
Setelah tiga hari berlalu, Bintang tampak cemas menunggu Elsa mengabarinya untuk menjemput Bunga. Namun hingga hari mulai gelap Elsa masih belum menghubunginya juga.
"Mas..kenapa ya Mbak Elsa belum telpon juga ? padahal ini sudah tiga hari , seharusnya Bunga sudah pulang " Bintang mengelus kepala Dipa yang sedang menyusup didadanya.
"Coba kamu bel saja Elsa nya !" titah Dipa sambil anteng mere mas dada Bintang yang semakin montok saja sejak kehamilannya.
Bintang mengambil ponsel Dipa dan mulai menghubungi Elsa. Setelah cukup lama baru lah Elsa mengangkatnya.
Bintang cukup lama berbicara dengan Elsa entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun setelahnya wajah Bintang langsung terlihat murung.
"Kenapa Neng, Elsa barusan bilang apa ?" tanya Dipa sambil mengangkat kepalanya dari atas dada montok Bintang.
"Bunga dibawa ke Surabaya sama Mbak Elsa " jawab Bintang.
"Bunga dibawa ke Surabaya ?" Dipa langsung terlihat panik.
"Ternyata mereka hanya satu hari di Jakarta, mereka membawa Bunga ke Surabaya" jawab Bintang dengan mata merah menahan tangis.
Dipa mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Elsa, setelah beberapa saat Dipa tampak melemparkan ponselnya karena nomor Elsa tidak dapat dihubungi.
"Besok kita berangkat ke Surabaya untuk menjemput Bunga " ujar Dipa.
Dipa menyuruh Amira memesankan tiket penerbangan ke Surabaya secepatnya, sedangkan Bintang menyiapkan tas dan mengisinya dengan baju dirinya dan Dipa karena mereka tidak akan membawa Langit dan akan menitipkannya di rumah orangtuanya.
Biasanya hampir setiap malam Bintang dan Dipa selalu melakukan olahraga panas sebelum tidur, namun kali ini mereka tampak tidak berselera karena memikirkan Bunga. Bintang dan Dipa khawatir jika Elsa nekad akan menguasai Bunga membawa Bunga pergi jauh.
Sepanjang malam Bintang terus menangis dalam pelukan Dipa membuat mata wanita cantik itu bengkak.
Dipa berusaha menenangkan Bintang meskipun ia sendiri sangat gentar ditambah lagi rasa mual yang malah semakin sering ia rasakan.
Setelah berhasil membujuk Bintang tidur, Dipa beberapa kali pergi ke kamar mandi dan muntah-muntah.
Setelah memuntahkan isi perutnya akhirnya Dipa pun tertidur karena lemas. Dan keesokannya mereka pun terbang ke Surabaya untuk menjemput Bunga.
Setibanya di Surabaya Dipa dan Bintang langsung pergi ke rumah orangtua Elsa.
__ADS_1
Begitu memasuki rumah orangtua Elsa mereka disambut pelayan di rumah itu.
"Saya kesini mencari Elsa " ujar Dipa dengan wajah menahan marah.
Bintang mengelus punggung Dipa untuk meredam amarah suaminya. " Sabar mas " bisiknya.
"Mbak Elsa dan non Bunga sedang pergi ziarah ke makam Bapak dan Ibu " pelayan memberitahu jika Elsa sedang tidak ada di rumah
"Mereka sedang pergi ziarah Mas, sabar " bisik Bintang.
Selama Bintang dan Dipa menunggu mereka disuguhi makanan dan minuman, namun Dipa dan Bintang tampak tidak berselera makan. Bahkan Dipa tampak berusaha sekuat tenaga menahan rasa mual yang terasa seperti mengaduk-aduk perutnya.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Elsa dan suaminya pulang bersama Bunga yang tengah tertidur di gendongan suami Elsa. Dipa buru-buru mengambil alih Bunga.
Wajah Dipa tsmpak mengeras menahan amarah namun Bintang buru-buru meredakannya dengan menggenggam tangannya lembut.
"Kamu itu pelit sekali sampai menyusul kesini " cebik Elsa sambil duduk di sofa di depan Bintang dan Dipa.
"Seharusnya kamu bilang dulu kalau mau membawa Bunga. Jangan seenaknya saja membuat kita khawatir" omel Dipa dengan menahan suaranya agar Bunga tidak terbangun.
