
Keesokannya Bintang dibuat sedikit kerepotan karena Bunga dan Langit bersikeras ingin pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh Dipa.
"Pokoknya aku tidak mau sekolah kalau tidak pergi sama Ayah " Bunga melipat tangannya di dada dengan wajah cemberut, sementara Langit sejak bangun tidur tidak mau turun dari gendongan Dipa. Bahkan mandi pun harus Dipa yang memandikan.
"Tumben kalian hari ini manja banget " gumam Bintang sambil membuatkan roti isi untuk Dipa dan kedua buah hatinya.
"Kan kita setiap hari sama Bunda, jadi sekali -kali kita juga ingin pergi sama Ayah " pinta Bunga.
"Baiklah..hari ini Ayah yang akan antarkan kalian ke sekolah " jawab Dipa membuat Bunga dan Langit tertawa senang.
"Tapi aku mau Ayah ngantarnya sama Bunda juga " pinta Langit manja sambil memeluk leher Dipa erat.
"Iya sama Bunda juga " jawab Dipa tanpa persetujuan dari Bintang.
Setelah anak-anak siap Dipa dan Bintang pun berangkat mengantarkan Bunga dan Langit ke sekolah.
Di gerbang sekolah mereka bertemu dengan Lana yang pergi diantarkan oleh Leon.
"Tumben Dina tidak nganter ?" tanya Bintang saat mengantarkan Bunga dan Langit masuk ke gerbang utama.
"Dina sedang tidak enak badan " jawab Leon.
Setelah anak-anak masuk Dipa memberi kode kepada Bintang dengan matanya agar masuk ke mobil dan Bintang pun menurut.
Dipa dan Leon tampak berbicara sebentar sebelum akhirnya mereka kembali ke mobil masing -masing.
"Kamu itu kenapa sih Mas..dari kemarin cemberut terus ? " tanya Bintang yang sudah mulai tidak tahan dengan perubahan sikap Dipa selama dua hari ini.
Dipa menyalakan mobilnya dan mengabaikan ucapan Bintang membuat Bintang meradang.
"Stop..stop..kamu mau langsung ke kantor kan ? aku turun disini saja. Aku lebih baik pulang naik taksi daripada sama kamu " pinta Bintang tiba-tiba.
Dipa menulikan pendengarannya, tanpa berkata apapun Dipa terus melajukan mobilnya menuju rumah.
"Aku bilang berhenti disini !" seru Bintang kesal.
__ADS_1
"Tidak " jawab Dipa tegas.
Meskipun merasa kesal namun jika sudah mendengar ucapan Dipa yang tegas nyali Bintang pun langsung menciut.
"Aku itu sebel sama kamu dari kemarin cuekin aku terus. Emangnya aku itu salah apa sama kamu hah ?" tanya Bintang.
"Aku tidak suka kamu membicarakan laki-laki lain di belakang aku terutama Leon " jawab Dipa.
"Kemarin itu aku cuma menjawab pertanyaan Mbak Shanti, tidak bermaksud membicarakan dia " kilah Bintang. " Kamu itu kenapa sih jadi sensitif sekali seperti perempuan yang mau datang bulan saja "
"Pokoknya aku tidak suka kamu membahas masa lalu, kalau bisa kamu jangan terlalu sering ke rumah Mama, biar mereka saja yang ke rumah kita " ujar Dipa.
Bintang melongo mendengar aturan baru dari Dipa yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Kalau anak-anak ingin kesana bagaimana?" tanya Bintang bingung.
"Kesana nya sama aku " jawab Dipa tegas.
"Ck..dasar aneh " gumam Bintang.
Setibanya di rumah Bintang langsung turun dari mobil dan hendak masuk namun Dipa tiba-tiba memanggilnya.
"Diam di rumah jangan kemana-mana !" perintah Dipa.
"Iya " jawab Bintang.
Setelah memberikan perintahnya Dipa pun melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya.
