Istri Simpanan

Istri Simpanan
Kamu Pemenangnya


__ADS_3

"Dina keguguran Neng, dokter tidak bisa menyelamatkan janinnya "


Bintang termangu dengan mata yang mulai berembun " Ya Tuhaaan ..Dina "


"Dina nya dimana mah ?" tanya Bintang karena tidak mendapati Dina di ruangan perawatan itu.


"Dokter sedang melakukan tindakan kuret, dia ditemani Leon " jawab Mama Niken diantara Isak tangisnya.


Bintang mengusap punggung Mama Niken berusaha menenangkannya walaupun sebenarnya Bintang sendiri merasa gentar.


Kuret atau kuretase adalah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Kuret biasanya diawali dengan dilatasi, yaitu tindakan untuk melebarkan leher rahim (serviks ).


Kuret dapat dilakukan dengan metode pengikisan menggunakan alat berbahan logam ataupun metode penyedotan (suction) menggunakan alat khusus.


Dengan metode tersebut, jaringan dalam rahim akan dikeluarkan. Jaringan yang akan dikeluarkan dari rahim (uterus) melalui tindakan kuret adalah jaringan endometrium.


"Bagaimana kejadiannya sampai Dina keguguran Mah ?" tanya Dipa yang belum terlalu menangkap jelas tentang penyebab Dina keguguran.


"Semalam Leon pergi ke rumah sakit karena ada oprasi, sepertinya Dina semalam ke kamar mandi dan jatuh, kami menemukannya pagi-pagi sudah tergeletak di kamar mandi " Mama Niken kembali menangis kencang dalam pelukan Bintang.


"Sepertinya semalaman dia pingsan di kamar mandi, Mama salah karena terlambat menemukan dia " Isak Mama Niken.


"Sudah Mah..ini sudah takdir, jangan terus menyalahkan diri sendiri " Papa Ardi menepuk bahu Mama Niken.


Tidak sampai satu jam Dina pun sudah selesai dilakukan tindakan kuretase. Setelah sadar dan kondisinya stabil Dina pun dipindahkan ke kamar perawatan.


"Bi..gue keguguran " Dina mengadu dan menangis dalam pelukan Bintang.


"Yang sabar ya, kamu masih muda kesempatan hamil lagi masih besar. Malah yang aku dengar orang yang sudah keguguran biasanya cepat hamil lagi " Bintang berusaha menghibur Dina meskipun Bintang sendiri tidak yakin jika yang ia katakan itu benar secara medis.


"Gue turut prihatin..Lu yang sabar ya Le " Dipa menepuk bahu Leon. Meskipun tidak menangis meraung-raung seperti Dina dan Mama Niken namun Dipa tau jika Leon sangat terpukul karena kehilangan calon bayi mereka.


"Setelah Dina pulih dan siap hamil Papa sarankan kalian pergi berlibur seperti Dipa dan Bintang. Biar Lana kita yang urus " ujar Papa Ardi.


Leon hanya mengangguk tanpa minat. Rasa sakit karena kehilangan masih menggunung di dadanya.


"Lana pasti kecewa gagal punya adik " gumam Leon.


"Lana anaknya ceria. Kecewa sebentar wajar..nanti juga lupa, apalagi ada Bunga dan Langit jadi dia tidak akan kesepian walaupun batal punya adik " jawab Papa Ardi menghibur Leon.Leon mengangguk lemah.


*


"Niel..Papa mau ada urusan sebentar, kamu tidak apa-apa kan Papa tinggal ?" Papa David tampak bingung menatap ketiga bocah yang sedang bermain dan membuat berantakan ruang tengah.


"Ya sudah pergi saja, ada Bik Asih ini yang jaga anak-anak" jawab Daniel.


"Papa janji cuma sebentar ya " ujar Papa David sambil beranjak hendak pergi.


Langkah Papa Ardi terhenti ketika ada yang memeluk kakinya dan ternyata cucu tampannya yang berulah.


"Grandpa mau kemana ?" tanya Langit.

__ADS_1


"Grandpa mau keluar sebentar, Langit main sama Uncle Daniel ya " Papa David mengusap kepala Langit.


"Janji jangan lama ! " Langit menatap tajam Papa Daniel.


"Iya ganteng " jawab Papa David sambil mencium pipi Langit gemas.


Setelah Papa David pergi, Langit menarik Daniel menuju kolam renang. Ia ingin mengajak Uncle nya berenang.


Karena Lana dan Bunga tidak mau ikut berenang akhirnya hanya Daniel dan Langit saja yang berenang. Bunga dan Lana bermain dalam pengawasan Bik Asih.


Daniel dan Langit yang sedang asik berenang tiba-tiba terdengar keributan dari arah ruang tengah. Lalu terdengar suara Lana yang berlari kearah kolam renang sambil menangis kencang.


"Uncle..kak Bunga pelit tidak mau kasih pinjam mainannya " adu Lana.


Dibelakangnya Bunga menyusul sambil menangis sama seperti Lana. " Habisnya kamu suka bikin rusak jadi tidak aku kasih pinjam " balas Bunga.


Kedua bocah perempuan itu hampir saling Jambak dan saling cakar jika saja Daniel tidak cepat naik dan melerai keduanya.


Bik Asih menahan Bunga dan Daniel menahan Lana. Sementara Langit tampak bengong dipinggir kolam renang.


"Mamaaa..kak Bunga nakal " Lana menangis meraung-raung begitu juga dengan Bunga.


Disaat situasi tidak kondusif bantuan pun datang. Amira yang baru datang buru-buru ke kolam renang ketika terdengar suara keributan disana.


"Aaahh !" Amira terpekik sambil menutup matanya ketika melihat Daniel yang hanya mengenakan celana renang ketat.