"Aku itu bukan membatasi kamu bertemu Bunga, tapi kamu janjinya hanya tiga hari jadi tentu saja aku khawatir saat sudah empat hari kamu belum.mengembalikan Bunga.
"Baru empat hari saja kamu sudah ngamuk-ngamuk, padahal sekalian saja aku bawa ke Australia " ujar Elsa bernada menantang.
"Sayang !" suami Elsa mengingatkan agar Elsa menjaga ucapannya agar tidak semakin membuat Dipa marah.
"Habisnya dia itu pelit sekali, padahal aku juga punya hak yang sama atas Bunga. Walaupun aku bukan ibu yang baik namun aku yang mengandung dan melahirkannya "
"Saya minta maaf karena sudah membawa Bunga kesini. Kemarin tiba-tiba saja kami ingin pergi ziarah ke makam orangtua Elsa dan kami langsung pergi tanpa minta ijin terlebih dahulu. Setelah sampai disini pun kami terlalu menikmati kebersamaan bersama Bunga sampai lupa memberitahu kamu " tutur suami Elsa.
"Seharusnya kalian mengabari kami dulu, jadi kami tidak khawatir" ujar Dipa masih dengan raut muka kesal.
"Iya kami memang salah jadi mohon dimaafkan " pinta suami Elsa .
Bintang tidak banyak bicara, melihat Bunga ada dihadapannya saja Bintang sudah sangat lega.
__ADS_1
"Aku akan bawa Bunga pulang sekarang " ucap Dipa sambil berdiri dan pamit, dengan menggerutu Elsa buru-buru menyiapkan tas Bunga dan memberikannya kepada Bintang.
Setelah berhasil membawa Bunga mereka pun memutuskan menginap semalam di sebuah hotel di Surabaya.
Bunga baru terbangun ketika mereka sudah sampai di kamar hotel dan terganggu dengan suara orang muntah-muntah di kamar mandi.
Bunga terlihat bingung ketika mendapati dirinya berada di kamar yang sangat asing. Namun ketika menajamkan pendengarannya Bunga terlihat bahagia karena ada Ayah dan Bundanya disana.
Bunga melihat Dipa sedang muntah-muntah dan Bintang sedang memijit tengkuk Dipa.
"Ayaaah..Bundaaa..!" panggil Bunga membuat Bintang dan Dipa langsung menoleh.
"Kakak sudah bangun ? maaf ya Ayah berisik jadi ganggu tidur kakak " pinta Dipa
"Tidak apa-apa " jawab Bunga sambil membantu Bintang memapah Dipa yang tampak sedang kepayahan kembali ke kasur mereka.
"Ayah sakitnya kenapa lama ? apa sebaiknya Ayah dibawa ke rumah sakit saja Bun ?" tanya Bunga menatap wajah Bintang.
"Setiap Bunda periksa kehamilan Ayah juga kan ikut dikasih obat sama dokternya" jawab Bintang.
"Haaah..A ayah hamil juga ?" Bunga melongo bingung.
Dipa yang sedang berbaring lemas tidak kuasa menahan tawanya begitu juga dengan Bintang membuat Bunga semakin bingung.
"Bukan Ayah hamil juga, Ayah hanya sedang mengalami sindrom couvade sayang. Jadi disaat Bunda hamil Ayah yang merasakan mual-mualnya..kata Ayah waktu Bunda hamil Langit juga Ayah mengalami mual dan muntah" Bintang berusaha menjelaskan.
"Apakah waktu hamil Kakak Ayah juga seperti itu ?" tanya Bunga.
"Tentu saja Sayang " jawab Dipa berbohong.
Dipa tidak mungkin mengatakan tidak. Padahal waktu Elsa hamil Dipa terlihat biasa saja, mungkin karena tidak adanya hubungan emosional diantara mereka. Tidak seperti kepada Bintang . Namun meskipun begitu Bunga tidak kekurangan kasih sayang dari Dipa sedikitpun.
"Oh begitu..kalau begitu memang lebih baik Ayah saja yang muntah-muntah nya jangan Bunda " ucap Bunga sambil memeluk Bintang.
"Kakaaak , kamu itu anak siapa sih kenapa tega sekali sama Ayah "
__ADS_1
"Bukan begitu Yah..tubuh Ayah kan lebih kuat daripada Bunda " jawab Bunga tidak ingin membuat Ayahnya marah.