Istri Simpanan

Istri Simpanan
Bukan Cadangan


__ADS_3

Wajah Bunga langsung terlihat kaget ketika melihat Bintang berdiri dibelakang Ayahnya.


"Bundaaa..Kaka sakit huwaa..huwaa " Bunga menangis kencang mengadu kepada Bintang.


Tanpa menghiraukan Mama Niken, Bintang langsung menghampiri Bunga dan merunduk untuk mencium kening bocah itu. Bintang masih merasakan jika suhu tubuh Bunga masih tinggi.


"Kenapa tidak mau makan ?" tanya Bintang. Tadi ia sempat melihat jika Bunga menolak disuapi oleh Mama Niken.


"Mulut nya pahit Bundaa " jawab Bunga.


"Tapi harus dipaksakan ya biar cepat sembuh " bujuk Bintang. Bunga pun mengangguk.


"Tapi aku ingin disuapi Bunda saja " pinta Bunga manja. Mama Niken buru-buru memberikan mangkuk bubur ditangannya kepada Bintang.


Bintang pun mulai menyuapi Bunga. Semua yang ada disana hanya memandang takjub pada interaksi antara Bunga dan Bintang.


"Mah..aku tinggal dulu ya, sebentar lagi ada jadwal operasi " pamit Leon. Mama Niken mengangguk.


"Bunda kenapa Langit tidak ikut ?" tanya Bunga sambil mengunyah buburnya.


"Anak kecil kan tidak boleh dibawa ke rumah sakit, jadi Bunda titipkan sama Mama Shanti dan Papa Rizal " jawab Bintang.


"Aku anak kecil boleh dibawa ke rumah sakit " sungut Bunga.


"Bunga kan sedang sakit Jadi harus diobati disini " Bintang menjawil ujung hidung Bunga membuat gadis kecil itu tertawa.


"Langit tidak akan nangis kamu tinggal ?" tanya Dipa.


"Tidak akan, dia sudah biasa sama Mbak Shanti dan Mas Rizal" jawab Bintang sambil terus menyuapi Bunga hingga bubur dalam mangkuk itu benar-benar habis.


Bintang yang sibuk menyuapi Bunga mengabaikan keberadaan Mama Niken disana.


"Neng..ada Mama " Dipa mencolek lengan Bintang untuk mengingatkan jika ada Mama Niken di ruangan itu.


Bintang tampak menatap Dipa ragu, Dipa mengerti perasaan Bintang . "Tidak usah takut ada aku " ucap Dipa.


Dipa menuntun Bintang untuk menyapa Mama Niken yang sedang duduk di sofa.


"Selamat siang Tante " sapa Bintang sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih sudah mau menengok Bunga " Mama Niken tidak dapat menyembunyikan rasa haru nya ketika Bintang mencium punggung tangannya.


"Langit di Bandung bersama siapa ?" tanya Mama Niken.


"Bersama Mbak Shanti dan Mas Rizal " jawab Bintang.


Meskipun suasana masih terlihat kaku namun Dipa merasa lega karena akhirnya Mamanya dan Bintang memiliki kesempatan bertemu dan mengobrol meski hanya singkat dan tidak ada keributan.


"Bundaaa..aku ingin pipis " Bunga merengek dari ranjangnya.


Bintang dan Dipa buru-buru menghampiri Bunga. Dipa menggendong tubuh mungil Bunga ke kamar mandi sementara Bintang memegang botol infusnya.


Bintang dengan telaten membantu bocah mungil itu menyelesaikan hajatnya dan memakai kan kembali celananya.


Setelah selesai Dipa kembali menggendong Bunga untuk dibaringkan di ranjangnya .


"Sekarang Bunga tidur ya " ucap Bintang.

__ADS_1


"Tidak mau " jawab Bunga.


"Kenapa tidak mau ? kan biar cepat sembuh "


"Nanti kalau aku tidur tau-tau Bunda pulang ke Bandung..iya kan ?" Bunga menatap Bintang.


"Tidak akan..Bunda akan menginap disini untuk menemani Bunga. Tapi kalau Bunga susah makan dan susah minum obat Bunda akan pulang sekarang juga " ancam Bintang.


"Iya deh..aku akan mau makan dan minum obat " jawab Bunga.


Kabar kedatangan Bintang ke rumahsakit akhirnya sampai ke telinga Papa Ardi. Setelah selesai rapat Papa Ardi buru-buru pergi ke rumah sakit. Papa Ardi harus memastikan jika istrinya benar-benar menjaga mulutnya di hadapan Bintang.


Begitu masuk ke ruang perawatan Bunga Papa Ardi terlihat lega karena suasana terlihat sangat kondusif.


Bintang tengah duduk di kursi tunggal di sisi ranjang Bunga dan Dipa berdiri di sebelahnya, sementara Mama Niken tampak sedang memilih menu makanan di aplikasi ponselnya.


"Tau Papa kesini Mama nitip beli makanan. Dipa dan Bintang sepertinya belum makan " ucap Mama pelan.


Menyadari kedatangan Papa Ardi Bintang pun menyapa nya dan mencium punggung tangan Papa Ardi seperti yang ia lakukan kepada Mama Niken.


"Terimakasih kamu sudah repot-repot mau datang kesini " ucap Papa Ardi.


"Tidak apa-apa Om " jawab Bintang.


"Mumpung Bunga sedang tidur sebaiknya kalian cari makan sana, biar Papa dan Mama yang jaga Bunga " ucap Mama.


