Istri Simpanan

Istri Simpanan
Mondok Di Pesantren


__ADS_3

Saran Papa David agar Daniel mondok di pesantren nyatanya bukan hanya sekedar anjuran belaka, namun lebih tepatnya adalah perintah yang tidak boleh dibantah oleh Daniel.


Atas rekomedasi dari Abas Ayahnya Amira, Daniel akan mulai mondok di sebuah pesantren di daerah Jombang.


"Papa itu sengaja ya mau buang aku ?" sungut Daniel karena ia belum siap untuk mondok.


Daniel harus menyiapkan mental sekuat baja karena disana ia pasti merupakan santri yang paling tua dan ia pasti akan merasa minder.


"Bukan dibuang Kak, tapi ini adalah bentuk rasa sayang Papa sama kakak..siapa suruh kakak bandel " Bintang yang awalnya memberi pengertian ujung-ujungnya mengomel juga.


"Itu kan dulu dek, sekarang kakak sudah tobat "


"Tobat juga kalau tidak dibarengi dengan pondasi yang kuat pasti nantinya tergoda lagi. Sudah nurut saja sama Papa tidak usah protes, daripada nanti tidak bisa deketin Amira " ancam Bintang


"Kamu dikasih makan apa sih sama suami kamu, kenapa jadi cerewet begini ?" sungut Daniel lagi.


Dipa yang sedang rebahan diatas paha Bintang langsung menoleh. " Yang pasti aku kasih makan yang halal karena dari hasil keringat aku " jawabnya.


"Lebay, Lu pikir kerjaan gue ga halal gitu " Daniel melemparkan bantal kursi kearah Dipa.


"Gue ga bilang gitu, tadi kan Lu nanya Bintang gue kasih makan apa ? ya gue jawab jujur.. salahnya apa ?"


"Sudah ah, kenapa malah jadi cekcok ?" Bintang melerai perdebatan antara Dipa dan Daniel. Kedua pria tampan itu pun langsung diam.


"Pokoknya kakak nurut saja apa maunya Papa, untuk urusan keperluan kakak selama disana besok aku dan Dina yang akan belanja " ujar Bintang.


Tanpa sepengetahuan siapapun sebetulnya Bintang sudah menanyakan perlengkapan apa saja yang biasa diperlukan untuk santri yang mondok, dan besok ia dan Dina akan membelinya.


Bintang seperti seorang ibu yang sedang membujuk dan menyiapkan segala keperluan untuk putranya yang akan mondok di Pesantren.


"Kalau kakak udah pinter kan bisa ngajarin aku dan anak-anak aku nantinya, jadinya ga usah manggil guru ngaji lagi ke rumah " tutur Bintang.


"Iya..iya..tapi kakak titip kerjaan kakak disini ya, kamu cukup ngontrol saja " jawab Daniel.


"Untuk urusan itu gue juga akan bantu, Lu jangan khawatir " ucap Dipa masih dari pangkuan Bintang.

__ADS_1


"Nah gitu dong, baru adik ipar yang baik Lu "


Dipa hanya mendengus sambil memiringkan kepalanya kearah perut Bintang dan menciuminya dengan gemas.


Daniel yang merasa risi melihat kemesraan Bintang dan Dipa akhirnya memilih pergi ke teras belakang sambil menggerutu. " Kalian benar-benar ga ada akhlak, mesum di depan gue "


Sepeninggalan Daniel Dipa dan Bintang pun tertawa. " Kakak kamu sudah ngebet kawin Neng " ujar Dipa.


"Iya " jawab Bintang sambil tertawa.


"Neng, menurut kamu apakah Amira mau sama Daniel ?" tanya Dipa ragu.


"Aku tidak tau Sayang, tapi aku harap sih Amira dan kak Daniel berjodoh. Aku ingin punya kakak ipar yang Solehah " jawab Bintang sambil mengelus rambut Dipa yang tebal.


"Kamu juga istri yang Solehah Neng, Selain Solehah kamu juga hot, saking hot nya sampai perut nya mblendung begini " ujar Dipa sambil mengelusi perut Bintang yang membuncit.


"Gimana ga mblendung kalau hampir setiap malam kamu ajak lembur " sungut Bintang membuat Dipa terkekeh.


Keesokannya Bintang dan Dina pergi belanja semua keperluan Daniel untuk mondok di Pesantren. Beruntung Amira sudah memberi list belanjaan yang harus Bintang beli sehingga wanita hamil itu tidak kebingungan saat membelinya.


Untuk tahap awal Daniel akan mondok selama enam bulan. Namun jika Daniel betah bisa diperpanjang hingga semau nya Daniel.


"Bunda, nanti kalau sudah besar Aa juga mau mondok seperti Uncle Daniel " pinta Langit setelah mobil yang membawa Om nya itu pergi.


"Oh ya ? beneran Aa nanti mau mondok di Pesantren?" tanya Bintang ragu.


"Beneran Bunda " jawab Langit yakin.


"Baiklah.. Bunda ijinkan " jawab Bintang.


"Bunda aku sama Lana juga mau ikut mondok di Pesantren, biar kita bertiga selalu bersama " ujar Bunga.


Bintang dan Dina saling tatap. Mereka tidak menyangka jika anak-anak mereka mempunyai keinginan yang sama untuk mondok di Pesantren.


"Boleh..Oma dukung kalian " Mama Niken yang menjawab.

__ADS_1


"Yeeey..nanti kalau mondok aku mau bawa semua mainan aku kesana, kalau boleh Bik Asih juga mau aku bawa " oceh Bunga senang.


"Loh..loh kok begitu sih ? ya tidak boleh dong Sayang " Mama Niken menepuk jidatnya.


"Tidak boleh ya Oma ?" Lana dan Bunga tampak bengong.


"Mereka pikir mondok itu apa kali ya ?" Dina tertawa melihat kepolosan bocah-bocah itu.


*


Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya rombongan dari Jakarta pun tiba di Pondok Pesantren yang akan menjadi tempat Daniel mondok.


Kedatangan mereka disambut oleh ustad Maksum pemilik Pondok pesantren itu yang kebetulan masih kerabat Ayah Amira.


Daniel ditempatkan di kamar khusus yang bangunannya terpisah dan diperuntukan untuk santri baru seperti Daniel.


Disana ternyata bukan hanya Daniel satu-satunya santri yang sudah dewasa, bahkan ada santri yang berasal dari Korea Selatan yang sengaja ingin memperdalam agama Islam disana.


"Ternyata ada santri sebaya Lu juga, jadi jangan minder " Dipa menepuk bahu Daniel.


"Iya Niel..tidak ada batasan usia untuk belajar dan berusaha menjadi lebih baik " Papa Ardi juga memberi dukungannya.


"Iya Om " jawab Daniel.


"Awas..disini jangan bikin malu , belajar yang benar !" Papa David memberi reaksi yang sedikit keras.


"Iya..iya " jawab Daniel.


"Dan jangan lupa niatnya harus karena Alloh bukan karena Amira " sindir Dipa.


"Apaan sih Lu "Daniel meninju pelan bahu Dipa.


"Benar kata Dipa, niatnya harus karena Alloh..bukan karena Amira " Papa David mendukung ucapan menantunya.


"Niatnya karena Alloh ya Niel..kalau Amira sekedar motivasi saja " Papa Ardi mendukung Daniel.

__ADS_1


"Siap Om " jawab Daniel.


Setelah mengantarkan Daniel, Papa Ardi, Papa David dan Dipa menginap semalam disana dan mereka pulang ke Jakarta keesokannya.


__ADS_2