Istri Simpanan

Istri Simpanan
Susunya Tidak Enak


__ADS_3

Tidak lama setelah dipaksa menelan obatnya Bintang pun kembali tertidur. Saking lelapnya Bintang tidak sempat mengusir Dipa yang setia menungguinya di sebelahnya.


Saking lelapnya Bintang tidak menyadari jika Dipa diam-diam mengelus dan menciumi perutnya dengan mata yang tampak basah.


"Terimakasih ya Nak sudah hadir di perut Bunda " bisiknya lirih penuh haru sambil terus menciumi permukaan perut Bintang yang masih rata itu.


Dipa baru mengangkat kepalanya untuk menyentuh kening Bintang yang tampak basah oleh buliran keringat.


"Sudah tidak demam " gumam Dipa lega. Dipa harus berterima kasih kepada Dina karena sudah berhasil memaksa Bintang menelan obatnya.


Dipa baru bisa tertidur setelah suhu tubuh Bintang mulai mendekati normal akibat obat yang Bintang telan mulai bereaksi di dalam tubuhnya.


Keesokannya ketika Bintang terbangun Dipa sudah tidak ada di kamarnya, namun diatas meja sudah tersedia susu dan dua iris roti isi.


Perlahan Bintang turun dari ranjangnya kemudian meraih susu coklat yang tampak masih hangat kemudian meminumnya sedikit.


Bintang mengernyit karena susu itu rasanya berbeda dengan susu yang biasa ia minum. Sepertinya ada yang salah dengan susu itu dan Bintang harus mengecek nya ke dapur.


Di dapur Bintang menemukan Dipa sedang membuat kopi yang pastinya untuk dirinya.


"Bibik mana Mas ?" tanya Bintang sambil meletakan susu miliknya diatas meja.


"Bibik ke pasar aku suruh beli bebek, hari ini aku ingin makan bebek rica-rica" jawab Dipa,


"Kalau Bibik ke pasar lantas siapa yang bikin susu ini ?" tanya Bintang.


"Aku yang bikin, memangnya kenapa ?"


"Pantesan..susu buatan kamu tidak enak, enakan buatan Bibik " jawab Bintang ketus.


"Masa sih ?"


"Iya..ini rasanya beda dengan susu yang biasa aku minum " Bintang terlihat kesal.


"Ini kan memang bukan susu yang biasa kamu minum setiap hari Neng " ujar Dipa.


"Maksud kamu ?"


"Ini adalah susu yang direkomendasikan oleh Leon, tadi pagi aku sengaja membelinya " jawab Dipa.


"Kamu seenaknya saja ganti susu aku ? kalau rokok kamu yang aku ganti mau tidak ?" bintang langsung sewot.


"Kamu boleh ganti susu lagi setelah kamu melahirkan nanti " ujar Dipa.

__ADS_1


"Melahirkan?" Bintang langsung melongo.


"Iya Neng..disini sudah ada Dipa junior.. calon adiknya Bunga dan Langit..jadi kamu jangan protes ya kalau susunya aku ganti " Dipa meraih pinggang Bintang kemudian mengusap dan menciumi perutnya dengan lembut.


Bintang tampak masih termangu tidak percaya mendengar jika dirinya kini sedang berbadan dua.


"Kenapa aku tidak berasa ya kalau sedang hamil ?" tanya Bintang.


"Kamu tidak berasa apa-apa, tapi kamu jadi sensitif Neng..marah-marah mulu " jawab Dipa.


"Kamu juga sama " balas Bintang.


"Seharusnya aku tidak usah kasih perhiasan sama Dina karena sebetulnya aku tidak kalah taruhan " Bintang menggerutu.


"Sudahlah Neng..itu rejekinya Dina. Nanti aku ganti uangnya " ucap Dipa sambil terus menciumi perut Bintang. Tangan Bintang pun terulur mengelus kepala Dipa yang berambut tebal.


Dipa memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan Bintang, sudah lama ia tidak diperlakukan seperti ini oleh Bintang sejak mereka pulang dari Bandung. Ditambah kejadian di Surabaya dan masalah kalung yang melibatkan Daniel membuat mereka sering bertengkar.


"Kamu kan sedang hamil Neng..jadi jangan ngambek terus ya !" pinta Dipa sambil mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah cantik Bintang.


"Seharusnya ucapan itu berlaku untuk kamu juga Mas.." balas Bintang.


"Iya..berlaku untuk kita " jawab Dipa sambil membimbing Bintang agar duduk di pangkuannya dengan posisi menghadap kearahnya.


"Akhirnya keinginan aku untuk melihat perut kamu menggendut sebentar lagi akan terwujud " ucap Dipa sambil menyatukan hidung mereka.


"Apakah kamu sudah kasih tau Bunga dan Langit kalau mereka akan punya adik ?" tanya Bintang.