Karena memang merasa lapar Dipa pun langsung mengajak Bintang makan di restoran yang berada di sebrang rumah sakit.


Setelah memesan makanan mereka kaget karena Leon pun ternyata sedang makan di tempat yang sama.


Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak makan bersama, meskipun sedikit canggung namun Bintang, Dipa dan Leon akhirnya makan dalam satu meja.


"Baik " jawab Bintang singkat.


Bintang sebetulnya tidak nyaman berada satu meja dengan Leon namun ia tidak bisa menolak karena alasan kesopanan.


Dipa pun menyadari jika Bintang tidak nyaman dengan kehadiran Leon karena Dipa sudah mengetahui kisah masa lalu antara Bintang dengan Leon.


"Kamu belepotan Neng " Dipa mengusap ujung bibir Bintang yang terdapat noda saus dengan ibu jarinya. Leon yang melihatnya hanya menunduk sambil pura-pura fokus dengan makanannya.


Leon baru tau jika Dipa punya panggilan khusus untuk Bintang dan itu membuat hatinya sedikit iri. Dipa terdengar sangat mesra ketika memanggil Bintang 'Neng '


"Apakah Langit tidak masalah kamu tinggal Bi ?" tanya Leon.


"Langit itu anak yang mandiri, di Bandung dia tidak akan rewel bersama Mama dan Papanya" Dipa yang menjawab.


"Mama dan Papanya ?" dahi Leon mengernyit.


"Kakak angkat Bintang..Langit memanggil mereka Mama dan Papa " jawab Dipa.


Di meja itu hanya Leon dan Dipa saja yang terlihat mengobrol sementara Bintang tidak tertarik untuk berbicara dengan Leon.


Leon mempercepat makannya agar ia punya alasan untuk segera pergi dari hadapan Dipa dan Bintang karena Leon menyadari jika Bintang tidak suka ia ada di dekatnya.


"Aku masih ada jadwal operasi, jadi aku pulang duluan ya Mas..Bi " pamit Leon.


"Baiklah " jawab Dipa. Sementara Bintang hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


"Berapa lama dulu kalian pacaran ?" tanya Dipa setelah Leon pergi.


"Siapa ?" tanya Bintang pura-pura tidak tau.


"Kamu dan Leon ..siapa lagi " jawab Dipa.


"Aku lupa " jawab Bintang.


"Sepertinya hubungan kalian dulunya sangat serius ya..sampai sekarang kamu terlihat masih dendam sama Leon " tebak Dipa.


"Aku tidak mau membahasnya " jawab Bintang.


"Kenapa ? kamu masih belum iklas melepaskan Leon kepada Dina ?" sambar Dipa.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Mas ?" Bintang terlihat tidak suka dengan pertanyaan Dipa.


"Karena aku berpikir jika itu adalah salahsatu alasan kenapa kamu hingga sampai saat ini belum bisa membuka hati kamu untuk aku " jawab Dipa.


"Aku sudah iklas karena kami tidak berjodoh , dan aku sedang berusaha berdamai dengan keadaan makanya hari ini aku berada disini. Diantara orang-orang yang tidak menyukai aku " jawab Bintang.


"Tidak semua seperti itu Neng, Bunga membutuhkan kamu dan aku lebih lagi " ujar Dipa.


"Membutuhkan untuk cadangan " sindir Bintang sambil tersenyum kecut.


"Siapa Bilang ? you are the only one..Neng ! " jawab Dipa.


Bintang tersenyum kecut sambil membuang muka. " Emang aku percaya..kamu kemanain Mbak Elsa ? "


"Dia sudah pindah ke Australia bersama suami barunya " jawab Dipa.


"Kamu dan Mbak Elsa sudah bercerai ?" mata Bintang langsung melotot.


"Ya..aku memutuskan untuk memilih kamu dan sepertinya Bunga juga cocok dengan pilihan aku "


"Kenapa tidak bilang kalau kalian sudah bercerai ?" tanya Bintang.


"Kamu tidak pernah tanya " jawab Dipa santai. " Kamu itu istri yang tidak peduli kepada suami " Dipa pura-pura kesal.


"Mana aku tau kalau kamu itu duda " jawab Bintang.


"Aku bukan duda Neng..aku pria beristri tapi berasa duda " ujar Dipa.


Obrolan keduanya terputus ketika Mama Niken menelpon Dipa dan mengabari jika Bunga mengamuk mencari Bundanya.


"Kita harus segera kembali, Bunga mengamuk nyariin Bundanya " ucap Dipa sambil menuntun Bintang untuk kembali ke rumah sakit.


Setibanya di kamar perawatan Bunga, Mama Niken dan Papa Ardi sedang kewalahan meredakan tangis Bunga.


"Bundanya sudah datang , Bunga berhenti nangisnya ya !" bujuk Mama Niken begitu Bintang dan Dipa datang.


"Aku kira Bunda ninggalin aku pulang ke Bandung " tangis Bunga mulai mereda dalam pelukan Bintang.


"Tidak Sayang..Bunda habis cari makan, perut Bunda lapar " jawab Bintang.


"Kalau lapar kenapa tidak makan makanan punya aku saja ?" Bunga menunjuk kearah meja dimana disana tersedia aneka makanan kesukaan Bunga.


"Itu kan punya Bunga " jawab Bintang sambil mencubit pipi Bunga yang sedikit tirus.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa berbagi dengan Bunda " jawab Bunga.


__ADS_2