Suara tangis Bunga dan Lana pun langsung berhenti setelah mendengar jeritan Amira.


"Kak Mira..Lana nakal " Bunga langsung memburu Amira dan mengadu sambil menangis.


Beberapa jam kemudian suasana terasa damai setelah ketiga bocah itu tidur. Amira dan Bik Asih tampak membereskan semua mainan yang berserakan di ruang tengah dan Daniel baru keluar dari kamar Langit setelah menidurkan bocah tampan itu.


"Kamu mau mengambil barang kamu yang ketinggalan ?" tanya Daniel sambil duduk di sofa setelah Amira selesai membereskan semua mainan anak-anak.


"Saya disuruh Ibu untuk membantu menjaga anak-anak Pak " jawab Amira.


"Untung kamu cepat datang, aku dan Bik Asih kewalahan megang Bunga dan Lana yang sering bertengkar " ujar Daniel.


"Maklum pak, namanya juga anak-anak..apalagi usia mereka tidak terlalu jauh bedanya " jawab Amira sambil tersenyum memperlihatkan sederet giginya yang rapi.


Daniel mengangguk.


"Oh iya Pak, kemarin saya lupa belum mengucapkan terimakasih karena sudah dibelikan mainan dan sudah diantarkan pulang juga " ucap Amira.


"Justru saya yang harus bilang terimakasih karena kamu sudah menemani Bunga dan Lana membeli mainan " balas Daniel.


"Hanya kebetulan bertemu saja pak " jawab Amira.


"Saya bukan bos kamu, jadi tidak usah panggil Pak..panggil Daniel saja " pinta Daniel.


"Maaf sepertinya Pak Daniel lebih tua dari saya.. bagaimana kalau saya panggil Mas saja " Amira merasa tidak sopan jika harus memanggil kakak ipar Bos nya dengan nama saja.

__ADS_1


"Boleh..itu lebih baik " jawab Daniel.


Keberadaan Amira di rumah itu sangat membantu, Bunga dan Lana yang sangat hoby bertengkar terlihat anteng bersama Amira dan Bik Asih.


Sampai sore kedua bocah perempuan itu tidak lagi terdengar bertengkar, bahkan sampai Bintang dan Dipa pulang dari rumah sakit situasi benar-benar kondusif.


Amira pulang dari rumah Bintang ketika hari mulai gelap, Daniel tidak dapat menolak ketika Bintang menyuruhnya mengantarkan Amira pulang padahal di rumah juga ada sopir.


*


Setelah kondisi Dina mulai pulih keesokannya Dina pun sudah diperbolehkan pulang. Meskipun hanya mengalami keguguran namun Dina tetap menjalani masa nifas sama seperti wanita yang melahirkan pada umumnya.


Lana yang baru diberitahu jika calon adiknya meninggal di perut ibunya langsung terlihat sedih dan menangis dalam gendongan Leon.


Dina menatap putrinya dengan wajah sedih. Sejak diberitahu jika ia akan punya adik, Lana terlihat sangat bahagia sekali. Ia memberitahu semua orang jika ia akan punya adik. Namun sekarang Dina tidak kuasa melihat kekecewaan diwajah putrinya itu.


"Lana jangan sedih terus, kata Uncle Daniel dan Grandpa kita akan dibelikan mainan yang banyak " Bunga membujuk Lana agar berhenti menangis.


"Iya..kan dedek diperut Bunda juga bisa jadi dedek kamu juga " Langit ikut menghibur Lana.


"Lebih baik kita main saja yuk !" Bunga dan Langit mengajak Lana bermain agar melupakan kesedihannya.


Setelah ketiga bocah itu keluar dari kamar Dina, Bintang datang dengan membawa satu piring puding coklat.


"Na..gw bawa ini buat Lu " Bintang duduk disisi ranjang sambil menyerahkan piring berisi puding coklat itu kepada Dina.


"Ini pasti bukan buatan Lu..buatan Lu tidak seenak ini " ejek Dina membuat Bintang langsung memberenggut.


"Emang itu dapat beli " jawab Bintang jujur.


"Sudah gw duga " ujar Dina sambil menyendok puding itu dan memasukkan ke mulutnya.


"Ya udah abisin ya..gw mau ngurus Mas Dipa dulu..gw yang hamil malah dia yang manja " sungut Bintang sambil beranjak dari ranjang Dina.


"Bi.. tunggu ..!" panggil Dina


"Lu mau sesuatu ?" tanya Bintang.


"Gw mau balikin ini sama lu.." Dina menyerahkan kotak perhiasan yang berada di dekat bantalnya kepada Bintang.


"Kenapa dibalikin lagi..kan gw yang kalah taruhan "


"Iya..tapi gw ga berhasil mempertahankan kandungan gw, jadi Lo pemenangnya " jawab Dina lirih.


"Gw ga mau terima..kata orang pamali mengambil barang yang sudah diberikan kepada orang lain " jawab Bintang berusaha menahan diri untuk tidak menangis. " Anggap saja itu kado pernikahan Lu dari gw "


"Tapi Lu juga kemarin ngambil lagi perhiasan yang udah lu kasih ke gw " ujar Dina.


"Tapi kan udah gw ganti..anggap saja ditukar model " Bintang tidak mau kalah.


"Neeeng ...!" terdengar sayup-sayup suara Dipa memanggil Bintang dari kamarnya.

__ADS_1


"Tuh kelakuan Mas Dipa..gw cabut dulu ya mau nyusuin bayi besar dulu !" ujar Bintang dengan cengirannya sambil berlalu keluar dari kamar Dina.


"Bintaaaang..dasar mesum Lu " Dina tertawa diantara derai air matanya.


__ADS_2