Istri Simpanan

Istri Simpanan
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Setelah memasukkan semua kotak nasi kedalam mobilnya Daniel dan Amira yang hendak masuk kedalam mobil tertegun ketika Papa Daniel tiba-tiba memanggilnya.


"Niel tunggu !"


"Ada apa Pah ?" tanya Daniel sambil mengerutkan dahinya.


"Papa ikut !" jawab Papa Daniel langsung naik kedalam mobil dan duduk di kursi sebelah kemudi.


"Ikut kemana Pah ? aku cuma mau nganterin nasi kotak ini ke rumah Amira " tutur Daniel.


"Ikut saja " jawab Papa David santai.


Amira dan Daniel pun masuk kedalam mobil. Amira duduk di kursi penumpang di belakang.


"Papa ganggu tauk !" ucap Daniel setengah berbisik kepada Papanya.


"Cepetan jalan !" perintah Papa Daniel tanpa mengindahkan aksi protes putranya.


Daniel melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Amira. Gadis berkerudung itu tampak duduk malu-malu di kursi belakang.


Amira sudah beberapa kali diantarkan pulang oleh Daniel, namun baru kali ini ia berada satu mobil dengan Papanya. Keberadaan Papa Daniel membuat Amira salah tingkah.


Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak mengobrol, hanya sesekali saja Amira menjawab pertanyaan dari Papa David.


Setelah sampai di rumah Amira, Daniel menurunkan puluhan nasi kotak dan langsung dibagikan kepada anak-anak yang kebetulan baru selesai belajar mengaji yang bertempat di bangunan yang ada di samping rumah Amira.


Papa David sebetulnya tidak berniat untuk turun dari mobil, namun ketika melihat puluhan anak yang baru selesai mengaji keluar dari rumah Amira membuat Papa David terkagum-kagum.


Papa David turun dari mobil kemudian menghampiri Ayah Amira untuk menyapanya.


Daniel dan Amira tampak salah tingkah karena tidak menyangka jika Papa David malah berniat untuk mampir dan hendak menyapa Ayah Amira.


Ayah Amira yang baru selesai mengajar mengaji tertegun ketika melihat Papa David tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Masa Alloh..David ?" Ayah Amira melongo menatap tak percaya kearah Papa David.


Daniel dan Amira terpaku ketika melihat Papa David dan Ayah Amira tiba-tiba saling berpelukan.

__ADS_1


"Abas..awalnya aku ragu, ternyata ini benar kamu " Papa David menepuk-nepuk punggung Ayah Amira.


"Jadi Daniel ini anak kamu Vid ?" tanya Ayah Amira.


"Iya..dia anak yang dulu pernah kamu gendong-gendong kalau kamu mampir pulang kerja " jawab Papa David.


"Kenapa sekarang seperti preman ?" tanya Ayah Amira membuat wajah Daniel merah seketika.


"Maklum Bas, setelah ibunya meninggal dia tumbuh tanpa perhatian seorang ibu..jadinya lost control .Tapi sekarang dia sedang masuk tahap pemulihan " jawab Papa David.


"Papa dan Ayahnya Amira sudah saling kenal ?" tanya Daniel.


"Kami dulu bekerja di tempat yang sama. Namun karena perusahaan tempat kami bekerja gulung tikar kami pun berpisah karena terkena phk " jawab Papa David.


"Aku tidak menyangka kalau selama ini Amira bekerja di perusahaan menantu kamu Vid " Abas terkekeh.


"Iya..aku juga tidak menyangka kita akan bertemu lagi setelah dua puluh tahun lebih berpisah " tutur Papa David.


Obrolan mereka terjeda dengan kedatangan Amira yang membawa nampan berisi minuman. Dibelakangnya tampak seorang wanita mengenakan gamis mengikuti dengan membawa piring berisi pisang goreng hangat.


"Bu.. masih ingat dia ?" Ayah Amira menunjuk kepada Papa David.


"Ternyata istri kamu masih ingat sama aku " David terkekeh.


"Mana mungkin aku lupa Bang, kalian kan dulu seperti amplop dan perangko..kemana-mana selalu berdua " jawab Ibu Amira.


Ayah dan Ibu Amira kehilangan kabar tentang David setelah mereka terkena phk dan istri David meninggal setelah melahirkan Bintang.


Abas dan istrinya hanya mendengar selentingan kabar jika David merantau ke Singapura dan menikah disana. Mereka pikir David tidak akan kembali lagi ke Indonesia.


David dan Abas mendominasi obrolan di ruang tamu itu. Amira dan Daniel tampak hanya menyimak sambil sesekali saling pandang dan saling melempar senyum.


Sebetulnya Papa David masih ingin berlama-lama mengobrol di rumah sahabat lamanya itu, namun demi mendengar suara rengekan Langit di teleponnya yang menanyakan Grandpa nya mau tidak mau Papa David pun langsung pamit pulang.


"Pulang yuk Niel, si Aa nangis nyariin Papa " Papa David mengajak Daniel pulang.


Dengan terpaksa Daniel pun menurut dan mereka pun langsung pulang.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Daniel masih merasa tidak menyangka jika Ayah Amira ternyata teman lama Papanya. Setelah mengetahuinya Daniel kepercayaan diri Daniel untuk mendekati Amira menjadi semakin tinggi.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri ?" tanya Papa David sambil melirik putranya.


"Kalau begitu Papa bisa bantu aku dong buat deketin Amira " jawab Daniel sambil nyengir.


"Kamu itu laki-laki Niel..usaha dong !" jawab Papa David.


"Susah minta tolong sama Papa..kalau begitu aku akan minta tolong sama Bintang dan Dipa saja. Aku yakin mereka pasti mau bantu " ujar Daniel kesal.


"Bukannya Papa tidak mau bantu Niel..tapi saran Papa benahi dulu prilaku kamu. Keluarga Abas itu keluarga santri..jadi kamu harus bisa memantaskan diri dulu sebelum mendekati Amira.Papa tidak mau sampai kamu jadi minder nantinya "


"Iya Pah " Daniel akhirnya bisa menerima alasan Papanya yang tidak mau membantunya mendekati Amira.


"Bagaimana kalau kamu mondok dulu di pesantren Niel ? " satu ide tiba-tiba melesat dikepala Papa David.


"Pesantren ? aku sudah tua Pah..sudah mau kepala tiga "


"Tidak ada batasan umur untuk belajar menjadi lebih baik, sepertinya satu tahun cukup untuk kamu mondok "


"Lalu bisnis aku gimana Pah ?" tanya Daniel.


"Kan ada Bintang, dia pasti tidak akan keberatan membantu mengelola bisnis kamu sampai kamu selesai mondok " jawab Papa David.


"Akan aku pikirkan dulu Pah " jawab Daniel.


"Jangan lama -lama mikirnya !"


"Iya..iya.." jawab Daniel.


Tidak lama kemudian mobil Daniel pun masuk di pekarangan rumah Bintang dan Dipa.


Kepulangan mereka disambut suara tangis Langit yang berada dalam gendongan Dipa.


"Tuh Grandpa nya pulang !" Dipa terlihat lega begitu melihat mertuanya muncul.


"Sepertinya Langit bosan sama Opa nya jadi dia milih Grandpa nya " tutur Papa Ardi yang tidak berhasil membujuk Langit agar berhenti menangis.

__ADS_1


"Maklum..Langit kan jarang bertemu dengan saya " jawab Papa David sambil mengambil Langit dari gendongan Dipa..dan tangis Langit pun langsung berhenti.


__ADS_2