Istri Simpanan

Istri Simpanan
Keguguran


__ADS_3

Setibanya di rumah Dipa dan Bintang saling pandang ketika mendengar ocehan Bunga dan Lana tentang pertemuan mereka dengan Amira.


"Kakak bertemu sekertaris nya Mas Dipa ?" Bintang langsung mencecar Daniel dengan pertanyaan.


"Bukan aku yang ketemu mereka tapi Bunga dan Lana " jawab Daniel santai.


"Ck..sama saja kak, jadi beneran kakak ketemu sama Amira ?" tanya Bintang lagi.


"Iya..cerewet sekali sih kamu "


"Bagaimana, cantik tidak Amira ?" kejar Bintang.


"Apaan sih dek ?" Daniel hendak menghindar dari cecaran pertanyaan Bintang.


"Neng..!" Dipa mengingatkan Bintang yang terlalu mengejar Daniel seperti penyidik yang sedang mengintrogasi penjahat.


"Aku cuma nanya Mas " jawab Bintang langsung cemberut.


"Daripada meladeni kamu lebih baik kakak tidur saja " Daniel beranjak ke kamar Langit karena ia selalu tidur sambil memeluk Langit jika sedang menginap. Sedangkan Lana dan Bunga langsung tertidur tanpa sempat membongkar belanjaan mereka. Malam ini Lana memang ingin menginap di rumah Bintang. Papa Ardi, Mama Niken,Dina dan Leon sudah pulang sebelum Bunga dan Lana pulang membeli mainan.


"Kenapa dengan Daniel ?" tanya Papa David.


"Kak Daniel baru saja bertemu cewek Pah " jawab Bintang setengah berbisik.


"Cewek, yang mana ?"


"Yang photonya pernah aku kasih lihat Pah " jawab Bintang.


Dipa hanya geleng-geleng kepala melihat usaha Bintang untuk menjodohkan Daniel dengan Amira sekertaris nya.


"Pokoknya semua serahkan sama aku " ucap Bintang.


"Iya..Papa serahkan semua sama kamu, sekarang Papa mau tidur dulu ngantuk " papa David meninggalkan Bintang dan Dipa untuk beristirahat di kamar yang menang disiapkan khusus untuknya.


"Kamu itu jangan terlalu memaksa Neng, kalau mereka tidak suka bagaimana?" omel Dipa.


"Ya namanya juga usaha " jawab Bintang sambil terkikik dan langsung loncat keatas pangkuan Dipa.

__ADS_1


"Neng..kamu itu sedang hamil jangan loncat-loncat seperti itu " omel Dipa.


"Maaf " cicit nya sambil merangkul leher Dipa. Dipa menyandarkan kepalanya memberi akses bibir Bintang menyusuri lehernya menghisap dan menggigitnya dengan gemas. Dipa tidak peduli meskipun ulah nakal Bintang itu akan meninggalkan banyak jejak di lehernya.


Dipa yang sudah mulai terbakar gairah mengajak Bintang ke kamarnya namun Bintang menolak.


"Aku mau disini saja Mas " rengeknya manja.


"Disini ada Papa dan Daniel, kalau mereka keluar kamar bagaimana ?" tanya Dipa dengan suara memburu karena mulai terbakar gairah.


"Maksudnya aku mau nonton tv disini sama kamu " jawab Bintang.


"Tapi dia kangen Neng " Dipa menuntun tangan Bintang untuk menyentuh juniornya yang sudah menegang menyesakkan celananya.


"Baiklah kita main dikamar " Bintang akhirnya mau diajak ke kamar.


Dipa mengangkat Bintang menuju ke kamar dan menurunkannya dengan hati-hati di atas kasur empuk mereka.


Dalam sekejap mata Dipa sudah meloloskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh Bintang dan melemparkannya entah kemana. Kemudian Dipa pun dengan cepat menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri hingga mereka benar-benar polos.


"Mas..kunci dulu pintunya !" titah Bintang. Ia takut kejadian tadi yang nyaris kepergok Bunga dan Langit terulang kembali. Dengan tubuh telanjang Dipa pun beranjak menuju pintu kemudian menguncinya.


Dipa menyangga bobot tubuhnya dengan kedua sikunya ketika ia mulai melu mat bibir Bintang dengan lembut. Bintang membalas setiap luma tan bibir Dipa sambil memeluk bahu kekar pria tampan itu.


