
Setelah menginap di rumah orangtua Dipa, keesokannya pagi-pagi sekali mereka pun pulang.
Mama Niken membekali banyak oleh-oleh untuk dibawa ke Bandung. Karena keterbatasan waktu Bintang dan Dina belum banyak berkomunikasi, mereka hanya sempat saling memaafkan saja dan itu merupakan awal yang baik untuk hubungan mereka yang sempat rusak selama bertahun-tahun.
"Bunda aku dikasih ini sama Aunty Dina " Langit memperlihatkan banyak coklat dari dalam tasnya.
"Oh ya ?" hanya itu jawaban Bintang membuat Dipa langsung melirik kemudian mencubit tangan Bintang.
"Jangan datar gitu dong Neng, wajar seorang Tante memberi perhatian kepada keponakannya" ujar Dipa.
"Iya..iya " jawab Bintang.
"Bunda sama Aunty Dina kenapa suka bertengkar ?" tanya Bunga penasaran.
"Sama seperti Bunga dan Lana yang suka berantem karena rebutan mainan " jawab Dipa.
"Bunda sama Aunty Dina juga rebutan mainan ?" tanya Bunga semakin penasaran.
"Bukan rebutan mainan tapi rebutan pacar " sindir Dipa dengan suara pelan.
"Apaan sih Mas " Bintang langsung mendelik kearah Dipa.
Dipa hanya nyengir melihat Bintang yang langsung cemberut . Baginya Bintang terlihat menggemaskan jika sedang cemberut.
"Kalau sedang cemberut kamu jadi makin menggemaskan, jadi ingin cepat sampai Bandung dan boboin kamu " Dipa menjawil dagu Bintang dengan tangan kirinya.
"Jangan pegang-pegang..siapa juga yang mau bobo sama kamu " Bintang menepiskan tangan Dipa dengan sebal.
"Ayaah jangan suka godain Bunda dong, jadi marah kan Bundanya " Bunga memukul bahu Dipa dari belakang.
"Abisnya Bunda kalian itu lucu kalau sedang cemberut " jawab Dipa sambil tersenyum.
"Bunda tidak lucu tapi cantik seperti aku " Bunga melongokan kepalanya kearah Bintang.
"Iya Bunda cantik seperti Bunga kalau Langit ganteng seperti Ayah " jawab Dipa sambil terkekeh.
Karena masih pagi perjalanan mereka pun terbilang lancar. Jam sembilan pagi mereka sudah sampai rumah.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Dipa dan Bintang menurunkan semua barang bawaan dari mobil. Bik Asih membantu dan membawanya ke dapur karena Mama Niken membawakan banyak makanan untuk mereka. " Supaya kamu tidak usah masak " begitu katanya.
"Mama bawain apa saja sih Neng kok banyak banget ?" tanya Dipa yang tiba-tiba muncul di dapur.
"Macam-macam masakan katanya biar aku tidak usah masak hari ini " jawab Bintang.
"Cie..udah jadi menantu kesayangan " ledek Dipa sambil mencium leher Bintang dari belakang. Bintang pun hanya tertawa kemudian mengusir Dipa karena ia merasa malu berbuat mesum di depan Bik Asih.
Mama Niken terlihat sedang berusaha menebus kesalahannya atas perlakuan buruknya kepada Bintang beberapa waktu yang lalu. Dan Bintang sangat hargai usaha keras Mama mertuanya itu.
"Saya baru tau ternyata Mas Dipa itu romantis " ujar Bik Asih sambil tersenyum.
"Loh..Bik Asih kan lama kerja sama Mbak Elsa di Surabaya, masa baru tau kalau Mas Dipa itu romantis ?" tanya Bintang.
"Saya tidak pernah melihat Mas Dipa romantis seperti itu kepada Mbak Elsa, sama Mbak Elsa banyak berantem nya daripada mesra-mesraannya " adu Bik Asih.
"Begitu ya " jawab Bintang.
"Kalau sama Mbak Bintang sepertinya Mas Dipa sayang banget beda dengan Mbak Elsa " ujar Bik Asih.
"Ya Sayang lah kan istrinya " jawab Bintang sambil tertawa.
"Aku juga " Bunga pun muncul dibelakang Langit sambil tersenyum manis.Bik Asih pun buru-buru membuatkan susu untuk Bunga dan Langit.
"Oh iya Bunda tadi dipanggil Ayah katanya disuruh ke kamar " ucap Bunga.
