duduk di dekatnya dan mencoba mendekatinya.
"Oma juga kan ingin ikutan main sama Langit " ujar Mama Niken memasang wajah sedih.
"Oma mainnya sama itu saja " Langit menunjuk pada Dina.
"Tidak mau..Oma bosan main sama Aunty Dina abisnya Aunty Dina nakal " Mama Niken menumbalkan Dina.
"Kalau begitu Aunty Dina suruh main sama Bunda saja " saran Bunga.
"Bunda juga tidak mau main sama orang yang nakal " jawab Bintang.
Sebetulnya Bintang tidak ada maksud menyindir , Bintang hanya mengikuti ucapan Mama Niken sebelumnya namun siapa sangka Dina langsung tersinggung.
"Kenapa sih kalian jadi memojokkan aku..aku akui kalau aku memang ga bener tapi setidaknya jangan memojokkan seperti itu apalagi di depan anak-anak " ucap Dina kesal.
"Siapa yang memojokkan kamu ? orang aku cuma ngikutin ucapan Mama..lagian waktu Mama yang bilang kamu biasa saja tapi giliran aku yang bilang kenapa kamu marah " jawab Bintang.
"Ucapan Mama itu candaan, tapi ucapan kamu itu sindiran, aku tau kamu itu dendam sama aku " jawab Dina.
"Na..!" Leon merangkul pundak Dina untuk meredakan kemarahan nya.
"Mantan pacar kamu itu masih dendam sama aku " jawab Dina.
"Jaga ucapan kamu !" bentak Dipa.
"Berantem nya sana yang jauh jangan di dekat anak-anak..kalian itu malah kasih contoh yang tidak baik pada anak-anak " omel Papa Ardi mengusir kedua wanita yang sedang berseteru itu.
Dipa dan Leon membawa Bintang dan Dina menjauh agar anak-anak tidak melihat pertengkaran ibu-ibu mereka.
"Oma..kenapa Bunda dan Aunty Dina berantem ?" tanya Bunga setelah Dipa dan Leon membawa kedua wanita yang sedang berseteru itu pergi.
"Mereka hanya salah faham, nanti juga baikan " jawab Mama Niken.
Dipa membawa Bintang masuk ke kamar begitu juga dengan Leon.
__ADS_1
"Aku cuma mengikuti ucapan Mama kenapa dia jadi marah ? keliatan banget adik kamu itu tidak suka sama aku..buktinya candaan Mama dan aku diartikan berbeda " sungut Bintang.
"Mungkin selama ini hanya kamu yang bermasalah sama Dina, jadi Dina menanggapinya negatif " jawab Dipa.
"Dasar adik kamu itu nyebelin, dari dulu nyebelinnya ga ilang -ilang.. pake bilang aku masih dendam lagi sama dia " sungut Bintang.
"Tapi aku juga lihatnya begitu Neng, kamu itu masih kelihatan judes sama Dina " ujar Dipa jujur.
"Habisnya adik kamu itu nyebelin " bela Bintang.
"Kalian itu kalau sedang berantem seperti anak kecil tau " ujar Dipa sambil mencubit ujung hidung Bintang dengan gemas.
"Seharusnya tadi aku biarkan saja kalian bertengkar..lucu juga lihat dua orang ibu bertengkar " lanjut Dipa sambil terkekeh.
"Tidak lucu..kamu anggap kami tontonan apa " sungut Bintang.
"Kalau tidak mau jadi tontonan ya jangan bertengkar " perintah Dipa tegas. Bintang pun langsung diam dengan wajah ditekuk.
"Neng..aku itu inginnya kalian akur dan saling menyayangi. Dina itu adik aku itu artinya adik kamu juga " nasehat Dipa.
"Neng !!" omel Dipa.
"Iya.. iya..adik kamu berarti adik aku juga. Jadi aku berhak dong ngasih pelajaran sama adik kamu yang kurang ajar itu " jawab Bintang.
"Neng !!" omel Dipa lagi. Bintang pun langsung diam.
"Sini biar marah nya hilang " Dipa menarik tangan Bintang hingga wanita cantik yang sedang cemberut itu terjatuh tepat diatas pangkuan Dipa.
"Jangan bilang kamu belum move on dari Leon " Dipa mengunci pinggang Bintang dan menatap Bintang dalam.
"Enak saja..aku sudah tidak ada rasa sama dia " jawab Bintang jujur.
"Kalau sudah move on harusnya kamu memaafkan kesalahan mereka Neng " nasehat Dipa.
"Memaafkan?..orang mereka juga tidak pernah minta maaf " jawab Bintang.
__ADS_1
Dipa tertegun, sepertinya ia sudah mendapatkan point' penting dalam perseteruan Dina dan Bintang yaitu Dina dan Leon belum meminta maaf kepada Bintang.
"Nanti aku suruh mereka minta maaf sama kamu " ujar Dipa.
"Ngapain kamu suruh mereka minta maaf ? itu artinya mereka mau minta maaf karena kamu yang suruh bukan atas niat mereka sendiri " protes Bintang. Ucapan Bintang ternyata ada benarnya juga.
"Jadi kamu baru mau memaafkan kalau Dina dan Leon sudah minta maaf sama kamu ?" tanya Dipa.
"Ya..mungkin " jawab Bintang ngambang.
"Neng !" Dipa tidak suka dengan jawaban Bintang.
"Iya..iya..kenapa kamu jadi galak begini sih ? " Bintang protes sambil beranjak dari pangkuan Dipa namun ditahan oleh Dipa.
"Aku inginnya kamu menerima Dina dengan segala kesalahannya seperti kamu juga menerima aku dengan segala kesalahan aku " pinta Dipa sambil menatap Bintang lembut. Bintang pun mengangguk.
Perlahan Dipa mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung mereka beradu, selanjutnya Dipa memiringkan sedikit wajahnya untuk menyapukan bibir kenyalnya di bibir mungil Bintang.
Bintang tidak menolak, gadis cantik itu menyambutnya dengan membuka sedikit bibirnya agar Lidah Dipa dapat menelusup disela-sela rongga mulutnya. Suara decapan bibir keduanya terdengar jelas di kamar yang cukup luas itu.
Bintang mengalungkan kedua tangannya di leher Dipa membuat ciuman mereka semakin dalam. Dipa sejenak melepaskan tautan bibir mereka dan memperbaiki posisi duduk Bintang agar mengangkang diatas pangkuannya dan kemudian mereka pun kembali saling menautkan bibir. Kedua tangan Dipa mencengkram bokong Bintang dan menggerakkan maju mundur. Meskipun mereka masih berpakaian lengkap namun Bintang dapat merasakan jika bagian bawah tubuh Dipa yang ia duduki sudah sangat menegang.
Luma tan bibir Dipa kini berpindah ke leher dan berhenti di depan gunung kembar Bintang. Bintang terkikik sambil menjambak rambut Dipa ketika Dipa melahap kedua bukit kembarnya bergantian.
Namun tidak lama kemudian mereka buru-buru saling melepaskan diri ketika terdengar suara tangis Bunga dari depan pintu kamar.
Bintang buru-buru turun dari pangkuan Dipa dan beranjak menuju pintu. Di luar Papa Ardi sedang menggendong Langit sambil menuntun Bunga yang sedang menangis.
"Loh kakak kenapa menangis ?" tanya Bintang.
"Biasaa..berantem sama Lana berebut mainan " jawab Papa Ardi.
Di depan kamar Dina, Mama Niken juga sedang mengantarkan Lana yang sedang mengadu kepada Dina sambil menangis.
"Ga ibunya ga anaknya pada berantem " ujar Dipa pelan.
__ADS_1