Istri Simpanan

Istri Simpanan
Kemarahan Daniel


__ADS_3

Setelah Dina mengembalikan perhiasan itu kepada Bintang, keesokannya Dina dan Bintang pergi untuk membeli perhiasan sebagai gantinya sambil membawa anak-anak jalan-jalan.


Bintang meninggalkan Dipa yang masih terlihat menyimpan kemarahan kepadanya. Bintang tidak sempat memberitahu jika Dina sudah mengembalikan perhiasan itu kepadanya karena Dipa semalam memilih tidur di sofa.


Setelah anak-anak selesai bermain mereka masuk ke toko perhiasan. Bintang membiarkan Dina memilih sendiri satu set perhiasan yang ia inginkan.


Setelah mendapatkan perhiasan yang diinginkannya mereka pun pulang. Di rumah Dipa yang masih kesal tampak sengaja mendiamkan Bintang.


Siang itu Dipa dan Bintang terpaksa pamit pulang karena Bik Asih mengabari jika ada Daniel yang berkunjung ke rumah mereka.


Dipa dan Bintang meninggalkan Langit dan Bunga yang masih betah di rumah Mama Niken.


Sepanjang perjalanan Dipa tidak berbicara dengan Bintang dan memilih fokus menyetir. Bintang sadar jika Dipa masih kecewa karena masalah perhiasan itu.


"Yang..aku minta maaf " ucap Bintang singkat sambil menunduk dan meremas jemarinya sendiri.


Hanya segitu saja ucapan permintaan maaf dari Bintang? benar-benar tidak kreatif..tapi tunggu, kalau tidak salah Dipa barusan mendengar Bintang memanggilnya 'Yang '


Setelahnya Bintang tidak mengatakan apapun lagi termasuk kalimat permohonan yang diam-diam ingin Dipa dengar lebih banyak dari bibir Bintang.


"Aku sudah membelikan perhiasan yang lain untuk Dina sebagai pengganti perhiasan dari kamu " ucap Bintang tanpa berani menatap kearah Dipa.


"Kamu meminta kembali dari Dina ?" tanya Dipa dingin.


Meskipun ia kecewa karena perhiasan pemberiannya diberikan kepada Dina namun Dipa tidak setuju jika Bintang mengambil lagi barang yang sudah diberikan kepada orang lain.


"Bukan aku yang meminta tapi Dina yang mengembalikannya karena dia tidak sengaja mendengar kita bertengkar " jawab Bintang masih menunduk.


Meskipun perhiasan itu sudah kembali ke tangan Bintang namun tidak membuat Dipa serta merta melupakan kekesalannya kepada Bintang.


Dipa sengaja mengabaikan Bintang untuk memberi pelajaran kepada Neng geulis nya itu untuk tidak bersumbu pendek dan lebih menghargai pasangannya, meskipun dalam hati kecil Dipa merasa tidak tega melihat Bintang yang terus menunduk sambil meremas ujung bajunya.


Setibanya di rumah mereka disambut wajah kelam Daniel yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Kapan da..." Dipa tidak melanjutkan sapaannya ketika Daniel tiba-tiba meraih kerah baju Dipa dengan kasar dan melayangkan satu pukulan ke wajah Dipa." Brengsek Lu berani-beraninya mengkhianati adik gw "


"Kakaaak..jangan pukul !" Bintang yang berada di belakang Dipa berusaha mencegahnya namun satu pukulan terlanjur mampir di wajah tampan Dipa.

__ADS_1


"Kenapa Lu tiba-tiba pukul gw ?" Dipa hendak melayangkan pukulan balasan namun ia urungkan ketika Bintang berdiri ditengah-tengah sambil merentangkan kedua tangannya.


"STOP..JANGAN BERKELAHI !!" seru Bintang.


"Kakak kamu yang mulai duluan tiba-tiba memukul aku tanpa alasan " Dipa menunjuk kearah Daniel.


"Alasan gw mukul Lo adalah karena Lo udah selingkuhin adik gw "


"Selingkuh ?.. jangan-jangan Lu yang ngadu ke Bintang kalau gw kemarin jalan sama cewek ?" tanya Dipa.


"Iya.gw lihat dengan mata kepala gw sendiri kalau Lo jalan sama cewek " aku Daniel.


"Kakak..ini semua salah paham. Mas Dipa sudah menjelaskan semuanya sama aku.. Mas Dipa tidak selingkuh " Bintang berusaha meredakan emosi kakaknya.


Bintang membawa kedua pria tampan yang sedang saling pandang dengan sorot permusuhan itu duduk dengan Bintang berada diantara keduanya.


Dipa mengusap hidungnya yang sakit akibat mendapat pukulan dari Daniel.