Bintang pun beranjak ke kamar untuk menemui Dipa. " Ada apa Mas ?" tanya Bintang setelah sampai di kamar mereka.
"Temani aku disini !" Dipa menepuk sofa disebelah nya. Bintang pun langsung duduk disebelah Dipa dan menemani pria itu menonton tv. Tidak lama kemudian Bunga dan Langit pun datang dan mereka pun menonton tv bersama.
Bintang sempat merasa kewalahan karena semua berebut mencari perhatian dari Bintang. Bagi Bintang wajar jika Bunga dan Langit bersikap manja kepadanya, namun yang membuat Bintang jengkel adalah Dipa pun bertingkah sangat manja tidak mau kalah dari Bunga dan Langit.
"Ayaah duduknya geser yang jauh dong aku mau sama Bunda !" Bunga mendorong Dipa yang terus menempel kepada Bintang sementara disisi yang lain Langit sudah menggelendot manja di lengan Bintang.
"Ayah juga kan ingin dekat Bunda seperti kalian " jawab Dipa.
"Mas..kamu itu kekanakan sekali, masa tidak mau ngalah sama anak-anak" omel Bintang.
__ADS_1
"Baiklah..sekarang Bunda milik kalian, biarin jatah Ayah malam saja " jawab Dipa sambil menggeser duduknya menjauh dari Bintang dan membiarkan anak-anak menguasai wanita muda itu.
"Jatah apaan..sembako ?" gumam Bintang sambil terkikik.
Dipa hanya tertawa kemudian memilih mencari kesibukan sendiri dengan bermain game di ponselnya agar tidak mengganggu Bintang dan kedua buah hatinya.
Setelah hampir satu jam berlalu Dipa baru menyadari jika Bunga dan Langit ternyata tertidur dengan berbantalkan paha Bintang.
"Kok bisa sih kamu tidurin anak-anak sekaligus " Dipa tampak kagum dengan kemampuan Bintang menidurkan kedua buah hati mereka.
"Ya bisa lah " jawab Bintang sombong. Padahal sesungguhnya anak-anak masih lelah karena baru pulang dari perjalanan jauh sehingga cepat tertidur.
"Memang kamu itu Bunda idaman anak-anak dan Ayahnya juga " puji Dipa sambil mengangkat satu-satu anak mereka untuk dipindahkan ke kamar anak yang berada disebelah kamar Bintang.
Jika akhir pekan seperti ini kesibukan Bintang menjadi bertambah. Selain mengurus Bunga dan Langit, Bintang juga harus mengurus Ayahnya yang semakin hari semakin manja saja dan berlomba mencari perhatian Bintang bersama kedua buah hati mereka.
Setelah memindahkan Bunga dan Langit, Bintang menemani Dipa makan. Pria tampan itu tampak makan masakan dari Mama Niken dengan lahap. Disaat yang bersamaan Daniel datang dan akhirnya mereka pun makan bersama.
"Kapan dari Singapura kak ?" tanya Bintang.
"Sudah tiga hari yang lalu tapi ke Bandung baru kemarin " jawab Daniel sambil mengunyah makanannya.
"Papa sehat ?" tanya Dipa.
"Ya sehat..akhir pekan ini Papa mau kesini katanya kangen sama cucu-cucunya sekalian Papa mau ajak kamu ke makam Mama " jawab Daniel. Bintang tampak senang akan mengunjungi makam Mama nya yang belum pernah sekalipun ia kunjungi.
" Kalian itu kebangetan tidak mau mengunjungi Papa, malah Papa yang sering mengunjungi kalian " omel Daniel.
"Bukan kebangetan kak..aku kan kuliah dan anak-anak sekolah. Kalau mau mengunjungi Papa harus pas libur sekolah..biar bisa lama disananya " jawab Bintang.
"Libur kenaikan kelas tahun ini aku dan anak-anak akan berkunjung ke rumah Papa " janji Dipa.
"Kalau sudah disindir baru ada niat, payah Lo " sindir Daniel.
"Bukan begitu bro..tolong ngertiin aku yang sibuk banting tulang untuk menghidupi Bintang dan anak-anak, kalau tidak begitu mau dikasih makan apa mereka ? apalagi Bunga dan Langit itu jajannya banyak belum susunya " Dipa menepuk jidatnya.
"Lebay Lo " cibir Daniel.
__ADS_1
"Iya beneran Lebay " tambah Bintang