Sepanjang perjalanan Dipa berpikir keras, ia merasa tidak mengerti kenapa ia bisa begitu kesal cuma mendengar Bintang membicarakan Leon, bahkan tadi pagi pun dengan hanya melihat Bintang dan Leon bertemu di sekolah pun langsung membuat Dipa meradang, padahal Bintang hanya menyapa Leon sewajarnya saja.
Setelah mobil Dipa berlalu, Bintang menyuruh sopirnya untuk mengantarkan oleh-oleh dari Bandung ke rumah mertuanya.
Awalnya Bintang berniat mengantarnya sendiri setelah mengantarkan anak-anak, namun karena Dipa melarang ia pergi kemana-mana akhirnya Bintang pun menyuruh sopirnya yang mengantarkannya.
Baru satu jam berlalu, tiba-tiba Dipa menelpon Bintang. Bintang yang masih kesal terdengar ogah-ogahan menerima telepon dari Dipa.
__ADS_1
"Neng, kamu jemput anak-anak sekarang..hari ini kita akan ke Surabaya !" perintah Dipa.
"Ke Surabaya..ada apa ?" tanya Bintang.
"Mamanya Elsa meninggal..aku sedang mengusahakan agar bisa berangkat hari ini " jawab Dipa.
Setelah mengakhiri panggilan, Bintang pun bergegas pergi dengan mobilnya untuk menjemput Bunga dan Langit.
Bintang meminta ijin kepada pihak sekolah untuk membawa Bunga dan Langit pulang lebih cepat.
"Bunda kenapa kita pulang lebih cepat ?" tanya Bunga kepada Bintang.
"Eyang Uti meninggal, hari ini kita akan berangkat ke Surabaya " jawab Bintang. Wajah Bunga pun langsung terlihat sedih.
"Bunda..Eyang Uti itu siapa ?" tanya Langit penasaran.
"Eyang Uti itu Neneknya kak Bunga, Mama nya Mommy Elsa " jawab Bintang. Langit pun mengangguk tanda paham.
Setibanya di rumah Dipa pun sudah ada di rumah, Bintang langsung mempersiapkan koper berisi semua keperluan keberangkatan mereka ke Surabaya.
"Mama meninggal di Mount Elizabeth Hospital, kemungkinan jenazahnya akan tiba besok, jadi kita ada kesempatan hadir di acara pemakaman." ujar Dipa sambil menggerek koper berisi pakaian mereka kedalam mobil.
Bintang menggiring Bunga dan Langit ke kamar untuk mengganti baju sekolahnya dengan dibantu oleh Bik Asih.
"Mama nya Mbak Elsa itu sakit apa Bik ?" tanya Bintang.
Bik Asih cukup lama menjadi pengasuh Bunga sewaktu di Surabaya tentu ia tau riwayat penyakit yang di derita oleh Mamanya Elsa.
"Bu Ajeng sudah lama menderita kanker hati Bu, beliau sudah sering dirawat disana " jawab Bik Asih.
"Kalau Mbak Elsa berapa bersaudara?" Bintang sedikit penasaran dengan keluarga Elsa di Surabaya.
"Bu Elsa anak tunggal, Papahnya sudah meninggal tidak lama setelah Bu Elsa menikah dengan Pak Diva " jawab Bik Asih.
Bintang menelan ludah getir membayangkan Elsa yang tidak punya siapa-siapa selain suaminya, bahkan putri satu-satunya pun memilih ikut dengan Bintang.
__ADS_1
Hari itu Dipa, Bintang dan kedua anak mereka berangkat ke Surabaya dengan penerbangan terakhir.
Setibanya di Surabaya mereka tidak langsung datang ke rumah duka. Dipa dan Bintang memilih menginap di hotel yang berada tidak jauh dari rumah Elsa agar anak-anak bisa beristirahat. Mereka akan datang ke rumah duka besok pagi sambil menunggu kedatangan jenazah.