"Mereka pasti sudah tau..Dina pasti sudah bercerita kepada mereka " jawab Dipa sambil mengelus paha mulus Bintang sampai ke pangkal pahanya dan Bintang pun membiarkannya.


"Kita ke kamar yuk Neng !" ajak Dipa seraya bangkit dan membawa Bintang ke kamar. Selama melangkah Bintang tidak melepaskan belitan tangannya di leher Dipa dan menciumi seluruh wajah tampan Dipa.


Karena jalannya terhalang oleh kepala Bintang mereka nyaris menabrak pintu dan dinding.


"Jalannya yang bener dong masa nabrak-nabrak!" omel Bintang ketika punggungnya nyaris menyenggol gagang pintu.


"Siapa suruh kamu cium-cium aku saat jalan jadinya kan jalannya tidak kelihatan " jawab Dipa.


"Oh iya " Bintang pun terkekeh kemudian menyusupkan wajahnya di leher Dipa agar kepalanya tidak menghalangi pandangan Dipa.


"Arggh..sabar dong Neng " erang Dipa ketika gigi kecil Bintang menggigit leher Dipa dengan gemas


Setelah sampai di kamar, Dipa menutup pintu kamar dengan kakinya kemudian menurunkan Bintang diatas ranjang mereka.

__ADS_1


Dipa menahan bobot tubuhnya dengan kedua sikunya saat bibirnya melahap rakus bibir Bintang yang sudah berhasil membuat satu jejak cinta dileher Dipa saat perjalanan dari dapur menuju kamar mereka, benar-benar nakal.


Dipa hendak membalas aksi nakal Bintang tadi namun tubuhnya langsung mematung ketika terdengar suara lengkingan Bunga dan Langit yang memanggil-manggil mereka


"Ayaaaah..Bundaaa....kami pulaaaang "


"Argggh...bocah pengganggu datang. Kenapa sih mereka pulang disaat Ayah dan Bundanya ingin kangen-kangenan" erang Dipa.


"Enak saja kamu bilang mereka bocah pengganggu " Bintang mendorong tubuh Dipa dan disaat yang bersamaan kedua bocah pengganggu itu muncul dibalik pintu.


"Bundaaa..apa benar kata Aunty Dina kalau kita mau punya Adik ?" Bunga dan Langit langsung naik keatas ranjang dan memburu kearah Bintang.Mereka mengabaikan Dipa yang tampak melongo dengan wajah sedih karena merasa tidak dianggap.


"Iya Sayang..kalian akan punya adik seperti Lana " jawab Bintang.


"Asyiiik kita akan punya adik seperti Lana.. terimakasih Bunda " Bunga dan Langit menciumi seluruh wajah Bintang hingga membuat Bintang tertawa cekikikan.


"Kenapa hanya Bunda yang dicium ? Ayah juga mau dong..kan Ayah yang buat adik bayinya" Dipa merasa iri.


"Mas ih mulutnya" Bintang ingin rasanya meremas mulut Dipa ketika melihat Bunga dan Langit tampak bengong tidak mengerti dengan ucapan Dipa barusan.


"Ngomong-ngomong kalian pulang sama siapa ?" tanya Bintang sambil turun dari ranjang dan meninggalkan Dipa yang tampak cemberut karena merasa diabaikan.


"Semuanya ikut..Oma, Opa, Aunty Dina, Om Leon dan Lana " Langit mengabsen seluruh keluarganya.


Meskipun kesal karena merasa diabaikan namun Dipa mengekori Bintang dan anak-anak keluar dari kamar untuk menemui seluruh keluarga yang tampak sibuk menurunkan banyak barang bawaan dari dalam mobil.


"Ada apa ini , seperti mau pesta ?" tanya Bintang heran melihat banyaknya makanan yang Mama Niken dan Dina bawa.


"Kita kan mau pesta karena di perut Aunty cantik ada dedek bayi nya " jawab Lana.


"Ya ampuun Mama..kenapa mesti repot-repot begini sih ?" Bintang tampak terharu sampai tidak kuasa menahan air matanya.


Acara pesta kecil keluarga itu semakin meriah dengan kedatangan Papa David dan Daniel yang tiba-tiba pada sore harinya.


"Grandpa..uncle Daniel.. " Bunga dan Langit memburu kedua pria tampan itu.


"Papa langsung terbang kesini begitu diberitahu kabar kehamilan Bintang " ujar Daniel.


"Siapa yang kasih tau ?" tanya Bintang.


"Aku yang kasih tau mereka semalam " jawab Dipa dari pojokan.


Melihat Ayahnya yang berwajah masam Langit pun mendekat dan langsung duduk di pangkuan Dipa " Ayah jangan iri ya !" ucapnya sambil mencium pipi Dipa.

__ADS_1


__ADS_2