"Kemarin itu Mas Dipa meminta sekertaris nya untuk membantu memilihkan hadiah untuk aku " Bintang menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.


"Gw cuma melindungi adik gw " jawab Daniel tanpa merasa bersalah.


"Melindungi adik lu dengan menjadikan dia janda gitu ?" sindir Dipa.


"Gw cuma mukul lu sekali gw rasa ga akan bikin lu meninggal " bela Daniel.


"Sudah..sudah..berhenti bertengkar nya " seru Bintang yang menjadi pusing sendiri mendengar perdebatan dua pria di kiri dan kanannya.


"Lu nyari kado buat Bintang sama cewek..ya wajar gw punya pikiran buruk sama Lu "


"Gw sengaja ngajak dia karena dia kan perempuan jadi kemungkinan memiliki selera yang sama " Dipa memberi alasan..selain itu Dipa juga mengikuti saran Felix untuk membawa Amira pada saat membeli perhiasan itu.


"Sebaiknya kakak minta maaf sama Mas Dipa karena ini semua salah faham !" pinta Bintang sambil menatap kakaknya.Daniel diam tidak bergeming.


"Kaaak !" panggil Bintang.


"Baiklah..gw minta maaf karena sudah salah sangka sama lu " Daniel mengulurkan tangannya dan Dipa pun menyambutnya.

__ADS_1


Bintang terlihat lega setelah melihat kedua pria itu saling bersalaman, walaupun itu tidak membuat sikap Dipa menjadi lebih hangat padanya.


Sebetulnya hari itu Daniel sengaja datang ke rumah Bintang karena kangen kepada kedua keponakannya, namun karena Langit dan Bunga sedang menginap di rumah Opa dan Omanya akhirnya Daniel pun tidak jadi menginap dan langsung berangkat ke Bandung untuk urusan bisnis.


Setelah kepergian Daniel, Dipa dan Bintang tidak kembali ke rumah Mama Niken. Mereka membiarkan Bunga dan Langit tidur disana tanpa mereka.


Bintang pikir setelah ia dan Daniel meminta maaf Dipa akan kembali luluh, tapi nyatanya tidak. Dipa langsung masuk ke kamar kerjanya dan tidak keluar lagi sampai Bintang tertidur.


Bintang yang terbangun keesokannya baru sadar jika semalam Dipa tidak tidur bersamanya.


Hati Bintang terasa teriris ketika pagi itu Bintang mendapati Dipa sedang meringkuk di sofa di kamar kerjanya.


Bintang sengaja tidak membangunkan Dipa, ia memilih pergi ke dapur untuk membuat sarapan bersama Bik Asih.


Begitu sarapan siap suasana rumah mendadak ramai dengan kepulangan Bunga dan Langit. Mereka pulang bersama Papa Ardi dan Mama Niken.


"Baru beres masak ya Neng, kebetulan Papa sedang ingin numpang sarapan disini " Papa Ardi mencomot sepotong perkedel kornet dari piring saji.


"Papa dan Mama makan duluan saja, kalau bareng Mas Dipa lama..dia pasti bangunnya siang " Bintang menyiapkan piring untuk mertuanya dan anak-anak.


Bintang menemani mertuanya yang makan dengan lahap sementara Bintang sendiri tidak makan, Bintang sibuk menyuapi Bunga dan Langit yang ingin makan disuapi oleh Bintang.


"Kalian itu tumben manja banget, biasanya juga makan sendiri " Papa Ardi menatap Bunga dan Langit yang terlihat berbeda menurutnya terutama Bunga.


Papa Ardi dan Mama Niken yang merawat Bunga dari kecil sangat tau jika Bunga termasuk anak yang mandiri, namun akhir-akhir ini Bunga terlihat sangat manja kepada Ayah dan Bundanya.


"Habisnya kalau makan disuapin Bunda itu rasanya lebih enak " jawab Bunga dengan mulut penuh makanan.


"Mana ada begitu kak..ya sama saja " Bintang terkekeh menatap wajah Bunga yang cengengesan.


"Lana kenapa tidak diajak Mah ?" tanya Bintang.


"Lana mau ikut Dina dan Leon belanja susu hamil " jawab Mama Niken.


Mendengar apapun seputar kehamilan membuat hati Bintang mencelos. Jujur ia sebenarnya iri dengan kehamilan Dina.


Lamunan Bintang buyar dengan kemunculan Dipa yang baru bangun. Mama Niken dan Papa Ardi saling tatap ketika mereka sempat melihat Dipa keluar dari ruangan kerjanya dalam keadaan kusut. Mereka yakin jika Dipa semalam tidur disana dan mereka curiga jika Bintang dan Dipa sedang bertengkar.

__ADS_1


__ADS_2