Tidak bisa dipungkiri hampir satu Minggu Bintang tidak disentuh oleh Dipa dan ia sangat merindukannya.


"Ini diproduksi di Jeoang " ucap Dipa sambil mengelus perut Bintang dan menciuminya dengan lembut.


Bintang tersenyum sambil mengelus rambut tebal Dipa. "Kalau Langit diproduksi nya di penginapan ya Mas "


"Arggh..maaf Sayang " ucap Dipa penuh penyesalan.


Bintang sebetulnya tidak berniat membuat Dipa merasa tidak enak hati.Kini Bintang yang merasa tidak enak hati kepada Dipa. karena sudah merusak suasana.


Namun karena sudah terlanjur rindu mood Dipa pun dengan cepat kembali apalagi ketika merasakan dada Bintang yang semakin montok menempel tepat di dadanya.


Perlahan Dipa menurunkan kepalanya untuk melahapnya dengan rakus. Bintang melenguh sambil menggeliat kegelian ketika lidah Dipa mempermainkan puncaknya dan menghisapnya kuat.

__ADS_1


Selanjutnya suara desa han dan erangan terdengar bersahutan memecah keheningan malam. Kali ini Dipa hanya bermain lembut dan hanya satu ronde karena mengkhawatirkan calon bayi mereka yang kini sedang bersemayam di rahim Bintang.


*


Suara dering telepon Bintang terus berbunyi pagi itu membangunkan Bintang dari tidurnya. Perlahan Bintang mengambil ponselnya dari dekat bantal tanpa ingin mengusik Dipa yang meringkuk di dadanya dan masih mengu lum dada kanannya..menyusu.


Panggilan berakhir tanpa sempat Bintang angkat, namun satu pesan dari Mama Niken langsung membuat Bintang terhenyak sambil menutup mulutnya.


Neng..Mama di rumahsakit, Dina jatuh di kamar mandi


Bintang lekas membangunkan Dipa yang masih terlelap sambil menyusu. "Mas bangun kita harus ke rumah sakit sekarang !"


"Periksa kehamilannya nanti sore saja ya Neng, aku masih ngantuk " jawab Dipa enggan membuka matanya.


"Sayaaang..aku bukan ngajak periksa kehamilan, tapi Dina masuk rumah sakit kata Mama jatuh di kamar mandi "


"Dina jatuh di kamar mandi ? " Dipa langsung bangun setelah melepaskan hisapannya.


"Iya..cepetan kita mandi dan segera ke rumah sakit " Bintang turun dari ranjang kemudian beranjak ke kamar mandi dengan setengah berlari karena dalam keadaan telanjang.


"NENG..BISA TIDAK JANGAN BERLARI " Omel Dipa sambil melotot.


"Abisnya malu telanjang " jawab Bintang sambil cengengesan.


"Ngapain malu orang cuma ada aku disini, aku juga telanjang " jawab Dipa dengan wajah dongkol karena mengkhawatirkan kandungan Bintang.


Setelah selesai mandi bergantian dan memakai baju, mereka pun berangkat ke rumah sakit. Mereka menitipkan Bunga, Langit dan Lana kepada Papa David dan Daniel juga Bik Asih.


Di perjalanan menuju ke rumah sakit Bintang terlihat menghubungi seseorang, Dipa terlihat kurang senang dengan apa yang dilakukan Bintang.


"Neng, Amira itu sekertaris aku..dia kerjanya di kantor bukan jadi baby sitter. Lagian sekarang bukan waktunya jam kerja..kamu tidak bisa seenaknya menyuruh dia membantu menjaga anak-anak di rumah " nasehat Dipa.


"Aku tidak nyuruh dia kerja, aku cuma minta tolong bantuin jaga anak-anak..lagian Amira nya juga tidak keberatan. Nanti aku yang kasih kompensasi nya bukan kamu ..jadi ini tidak ada urusan dengan job desk dia di kantor kamu " jawab Bintang sambil menyimpan ponselnya di dalam tas nya.


"Baiklah..terserah kamu lah Sayang " jawab Dipa akhirnya.Rasanya percuma berdebat juga karena tidak akan menang melawan Bintang.


Setibanya di kamar perawatan Dina, Mama Niken langsung menghambur kedalam pelukan Bintang dan menangis. " Dina keguguran Neng, dokter tidak bisa menyelamatkan janinnya "

__ADS_1


Bintang termangu dengan mata yang mulai berembun " Ya Tuhaaan ..Dina "


__ADS_2